เข้าสู่ระบบLinda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Seminggu terakhir terasa begitu berbeda bagi Linda.Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dalam kecurigaan, perempuan itu merasa sedikit lega. Krisna, suaminya, tidak lagi menyembunyikan ponselnya. Tidak ada lagi kebiasaan membawa telepon ke kamar mandi, membalik layar ketika Linda datang, atau tiba-tiba mengubah kata sandi.Lebih dari itu, Krisna juga selalu pulang tepat waktu.Setiap sore, suara kendaraan Krisna terdengar di halaman rumah sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kadang lelaki itu bahkan sempat membeli makanan kesukaan Linda dalam perjalanan pulang.Linda tahu, semua itu belum tentu menghapus luka yang pernah dibuat suaminya. Tetapi setidaknya, untuk sementara, hatinya tidak lagi dipenuhi pertanyaan."Semoga memang sudah selesai," gumam Linda suatu malam sambil memandangi Krisna yang sedang memainkan ponselnya di ruang tengah.Krisna menoleh. "Kenapa?""Enggak apa-apa,” Linda tersenyum kecil.Mungkin dirinya memang sudah terlalu lelah untuk terus mencurig
Keesokan harinya, Santi tidak mampu menerima keputusan Krisna yang tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan mereka. Semalaman ia menangis, marah, dan merasa dipermainkan. Bagi Santi, semua janji yang pernah diucapkan Krisna seolah tidak berarti apa-apa. Karena itulah, pagi-pagi sekali ia memberanikan diri datang ke kantor Krisna.Begitu melihat Santi berdiri di depan ruangannya, Krisna langsung terkejut. Ia tahu perempuan itu sedang dikuasai emosi.“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Krisna dengan suara tertahan.“Aku mau bicara!” jawab Santi tajam. “Kemarin kamu bilang semuanya selesai. Setelah selama ini kamu memberikan harapan kepadaku, sekarang kamu begitu saja meninggalkanku?”Krisna menarik napas panjang. Ia melirik ke kanan dan kiri, khawatir percakapan mereka terdengar oleh rekan-rekan sekantornya.“Santi, jangan bicara di sini.”“Aku tidak peduli!” Santi membalas. “Kalau kamu mau meninggalkanku, aku juga bisa membuat semua orang tahu hubungan kita.”Wajah Krisna seketika berubah.
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Usai Linda basa-basi dengan menanyakan keluarga sang mantan dan meletakkan secangkir teh yang dibawa oleh Tati, wanita cantik itu langsung menanyakan keperluan sang mantan bertemu dengannya. “Bara, ada keperluan apa kamu cari aku? Karena tidak mungkin kamu jauh-jauh mencari rumahku, kalau tidak a
Pikiran Linda yang kacau membuat wanita cantik itu terlelap di lantai permadani kamar anak keduanya usai ia melepaskan rasa sakit, gelisah pada sebuah bantal dan tertidur. Tanpa disadari, Krisna masuk ke kamar bayi. Lelaki itu meraih tubuh Linda, membopong dan membawa ke kamar mereka. Saat dibo
Mobil sedan berwarna hitam masuk ke sebuah halaman. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menutup pintu pagar usai sebuah mobil berjenis sedan tahun lama masuk ke halaman rumah. Seorang lelaki berusia 35 tahun berkulit sawo matang keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah koper ke







