로그인
Mobil sedan berwarna hitam masuk ke sebuah halaman. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menutup pintu pagar usai sebuah mobil berjenis sedan tahun lama masuk ke halaman rumah. Seorang lelaki berusia 35 tahun berkulit sawo matang keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah koper kecil dan sebuah tas pinggang, melihat sekilas ke arah wanita cantik yang tengah menutup pintu pagar berwarna biru dan berjalan menuju pintu utama rumah tipe 45 berwarna hijau muda pada sebuah perumahan.
Wanita cantik berusia 35 tahun yang bernama Linda Nugraha, melangkahkan kaki menuju pintu utama dan memandang lelaki berkulit sawo matang bernama Krisna Dwipayana yang telah menghilang dari pandangannya. Linda masuk ke kamar utama. Ia melihat sang suami tengah membuka pakaiannya berjalan menuju kamar mandi tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara koper yang dibawa Krisna berada di atas tempat tidur. Sesaat kemudian Linda membuka koper untuk mengambil pakaian kotor. Tangannya dengan cekatan mengambil pakaian kotor pada bagian tengah koper dan Linda meraih alat cukur, deodoran, sisir pada bagian sisi kanan koper dengan membuka resleting. Alangkah terkejutnya Linda ketika Jemari lentiknya menyentuh benda kecil yang bisa dirasa dengan meraba tanpa melihat. Seketika jantung Linda berdegup kencang memandang ke arah tangan yang masih berada di bagian kanan koper sang suami. Dengan perasaan kacau dan tangan gemetar Linda mengeluarkan benda yang membuat jantungnya berdebar. Terlihat alat pengaman berwarna merah ditangannya. “Ya Allah!” pekik kecil Linda dengan hati terasa begitu sakit diikuti debaran jantung yang kian berdetak keras. Akibat barang kecil yang diketahuinya sebagai alat pengaman, membuat wanita itu terpaku. Pikirannya membeku. Ada keraguan yang membuncah atas apa yang dilihat. Kini hati dan pikirannya tarik menarik di antara kecurigaan dan ketakutan atas kenyataan yang dihadapi hari ini dan kecurigaan beberapa silam. “Aku harus bagaimana?” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Apa aku harus tanya mas Krisna?” Kegelisahan yang mendera dipecahkan oleh suara anak lelaki berusia lima tahun. “Ma, papa mana?” Suara kecil putranya membuat Linda terkejut kala memikirkan apa yang akan dilakukan atas penemuan benda tak lazim di koper suaminya. Linda tersenyum kaku memandang bocah lima tahun seraya menggenggam erat alat pengaman dan berusaha menjawab dalam perasaan yang campur aduk. “Papa lagi mandi, sayang.” Linda berdiri seraya mengambil tumpukan pakaian kotor ke dalam pelukannya dan tersenyum hambar pada bocah lima tahun tersebut. “Bagus, mau tunggu papa di sini, ya Ma," izin bocah lelaki berparas seperti Linda yang bernama Bagus Anugrah. “Ya, tunggulah di sini. Mama akan bawa pakaian papa.” Linda melangkah panjang dengan mendekap setumpuk pakaian kotor pada tangan kiri dan tangan kanannya masih mencengkeram kuat alat pengaman yang ditemukan dari koper Krisna. Sesampai di depan mesin cuci, Linda terduduk lemas dengan setumpuk pakaian kotor yang dibiarkan melorot dari dekapan. Tangan kirinya memegang bagian hati yang terasa sakit. Aliran darahnya terasa hangat menyusuri setiap bagian tubuh, kala mata indah miliknya kembali melihat alat pengaman yang dibawa. “Pasti mas Krisna selingkuh!” pekik kecilnya dengan buliran air mata yang sudah tak dapat dibendung. Gelombang pikirannya kian campur aduk untuk mengingat hal yang terlewati sejak ia hamil dan cuti melahirkan putri keduanya. Ada beberapa peristiwa yang diingat atas kecurigaan pada Krisna sejak kehamilan kedua dan saat melahirkan. 'Ya Allah, baru aku ingat. Ya, baru aku ingat...' bisiknya dalam hati, pedih. “Bu ... Kenapa duduk di bawah?” tanya seorang wanita berusia dua puluh lima yang bekerja di rumah keluarga itu. Tangan Linda kembali mencengkeram kuat benda pengaman itu. Wajahnya terkejut. Ia menoleh ke arah Tati yang berdiri tepat di belakang tubuhnya. Terlihat kegugupan Linda kala berusaha berdiri dengan kedua kaki jenjang yang tak bertenaga. “Oh! Hmm ... Tadi Ibu agak pusing waktu sortir pakaian bapak. Tolong kamu cuci,” pinta Linda dengan langkah gontai meninggalkan Tati yang melihat ke arahnya dengan bingung. Linda berjalan perlahan menuju kamar bayinya yang kini baru genap dua bulan. Di dalam kamar bayi berwarna pink, Linda segera menyelipkan alat pengaman berwarna merah pada tumpukan hadiah dari beberapa teman kantor, tetangga dan kerabat saat ia melahirkan putri keduanya. Dipandangi bayi mungil berjenis kelamin perempuan dengan air mata yang mengalir deras saat pikiran negatif atas suaminya mendera. Tanya jawab antara hati dan pikiran yang saling tarik menarik terasa sangat menyesakkan. Terlebih saat ia mengingat kembali kecurigaan yang selama ini dibungkamnya sendiri. Karena ia sangat yakin kalau Krisna sangat mencintainya dan keluarga kecil mereka. Linda yang tak kuat menahan rasa sakit atas pikiran dan hati yang berkecamuk, meraih bantal bulat tempat ia duduk kala menyusui. Ia pun menutup wajahnya dengan bantal, menangis sesenggukan dan berteriak keras, “Aku harus bagaimana?!"Linda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Seminggu terakhir terasa begitu berbeda bagi Linda.Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dalam kecurigaan, perempuan itu merasa sedikit lega. Krisna, suaminya, tidak lagi menyembunyikan ponselnya. Tidak ada lagi kebiasaan membawa telepon ke kamar mandi, membalik layar ketika Linda datang, atau tiba-tiba mengubah kata sandi.Lebih dari itu, Krisna juga selalu pulang tepat waktu.Setiap sore, suara kendaraan Krisna terdengar di halaman rumah sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kadang lelaki itu bahkan sempat membeli makanan kesukaan Linda dalam perjalanan pulang.Linda tahu, semua itu belum tentu menghapus luka yang pernah dibuat suaminya. Tetapi setidaknya, untuk sementara, hatinya tidak lagi dipenuhi pertanyaan."Semoga memang sudah selesai," gumam Linda suatu malam sambil memandangi Krisna yang sedang memainkan ponselnya di ruang tengah.Krisna menoleh. "Kenapa?""Enggak apa-apa,” Linda tersenyum kecil.Mungkin dirinya memang sudah terlalu lelah untuk terus mencurig
Keesokan harinya, Santi tidak mampu menerima keputusan Krisna yang tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan mereka. Semalaman ia menangis, marah, dan merasa dipermainkan. Bagi Santi, semua janji yang pernah diucapkan Krisna seolah tidak berarti apa-apa. Karena itulah, pagi-pagi sekali ia memberanikan diri datang ke kantor Krisna.Begitu melihat Santi berdiri di depan ruangannya, Krisna langsung terkejut. Ia tahu perempuan itu sedang dikuasai emosi.“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Krisna dengan suara tertahan.“Aku mau bicara!” jawab Santi tajam. “Kemarin kamu bilang semuanya selesai. Setelah selama ini kamu memberikan harapan kepadaku, sekarang kamu begitu saja meninggalkanku?”Krisna menarik napas panjang. Ia melirik ke kanan dan kiri, khawatir percakapan mereka terdengar oleh rekan-rekan sekantornya.“Santi, jangan bicara di sini.”“Aku tidak peduli!” Santi membalas. “Kalau kamu mau meninggalkanku, aku juga bisa membuat semua orang tahu hubungan kita.”Wajah Krisna seketika berubah.
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna
Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!”
“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisn







