LOGINUsai Linda basa-basi dengan menanyakan keluarga sang mantan dan meletakkan secangkir teh yang dibawa oleh Tati, wanita cantik itu langsung menanyakan keperluan sang mantan bertemu dengannya.
“Bara, ada keperluan apa kamu cari aku? Karena tidak mungkin kamu jauh-jauh mencari rumahku, kalau tidak ada keperluan,” ujarnya seraya meneguk teh. Ambara tersenyum dan meraih cangkir berisi teh. Lelaki tampan itu meneguknya hingga tuntas. Usai meletakkan cangkir, Ambara menatap Linda dan berkata, “Aku akan menikah. Aku harap kamu hadir di pernikahan aku.” Mendengar ucapan Ambara, ada rasa sakit yang menyusup dalam hati Linda. Sesaat ia menunduk dan tanpa disadarinya menarik napas. 'kenapa hatiku terasa sakit seperti ini?' bisiknya dalam hati saat mendengar kabar tersebut. 'Aku tidak boleh seperti ini. Aku yang buat dia patah hati.' “Linda...” panggil Ambara memberikan undangan berwarna coklat pekat dengan suara terdengar sedih. Linda langsung meraih undangan pernikahan Ambara dan berkata, “Ok! Aku akan datang.” Sesaat keheningan kembali terjadi di ruang tamu berukuran 3 meter persegi usai mereka mengobrol tentang keluarga Ambara. Karena, hubungan keluarga Ambara dan keluarga Linda sudah sangat baik, kala itu. Keheningan itu, terpecahkan saat Tati masuk ke ruang tersebut dan berbicara pada Linda. “Maaf Bu, waktunya menyusui dek Laras.” Mendengar hal itu, Ambara langsung berdiri dan berpamitan. “Baiklah, aku pamit dulu. Aku tunggu kedatangan kamu dan suami. Mama, papa dan keluargaku sangat kangen kamu.” Linda menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Ya, titip salam kembali. Maaf aku enggak bisa antar.” Ambara mengangguk dan melangkahkan kaki keluar dari rumah tipe 45 menuju mobil Pajero sport merah. Sesaat kemudian, mobil tersebut meluncur meninggalkan perumahan tersebut. Tati yang menutup pintu pagar dan melihat kendaraan Ambara berjalan menuju pintu, bermonolog, "Pasti tadi mantan Ibu. Kelihatan sekali cara memandangnya." Linda terlihat tengah menyusui putri kecilnya di dalam kamar ketika Tati masuk ke kamar tersebut sembari membawa kartu undangan yang tertinggal di ruang tamu. “Bu, ini undangannya ketinggalan.” “Terima kasih, Tati. Taruh saja di meja itu,” tunjuk Linda. Tati yang telah bekerja selama lima tahun, sejak Bagus berusia satu bulan terbiasa mengobrol dengan Linda. Maka tanpa ragu Tati bertanya padanya. “Bu, tadi itu mantan Ibu ya?” Linda mengernyitkan dahinya dan tersenyum samar menjawab Tati, “Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Dia itu teman masa kecil Ibu.” “Tapi kok, kalau saya lihat dari mata tamu tadi, seperti ada yang beda,” ungkap Tati. “Ah! Kamu itu ada-ada saja. Bagus tidur ya?” elak Linda mengalihkan topik pembicaraan. “Bagus tidur sama Bapak. Tadi dia merengek minta tidur sama Bapak. Padahal Bapak sudah nyenyak.” “Sepertinya dia kangen sama papanya,” ujar Linda sembari meletakkan bayi mungil berparas cantik. Tati mendekati Linda dan bertanya, “Bu, masa lelaki ganteng tadi teman masa kecil? Soalnya saya lihat beda, Bu.” “Beda apanya sih?” tanya Linda tersenyum simpul dan membuka kartu undangan Ambara. “Bu! Matanya itu penuh cinta waktu memandang Ibu,” ungkap Tati. “Serius Bu.” “Tolong kalau ada bapak, kamu jangan ngomong tentang lelaki tadi ya,” pinta Linda usai membaca kartu undangan dan meletakkan di dekat bantal Laras Nugraha, bayi cantiknya. “Betul kan, lelaki tadi mantan Ibu. Coba Ibu sama lelaki itu, pasti enggak akan dibohongi....,” ucap Tati terputus. “Dibohongi? Maksud kamu, bapak bohongi aku? Apa ada yang luput dari penglihatanku atas kelakuan bapak? Apa kamu tahu sesuatu?” cecar Linda bertanya tanpa seja dan menatap Tati,tajam. Tati yang ditatap tajam oleh Linda, mencoba untuk mengelak atas apa yang sudah dikatakan. “Enggak ada yang saya tahu, Bu. Sumpah!” Melihat gelagat Tati yang tidak biasa, membuat Linda merasa curiga pada asisten rumah tangga yang telah bekerja selama lima tahun dan telah dianggap sebagai keluarga. Ia pun berbisik lirih dalam hati. 'Jangan-jangan, Tati ada main gila sama suamiku.' Setelah itu, Linda memegang kedua tangan Tati dan berucap, “Tolong kamu jujur. Apa bapak pernah merayu kamu atau lebih dari itu?” Seketika kedua bola mata Tati membulat dan langsung menyangkal perkataan Linda. “Demi Allah Bu ... enggak pernah bapak berlaku seperti itu terhadap saya.” Mendengar Tati menyangkal, Linda memegang kedua tangan pembantunya dan menatap tajam. “Sekarang, kamu jelaskan padaku. Kenapa kamu berpikir aku dibohongi sama suamiku?” Tati menunduk. Pembantu yang telah bekerja selama lima tahun itu menghela napas. Lalu, Tati menatap wajah Linda dan berujar, “Tapi Ibu janji ya...” “Janji apa?” tanya Linda tak sabar. “Janji enggak tanya ke bapak. Soalnya saya masih ingin kerja di sini. Ibu sendiri tahu kan, kedua adik saya belum selesai sekolahnya,” pinta Tati yang selama ini terbiasa mengobrol dengan Linda perihal keluarganya. “Ya, aku janji.” Linda mengatakan hal itu dengan pikiran negatif atas suaminya. “Bu, maaf. Sebenarnya sudah beberapa kali saya menemukan...” Tati tidak melanjutkan ucapannya. Wanita muda itu memegang bagian ujung kaos yang dipakainya. Seolah ia sedang memberikan kekuatan atas apa yang akan disampaikan pada wanita beranak dua tersebut. “Menemukan apa? Kenapa kamu enggak melanjutkan kata-katamu? Tolong jujur, Ti!” tegas Linda menatap tajam ke arah Tati, dan berupaya ingin mengorek apa yang disembunyikan wanita muda itu. “Tapi Bu, saya enggak mau kalau karena ini, Ibu dan bapak bertengkar. Saya takut, Ibu marah,” ucap Tati menarik diri untuk menutup apa yang ingin disampaikan. “Tati, tolong bicaralah. Aku enggak akan bertengkar dan aku jamin kamu akan tetap kerja di sini,’ pinta Linda kembali memegang kedua tangan wanita muda tersebut. Bersamaan dengan itu, terdengar langkah seseorang mendekati kamar dan memanggil namanya. “Tati ... Tati ...” “Aduh! Bapak panggil saya, Bu!” ucapnya gemetaran.Linda masih memandangi kursi kosong tempat Ambara tadi duduk, tangannya perlahan menyentuh kertas kecil yang bertuliskan kalimat sederhana itu.'Selamat menikmati makanan kesukaan kita. ❤️'Seketika, pikirannya seperti ditarik kembali bertahun-tahun ke masa lalu. Ke sebuah sore ketika dirinya dan Ambara masih bersama. Saat itu, hujan baru saja turun. Linda berdiri di depan sebuah kedai kecil sambil memeluk tasnya. Rambutnya sedikit basah karena ia lupa membawa payung. Ambara datang beberapa menit kemudian dengan napas terengah-engah. “Maaf, aku terlambat.”Linda memasang wajah kesal. “Kamu selalu begitu.”Ambara tertawa. “Kalau aku tidak terlambat, nanti kamu tidak punya alasan untuk marah kepadaku.”Linda mendengus, tetapi bibirnya tak mampu menahan senyum.Ambara kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. “Ini.”Linda melihat sebuah bungkus makanan. Matanya langsung berbinar. “Otak-otak?”Ambara mengangguk. “Aku tahu kamu belum makan.”Linda menerima makanan itu dengan seny
Linda sudah tahu bahwa Krisna telah berbohong kepadanya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Ada terlalu banyak kejanggalan yang akhirnya membuat Linda berhenti percaya pada kata-kata suaminya. Namun, anehnya, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit pula baginya untuk bertanya. Dulu, Linda selalu berani menatap mata Krisna dan menuntut sebuah penjelasan.‘Siapa Santi. Kenapa kamu menghubunginya. Di mana kamu sebenarnya?’ Bisik Linda dalam hati.Pertanyaan-pertanyaan itu dulu begitu mudah keluar dari bibirnya. Sekarang tidak. Linda sudah terlalu lelah mendengar jawaban yang tidak pernah benar-benar menjawab. Setiap kali ingin bertanya tentang Santi, ada sesuatu yang menahan lidahnya. Ia takut mendengar kebohongan berikutnya. Ia takut menemukan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sudah ia ketahui. Maka Linda memilih diam. Tetapi diam bukan berarti tidak tahu. Diam justru membuat matanya semakin peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di rumah.Siang itu, Linda baru
Linda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Pikiran Linda yang kacau membuat wanita cantik itu terlelap di lantai permadani kamar anak keduanya usai ia melepaskan rasa sakit, gelisah pada sebuah bantal dan tertidur. Tanpa disadari, Krisna masuk ke kamar bayi. Lelaki itu meraih tubuh Linda, membopong dan membawa ke kamar mereka. Saat dibo
Mobil sedan berwarna hitam masuk ke sebuah halaman. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menutup pintu pagar usai sebuah mobil berjenis sedan tahun lama masuk ke halaman rumah. Seorang lelaki berusia 35 tahun berkulit sawo matang keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah koper ke
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna







