MasukSeminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya.
“Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang menghubunginya. “Wah! Mimpi apa aku semalam ya? Tumben pagi-pagi telepon. Bukannya setiap hari minggu kamu malas bangun pagi? Sebenarnya kemarin itu, aku mau telepon kamu. Eh, malah lupa. Berarti telepati aku kepada kamu sampai dong,” tutur Linda. “Iya kita kan sohib. Ngomong-ngomong mau aku bawakan apa? Kamu enggak masak kan?” tanya Rima. “Karena kamu mau ke rumah, aku akan masak kesukaan kamu. Tapi, kok tumben anak dan suamimu mau diajak jalan-jalan ke rumahku,” ujar Linda. “Pertama, aku bangun pagi karena ada saudara yang anaknya dikhitan, jadi pagi ini aku ke sana dan kebetulan rumahnya dekat perumahan kamu. Tapi, anak dan suamiku nanti enggak ikut ke rumahmu, karena aku ada rencana untuk ajak kamu keluar. Bisa kan, kita keluar?” ujar Rima usai menjelaskan secara gamblang rencananya. “ Baiklah, aku juga lagi suntuk, ingin jalan-jalan cari udara segar. Sekalian mau ajari Laras minum susu formula sebelum aku kerja lagi,” ungkap Linda menutup pembicaraan dengan teman satu kantor yang jadi sahabat karibnya sejak bekerja. Sementara itu di hadapan Linda, terlihat Krisna menikmati sarapannya sembari mendengarkan percakapan Linda dan Rima secara saksama. Usai Linda mengakhiri hubungan telepon dengan Rima, ia pun, langsung bertanya pada istrinya. “Ada apa teman kantormu telepon?” Krisna menatap penuh selidik atas percakapan yang hanya bisa didengar sepihak. “Nanti Rima mau ke rumah,” jawab Linda melanjutkan sarapan. “Tumben, mau apa ke rumah?” tanyanya kembali dengan intonasi tak suka. Linda yang mendengar intonasi penolakan pada Rima pun, angkat bicara. “Kok Mas Krisna ngomong seperti itu? Kami kan, sudah dua bulan enggak bertemu. Lagi pula, dia sekalian jalan ke sini karena anak saudaranya khitanan.” “Oh begitu,” ucap Krisna masih menatap Linda dengan perasaan tidak karuan. Linda yang sedang menikmati sarapan dan sadar Krisna masih menatapnya, membalas tatapan suaminya dengan mengernyitkan alisnya. “Kenapa Mas?” “Enggak kenapa.” Krisna berlalu dari hadapan Linda menuju teras dan duduk pada kursi besi. “Tati...” “Saya, Pak...” jawab Tati, melangkah menuju teras. “Buatkan aku kopi,” pinta Krisna. “Baik Pak,” jawab Tati berlalu dari hadapan sang bos. Beberapa saat kemudian, ponsel Krisna bergetar dan dengan celingukan ke sisi pintu ruang tamu, lelaki berkulit coklat, berambut ikal tersebut menjawab panggilan dari Santi, selingkuhannya. “Ya sayang,” jawabnya pelan. “Halo! Pasti ada istrimu kan? Kenapa sih, kamu takut sama dia?!” tegur Santi diujung telepon. Krisna yang merasa tertekan saat tidak bisa leluasa berbicara dengan selingkuhannya keluar rumah dan berkata, “Sayang, sepertinya kita enggak bisa keluar hari ini.” “Kenapa? Hebat sekali istrimu sudah berani melarang kamu. Apa Mas jatuh cinta lagi sama perempuan itu?!” tuduh Santi dengan intonasi tinggi. Mendengar Santi emosi saat mendengar penjelasannya, ia pun membujuk. “Sayang, percayalah padaku. Aku sudah tidak punya rasa pada perempuan itu dan sejak dia melahirkan, tidak sekalipun aku menyentuhnya. Aku hanya merindukan milikmu.” “Tapi kenapa Mas enggak jadi ke kos? Aku kangen sama kamu. Sudah dua hari aku merindukan kamu, Mas...” rengek Santi minta penjelasan. “Sayang, kamu ingat wanita yang bertemu kita di restoran seminggu lalu? Wanita itu akan ke rumah. Aku yakin dia akan melaporkan kita,” lapor Krisna cemas. Ada rasa takut menyelimuti relung hati Krisna jika ketakutannya menjadi nyata, kalau Rima ke rumah untuk memberitahu Linda perihal pertemuan mereka di restoran. Namun, berita itu membuat Santi bahagia. “Baguslah kalau wanita jelek itu melaporkan semuanya pada istrimu. Setidaknya itu akan membuat perceraian kalian lebih cepat. Iya kan, Mas? Kalau bagaimana biar aku ke rumahmu, biar semuanya terbongkar dan lebih jelas,” ungkapnya penuh rasa bahagia. “Jangan gila kamu! Aku justru kuatir dia akan berbicara dengan Linda. Karena itu, aku pikir untuk sementara ini aku hapus semua fotomu dan menghapus nomor teleponmu. Aku takut....” “Mas! Jahat sekali kamu. Aku yakin kamu masih cinta sama istrimu. Makanya, kamu takut dan mau menghindari aku. Ingat! Akan aku hancurkan rumah tanggamu kalau kamu hindari aku!” teriak Santi. Mendengar selingkuhannya kalap dan takut Santi melakukan hal gila dengan datang ke rumah, Krisna pun, meredam wanita itu dengan sebuah janji baru. “Sayang, dengarkan aku ... Dengar sayang. Aku janji, setelah teman kantor Linda pulang dan semua aman-aman saja, aku akan ke kos kamu. Serius, aku akan ke tempat kamu walaupun sudah tengah malam.” Santi akhirnya luluh dengan janji yang diucapkan Krisna dan menjawab dengan manja, “Benar ya, aku kangen sama kamu. Buat aku histeris seperti kemarin ya Mas...” “Ya, sayang. Aku akan membuat kamu histeris terus menerus malam ini. Akan aku siapkan diriku untuk buat kamu tidak melupakan cinta kita,” rayu Krisna dengan perasaan lega. Karena setidaknya ia sudah bisa meredam amarah Santi yang akan berakibat fatal pada rumah tangganya.Linda masih memandangi kursi kosong tempat Ambara tadi duduk, tangannya perlahan menyentuh kertas kecil yang bertuliskan kalimat sederhana itu.'Selamat menikmati makanan kesukaan kita. ❤️'Seketika, pikirannya seperti ditarik kembali bertahun-tahun ke masa lalu. Ke sebuah sore ketika dirinya dan Ambara masih bersama. Saat itu, hujan baru saja turun. Linda berdiri di depan sebuah kedai kecil sambil memeluk tasnya. Rambutnya sedikit basah karena ia lupa membawa payung. Ambara datang beberapa menit kemudian dengan napas terengah-engah. “Maaf, aku terlambat.”Linda memasang wajah kesal. “Kamu selalu begitu.”Ambara tertawa. “Kalau aku tidak terlambat, nanti kamu tidak punya alasan untuk marah kepadaku.”Linda mendengus, tetapi bibirnya tak mampu menahan senyum.Ambara kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. “Ini.”Linda melihat sebuah bungkus makanan. Matanya langsung berbinar. “Otak-otak?”Ambara mengangguk. “Aku tahu kamu belum makan.”Linda menerima makanan itu dengan seny
Linda sudah tahu bahwa Krisna telah berbohong kepadanya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Ada terlalu banyak kejanggalan yang akhirnya membuat Linda berhenti percaya pada kata-kata suaminya. Namun, anehnya, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit pula baginya untuk bertanya. Dulu, Linda selalu berani menatap mata Krisna dan menuntut sebuah penjelasan.‘Siapa Santi. Kenapa kamu menghubunginya. Di mana kamu sebenarnya?’ Bisik Linda dalam hati.Pertanyaan-pertanyaan itu dulu begitu mudah keluar dari bibirnya. Sekarang tidak. Linda sudah terlalu lelah mendengar jawaban yang tidak pernah benar-benar menjawab. Setiap kali ingin bertanya tentang Santi, ada sesuatu yang menahan lidahnya. Ia takut mendengar kebohongan berikutnya. Ia takut menemukan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sudah ia ketahui. Maka Linda memilih diam. Tetapi diam bukan berarti tidak tahu. Diam justru membuat matanya semakin peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di rumah.Siang itu, Linda baru
Linda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna
Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!”
Pikiran Linda yang kacau membuat wanita cantik itu terlelap di lantai permadani kamar anak keduanya usai ia melepaskan rasa sakit, gelisah pada sebuah bantal dan tertidur. Tanpa disadari, Krisna masuk ke kamar bayi. Lelaki itu meraih tubuh Linda, membopong dan membawa ke kamar mereka. Saat dibo
Mobil sedan berwarna hitam masuk ke sebuah halaman. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menutup pintu pagar usai sebuah mobil berjenis sedan tahun lama masuk ke halaman rumah. Seorang lelaki berusia 35 tahun berkulit sawo matang keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah koper ke







