Partager

Bab 6

Auteur: Sia
Tiba-tiba Yasmin merasa lelah. Dengan alasan kelelahan, dia pun beristirahat lebih awal.

Galen memeluknya sambil berbaring selama satu jam. Setelah napas Yasmin terdengar teratur, dia mengenakan pakaian dengan hati-hati dan pergi.

Di atas salju, Yasmin mengikuti jejak kaki Galen hingga sampai di kediaman Naura.

Baru saja mendekat, dia mendengar suara benda pecah, seperti porselen yang dilempar hingga hancur.

Suara Naura terdengar dengan nada menangis. "Untuk apa kamu masih datang ke sini? Pergilah menemani calon putri mahkotamu!"

"Jangan mengada-ada." Suara Galen terdengar tidak berdaya. "Bukankah aku sudah datang?"

"Beberapa hari ini kamu terus menemaninya!"

"Aku hanya merasa bersalah." Galen menghela napas. "Bagaimanapun, aku telah melukai matanya."

Setelah terdengar suara ciuman yang mesra, suara Galen kembali melunak. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuturuti. Bagaimana?"

Naura terisak-isak, lalu akhirnya tersenyum di sela tangisnya. "Pemandangan salju hari ini bagus sekali. Aku mau naik di pundakmu seperti menunggang kuda! Kita bermain perang salju!"

Para pelayan istana di dalam ruangan serentak menarik napas kaget.

Pengawal buru-buru mencegahnya. "Yang Mulia memiliki tubuh yang sangat berharga, sama sekali tidak boleh."

"Diam." Galen terkekeh pelan. Setelah itu terdengar suara gesekan kain. "Naiklah, putri kecilku."

Melalui celah jendela, Yasmin melihat Galen berlutut di atas salju. Jubah naga hitamnya dipenuhi serpihan salju.

Naura duduk di pundaknya sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya menggenggam gumpalan salju dan memasukkannya ke kerah baju Galen.

Galen tidak hanya tidak marah, dia bahkan menopang lipatan lutut Naura dan mengangkatnya sedikit. "Duduk yang erat. Kalau jatuh, aku tidak akan bertanggung jawab."

Salju jatuh di bulu mata Yasmin, lalu mencair menjadi tetesan air yang mengalir turun.

Ternyata, ketika seseorang terluka sampai ke titik paling dalam, dia benar-benar tidak mampu menangis.

Yasmin berjalan kembali dengan langkah terhuyung-huyung. Luka di dadanya kembali mengeluarkan darah, menetes membentuk garis merah tipis di atas salju, begitu mirip dengan jejak darah di jalan pegunungan yang dulu dia lewati sambil menggendong Galen dalam perjalanan menuju pengasingan.

Sejak kejadian di atas salju hari itu, Yasmin tidak pernah lagi keluar dari kediamannya.

Dia hanya diam menyulam pakaian pengantin. Benang emas bergerak di atas kain sutra merah, satu tusukan demi satu tusukan, semuanya menjadi tanda perpisahan.

Tiga hari sebelum pernikahan politik, seorang pengawal mengantarkan satu set pakaian berkuda dan memanah yang baru. Katanya, itu adalah perintah yang mulia putra mahkota.

Dalam jamuan perburuan kerajaan yang diadakan setiap tahun, Galen akan membawa Yasmin ikut serta.

Pada hari perburuan, langit cerah setelah salju turun.

Ketika Yasmin sedang menginjak bangku kecil dan hendak naik ke kereta, tiba-tiba terdengar suara manja dari belakang. "Kakak, tunggu aku!"

Naura mengenakan pakaian berkuda berwarna merah muda persik. Perutnya masih belum tampak membesar, tetapi dia sengaja menopang pinggangnya dan berjalan perlahan. "Tabib istana berkata bahwa banyak bergerak baik untuk janin, jadi yang mulia mengizinkanku ikut."

Beberapa saat kemudian, Galen baru naik ke kereta. Sepanjang perjalanan, dia memang tidak berbicara dengan Naura, tetapi tatapannya selalu tanpa sadar jatuh kepadanya.

Ketika Naura batuk, dia langsung menyodorkan air hangat.

Ketika Naura mengeluhkan kereta yang berguncang, dia memerintahkan orang untuk memperlambat laju.

Ketika Naura membuka tirai untuk melihat pemandangan, dia diam-diam merapikan jubah luarnya agar lebih rapat.

Seolah menyadari bahwa dirinya telah mengabaikan Yasmin, Galen berdeham pelan dan mendorong cangkir teh ke arahnya. "Yasmin, minumlah teh hangat."

Yasmin tidak bergerak.

Kemudian, Galen tanpa sadar mengambil sepotong manisan, tetapi berhenti di tengah jalan saat hendak memberikannya.

Itu adalah manisan aprikot yang disukai Naura, sedangkan Yasmin sejak dulu tidak menyukai makanan manis.

Ternyata, ketika mencintai seseorang, bahkan hal-hal kecil pun akan terukir hingga ke dalam tulang.

Sementara terhadap orang yang tidak dicintai, sekeras apa pun berusaha, tetap tidak akan diingat sedikit pun.

Yasmin tertawa pelan, lalu diam-diam menatap ranting-ranting kering yang melintas cepat di luar jendela.

Di arena perburuan, Galen mengenakan jubah luar hitam yang membuat wajahnya makin tampan. Dia melompat naik ke atas kuda, lalu berkata lembut kepada Yasmin, "Yasmin, aku akan memburu seekor rubah putih untukmu dan membuatkan jubah baru."

Setelah terdiam sejenak, Galen menambahkan, "Naura sedang tidak leluasa bergerak. Kamu ... jagalah dia dengan baik."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status