LOGINRUMAH MODE KINANTI.
Kinanti Atmadja, mengenakan kemeja putih dan rok pensil hitam, berjalan melewati deretan kain satin dan manekin yang dipajang rapi di lorong utama. Tatapannya fokus, wajahnya tenang—nyaris tak menunjukkan bahwa hidup pribadinya baru saja porak-poranda. “Kak,” panggil seseorang di belakangnya. Asisten pribadinya, Hana, berlari kecil menyusul sambil membawa tablet di tangannya. “Nanti siang ada klien, Kak. Kakak tahu kan influencer yang lagi booming itu? Tarina?” ucapnya cepat sambil menyesuaikan langkah. Kinanti melirik sekilas, bibirnya membentuk senyum tipis. “Ah, yang viral karena video dia nangis itu, kan?” tanyanya datar. Ceklek. Pintu ruang kerja Kinanti terbuka. Aroma teh melati langsung menyambut begitu ia masuk. Ia meletakkan tas tangan di atas meja kerja kayu mahoni yang bersih dari berkas, hanya ada tumpukan sketsa dan laptop terbuka. “Iya, Kak, yang itu,” lanjut Hana sambil berdiri di depan meja. “Dia mau bikin pesta ulang tahun mewah minggu depan, dan mau pesan gaun langsung ke Kak Kinanti. Tapi, umm... manajernya nanya sesuatu, Kak.” Kinanti menatap Hana tanpa ekspresi. “Nanya apa?” “Katanya... apakah Bu Kinanti berminat karya-karyanya dipromosikan oleh Tarina? Sebagai gantinya, gaunnya nanti digratiskan. Pembayarannya cukup lewat postingan di media sosial Tarina.” Ruangan itu seketika sunyi beberapa detik. Kinanti mendongak dari kursi, menatap asisten mudanya itu dengan tatapan datar tapi tegas. “Hana,” suaranya lembut tapi tajam. “Apakah aku terlihat seperti desainer baru yang sedang merintis karier dan butuh engagement dari bocah ingusan?” Nada suaranya tidak meninggi, tapi cukup untuk membuat Hana menunduk cepat. “Tidak, Kak... saya paham. Saya akan tolak tawarannya dan sampaikan secara sopan.” Kinanti mengangguk singkat. “Bagus. Aku tidak menjual karyaku untuk likes dan komentar.” “Baik, Kak.” Hana menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan, menutup pintu dengan hati-hati. Kini hanya Kinanti dan kesunyian yang tersisa. Ia menghela napas perlahan, meraih pensil desain, lalu membuka buku sketsa berukuran besar di hadapannya. Jemarinya mulai menari di atas kertas—garis demi garis membentuk siluet gaun panjang dengan potongan tegas dan detail renda halus di bagian pinggang. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ada ruang kosong di dalam dirinya. Setiap tarikan garis seolah menjadi pelarian dari luka yang belum sembuh. “Bocah labil,” gumamnya pelan sambil tersenyum miring. “Baru terkenal sedikit, sudah merasa menjadi pusat dunia.” Ia menatap hasil sketsanya sebentar, lalu menutup buku itu perlahan. Beberapa menit kemudian, suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Kinanti mengernyit, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Di layar, muncul sederet pesan dari grup alumni Universitas Azzura. >Undangan reuni untuk seluruh angkatan lulusan Universitas Azzura.< Kinanti menatap pesan itu lama. Nama-nama yang sudah lama tak ia lihat muncul satu per satu, disertai emoji antusias dan nostalgia yang membanjiri grup. Ia tersenyum tipis. “Hm... mungkin aku memang butuh bertemu teman-teman lama,” gumamnya lirih. Ia mengetik singkat, tangannya bergerak cepat dan mantap: >Kinanti Atmadja: Aku hadir.< Pesannya terkirim. Ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja, lalu menyandarkan tubuh di kursi kerjanya yang empuk. Matanya menerawang ke arah jendela besar, memandangi langit yang masih abu-abu. “Aku tidak boleh terus berdiam diri...” ucapnya pelan. “Mungkin... aku hanya butuh seseorang yang bisa menghiburku sebentar.” ••• Sementara itu — di Gedung G. Holdings. Sebuah gedung tinggi di pusat kota Jakarta berdiri menjulang. Di lantai teratas, ruang kerja modern dengan dinding kaca menampilkan panorama kota. Di sana berdiri seorang pria gagah berjas abu tua, memandangi hiruk pikuk kota dari balik kaca. Cahaya sore memantul di wajahnya—tegas, tampan, dan matang. Di tangannya, ia menggenggam ponsel. Sebuah notifikasi baru saja muncul di layar: > Kinanti Atmadja: Aku hadir.< Senyum muncul perlahan di sudut bibirnya. Ada kilatan emosi di matanya—antara bahagia dan nostalgia. “Jadi kau datang juga, Kinan...” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan. Pria itu adalah Ganendra Adipati—pemilik G. Holdings, lelaki yang baru saja kembali dari luar negeri setelah bertahun-tahun menetap di sana. Dan yang lebih penting—lelaki yang sejak masa kuliah diam-diam mencintai Kinanti Atmadja. Kenangan lama melintas di pikirannya. Suara tawa Kinan, rambut hitamnya yang selalu dikuncir rapi, dan senyum lembut yang dulu menjadi semangatnya. Kini, setelah sekian lama... mereka akan bertemu lagi. Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. “Masuk,” ucapnya datar. Pintu terbuka, menampilkan sosok Bayu, asistennya yang membawa setumpuk berkas. “Boss, saya sudah mendapatkan semua data yang Anda butuhkan,” ucap Bayu sambil menyerahkan map cokelat ke meja. Ganendra berbalik, duduk di kursi kerjanya. Ia membuka map tersebut dengan cepat, matanya menelusuri setiap lembar dokumen. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum smirk penuh makna. “Semua ini valid?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas. “Benar, Bos. Sudah saya periksa sendiri—semuanya akurat.” Ganendra menutup map itu perlahan, lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh rencana. “Good,” ucapnya singkat. Namun di balik ekspresi profesional itu, ada sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan—perasaan bahagia yang muncul begitu saja. Ia menatap pantulan wajahnya di dinding kaca. “Ah, Bara...” gumamnya lirih. “Sahabatku, betapa bodohnya dirimu... kau menghianati berlian seindah Kinanti, hanya demi seekor lalat sampah.” ••• To be continued—Pukul dua dini hari.Kinanti terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa berat. Matanya perlahan terbuka, lalu refleks menoleh ke samping. Ganendra masih terlelap pulas di sebelahnya, wajah lelaki itu tampak tenang, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana tidak sedang berguncang.Kinanti bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia meraih kimono tipis yang tergeletak di sisi ranjang, menyampirkannya ke tubuhnya, lalu berdiri. Langkahnya pelan, mondar-mandir di sekitar ranjang, namun pikirannya jauh dari kata tenang.Dadanya terasa sesak.Tanpa sadar, ia menggigit kuku jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mengambil alih. Pandangannya kembali tertuju pada Ganendra. Lelaki itu terlihat begitu damai, begitu yakin akan hari esok, sementara hatinya sendiri penuh badai.Kinanti meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, menampilkan pesan terakhir dari Bara—suaminya.[Bara: Kinan... aku masih memberimu waktu sampai besok pukul sembila
“Brengsek!!! Kau benar-benar brengsek, Ganendra!!!” teriak Bara dengan suara parau penuh amarah. “Kau sahabatku!” Tepat saat itu, pintu unit Kinanti terbuka lebar. Dua orang sekuriti masuk dengan sigap, mata mereka langsung tertuju pada Bara yang masih berdiri dengan napas memburu dan wajah merah padam. “Pak, tolong usir dia,” ucap Kinanti dengan suara tegas, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. “Jangan biarkan dia menginjakkan kaki ke gedung ini lagi.” “Baik, Bu,” jawab salah satu sekuriti singkat. Kedua penjaga itu mendekati Bara dan bersiap mengamankannya. Namun Bara menepis tangan mereka dengan kasar. “Aku bisa keluar sendiri,” ucapnya dingin, lalu menoleh tajam ke arah Ganendra. “Dan dengarkan aku baik-baik, Ganendra. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Tidak sekarang, tidak nanti. Selamanya kau hanya akan dikenal sebagai perusak rumah tangga.” Kalimat itu dilontarkan seperti pisau—tajam dan disengaja untuk melukai. Tanpa menunggu balasan, Bara melangkah ke
BUGH!Pukulan telak itu mendarat tepat di rahang Ganendra. Kinanti tersentak. Ciuman hangat yang baru saja terasa masih melekat di bibirnya langsung terputus begitu saja.“Bara!!! Are you insane?!” teriak Kinanti, suaranya pecah antara marah dan tidak percaya.Ganendra terdorong beberapa langkah ke belakang, mengusap sudut bibirnya yang langsung mengucurkan darah. Sementara itu Kinanti refleks berdiri, ingin menghampiri Ganendra. Namun sebelum ia sempat melangkah—Bara, yang wajahnya sudah merah padam penuh amarah, langsung mendorong Kinanti dengan kasar. Dorongan itu membuat tubuh Kinanti sedikit terseret mundur.“Bara!!” seru Kinanti, tersentak dan terkejut.Namun tindakan itu justru menyulut sesuatu dalam diri Ganendra. Tatapan matanya berubah tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu. Melihat perempuan yang ia cintai didorong seperti sampah membuat darah Ganendra mendidih seketika.Tanpa pikir panjang, Ganendra bangkit dan menarik kerah baju Bara, kemudian membalas dengan pu
Siang hari, cahaya matahari jatuh lembut melalui tirai krem apartemen Kinanti, menciptakan suasana hening namun tegang. Kinanti duduk tegak di sofa ruang tamu, rambutnya diikat rapi, wajahnya tetap tenang meski sorot matanya jelas menyimpan beban.Di sampingnya, Ganendra duduk dengan posisi sedikit condong ke arahnya, seolah tubuhnya secara naluriah ingin menjadi pelindung. Jemari mereka saling bertaut, memberi kekuatan yang diam-diam tetapi kuat.Di hadapan mereka duduk seorang perempuan elegan masih muda dengan aura profesional yang tegas — Shanika, salah satu pengacara kenamaan di Indonesia. Berkas tebal berada di pangkuannya, beberapa sudah dibuka di meja kaca.“Saya hanya menginginkan perceraian yang tenang,” ucap Kinanti, suaranya pelan namun mantap. “Tanpa huru-hara, apalagi media. Saya tidak ingin hidup saya menjadi konsumsi publik.”Shanika mengangguk pelan. Jemarinya yang berpengalaman membuka halaman demi halaman dokumen: bukti perselingkuhan Bara dengan Nadia — foto-foto m
“Bicara yang jelas, Pah… saya tidak mengerti.” suara Ganendra terdengar datar namun tegang. Di pelukannya, Kinanti menggeliat kecil. Dia masih dalam keadaan telanjang, hanya seprai tipis menutupi tubuhnya. Refleks, Ganendra mengusap punggungnya pelan — gerakan otomatis, protektif, agar wanita itu tetap tidur. Suara di telepon kembali terdengar, tajam, penuh tekanan. “Kau tahu… sahabatmu itu menyuap media untuk merilis berita tentangmu dan istrinya. Kau sangat beruntung, semua media besar di Indonesia masih dalam kendali Papa.” Ganendra memejamkan mata sebentar, rahangnya mengeras. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kejengkelan. “Lalu?” tanyanya singkat. Nada ayahnya berubah — tidak hanya marah, tetapi kecewa dan murka. “Apa kau sudah gila, Ganendra? Wanita mana yang tidak bisa kau dapatkan? Mengapa kau harus berhubungan dengan istri orang lain?” Tatapan Ganendra bergeser ke wajah Kinanti. Rambut wanita itu jatuh menutupi pipinya, bibirnya sedikit terbuka, napasn
Bara diam sejenak di depan pintu. Nafasnya berembus berat sebelum akhirnya ia memasukkan passcode apartemen yang hanya dia dan satu perempuan itu tahu. “Nadia…” panggilnya pelan. Dari dalam, langkah kaki cepat terdengar. “Mas udah dateng…” Nadia menghampirinya dengan senyum lega. Rambutnya tergerai kusut manis, masih memakai oversized t-shirt milik Bara—yang kini jelas tak lagi pas menutupi perutnya yang membuncit. Tanpa menunggu reaksi, Nadia langsung memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Bara, wajahnya menempel di dadanya. Tapi Bara kaku. Pelukannya tidak kembali seperti biasanya—tidak ada sentuhan lembut di punggung, tidak ada kecupan cepat di ubun-ubun kepala Nadia seperti rutinitas malam-malam sebelumnya. Nadia menangkap perubahan itu dalam sekejap. “Mas…” suaranya pelan, penuh tanya, “Mas kenapa?” Bara menghela napas panjang sebelum menjawab. “Tidak apa-apa, Nad. Mas cuma… lagi capek. Banyak kerjaan di kantor, dan… aku harus bolak-balik urus mertua yang masuk rum







