MasukMalam itu berlalu begitu saja. Setelah semua amarah yang meledak di ruang kerja Bara, keheningan menjadi pengganti segalanya.
Kinanti menunggu—entah menunggu penjelasan, penyesalan, atau sekadar satu kalimat permintaan maaf dari pria yang dulu ia cintai. Tapi yang datang justru suara pintu tertutup keras. Bara meninggalkannya begitu saja. Kini, Kinanti duduk di tepi ranjang kamarnya. Tangannya yang sempat terluka sudah diperban oleh salah satu maid, tapi nyerinya masih terasa. Luka itu kecil, tapi baginya seolah menandai betapa mudahnya sesuatu bisa pecah... sama seperti pernikahannya. Ia menatap kosong ke arah jendela. Hujan masih turun, deras dan dingin. Setiap tetesan seolah menyatu dengan air matanya yang tak kunjung berhenti. Dengan tangan gemetar, Kinanti meraih ponsel di atas nakas, lalu menekan nomor yang sudah sangat ia hafal—nomor ibunya. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara lembut menyapanya dari seberang. “Halo, Kinan...” Sapa suara hangat itu. Kinanti menggigit bibirnya. Suara itu biasanya menenangkan, tapi malam ini justru membuat air matanya pecah lagi. “Bu...” suaranya lirih, hampir tercekik isak. “Kinan, ada apa, nduk?” tanya ibunya pelan. Kinanti tak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak. Ia menahan napas, lalu berkata dengan suara bergetar, “Bu... Bara... dia selingkuh, Bu.” Keheningan seketika mengisi sambungan telepon. “Apa?” suara ibunya meninggi sedikit. “Tidak mungkin, Kinan. Bara lelaki baik. Menantu Ibu tidak mungkin seperti itu.” Kinanti menutup matanya, air matanya mengalir deras. “Bu, aku tidak berbohong... dia benar-benar berselingkuh. Dan—” suaranya patah, “selingkuhannya... hamil.” Kali ini, hanya terdengar napas berat dari seberang sana. Sunyi. Seolah sang ibu tengah berusaha mencerna sesuatu yang sulit dipercaya. Beberapa detik kemudian, suara itu kembali terdengar, tenang tapi jauh. “Nduk... lebih baik kamu istirahat dulu, ya. Besok kamu datang ke rumah. Ayah dan Ibu tunggu di sini, Nak.” Kinanti mengernyit. Ia berharap mendengar empati, pelukan lewat kata-kata, tapi yang ia dapatkan hanyalah jarak. “Iya, Bu... besok Kinan ke rumah Ibu,” ucapnya lemah. Sambungan pun terputus. Kinanti menatap layar ponselnya sesaat, sebelum melemparnya ke arah nakas. Ponsel itu jatuh, dan tangisnya kembali pecah. “Bahkan reaksi Ibu...” bisiknya parau. “Sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran untuk putrinya.” Ia memeluk dirinya sendiri di tengah kesunyian malam. Hanya suara hujan yang menemani, menjadi saksi dari kepedihan yang tak bisa ia bagi kepada siapa pun. ••• Keesokan harinya. Langit Jakarta masih mendung ketika mobil hitam yang ditumpangi Kinanti berhenti di halaman rumah mewah milik orang tuanya. Gerbang besi tinggi terbuka otomatis, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang terawat sempurna—semuanya tampak sama seperti dulu. Tapi bagi Kinanti, rumah itu kini terasa asing. Seorang maid segera membukakan pintu mobil. “Selamat pagi, Non Kinan,” sapanya sopan. Kinanti hanya mengangguk tipis dan berjalan masuk. Dari arah ruang keluarga terdengar suara ayah dan ibunya yang sedang berbincang. Suara mereka terdengar ringan, seolah tidak ada badai yang baru menghantam hidup putri mereka. “Ayah... Ibu...” panggil Kinanti dengan suara pelan saat melangkah masuk. Kedua orang tuanya menoleh bersamaan. Ibunya, Nimas Asih, segera mempersilakan Kinanti duduk di sofa di dekatnya. “Duduk di sini, Kinan,” ucapnya lembut. Begitu duduk, Kinanti langsung memeluk ibunya. Tangis yang ia tahan sejak pagi pecah begitu saja di pelukan itu. “Bu... Kinan sudah tidak sanggup...” suaranya nyaris seperti anak kecil yang kehilangan arah. Nimas mengusap punggung putrinya perlahan. “Sabar, nduk... ini ujianmu,” katanya lembut, meski tanpa nada tegas yang diharapkan Kinanti. Dari seberang meja, sang ayah, Raden Gibran Atmadja, hanya menatap mereka dengan wajah keras. “Apa yang harus kau tangisi, Kinan?” ucapnya datar. Kinanti menoleh cepat, menatap ayahnya dengan mata merah dan wajah kecewa. “Apa maksud Ayah? Putri Ayah sedang hancur!” serunya parau. “Aku ingin bercerai dengan Bara, Ayah.” Brakk! Suara tangan Gibran menggebrak meja ruang keluarga membuat Kinanti terlonjak. “Jangan asal berbicara, Kinan! Sampai kapan pun, perceraian itu tidak akan pernah terjadi!” tegasnya. Kinanti terdiam beberapa detik sebelum suaranya naik, penuh amarah dan luka. “Ayah... apa maksud Ayah? Apa aku harus menerima semuanya? Bara punya wanita lain, Ayah! Aku yang dipermalukan, tapi kenapa aku yang harus diam?” Ibunya cepat menggenggam tangan Kinanti, mencoba menenangkan. “Jangan dengan emosi, Kinan...” bisiknya pelan. Kinanti menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang hampir pecah lagi. Ayahnya menatap tajam, nadanya tak terbantahkan. “Dengarkan Ayah. Wanita itu tidak mungkin akan diterima oleh keluarga Pramayudha. Dia akan selamanya tersembunyi, dan kau akan tetap menjadi Nyonya Pramayudha, Kinan.” Air mata kembali mengalir di pipi Kinanti. Ia menatap ayahnya tak percaya. “Aku ingin bahagia, Ayah... Aku tidak ingin menjadi Nyonya Pramayudha jika harus terus tersakiti.” “Jangan bicara tidak masuk akal, Kinanti. Perceraian itu tidak akan pernah terjadi.” Suara ayahnya tajam, dingin, dan mutlak. Kinanti menatap dua orang yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. “Ayah... Ibu...” suaranya pecah, seperti permohonan terakhir untuk dimengerti. Tapi tidak ada pembelaan, tidak ada pelukan. Hanya keheningan dan pandangan pasrah dari sang ibu yang menunduk. Air matanya jatuh lagi. Ia berdiri perlahan, meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai. “Aku kira... setelah tahu putrinya dihianati, Ayah dan Ibu akan membelaku. Akan berada di sisiku...” suaranya bergetar. “Tapi ternyata... ini lebih menyakitkan daripada dihianati oleh Bara.” Ia menatap mereka untuk terakhir kalinya. “Aku pergi, Bu... Ayah.” Tanpa menunggu jawaban, Kinanti berbalik dan berjalan keluar. Langkahnya cepat, tapi air matanya jatuh semakin deras. Dari dalam, suara ibunya terdengar, bergetar menahan tangis. “Mas... Kinanti...” Namun Gibran hanya mengangkat tangannya. “Biarkan dia, Asih. Dia harus mengerti, bahwa perceraian bukan jalan pintas untuk masalah ini.” Nimas Asih menunduk, menggenggam erat ujung gaunnya. Ia ingin membantah, ingin berlari menyusul putrinya—tapi tidak berani. Yang tersisa di ruangan itu hanyalah keheningan... dan jarak yang mulai tumbuh di antara seorang anak dan orang tuanya. ••• To be continued—Pukul dua dini hari.Kinanti terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa berat. Matanya perlahan terbuka, lalu refleks menoleh ke samping. Ganendra masih terlelap pulas di sebelahnya, wajah lelaki itu tampak tenang, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana tidak sedang berguncang.Kinanti bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia meraih kimono tipis yang tergeletak di sisi ranjang, menyampirkannya ke tubuhnya, lalu berdiri. Langkahnya pelan, mondar-mandir di sekitar ranjang, namun pikirannya jauh dari kata tenang.Dadanya terasa sesak.Tanpa sadar, ia menggigit kuku jarinya—kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mengambil alih. Pandangannya kembali tertuju pada Ganendra. Lelaki itu terlihat begitu damai, begitu yakin akan hari esok, sementara hatinya sendiri penuh badai.Kinanti meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, menampilkan pesan terakhir dari Bara—suaminya.[Bara: Kinan... aku masih memberimu waktu sampai besok pukul sembila
“Brengsek!!! Kau benar-benar brengsek, Ganendra!!!” teriak Bara dengan suara parau penuh amarah. “Kau sahabatku!” Tepat saat itu, pintu unit Kinanti terbuka lebar. Dua orang sekuriti masuk dengan sigap, mata mereka langsung tertuju pada Bara yang masih berdiri dengan napas memburu dan wajah merah padam. “Pak, tolong usir dia,” ucap Kinanti dengan suara tegas, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. “Jangan biarkan dia menginjakkan kaki ke gedung ini lagi.” “Baik, Bu,” jawab salah satu sekuriti singkat. Kedua penjaga itu mendekati Bara dan bersiap mengamankannya. Namun Bara menepis tangan mereka dengan kasar. “Aku bisa keluar sendiri,” ucapnya dingin, lalu menoleh tajam ke arah Ganendra. “Dan dengarkan aku baik-baik, Ganendra. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Tidak sekarang, tidak nanti. Selamanya kau hanya akan dikenal sebagai perusak rumah tangga.” Kalimat itu dilontarkan seperti pisau—tajam dan disengaja untuk melukai. Tanpa menunggu balasan, Bara melangkah ke
BUGH!Pukulan telak itu mendarat tepat di rahang Ganendra. Kinanti tersentak. Ciuman hangat yang baru saja terasa masih melekat di bibirnya langsung terputus begitu saja.“Bara!!! Are you insane?!” teriak Kinanti, suaranya pecah antara marah dan tidak percaya.Ganendra terdorong beberapa langkah ke belakang, mengusap sudut bibirnya yang langsung mengucurkan darah. Sementara itu Kinanti refleks berdiri, ingin menghampiri Ganendra. Namun sebelum ia sempat melangkah—Bara, yang wajahnya sudah merah padam penuh amarah, langsung mendorong Kinanti dengan kasar. Dorongan itu membuat tubuh Kinanti sedikit terseret mundur.“Bara!!” seru Kinanti, tersentak dan terkejut.Namun tindakan itu justru menyulut sesuatu dalam diri Ganendra. Tatapan matanya berubah tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu. Melihat perempuan yang ia cintai didorong seperti sampah membuat darah Ganendra mendidih seketika.Tanpa pikir panjang, Ganendra bangkit dan menarik kerah baju Bara, kemudian membalas dengan pu
Siang hari, cahaya matahari jatuh lembut melalui tirai krem apartemen Kinanti, menciptakan suasana hening namun tegang. Kinanti duduk tegak di sofa ruang tamu, rambutnya diikat rapi, wajahnya tetap tenang meski sorot matanya jelas menyimpan beban.Di sampingnya, Ganendra duduk dengan posisi sedikit condong ke arahnya, seolah tubuhnya secara naluriah ingin menjadi pelindung. Jemari mereka saling bertaut, memberi kekuatan yang diam-diam tetapi kuat.Di hadapan mereka duduk seorang perempuan elegan masih muda dengan aura profesional yang tegas — Shanika, salah satu pengacara kenamaan di Indonesia. Berkas tebal berada di pangkuannya, beberapa sudah dibuka di meja kaca.“Saya hanya menginginkan perceraian yang tenang,” ucap Kinanti, suaranya pelan namun mantap. “Tanpa huru-hara, apalagi media. Saya tidak ingin hidup saya menjadi konsumsi publik.”Shanika mengangguk pelan. Jemarinya yang berpengalaman membuka halaman demi halaman dokumen: bukti perselingkuhan Bara dengan Nadia — foto-foto m
“Bicara yang jelas, Pah… saya tidak mengerti.” suara Ganendra terdengar datar namun tegang. Di pelukannya, Kinanti menggeliat kecil. Dia masih dalam keadaan telanjang, hanya seprai tipis menutupi tubuhnya. Refleks, Ganendra mengusap punggungnya pelan — gerakan otomatis, protektif, agar wanita itu tetap tidur. Suara di telepon kembali terdengar, tajam, penuh tekanan. “Kau tahu… sahabatmu itu menyuap media untuk merilis berita tentangmu dan istrinya. Kau sangat beruntung, semua media besar di Indonesia masih dalam kendali Papa.” Ganendra memejamkan mata sebentar, rahangnya mengeras. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kejengkelan. “Lalu?” tanyanya singkat. Nada ayahnya berubah — tidak hanya marah, tetapi kecewa dan murka. “Apa kau sudah gila, Ganendra? Wanita mana yang tidak bisa kau dapatkan? Mengapa kau harus berhubungan dengan istri orang lain?” Tatapan Ganendra bergeser ke wajah Kinanti. Rambut wanita itu jatuh menutupi pipinya, bibirnya sedikit terbuka, napasn
Bara diam sejenak di depan pintu. Nafasnya berembus berat sebelum akhirnya ia memasukkan passcode apartemen yang hanya dia dan satu perempuan itu tahu. “Nadia…” panggilnya pelan. Dari dalam, langkah kaki cepat terdengar. “Mas udah dateng…” Nadia menghampirinya dengan senyum lega. Rambutnya tergerai kusut manis, masih memakai oversized t-shirt milik Bara—yang kini jelas tak lagi pas menutupi perutnya yang membuncit. Tanpa menunggu reaksi, Nadia langsung memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Bara, wajahnya menempel di dadanya. Tapi Bara kaku. Pelukannya tidak kembali seperti biasanya—tidak ada sentuhan lembut di punggung, tidak ada kecupan cepat di ubun-ubun kepala Nadia seperti rutinitas malam-malam sebelumnya. Nadia menangkap perubahan itu dalam sekejap. “Mas…” suaranya pelan, penuh tanya, “Mas kenapa?” Bara menghela napas panjang sebelum menjawab. “Tidak apa-apa, Nad. Mas cuma… lagi capek. Banyak kerjaan di kantor, dan… aku harus bolak-balik urus mertua yang masuk rum







