Share

Ganjalan di Hatiku
Ganjalan di Hatiku
Author: Antagonis

Bab 1

Author: Antagonis
Manajer toko buku dengan wajah panik menarik lengan pria itu, suaranya serius.

"Pak, tolong jangan membuat keributan lagi, ini akan mengganggu orang lain yang sedang membaca."

Sambil mengernyit dengan marah, pria itu segera menepis tangan manajer itu.

"Nggak dengar, ya? Aku ini suami Presiden Direktur perusahaan kalian! Kamu malah menyuruhku merendahkan suara? Percaya nggak, kalau dengan satu kalimat saja aku bisa membuatmu dipecat?"

Dia merapikan kerutan di manset sutra di pergelangan tangannya, lalu melirik dengan jijik kaus lengan pendek yang kupakai.

"Anak itu dan pria itu sama-sama punya penyakit menular. Hari ini kosongkan tempat ini, lakukan disinfeksi menyeluruh di toko buku!"

Benar-benar gaya pejabat besar!

Anakku Yoyo hanya memakai masker, tidak berbicara, tidak batuk, hanya membaca buku dengan tenang, bagaimana bisa begitu mengganggu pandangan pria itu?

Manajer toko buku itu mengerlingkan mata, lalu dengan hormat mendekat, menundukkan kepala, dan berbisik ke telingaku,

"Pak Daniel, bagaimana kalau kita usir saja orang gila yang mengaku-ngaku identitas Anda ini?"

Aku menggeleng dengan tenang. Anak laki-lakiku diperlakukan diskriminatif seperti ini tanpa alasan juga membuatku sangat marah.

Namun aku lebih ingin tahu, Presiden Direktur Juwita dari Grup Sentara ini sebenarnya punya berapa suami yang berstatus direktur?

Menatap balik mata pria itu yang penuh kesombongan, aku segera membalas,

"Pakai masker berarti punya penyakit menular? Kalau kamu pakai topi baseball, berarti otakmu rusak?"

Begitu kata-kata itu keluar, lengan bajuku ditarik. Putraku Yoyo menatapku sambil menggeleng gugup, seolah tidak ingin aku bertengkar dengan orang.

Aku mengusap kepalanya untuk menenangkannya dan memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun detik berikutnya, pria itu malah makin marah dan segera menarik masker dari wajah anakku.

"Aku ini suami Presiden Direktur! Di toko bukuku sendiri, kalau aku bilang nggak boleh pakai masker maka nggak boleh ... pakai!"

"Ahhh ...."

Tiba-tiba dia mundur terhuyung sambil berteriak, seolah melihat sesuatu yang menjijikkan. "Kenapa mulutnya bisa seperti itu? Apa dia anak cacat?"

"Cepat keluar dari toko bukuku!"

Keningku segera berkerut tajam, aku mendorongnya menjauh.

"Kalau nggak bisa bicara baik-baik, diam saja! Siapa yang mengizinkanmu melepas masker anakku?"

Setelah merebut kembali masker, aku segera memeluk erat putraku yang menutup mulut dan menggigil, lalu memakaikan maskernya lagi.

Namun pria itu malah berkacak pinggang dan menunjuk orang-orang dengan marah, "Kemari! Usir mereka keluar!"

Tetapi para karyawan toko melihat ekspresiku dan tidak ada satu pun yang berani bergerak.

Pria itu makin marah dan langsung mengamuk,

"Baguslah ... nggak ada yang bergerak, ya? Kalau begitu aku panggil pacarku datang, lalu aku pecat kalian semua!"

Melihat anakku ketakutan oleh keributan itu dan gemetar tanpa henti, hatiku terasa perih.

Yoyo sejak awal sudah rendah diri karena bentuk mulutnya tidak indah, dan sekarang ketakutan di matanya makin jelas.

Amarahku segera meluap dan aku mengejeknya dengan dingin,

"Baiklah! Panggil saja dia! Aku juga ingin lihat apa pacarmu yang berstatus presiden direktur itu, benar-benar bisa datang untuk mengusirku!"

Pria itu dengan angkuh mengangkat ponselnya dan dengan cepat mengirim pesan.

Namun setelah menunggu cukup lama, entah apa yang dia lihat di ponselnya, wajahnya menunjukkan sedikit keanehan.

Pada saat itu, manajer toko buku juga melihat ponselnya dengan wajah yang memelas, bagaikan menelan lalat.

Aku mengangkat kepala dan bertanya, "Ada apa?"

Manajer toko buku berkata dengan agak canggung,

"Pemilik toko mengatakan ... agar kita membuka satu ruang VIP khusus untuk pria ini ...."

Mendengar itu, pria tersebut menjulurkan lehernya dan menatapku tajam.

"Dengar nggak? Pacarku nggak mau aku terus diganggu oleh orang-orang miskin seperti kalian!"

Dia melangkah dengan sepatu kulitnya dan dengan puas, mengikuti karyawan naik ke lantai tiga.

Aku mengernyit melihat punggungnya, lalu ponselku berbunyi, ternyata pesan dari istriku:

[Sayang, kenapa kamu nggak menjawab? Jadi aku bisa langsung pesan restoran, ya?]

Aku segera bertanya:

[Juwita, sebenarnya kamu sedang apa?]

Dari sana segera dikirim foto dirinya sedang duduk di depan meja kantor sambil rapat, wajahnya tampak sengsara.

[Seharian rapat, bahkan belum sempat minum seteguk air pun.]

Juwita adalah seorang pekerja maniak. Saat rapat dia selalu menolak gangguan, kecuali dariku.

Kalau begitu, kejadian ini mungkin hanya kebetulan. Lagi pula, untuk meredakan masalah, pengaturan seperti ini dari pemilik toko juga masih masuk akal.

Namun aku sudah tidak punya suasana hati untuk melihat-lihat buku, jadi aku membawa anakku pergi ke pusat perbelanjaan.

Tak lama kemudian, ponselku menerima pesan dari seorang teman:

[Sial, orang bodoh itu berani memotretmu? Dia bahkan mention akun tiruan istrimu.]

Di unggahan Twitter yang diteruskan temanku, terlihat foto punggungku dan Yoyo yang diam-diam dipotret Brian tadi.

Dia juga menulis keterangan: [Ketemu anak nakal dan orang tua tak beradab, untung ada pacarku yang mendukung ....]

Aku masuk ke akun tiruan bernama Juwita itu. Di halaman profil tertulis 'hanya terlihat enam bulan terakhir'.

Namun dalam ingatanku Juwita tidak pernah bermain Twitter. Bahkan postingan terakhir di Instagram miliknya adalah foto pernikahan kami tujuh tahun lalu.

Jadi ada orang yang menyamar sebagai istriku untuk menipu orang?

Awalnya kupikir sandiwara ini akan berakhir sampai di sini. Akan tetapi, masalahnya berlarut-larut ketika aku berada di konter merek mewah mendengarkan laporan produk baru kuartal lalu dari manajer toko.

Di belakangku kembali terdengar suara sepatu kulit yang familier.

Begitu menoleh, Brian berdiri di pintu dengan tangan terlipat dan alis berkerut.

"Kenapa kalian lagi? Orang kampungan dan anak cacat seperti kalian juga pantas masuk konter barang mewah?"

Dia berjalan masuk dengan angkuh dan menilai diriku dari atas sampai bawah.

"Tuan, di sini nggak ada bakpao isi sayur yang dijual 20 ribu dapat dua!"

Sambil berkata begitu, dia melihat sekeliling dan menunjuk sepatu kulit edisi terbatas terbaru di tangan pegawai toko.

"Aku ambil yang itu."

Pegawai toko tampak ragu. "Pak Daniel, ini ...."

Aku menarik napas ringan dan melambaikan tangan. "Biarkan saja untuk tamu 'penting' ini."

Di tengah tatapan para pegawai yang memandangnya seperti memandang orang bodoh, Brian dengan senang hati menerima sepatu itu.

Dia menatapku dengan penuh kemenangan. "Huh, kamu ini ... paling cuma bisa melongo melihat barang-barang mewah seperti ini ...."

"Bayar!"

Dia dengan pamer mengeluarkan kartu banknya, sementara aku justru tersenyum.

Sepatu kulit buaya buatan tangan yang dipesan khusus, harga satuannya 279 miliar. Dengan barang palsu yang dia pakai dari atas sampai bawah, mungkin dijual semuanya pun belum tentu cukup untuk membelinya.

Namun detik berikutnya, terdengar bunyi "bip".

Transaksi berhasil!

Aku sedikit tertegun, penuh kebingungan melihat pegawai toko membungkus sepatu itu untuknya.

Saat itu ponsel di sakuku berdering, suara Juwita terdengar.

"Sayang, kenapa tadi kamu nggak membalas pesanku? Apa kamu kesal karena aku terlalu sibuk?"

"Atau begini, setelah masa sibuk ini selesai, aku ambil cuti tahunan dan mengajak kamu serta Yoyo pergi berlibur, bagaimana?"

Namun saat ini aku seperti tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas.

Biasanya dia begitu sibuk dengan pekerjaan, jangankan soal cuti untuk bepergian, bahkan hal kecil seperti menjemput anak pun dia tidak punya waktu.

Orang-orang di internet sering berkata, setelah seorang wanita berselingkuh, dia akan secara tidak sadar merasa bersalah dan ingin menebusnya kepada suaminya.

Hatiku tiba-tiba terasa sangat berat. Mungkinkah Juwita ....

Setelah menjawabnya seadanya, aku sudah tidak punya keinginan untuk meninjau toko lagi. Namun Brian yang berpikiran sempit kembali mencari-cari masalah denganku.

"Hey, kalian! Usir dua orang ini keluar!"

"Membiarkan pasien penyakit menular masuk ke toko barang mewah benar-benar merusak selera belanjaku!"

Kali ini dia tidak banyak bicara. Sepertinya dia telah belajar dari pengalaman sebelumnya, langsung membuka foto dari ponselnya.

"Pacarku itu Juwita! Kalian berani tidak mendengarkanku?"

Seketika semua orang menatap ke arahku.

Napasku tercekat, wanita yang tersenyum lembut di kantor dalam foto itu memang benar istriku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 8

    Namun Juwita tampak sangat marah dan segera mendorongnya hingga terjatuh ke tanah."Apakah kamu orang gila? Apa sebenarnya hubunganmu denganku? Berkali-kali kamu muncul di depan suamiku!""Sekarang bahkan datang sampai ke perusahaan. Satpam! Tangkap pria ini!"Sambil berkata begitu Juwita mengeluarkan ponselnya, bersiap menelepon polisi.Namun Brian tiba-tiba membelalakkan matanya."Juwita, tadi malam kamu masih menenangkanku, kenapa sekarang pura-pura nggak mengenalku?"Juwita mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan.Sampai Brian mengangkat lengan bajunya di depan Juwita, wajahnya penuh keluhan."Lalu manset ini juga nggak kamu ingat?"Aku memperhatikan reaksi Juwita, tak kusangka dari matanya tidak terlihat rasa bersalah, justru penuh keterkejutan."Kenapa manset ini bisa ada padamu? Bukankah aku menyuruh Vanessa ...."Belum sempat Juwita menyelesaikan kalimatnya, Asisten Vanessa di samping segera bergegas maju dengan tidak sabar."Pria gila ini benar-be

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 7

    Wajah Juwita sedikit tertegun, tetapi dia juga tidak mengatakan apa pun.Setelah itu, kami pulang ke rumah seperti biasa, tetapi aku berbaring di tempat tidur dan sama sekali tidak bisa tidur.Di dalam hati aku memutuskan satu hal: besok aku harus mencari tahu masalah ini dengan jelas, meskipun hasilnya mungkin tidak bisa aku terima.Aku juga tidak bisa membiarkan ganjalan ini terus tersimpan di dalam hatiku.Sejak awal aku memang orang yang tegas. Jika bukan karena hubungan tujuh tahun ini dan anak kami, Yoyo, ketika Brian pertama kali muncul, aku sudah pasti akan menuntut penjelasan dari Juwita.Jika aku masih seperti diriku saat muda dulu, aku pasti akan bertindak begitu, tidak ada seorang pun yang boleh menyembunyikan sesuatu dariku atau menipuku.Namun sekarang, ada terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan, apalagi semuanya masih berada di situasi yang serba tidak jelas seperti ini.Keesokan harinya, aku pergi ke perusahaan Juwita.Aku tidak tahu pria itu sebenarnya bekerja a

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 6

    Belum sempat aku berbicara, dari mobil Juwita turun lagi seseorang.Itu adalah asistennya, Vanessa. Sambil melihat waktu, dia berkata dengan tergesa-gesa,"Bu Juwita, waktu reservasi di restoran yang sudah dijanjikan hampir tiba."Baru saat itu Juwita seolah tersadar, lalu melepaskan tangan Brian.Aku juga mengibaskan tanganku. Karena permintaan maaf sudah disampaikan, dan fakta juga membuktikan bahwa istriku tidak berselingkuh.Maka urusan ini sebaiknya diakhiri saja di sini. Kalau terus dipermasalahkan, tidak diragukan lagi hanya akan mencoreng nama perusahaan.Brian dengan kesal menggosok pergelangan tangannya yang memerah dan bengkak, menatap kami masing-masing dengan tatapan tajam, lalu pergi dengan marah.Setelah itu, kami berdua ke sekolah dasar untuk menjemput Yoyo yang baru selesai sekolah, lalu langsung berangkat ke restoran yang sudah kami pesan.Hari ini adalah ulang tahun Yoyo, aku tidak ingin hal-hal buruk tadi membuatnya tidak bahagia.Di dalam mobil, Juwita dan aku sama

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 5

    Aku menatapnya dengan dingin. Sekarang aku harus menuntut keadilan untuk anakku.Anakku, Yoyo, karena bentuk mulutnya, selama ini selalu diejek oleh teman-temannya di sekolah.Aku susah payah baru berhasil menata kembali kepercayaan dirinya, mengatakan bahwa ini bukan penyakit.Ini bisa diperbaiki, dan dia bukan anak yang aneh.Pagi ini aku baru saja membawanya menjalani operasi bibir sumbing, dan dia dengan gembira berkata kepadaku."Ayah, setelah hari ini, apa aku akan sama seperti anak-anak lain?"Yoyo pergi membaca buku dengan penuh semangat. Setelah masuk, dia bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun.Bahkan manajer toko buku memujinya sebagai anak yang sangat baik.Namun sejak pria bernama Brian ini masuk, dia pertama-tama berteriak keras mengatakan anakku punya penyakit menular, membuat orang-orang di sekitarnya mundur beberapa langkah.Kemudian tanpa alasan jelas dia bahkan ingin mengusir anakku keluar.Bahkan di depan semua orang dia membuka masker anakku, membuat rasa rendah

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 4

    Ketika Brian melihat buket mawar besar itu, ekspresi wajahnya seketika menjadi canggung."Kak Juwita, kenapa kamu memberiku bunga yang mencolok ini ...."Namun setelah Juwita turun dari mobil, dia bahkan tidak melirik ke samping dan langsung berjalan lurus ke arahku."Sayang, kejutan! Mana mungkin aku lupa hari ini ulang tahun anak kita!""Aku sudah memesan tiket pesawat dari jauh-jauh hari. Setelah kita makan malam nanti, kita langsung terbang ke Negara Maruna untuk liburan!"Sebelum dirinya sempat berjalan sampai di depanku, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya."Kak Juwita, kenapa kamu pura-pura nggak mengenalku?"Brian mengerucutkan bibirnya, wajahnya penuh rasa sedih.Dari nada bicaranya, seolah mereka sangat akrab, dan semua hadirin menatap mereka berdua.Para orang tua relawan yang satu kelompok denganku bahkan menunjukkan ekspresi penuh hinaan.Sementara aku juga menunggu hasil dari keributan ini, apakah Juwita benar-benar berselingkuh atau tidak.Pada saat itu, Juwita yan

  • Ganjalan di Hatiku   Bab 3

    Wajah Brian tiba-tiba terpaling ke samping, pipinya langsung membengkak.Dia menoleh kembali dengan tercengang, dan pada detik berikutnya kemarahan tiba-tiba menyala di matanya."Kamu, lelaki tua, berani memukulku? Lihat saja nanti, akan kuhancurkan wajahmu!"Tiba-tiba dia seperti orang gila dan menerjang ke arahku, tinjunya langsung menghantam dahiku.Rasa sakit yang tajam seketika menjalar ke kulit kepalaku, membuat sudut bibirku bergetar.Barulah saat itu anggota kelompok lain seperti tersadar dan buru-buru datang menghentikan.Ada yang menarik lengannya, ada yang memegangi kakinya, tetapi suaranya malah melengking tinggi."Lepaskan aku! Kalian berani menyentuhku, pacarku pasti takkan membiarkan kalian!"Situasi menjadi kacau seketika, sampai seseorang tiba-tiba meninggikan suara dan berteriak."Brian! Daniel itu justru suami Juwita. Kalau kamu terus memukul, kami akan memanggil polisi!"Mendengar itu, mata Brian langsung membelalak, kemarahannya benar-benar meledak."Kamu masih ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status