로그인Setelah merusak pesta pernikahan sang mantan, Dinda yang kala itu masih patah hati, melenggangkan kakinya ke sebuah klub. Namun siapa sangka jika hal itu akan membawanya pada masalah yang tidak pernah ia duga, dimana Dinda mendapati dirinya terbangun di keesokan hari dengan seorang pria asing di sebelahnya. Tak ingin mendapatkan masalah, ia pun bergegas pergi dari sana. Namun sial! Di hari pertama kenaikan jabatannya ia justru dipertemukan lagi dengan pria asing itu, dan ternyata pria itu adalah presdir di tempatnya bekerja... Akankah pria itu mengingat sosok Dinda yang menghabiskan malam dengannya?
더 보기Suasana ballroom yang sebelumnya ramai mendadak menjadi hening. Bukan karena acara sudah selesai, melainkan karena perhatian semua orang kini tertuju pada William dan Dinda. Jas hitam milik William kini melekat di tubuh Dinda. Aroma parfum pria itu samar-samar tercium, membuat Dinda semakin salah tingkah. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. Santi yang berdiri di sampingnya hanya bisa membuka mulut lebar-lebar. "Pak Will..." Sementara itu, Shella yang melihat William begitu perhatian kepada Dinda justru semakin kesal. William kemudian menatap gelas kosong yang masih berada di tangan Shella. "Kamu baru saja menyiram seseorang." Shella mengatupkan bibirnya. "Saya cuma—" "Dan yang kamu siram itu bukan orang yang menyerangmu." William melirik Santi, kemudian kembali menatap Shella. "Dia bahkan tidak melakukan apa pun kepadamu." Shella terdiam. Santi yang sejak tadi menahan emosi akhirnya bersuara. "Betul, Pak. Padahal saya cuma makan dessert. Eh tiba-tiba dia nyind
Dinda memasuki ballroom, dan segera mendudukan dirinya di samping Santi, dengan sedikit terburu-buru. Santi yang merasakan sesuatu lantas bertanya, "Lo kenapa, Din? Rusuh banget deh." Dinda menggelengkan kepalanya, seraya menetralkan degub jantungnya. "Gue gak apa-apa kok." Bersamaan dengan itu Dinda menatap ke panggung, dimana sang MC tengah memberikan ruang pada Bu Merry untuk maju ke atas panggung. Semua orang bertepuk tangan, dengan Bu Merry yang kemudian memberikan ucapan syukur atas penghargaan dan juga kenaikan jabatannya. "Terimakasih saya ucapkan sekali lagi, pada kalian semua yang sudah membantu saya sampai saya berada di tempat ini. Tak lupa saya juga sangat berterimakasih pada Pak Will, presdir kita-" Seketika beberapa orang langsung menoleh ke arah William yang sudah kembali ke tempat duduknya, sementara Dinda tampak tak tenang karena ia yang merasa bahwa William kini tengah menatapnya. "Mungkin kali ini kamu bisa menghindar dari saya, Dinda. Tapi tidak dengan
Dinda mengabaikan uluran tangan dari William, dan lebih memilih Santi yang membantunya. William yang merasa tak enak, segera menarik tangannya kembali. Bu Merry segera menghampiri William. "Maaf Pak, atas insiden kecilnya." William merapikan jasnya dan berdehem. "Saya tidak ingin hal ini terulang lagi." Mereka semua mengangguk, dengan Bu Merry yang melirik tajam ke arah Shella dan Randy. Detik kemudian Andi berjalan ke arah William. "Mari Pak, saya antarkan ke kursi Bapak." William mengangguk kecil, dan berlalu dari hadapan mereka menuju sederet kursi yang berada tepat di depan panggung megah. Sedangkan Mitha, segera menyiapkan minuman untuk beliau. "Diminum, Pak." William mengambil segelas anggur, dan meminumnya, sesekali ia melirik ke arah Dinda yang mash terpaku, dengan senyuman miringnya. "Din! Lo apa-apaan sih!? Bisa-bisanya lo nolak Pak Will?" seru Santi yang setengah berbisik. Seketika Dinda tersadar, dan ia menatap Santi dengan raut yang sulit diartikan. "Pa
*** William menatap pantulan dirinya di dalam cermin, mengatur posisi dasi kupu-kupunya agar terlihat lebih sempurna. Dengan gerakan yang terampil, ia memastikan setiap detail tuxedonya terlihat rapi dan elegan. "Dani, Mitha, apakah semua persiapan untuk malam ini telah selesai?" tanya William, penuh antisipasi. Mereka berdua yang tengah berdiri di sampingnya, menjawab hampir bersamaan, "Sudah Pak."William mengangguk dengan puas. "Baguslah! Kita berangkat ke sana sekarang," ujarnya dengan nada tegas.Sementara itu, di sebuah pesta yang meriah, dua wanita berpakaian dres elegan terlihat sedang berbincang dengan akrab. Masing-masing dari mereka memegang segelas anggur, dengan beberapa dessert yang memenuhi meja di sebelahnya. "Dinda..." panggil seseorang, membuat wanita bergaun biru dongker itu menoleh, senyumannya yang lebar perlahan meluntur kala ia melihat Shella dan Randy yang berjalan menghampirinya, dengan tangan yang saling bertautan. Santi bergumam pelan. "Ngapain sih mere
Dinda terengah-engah, detak jantungnya masih berdesir ketika ia duduk di kursinya dengan tergesa-gesa. Dengan mata yang masih memancarkan rasa terkejut, dia mencoba menormalkan napasnya. Anita, yang duduk di sebelahnya menoleh dengan kacamata yang ia angkat sedikit dari hidungnya. "Lo kenapa, Din?
William terbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya yang temaram. Pikirannya melayang pada malam itu, sebuah malam yang tak bisa ia hapus dari memorinya. "Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat wajahnya?" bisiknya pada diri sendiri, seraya tangannya menggenggam sebuah gel
Dani melangkah lebar memasuki mansion megah milik William. Suasana mansion tampak tenang namun tetap terasa mewah dengan penerangan hangat dari lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Dani mendekati seorang maid yang tampak sibuk dengan baki teh di tangannya. "Pak Will lagi di mana, Tik?
Sesampainya di tempat kos, Dinda langsung membuka pintu kamar, membuat Santi yang tengah mengerjakan proposal langsung menoleh."Bagus ya... Dari semalam gue tungguin tapi gak balik-balik," omel Santi pada Dinda yang tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan ekspresi yang kacau. "Man
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.