LOGINLangkah Tumini terhenti mendadak. Nada menuntut dalam suara Tini membuatnya tak bisa berlalu begitu saja. Bagaimanapun, perempuan itu keponakannya.
Dengan helaan napas lelah, Tumini mengusap anak rambut yang bandel mencuat ke dahinya, lalu berbalik mendekat. Wajahnya campuran antara lelah dan kesal.
"Sudah to, Tin!" Suaranya rendah dan jengkel. "Jangan banyak tanya. Kerjakan tugasmu, di luar itu—sudah, jangan penasaran. Kamu ini …."
Ia mendekat lagi, suaranya semakin pelan. "Mbok De paling anti bawa orang kerja yang masih muda. Kayak kamu sama Jumiati itu—kebanyakan tanya. Kalau bukan karena keluarga, Mbok De tidak akan mau bawa kamu ke sini."
Tini terdiam, mulai merasa bibinya menyembunyikan sesuatu.
"Lagipula," Tumini melanjutkan, rumah ini kan memang dekat hutan, rumah paling jauh di kampung ini, memang sesekali terlihat ular, sudah biasa. Mereka tidak akan menggigit kalau tidak digang—."
"Tapi kalau tidak sengaja terinjak?” Tini tak bisa menahan diri untuk tidak memotong. "Tidak mungkin ularnya diam saja, kan Mbok De? Tetap saja, bahaya. Memangnya Nyonya Arini tidak menyuruh orang untuk menangkap ular-ular itu? Saya paling takut ular!"
Tumini sekali lagi menghela napas panjang, agak lelah dengan keponakannya yang terlalu banyak mulut.
"Gini lho, Tin ..." Ia memulai lagi dengan suara lelah namun bijak. "Kata orang tua jaman dulu, tidak baik membunuh ular apalagi kalau yang punya rumah sedang hamil. Jadi Nyonya tidak berani mengganggu, apalagi membunuh ular-ular itu."
Tini mengerutkan alis, ada benarnya kata-kata bibinya.
"Tapi jarang kok," Tumini cepat menambahkan. "Mbok De saja malah belum pernah lihat. Dulu si Jumiati yang sering lihat. Pembantu lain paling sesekali, pas bersihkan taman, tapi ularnya diam. Jumiati saja yang terlalu melebih-lebihkan."
Tumini tiba-tiba mengangkat tangannya. Empat pasang gelang emas tipis bergemerincing di pergelangannya. Dua cincin berkilau di jarinya, memantulkan cahaya redup.
"Lihat ini!" Senyumnya riang dengan mata berbinar. "Kamu yang belum kerja saja sudah dapat enak begini. Nyonya Arini orangnya memang baik, tidak pelit. Beliau memperlakukan kamu dengan baik supaya kamu sepenuh hati mengurus bayinya nanti."
Tini mengangguk pelan, kata-kata Tumini masuk akal.
"Satu lagi," Tumini menepuk bahu Tini dengan gemas. "Apa yang kamu lihat dan dengar di sini, jangan cerita ke luar. Seperti Jumiati—kurang ajar, tidak tahu terima kasih. Cerita yang aneh-aneh tentang Nyonya Arini."
Senyum ceria merekah di wajah Tumini, saat kembali memandangi perhiasannya.
"Sudah, cepat mandinya. Nyonya tidak suka orang bau."
Tumini berbalik pergi, langkahnya tergesa. Tini menggeser slot kayu pintu kamar mandi. Suaranya menggema dalam keheningan yang mencekam.
Matanya menyapu sekeliling dengan was-was. Ular itu bisa muncul kapan saja. Dari mana saja.
Pandangannya jatuh pada tempayan tanah liat. Kelopak-kelopak bunga merah di permukaannya bergerak-gerak aneh, seperti ada sesuatu di bawahnya yang berusaha keluar.
Dengan tangan gemetar, Tini menyibak bunga-bunga itu menggunakan gayung batok kelapa. Air di bawahnya jernih, terlalu jernih. Seperti cermin cair yang sempurna.
Dan di sana, di permukaan air yang tenang, ia melihat pantulannya. Namun ada yang membuat napas Tini tertahan, bayangannya tidak sendiri.
Wajah Tuan Ario tersenyum tepat di belakangnya. Senyum yang terlalu menawan untuk orang yang sedang sakit.
Tini menoleh cepat, tapi hanya ada kosong dan dinding kamar mandi yang menatap balik.
Pintu masih tertutup rapat. Tidak mungkin Tuan Ario—pria lumpuh di kursi roda itu—bisa masuk tanpa suara.
Ini tidak nyata, Tini mencoba meyakinkan dirinya sendiri, mengingat betapa makmur bibinya sekarang, ia ingin seperti itu.
Tini mengguyur air ke kepala, berharap dinginnya membuyarkan halusinasi. Tangannya menggosok kulit dengan tergesa, berusaha meluruhkan lulur yang terasa licin di kulit saat menyentuh air.
Di antara deburan air yang menghantam lantai, bisikan itu datang lagi.
"Tin ... kamu cantik."
Suara pria. Suara Tuan Ario. Tapi bagaimana mungkin?
"Duhh ... ini rumah angker atau gimana to?"
Gemetaran, Tini menyelimutkan kain jarik kering ke tubuhnya sembari melepaskan kain basahan dan memeras kain itu dengan tergesa.
Ia bergegas keluar dari bilik kayu sambil mengeringkan tubuh, kaki telanjangnya meninggalkan jejak basah di lantai.
Lemari kayu menunggu di sudut—pakaian telah disiapkan dengan rapi di antara guci-guci kecil berisi rempah wewangian untuk lulur dan mandi.
Dengan langkah terus menoleh ke belakang, ia menyusuri koridor menuju dapur, membawa setel kebaya beserta pernak-perniknya.
"Mbok De Tumini ...!"
Suaranya menjeda kesibukan dapur.
Tiga perempuan paruh baya yang sedang mengupas bawang di lantai—menoleh serentak. Bisik-bisik yang tadinya riuh mendadak mati, menyisakan kesunyian.
Mata mereka menatap Tini dengan sorot tanya.
"Ono opo, Tin?" Tumini bangkit tergesa dari lantai.
Lutut yang tadi ditekuk terlalu lama membuatnya sedikit terhuyung.
"Mbok De, tolong bantu saya pakai kebaya. Biar cepat dan rapi seperti Mbok De. Nanti kalau lama dan tidak rapi, Nyonya marah."
"Ya sudah, ayo!"
Tumini memimpin jalan, meninggalkan dua perempuan lain yang kembali berbisik dengan suara lebih pelan.
Mereka memasuki kamar tempat Tini diperiksa tadi pagi. Ruangan itu masih berbau kemenyan.
"Kalau kerja di sini memangnya harus pakai kebaya bagus ya, Mbok De?" Tini mengelus kain halus di tangannya. Terlalu halus untuk ukuran pembantu. "Kita kan cuma babu. Kok pakai kebaya bagus seperti ini?"
Tumini mulai melilitkan kain jarik ke pinggang keponakannya. Gerakannya cepat tapi rapi.
"Nyonya Arini orangnya ... suka keindahan dan memang baik sama pembantu. Jadi nanti," Tumini melanjutkan sambil menarik stagen lebih kencang, "jangan kaget kalau Nyonya taruh sesaji di tempat-tempat tertentu. Dan jangan … jangan sekali-kali … dekati sesaji itu. Kecuali Nyonya yang menyuruh."
"Sesaji buat apa, Mbok De?" tanya Tini dengan merapikan lilitan kembennya.
Tarikan stagen terhenti. Tumini menatap cermin di hadapan mereka. "Sepertinya … hanya tradisi. Mbok De tidak pernah tanya-tanya. Lagipula, bukan urusan Mbok De."
Ia kembali melilitkan stagen, kali ini lebih kencang hingga Tini hampir sesak.
"Kamu orangnya gampang penasaran, Tin," bisik Tumini. "Itu bisa buat kamu celaka. Terkadang, apa yang tidak perlu kita tahu memang sebaiknya tidak tahu. Ingat itu. Ingat baik-baik."
"Tapi namanya kerja di tempat baru, pasti banyak pertanyaan, Mbok De. Kalau kita kenal lingkungan, kita bisa bawa diri. Di tempat Pak Haji dulu, saya malah dikasih tahu ini-itu biar tidak salah."
“Ya itu kan tempat Pak Haji, Tin.” Tumini dengan gemas menepuk pantat Tini. “Pak Haji orangnya terbuka, memang cerewet juga. Berbeda dengan keluarga ningrat.”
Tini mengangguk, mencoba tidak membandingkan lagi dengan tempat kerjanya yang lama. Namun, masih ada pertanyaan yang mengganjal sejak tadi.
"Omong-omong, Mbok De … kalau Tuan Ario itu ... sakit atau bagaimana? Kok makan disuapi?"
"Iya, sakit. Jatuh dari kuda."
"Ohh ... kasihan."
Tini menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya hijau itu membuatnya terlihat … dewasa, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, bukan seperti dirinya yang biasa sederhana.
"Apa Tuan Ario punya kembaran, Mbok De?"
Tini bertanya lagi dengan nada santai, namun tangan Tumini yang sedang merapikan kebaya, terhenti mendadak. Di cermin, wajahnya berubah serius.
Esok hari, matahari baru saja naik setinggi tombak saat Nyonya Arini, Tuan Ario yang semakin sehat, dan Mbah Kiai berangkat ke rumah sakit kota. Mereka menggunakan mobil sedan hitam yang dikemudikan sopir. Ario duduk di jok belakang bersama istrinya, tangannya menggenggam tangan Arini. Sesekali ia melirik wajah istrinya yang diam—Arini sejak pagi tampak gelisah, seperti ada yang mengganggunya.Bayi setan itu, pikir Ario. Dia meninggalkannya di rumah. Pasti berat.Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya menggenggam tangan istrinya lebih erat, memberikan kekuatan tanpa kata.Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang perawatan di lantai dua. Perawat membimbing mereka melalui koridor panjang yang dindingnya dicat hijau muda, lantai teraso yang mengkilap memantulkan cahaya lampu neon.Di ruang perawatan nomor 207, Ibu Tuan Ario terbaring di tempat tidur besi dengan seprei putih bersih. Tapi pemandangan yang menyambut mereka membuat Arini miris, memberinya gambaran tentang akhir hidup
Arini mengusap air mata dengan sapu tangan, lalu menarik napas dalam. Ia berjalan anggun ke arah gerbang, langkah tegap, punggung tegak, kepala sedikit terangkat. Sesekali ia tersenyum saat berpapasan dengan warga, senyuman tipis yang sopan.Ario memperhatikan istrinya dari kursinya. Bagi orang lain, Arini tampak seperti orang wajar, tuan rumah yang ramah, perempuan anggun yang sedang memastikan tamu-tamunya nyaman.Tapi Ario yang sudah bertahun-tahun hidup dengan Arini, yang melihat perempuan itu di saat-saat tergelapnya, tahu betul. Ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan di bahu Arini. Ada kepalsuan dalam senyuman itu.Arini berjalan ke seberang jalan … melintasi jalan tanah yang berdebu, menuju pohon asam besar yang rindang.Ia tidak bisa membiarkan bayi itu di sana sendiri. Bagaimanapun juga, sosok lain dari dunia sana bisa mengambilnya, makhluk halus yang mencari mangsa lemah. Dan mungkin mereka akan melakukan hal buruk pada bayi itu.Bagaimanapun ... itu anaknya.Sekali lagi i
Tini terbangun, terdiam, bingung. Matanya berkedip perlahan—satu kali, dua kali—mencoba menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Pandangannya berputar. Tubuhnya lemas sekali. Setiap otot terasa berat, setiap napas terasa seperti membutuhkan usaha besar.Rasanya seperti baru bangun dari mimpi yang sangat melelahkan, mimpi yang terasa terlalu nyata.Telinganya mulai menangkap suara-suara di sekitar. Suara Sari masih menangis, tapi tidak lagi tangisan keras yang memilukan, hanya sesenggukan di bahu Anthony sebelah kanan. Tini berkedip lagi, pelan. Hidungnya mulai mencium—aroma parfum khas Anthony, parfum Paris yang mewah dan maskulin, yang dulu sering ia cium saat bekerja di rumah keluarga Anthony. Dan ada aroma lain—bau bunga melati, bau masakan, bau-bau khas orang hajatan.Hajatan?Otaknya berusaha memproses, tapi terlalu lelah.Anthony yang pertama menyadari. Ia merasakan tubuh di pelukannya bergerak—sedikit saja, tapi cukup membuatnya bukan main senang. Napas yang
Sementara itu, di dunia lain—dunia yang temaram meski siang hari—Tini berjalan bergandengan tangan dengan Ario di jalanan yang diapit pepohonan tinggi dan lebat. Pohon-pohon itu tidak bergerak, seperti lukisan yang diam. Tak ada angin.Tiba-tiba, ia mendengarnya—samar tapi jelas. Suara gending. Kaki Tini berhenti. Ia menoleh ke belakang, mencari sumber suara."Siapa yang menikah?" tanyanya pada Ario.Ario tersenyum—senyuman yang tenang, yang meyakinkan. "Warga kampung sebelah. Ayo kita lanjut. Sedikit lagi sudah sampai."Ia menunjuk ke depan. Di sana, suasana semakin suram seperti siang dengan matahari terhalang mendung tebal. Di depan mereka, sebuah gapura tua berdiri megah, gapura batu yang ditumbuhi lumut, dengan ukiran naga dan makhluk-makhluk aneh di sisi kanan kirinya. Gapura itu seperti pintu menuju dunia lain.Tapi sebelum mereka sampai ke gapura, Tini terkejut.Ibu Tuan Ario berjalan keluar dari balik gapura, menggandeng dua cucu laki-lakinya di kanan dan kiri, yang bayi dig
Mbah Kiai menatap ibu Tini yang masih menangis di samping tempat tidur. "Bu Tumirah, saya minta izin. Karena Tini sudah menggantikan Arini sebagai istri, dia harus punya seseorang yang lebih berhak menyebutnya istri."Tumirah menatap Mbah Kiai dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada Mbah Kiai."Apa saja, Mbah," ucapnya pelan dengan suara parau. "Asal Tini bisa kembali. Asal dia bisa hidup."Mbah Kiai mengangguk. "Insya Allah."Fajar itu, semua orang tidak lagi tidur. Semuanya sibuk menyiapkan upacara pernikahan yang sederhana tapi sakral—sesuai syariat Islam, tapi juga adat Jawa tidak ketinggalan.Istri Mbah Kiai dan anak-anak perempuannya memandikan tubuh Tini yang masih tidak sadarkan diri dengan air mawar dan melati. Mereka memakaikan kebaya pengantin berwarna putih gading, kebaya milik anak perempuan Mbah Kiai yang baru saja menikah beberapa bulan lalu.Kain batik motif khusus untuk pengantin dililitkan dengan rapi. Sanggul tinggi dibentuk den
Tuan Ario melangkah mendekat. Setiap langkahnya lambat, tatapan menghipnotis.Tini ingin mundur. Seharusnya ia mundur, menutup pintu, berteriak memanggil ibunya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ia hanya berdiri di sana, terpaku, menatap sosok yang semakin mendekat.Ario berhenti tepat di depannya, begitu dekat sampai Tini bisa mencium wangi tubuhnya yang memabukkan. Bukan bau obat-obatan atau perban seperti pasien biasa, tapi aroma manis yang membuat kepala Tini mulai berkabut.Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh bibir bawah Tini dengan sangat lembut, sentuhan yang membuat seluruh tubuh Tini bergetar. "Kau mau ikut denganku, Tini?"Tini tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap mata kelam itu—mata yang seperti jurang tanpa dasar, yang menariknya masuk, menjanjikan kedalaman yang menakutkan sekaligus penuh rasa penasaran."Ikut denganku, Tini, " bisik Ario, tangannya turun dari bibir, menelusuri garis rahang dengan sentuhan sehalus bulu. "Ke tempat di mana tidak ada y







