Teilen

Garis Dua Yang Yertunda
Garis Dua Yang Yertunda
Irama Senja

Bab 01

last update Veröffentlichungsdatum: 03.04.2026 14:00:14

Mentari pagi belum sepenuhnya muncul di Perumahan Griya Indah, namun panas nya sudah menjalar ke seluruh tubuh Salma. Pakaian basah di tangan pun terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena air yang masih ada di pakaian basah, melainkan karena ia tahu, melangkah ke luar rumah sama saja ia bersiap menghadapi sidang terbuka di pagi hari.

Helaan nafas terdengar berat saat Salma mulai membuka pintu pagar. Ia mencoba melangkah dengan wajah sedatar mungkin. Satu per satu celana dan kemeja ia sampirkan. Namun baru saja ia menyampirkan rok, suara yang tak asing terdengar memecah keheningan.

“ Aduh…rajin sekali pagi-pagi sudah ngejemurpp Jeng “ Suara itu terdengar dari rumah sebelah

Bu Lastri, dengan daster merah muda berdiri di dekat tiang menatap Salma dengan senyuman yang sulit diartikan.

Salma menoleh dan tersenyum tipis “ Iya Bu… mumpung cuacanya lagi bagus, kan dari kemarin kalau enggak hujan ya mendung “

“ Iya bener… ngomong ngomong soal cuaca bagus. Hati Pak RT juga lagi bagus loh Jeng ”

Salma mengernyit, bingung “ Bagus kenapa Bu ? “

“ Kemarin saya liat si Hana menantu nya Pak RT, sudah lahiran Bu. Anak kedua, Loh! Padahal pernikahan nya baru genap tiga tahun. Luar biasa ya, rahimnya subur sekali “ Ucap Bu Lastri tanpa jeda

Deg

Salma tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut lebih kencang dan dada nya bergemuruh. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. “ Alhamdulillah kalau begitu Bu. Ikut senang mendengarnya”

“Saya malah ke inget Jeng Salma. Bukan nya Jeng Salma dan anaknya Pak RT itu nikahnya lebih dulu Jeng Salma ya ? Tapi kok—”

Bu Lastri melangkah mendekat ke arah pagar pembatas, suaranya mengecil dan berbisik. “ Lebih cepet Jeng Hana ya. Apa belum ada tanda-tanda juga sampe sekarang? Nyoba di urut lah Jeng, biar cepet punya momongan. Enggak usah cape-cape ke dokter terus, toh sampe sekarang belum berhasil juga. Ini sudah tahun ke tujuh kan ?”

Perih

Itu yang Salma rasakan. Kalimat-kalimat seperti itu selalu saja bisa membuatnya kelu. Entah kenapa pagi ini sakitnya lebih terasa. “ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Do’akan saja yang terbaik”

“ Alah berusaha jangan satu jalan saja Jeng. Di coba urut ke Mak Yati yang di Desa itu. Siapa tahu rahim ‘kering’ Jeng Salma bisa subur. Enggak kasian apa sama Mas Ferdi. Pulang kerja rumah selalu sepi macam kuburan . Jangan sampai dia ngelirik ke yang lain. Laki-laki kalau sudah cape bisa saja pakai logika nya. Pasti banyak sekali perempuan diluaran sana yang subur dan mau sama Mas Ferdi “ Cerocos Bu Lastri panjang kali lebar

Omongan tanpa jeda itu berhasil membuat Salma terdiam. Ia berusaha menahan gemuruh di dada dengan meremas ujung daster nya, tak dapat dipungkiri perkataan itu berhasil menusuk tepat ke pusat ketakutan nya sebagai istri. Tanpa kata, Salma mempercepat gerakan menjemurnya. Dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Salma menutup pintu dengan rapat, menyandarkan punggungnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya jatuh satu per satu tanpa jeda. Ia menatap ruang tamu yang luas dan bersih. Benar kata Bu Lastri rumah ini sepi diselimuti sunyi yang mencekik. Tidak ada mainan yang berserakan di lantai, coretan krayon di dinding dan tidak ada suara tangisan maupun rengekan yang terdengar memecah sunyi.

Salma terduduk lesu. Ingatan nya melayang pada malam-malam panjang yang selalu ia habiskan di atas sajadah. Dalam tangisnya ia selalu memohon agar diberikan amanah itu. Berbagai usaha ia lakukan bersama sang suami, mulai dari vitamin, minuman herbal sampai prosedur medis yang menguras tabungan dan fisiknya. Namun hasil tetap sama—garis satu.

Ditengah lamunannya, terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ferdi, suami Salma sudah rapi dengan kemeja biru dan tas ransel nya. Langkah Ferdi terhenti ketika melihat wajah sembab Salma.

“ Kamu kenapa sayang ? “ Ferdi meletakkan tas nya dan memegang bahu Salma

Salma mencoba tersenyum dan buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Enggak papa mas. Tadi kelilipan pas jemur pakaian di depan”

Ferdi tidak langsung mempercayai omongan Salma. Ia mencoba menelisik, menatap kearah jendela luar.

“ Apa karena Bu Lastri ? Dia ngomong apa lagi sama kamu ?”

“Enggak kok Mas. Aku cuma kelilipan tadi”

Ferdi menghela nafas. Menarik Salma ke dalam pelukannya.

Perasaan hangat serasa menelisik hati Salma yang sedang perih.

“ Sayang. Dengerin Mas baik-baik. Jangan pernah dengarkan omongan buruk orang lain tentang kita. Mas menikahimu karena Mas benar-benar mencintai kamu Sayang, bukan semata-mata menjadikan kamu mesin pencetak anak. Kalau ada omongan macam-macam lagi, jangan dengarkan ! Anggap saja angin lalu, mereka tidak tahu apa yang sedang kita usahakan selama ini.”

“ Tapi Mas,ibu…. Semalam ibu menanyakan hal yang sama. Ibu juga menanyakan kapan kita mau periksa ke dokter yang lain. “ Bisik Salma dalam dekapan Ferdi

Ferdi terdiam sejenak. Tekanan dari ibunya memang jauh lebih berat dari sekedar omongan tetangga.

“Soal Ibu biar Mas yang urus.” kata Ferdi tegas. “ Jangan sampai kamu stress karena tuntutan orang lain. Sekarang ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin”

Malam harinya, apa yang dikhawatirkan Salma terjadi, Ibu mertua nya–Mayang menelpon. Mereka harus menghadiri acara makan malam rutin keluarga. Suasana meja makan terasa kaku. Selain Ferdi dan Salma, ada Rani Kakak Ferdi beserta suami dan kedua anaknya yang masih kecil.

Terlihat mereka berdua berlarian dan tertawa kecil diruang tengah, dengan setumpuk mainan yang sengaja disiapkan Bu Mayang saat mereka berkunjung.

“Aduh, anak-anak ini enggak bisa diem ya” Ucap Rani sambil melirik anak bungsu nya. “ Disuruh makan malah main, jadi berisik kan. Ma'af ya Bu”

Bu Mayang yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan suara denting yang cukup keras. Namun sorot matanya tertuju pada Salma dan Ferdi.

“ Enggak papa. Kalau ada anak-anak rumah jadi ramai. Rumah sepi itu enggak enak, pasti bosan banget. Makanya Ibu selalu bilang sama Ferdi. Jangan cuma pasrah. Usaha itu harus maksimal. Masa adik mu yang nikah belakangan sudah punya anak, kamu belum ?”

Ferdi menatap Salma sebentar.

“ Sabar Bu. Kami juga sedang berusaha. Mungkin belum waktunya saja.” Jawab Ferdi mencoba tetap tenang.

“Sabar ? Sampai kapan Ibu harus sabar nunggu? Sampai Salma masuk masa menopause? “ Suara Bu Mayang meninggi sedikit. “Ferdi, kamu itu anak laki-laki tertua di keluarga ini, Ibu ingin garis keturunan kita berlanjut. Ibu bukannya jahat sama kalian, tapi ibu juga realistis. Di keluarga kita, cucu adalah segalanya bagi kehormatan keluarga. Kalau memang ada masalah di Salma. Kalian harus mempertimbangkan cara lain.”

Salma menunduk dalam. Makanan yang ada didepannya tiba-tiba hambar, seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang sulit ditelan. Ia seperti terdakwa di tengah keluarga Ferdi.

“ Cara lain apa maksud Ibu ?“ tanya Ferdi dengan nada yang mulai tinggi.

“ Kamu bisa menikah lagi, tanpa harus bercerai dengan Salma. Salma tetap jadi istri pertama mu. Tapi kamu juga bisa mendapatkan anak dari wanita lain yang lebih ‘subur’.” Ujar Bu Mayang tanpa beban

Suhu di Ruang Makan tiba-tiba berubah. Maya hanya pura-pura sibuk dengan anaknya, sementara Salma merasa dunia di sekitar nya runtuh saat itu juga. Hal yang ia takut kan kini terjadi. Tak sesempurna itukah dirinya, sehingga harus ada wanita lain antara dirinya dan Ferdi?

Salma menatap Ferdi, menanti jawaban sang suami dengan jantung yang berdebar. Apakah Ferdi akan goyah? Apakah cinta yang mereka bangun akan hancur karena keinginan sang Ibu ?

Ferdi meletakkan sendok dan serbetnya di meja. Ia berdiri, lalu menggenggam tangan Salma yang dingin.

“ Terimakasih banyak atas sarannya Bu, tapi Ferdi enggak akan melakukan apa yang Ibu katakan.” Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan. “ Salma akan menjadi satu-satunya istri Ferdi. Jika Tuhan menitipkan anak pada kami, kami akan menjaga nya. Tapi jika tidak, itu sudah menjadi takdir kami dan Ferdi akan tetap bersama Salma sampai kapanpun. Ferdi pulang dulu. Terimakasih untuk makan malam nya.”

Ferdi dan Salma keluar tanpa menoleh lagi. Sementara tangan Bu Mayang mengepal dibawah meja.

“Apa yang ingin kamu pertahankan dari wanita ‘mandul’ itu Ferdi”

Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, Salma hanya menatap keluar kaca mobil. Ia menangis dalam diam. Hatinya hancur mendengar saran berbalut hinaan dari mertua nya.

Namun di sisi lain, ia sangat bersyukur Ferdi tidak terpengaruh oleh keinginan ibunya, Salma merasa sangat dicintai oleh laki-laki di samping nya. Salma bertekad akan berusaha lebih keras lagi, bukan untuk membungkam mulut tetangga atau memuaskan mertuanya. Tapi untuk lelaki yang rela bertahan meski ia belum bisa memberikan gelar Ayah.

Sesampainya di rumah, Salma melihat langit malam bertabur bintang. Dalam hati ia berdo’a :

“Ya Tuhan, jika memang Engkau menghendaki, berikanlah kami Amanah itu satu saja, biarkan kami merawat dan menjaganya. Tapi jika Engkau tidak menghendaki, jaga hati suamiku agar tetap menjadi rumah bagiku”

Mereka masuk dengan harapan-harapan kecil berbalut do’a. Berharap do’a yang dilangitkan sedang dirajut menjadi sebuah takdir indah.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 11

    Tiga hari berlalu sejak Bu Mayang meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Sekilas, suasana di rumah mulai kembali tenang seperti biasa. Namun bagi Salma, ketenangan itu terasa rapuh, seolah hanya jeda sementara sebelum masalah lain kembali muncul.Trang Trang Salma yang sedang menyusui Arkana langsung tersentak ketika suara gaduh terdengar dari depan rumah. Saat melirik keluar jendela, ia membeku melihat sebuah truk besar terparkir dan beberapa pekerja mulai menurunkan perlengkapan tenda.“Mas, Mas Ferdi!” panggil Salma panik. “Ada orang pasang tenda di depan rumah!”Ferdi yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas keluar. “Maaf, Pak” ucapnya cepat mendekati salah satu pekerja. “Sepertinya ini salah alamat. Kami tidak memesan tenda.”Mendengar penolakan itu, pria paruh baya tersebut langsung membuka map plastik yang sejak tadi di jepit di bawah lengannya. Dengan cepat, ia memperlihatkan yang sudah distempel.“Tidak salah, Pak. Alamatnya sudah sesuai,” jelas nya hati-hati. “P

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 10

    Salma baru saja selesai berjemur bersama Arkana di pagi hari. Setelah itu, ia memandikan putranya dengan hati-hati, memastikan tubuh kecil itu bersih dan nyaman sebelum akhirnya menidurkannya. Setelah memastikan Arkana benar-benar aman dan tertidur nyenyak di kamarnya, Salma menarik napas pelan. Hari itu terasa sedikit lebih tenang dari biasanya, apalagi Ferdi sedang libur kerja dan bisa berada di rumah sejak siang.Keduanya duduk di ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. Suasana terasa hangat dan sederhana, hanya diisi suara pelan peralatan makan serta obrolan ringan antara Salma dan Ferdi yang sesekali bertukar pandang.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Terdengar suara pintu depan terbuka. Langkah kaki masuk perlahan, memecah ketenangan rumah yang sebelum nya damai.Dari arah ruang makan, Bu Mayang dan Rani terlihat memasuki rumah. Keduanya berjalan masuk begitu saja.Rani menoleh ke meja makan dan tersenyum tipis. “Wah, kebetulan sekali kita datang pas jam ma

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 09

    Bab 09Kepulangan Salma ke rumah dengan bayi kecil dipelukannya seharusnya menjadi awal yang menenangkan. Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, ia hanya ingin beristirahat sambil menikmati kehadiran Arkana Pratama di sisinya.Namun, baru saja pintu rumah terbuka, Salma langsung menyadari bahwa ketenangan yang ia dambakan rupanya belum benar-benar menunggu nya di rumah itu. Perhatian Salma tertuju pada keluarga besar Ferdi, orang-orang yang kini tersenyum padanya seolah setahun lalu tidak pernah ada pertengkaran menyakitkan diantara mereka.Salma berdiri beberapa detik diambang pintu sambil memeluk Arkana lebih erat. Senyum-senyum yang diberikan padanya terasa asing, bahkan sebagian tampak terlalu manis untuk dipercaya.“Salma sudah pulang?” sapa salah satu bibinya dengan nada hangat yang terdengar dipaksakan.“Ya ampun, cucunya ganteng sekali,” ujar yang lain antusias.Salma menunduk menatap putranya sesaat. Hatinya aneh, bukan bahagia melainkan waspada. Ia masih terlalu ingat

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 08

    Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang. Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya. Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 07

    Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 06

    Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status