Partager

Bab 05

Auteur: Irama Senja
last update Date de publication: 2026-04-11 12:51:21

Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel.

Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.

Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.

“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.

Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?”

“Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup w******p komplek.” Jawab Ferdi memijat pelipisnya.

“Iya Mas. Mbak Rani marah-marah karena–” Salma terdiam

“Dia bicara apa saja?” Ferdi menunggu jawaban Salma.

Akhirnya Salma pun menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari Rani yang teriak-teriak, memaki dan tentang Bu Mayang yang menangis karena apa yang Ferdi putuskan.

Ferdi menghela nafas. Ia tak akan diam untuk apa yang terjadi hari ini. Ferdi duduk di depan Salma.

“Sayang, Mas tahu kamu sudah tidak nyaman dengan semua ini. Saat ini, pondasi rumah tangga kita sedang diuji. Karena itu, Mas putuskan, kita akan pergi untuk sementara waktu.”

“Tapi Mas, kita akan pergi kemana? Dan bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Mas sudah ambil cuti. Semua bisa di handle oleh Pak Kemal” tegas Ferdi. “Kita pergi ke tempat milik temanku di pedesaan. Disana, akses internet masih terbatas. Jadi tidak akan terlalu banyak gangguan. Kita fokuskan diri kita pada ibadah, ikhtiar dan kebahagiaan kita sendiri. Mas tahu mental mu sedang tidak baik-baik saja Sayang.”

Tiga hari kemudian….

Kini, Salma dan Ferdi sudah menempati penginapan milik temannya, di sebuah dekat pegunungan. Di rumah ini, terasa tenang tanpa suara nyaring Bu Lastri dan tuntutan dari Bu Mayang.

Di sini, pagi nya tak secemas kemarin. Ia memulai hari dengan hati yang tenang. Tanpa takut ada ‘sidang terbuka’ yang merusak suasana. Ferdi pun tampak lebih santai, menghabiskan waktu dengan berkebun atau membaca buku. Tidak ada berkas kantor yang ia bawa.

“Mas…”, ujar Salma saat mereka duduk di depan teras sore hari. “ Jika seandainya Tuhan tidak menitipkan seorang anak bersama kita. Apa Mas tidak akan menyesal?”

Ferdi menoleh, menatap Salma dalam. “Tidak. Mas tidak akan menyesal. Karena anak adalah amanah yang dititipkan. Jika Tuhan tidak memberikan itu, Mas tidak masalah. Kebahagiaan itu tak selalu harus sama seperti orang lain.”

Kalimat itu menjadi penenang bagi segala keraguan Salma. Sekarang, Salma belajar ikhlas untuk tidak lagi menunggu garis dua. Ia memutuskan untuk bahagia dengan apa yang mereka miliki saat ini.

Dua Minggu berlalu…

Salma dan Ferdi kembali dengan energi yang berbeda. Ferdi membuka pintu mobil saat Salma turun. Dari kejauhan, Bu Lastri berusaha mendekat dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu. Namun, Salma tak menggubris. Ia langsung masuk ke dalam rumah.

Beberapa hari setelah kepulangan mereka. Salma merasa tak enak badan. Akhir-akhir ini ia sering merasa lelah, padahal tak banyak yang ia kerjakan. Namun, satu hal yang terus menerus terpikirkan oleh Salma. Siklus bulanan nya kini berbeda dengan biasanya. Ia tak berani menerka-nerka. Tujuh tahun telah mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap.

“Ini sudah diluar siklus bulananku”. Ucap Salma. Tatapannya jatuh pada kalender di dinding.

Dengan hati yang bergetar cemas. Salma memberanikan diri, mencoba melakukan tes mandiri. Setelah selesai. Salma meletakkan benda kecil itu di tepi wastafel. Sementara ia berdiri diam, menunggu dengan jantung yang tak lagi tenang.

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Menit demi menit berlalu, Salma takut, namun ia juga tak bisa menahan harap. Akhirnya, ia mengambil benda kecil itu. Samar, sangat tipis di bagian garis kedua. Berkali-kali Salma mengucek mata. Ia takut berhalusinasi.

Ia membawa alat itu keluar, ke arah jendela yang lebih terang.

Seketika Salma terpaku. Nafasnya tertahan. Garis itu tetap sama. Garis Dua–seolah menjawab semua doa yang selama ini ia simpan di keheningan malam.

Salma tak menjerit. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Air matanya mengalir deras. Ia tak menyangka setelah penantian yang begitu panjang, anugerah itu akan hadir.

Pintu kamar mandi terbuka, Ferdi masuk karena mendengar isak tangis Salma. Wajah nya panik melihat Salma bersimpuh di lantai.

“Sayang, kamu kenapa?” Ia berlutut di samping Salma

Salma tak menjawab, namun tangis nya semakin keras. “Bilang sama Mas. Ada apa ? Kamu sakit lagi?” Ferdi semakin panik.

Namun, Salma menyodorkan benda kecil itu dengan tangan gemetar. Ferdi mengambilnya, menatapnya beberapa detik.

Tanpa aba-aba ia memeluk Salma erat. Pria yang selama ini terlihat tegar, air matanya kini luruh, bahunya berguncang. Di pagi ini, dua manusia yang selama tujuh tahun dihina dan direndahkan oleh dunia, kini merunduk bersama dengan tangis syukur yang tak mampu mereka bendung.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 13

    Pria berseragam itu melangkah maju dua langkah, lalu mengeluarkan sebuah map jepit berwarna biru tua dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping kotak kayu milik bude Rahmi. Sebuah kontras tajam terpampang jelas di sana, masa lalu yang penuh kejujuran berdampingan dengan masa kini yang terbelit kepalsuan.“Total tunggakan dan denda berjalan saat ini sudah melewati batas yang ditentukan, Pak.” lanjut pria berseragam itu. Ia mendorong map biru tua tersebut sedikit ke depan hingga tepat dihadapan Ferdi.Ferdi menatap dokumen itu, ia tahu persis apa arti cap merah di sudut berkas tersebut. Surat peringatan penyitaan aset. Dan surat itu tidak pernah datang tanpa konsekuensi besar.“Tunggu dulu,” sela Ferdi cepat. Suaranya berat dan terdengar bergetar samar. Jemarinya naik memijat pangkal hidung dengan gerakan kasar, sementara dahinya berkerut tajam.“Cicilan mana yang dimaksud? Ibu saya tidak punya utang apa pun pada pihak bank. Semua aset keluarga sudah dibereskan.”Senyum profesiona

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 12

    Jejak bazar amal masih tampak di halaman rumah yang belum sepenuhnya sepi. Suara tawa warga perlahan mereda, berganti ucapan terimakasih yang tulus. Salma berdiri sejenak di tengah halaman, membiarkan aroma nasi hangat itu menenangkan hatinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa langkah yang diambilnya tidak salah.Salma melangkah masuk ke dalam rumah. Arkana sudah terlelap di dalam boks bayi nya, tak terusik oleh sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Di ruang tamu, Bu Mayang duduk dengan kaku, memperhatikan Salma dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa malu yang mendalam.“Kau merasa sudah menang, Salma?” suara Ibu Mayang memecah kesunyian, dingin dan tajam.Salma menoleh, sorot matanya tenang. “Aku tidak sedang bersaing dengan Ibu. Aku hanya ingin melakukan yang menurutku benar untuk Arkana.” “Benar untukmu atau sengaja ingin melawan?” suara itu terdengar lebih berat dari sebelumnya.Salma terdiam sejenak, sebelum m

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 11

    Tiga hari berlalu sejak Bu Mayang meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Sekilas, suasana di rumah mulai kembali tenang seperti biasa. Namun bagi Salma, ketenangan itu terasa rapuh, seolah hanya jeda sementara sebelum masalah lain kembali muncul.Trang Trang Salma yang sedang menyusui Arkana langsung tersentak ketika suara gaduh terdengar dari depan rumah. Saat melirik keluar jendela, ia membeku melihat sebuah truk besar terparkir dan beberapa pekerja mulai menurunkan perlengkapan tenda.“Mas, Mas Ferdi!” panggil Salma panik. “Ada orang pasang tenda di depan rumah!”Ferdi yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas keluar. “Maaf, Pak” ucapnya cepat mendekati salah satu pekerja. “Sepertinya ini salah alamat. Kami tidak memesan tenda.”Mendengar penolakan itu, pria paruh baya tersebut langsung membuka map plastik yang sejak tadi di jepit di bawah lengannya. Dengan cepat, ia memperlihatkan yang sudah distempel.“Tidak salah, Pak. Alamatnya sudah sesuai,” jelas nya hati-hati. “P

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 10

    Salma baru saja selesai berjemur bersama Arkana di pagi hari. Setelah itu, ia memandikan putranya dengan hati-hati, memastikan tubuh kecil itu bersih dan nyaman sebelum akhirnya menidurkannya. Setelah memastikan Arkana benar-benar aman dan tertidur nyenyak di kamarnya, Salma menarik napas pelan. Hari itu terasa sedikit lebih tenang dari biasanya, apalagi Ferdi sedang libur kerja dan bisa berada di rumah sejak siang.Keduanya duduk di ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. Suasana terasa hangat dan sederhana, hanya diisi suara pelan peralatan makan serta obrolan ringan antara Salma dan Ferdi yang sesekali bertukar pandang.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Terdengar suara pintu depan terbuka. Langkah kaki masuk perlahan, memecah ketenangan rumah yang sebelum nya damai.Dari arah ruang makan, Bu Mayang dan Rani terlihat memasuki rumah. Keduanya berjalan masuk begitu saja.Rani menoleh ke meja makan dan tersenyum tipis. “Wah, kebetulan sekali kita datang pas jam ma

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 09

    Bab 09Kepulangan Salma ke rumah dengan bayi kecil dipelukannya seharusnya menjadi awal yang menenangkan. Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, ia hanya ingin beristirahat sambil menikmati kehadiran Arkana Pratama di sisinya.Namun, baru saja pintu rumah terbuka, Salma langsung menyadari bahwa ketenangan yang ia dambakan rupanya belum benar-benar menunggu nya di rumah itu. Perhatian Salma tertuju pada keluarga besar Ferdi, orang-orang yang kini tersenyum padanya seolah setahun lalu tidak pernah ada pertengkaran menyakitkan diantara mereka.Salma berdiri beberapa detik diambang pintu sambil memeluk Arkana lebih erat. Senyum-senyum yang diberikan padanya terasa asing, bahkan sebagian tampak terlalu manis untuk dipercaya.“Salma sudah pulang?” sapa salah satu bibinya dengan nada hangat yang terdengar dipaksakan.“Ya ampun, cucunya ganteng sekali,” ujar yang lain antusias.Salma menunduk menatap putranya sesaat. Hatinya aneh, bukan bahagia melainkan waspada. Ia masih terlalu ingat

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 08

    Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang. Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya. Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status