LOGINSore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel.
Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam. Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu. “Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan. Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup w******p komplek.” Jawab Ferdi memijat pelipisnya. “Iya Mas. Mbak Rani marah-marah karena–” Salma terdiam “Dia bicara apa saja?” Ferdi menunggu jawaban Salma. Akhirnya Salma pun menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari Rani yang teriak-teriak, memaki dan tentang Bu Mayang yang menangis karena apa yang Ferdi putuskan. Ferdi menghela nafas. Ia tak akan diam untuk apa yang terjadi hari ini. Ferdi duduk di depan Salma. “Sayang, Mas tahu kamu sudah tidak nyaman dengan semua ini. Saat ini, pondasi rumah tangga kita sedang diuji. Karena itu, Mas putuskan, kita akan pergi untuk sementara waktu.” “Tapi Mas, kita akan pergi kemana? Dan bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Mas sudah ambil cuti. Semua bisa di handle oleh Pak Kemal” tegas Ferdi. “Kita pergi ke tempat milik temanku di pedesaan. Disana, akses internet masih terbatas. Jadi tidak akan terlalu banyak gangguan. Kita fokuskan diri kita pada ibadah, ikhtiar dan kebahagiaan kita sendiri. Mas tahu mental mu sedang tidak baik-baik saja Sayang.” Tiga hari kemudian…. Kini, Salma dan Ferdi sudah menempati penginapan milik temannya, di sebuah dekat pegunungan. Di rumah ini, terasa tenang tanpa suara nyaring Bu Lastri dan tuntutan dari Bu Mayang. Di sini, pagi nya tak secemas kemarin. Ia memulai hari dengan hati yang tenang. Tanpa takut ada ‘sidang terbuka’ yang merusak suasana. Ferdi pun tampak lebih santai, menghabiskan waktu dengan berkebun atau membaca buku. Tidak ada berkas kantor yang ia bawa. “Mas…”, ujar Salma saat mereka duduk di depan teras sore hari. “ Jika seandainya Tuhan tidak menitipkan seorang anak bersama kita. Apa Mas tidak akan menyesal?” Ferdi menoleh, menatap Salma dalam. “Tidak. Mas tidak akan menyesal. Karena anak adalah amanah yang dititipkan. Jika Tuhan tidak memberikan itu, Mas tidak masalah. Kebahagiaan itu tak selalu harus sama seperti orang lain.” Kalimat itu menjadi penenang bagi segala keraguan Salma. Sekarang, Salma belajar ikhlas untuk tidak lagi menunggu garis dua. Ia memutuskan untuk bahagia dengan apa yang mereka miliki saat ini. Dua Minggu berlalu… Salma dan Ferdi kembali dengan energi yang berbeda. Ferdi membuka pintu mobil saat Salma turun. Dari kejauhan, Bu Lastri berusaha mendekat dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu. Namun, Salma tak menggubris. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Beberapa hari setelah kepulangan mereka. Salma merasa tak enak badan. Akhir-akhir ini ia sering merasa lelah, padahal tak banyak yang ia kerjakan. Namun, satu hal yang terus menerus terpikirkan oleh Salma. Siklus bulanan nya kini berbeda dengan biasanya. Ia tak berani menerka-nerka. Tujuh tahun telah mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap. “Ini sudah diluar siklus bulananku”. Ucap Salma. Tatapannya jatuh pada kalender di dinding. Dengan hati yang bergetar cemas. Salma memberanikan diri, mencoba melakukan tes mandiri. Setelah selesai. Salma meletakkan benda kecil itu di tepi wastafel. Sementara ia berdiri diam, menunggu dengan jantung yang tak lagi tenang. Satu menit Dua menit Tiga menit Menit demi menit berlalu, Salma takut, namun ia juga tak bisa menahan harap. Akhirnya, ia mengambil benda kecil itu. Samar, sangat tipis di bagian garis kedua. Berkali-kali Salma mengucek mata. Ia takut berhalusinasi. Ia membawa alat itu keluar, ke arah jendela yang lebih terang. Seketika Salma terpaku. Nafasnya tertahan. Garis itu tetap sama. Garis Dua–seolah menjawab semua doa yang selama ini ia simpan di keheningan malam. Salma tak menjerit. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Air matanya mengalir deras. Ia tak menyangka setelah penantian yang begitu panjang, anugerah itu akan hadir. Pintu kamar mandi terbuka, Ferdi masuk karena mendengar isak tangis Salma. Wajah nya panik melihat Salma bersimpuh di lantai. “Sayang, kamu kenapa?” Ia berlutut di samping Salma Salma tak menjawab, namun tangis nya semakin keras. “Bilang sama Mas. Ada apa ? Kamu sakit lagi?” Ferdi semakin panik. Namun, Salma menyodorkan benda kecil itu dengan tangan gemetar. Ferdi mengambilnya, menatapnya beberapa detik. Tanpa aba-aba ia memeluk Salma erat. Pria yang selama ini terlihat tegar, air matanya kini luruh, bahunya berguncang. Di pagi ini, dua manusia yang selama tujuh tahun dihina dan direndahkan oleh dunia, kini merunduk bersama dengan tangis syukur yang tak mampu mereka bendung.Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang.Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya.Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak beras
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S
Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se
Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel. Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup wh
Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak
Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon, dan aroma kopi yang khas menguar menambah kesan indah di pagi ini. Salma tak henti-hentinya melihat keprotektifan Ferdi setelah insiden jamu kemarin. Ia benar-benar menjadi garda terdepan bagi orang yang mencoba menyerang Salma. “Jangan pernah angkat, atau balas pesan dari keluarga ku kalau hal itu menyangkut tentang anak. Mereka tak berhak ikut campur lagi.”Ferdi bahkan tahu media sosial dan grup pesan singkat sejahat itu. Dari subuh tadi ia tak henti-hentinya mengingatkan untuk tak pernah menelan apa yang orang lain katakan. Satu katapun, demi kesehatan mental nya.Setelah mengantar kepergian suami ke kantor. Salma segera mengerjakan pekerjaan rumah. Pukul sembilan pagi, Salma ke ruang tengah, ingin memfokuskan diri menulis novel. Menulis adalah hobi Salma dari sejak SMA. Ia merasa jika menulis adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluapkan semua yang ia rasakan. Ia bebas menentukan takdir atas dirinya sendiri. Tanpa harus mendengar







