Share

Bab 06

Author: Irama Senja
last update publish date: 2026-04-12 13:57:54

Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.

“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih.

“Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.”

Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.

Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi sesaat.

Salma menatap sekeliling. Banyak pasangan yang tengah diliputi berbagai macam kebahagiaan. Namun, ia merasa dunianya masih abu-abu, belum nyata seperti mereka.

“Ibu Salma”, panggil perawat

Ferdi dan Salma masuk. Di ruang konsultasi, dr. Reza Ardiansyah tersenyum lebar melihat layar monitor, ada sebuah titik kecil tampak berdenyut. Ia tak menyangka, setelah tujuh tahun, pasangan itu bolak balik dengan harapan yang sama, akhirnya detik ini,harapan itu menjadi kabar bahagia.

“Ini sungguh sebuah keajaiban Pak. Setelah medis, kemungkinan untuk Bu Salma hamil sangatlah kecil. Tapi, detak jantung ini nyata. Ada janin yang tumbuh, dan usianya sudah mencapai enam minggu.” Jelas dr. Reza yang selama ini menangani Salma.

Air mata Salma kembali jatuh. Rasa syukur itu tak henti ia lantunkan. Sungguh ia tak pernah menyangka, Tuhan telah menjawab atas ribuan doa yang mereka panjatkan.

Ferdi masih menatap layar monitor tanpa berkedip. Titik kecil itu, denyut halus yang nyaris tak terdengar itu, akan hadir dalam hidup nya kini.

“Terimakasih Tuhan”,

“Namun perlu diingat Pak.” ucap dr. Reza dengan nada serius. “Mengingat pemeriksaan sebelumnya, bahwa hormon Bu Salma masih belum stabil dan di trimester awal segalanya masih rapuh. Jadi, Bu Salma tidak boleh kelelahan, apalagi stress. Bapak maupun lingkungan harus benar-benar mendukung.”

Ferdi mengangguk.” Baik dok, saya akan pastikan semua itu akan saya lakukan.”

Setelah pemeriksaan itu, mereka kembali pulang dan disambut dengan pemandangan yang tak asing. Bu Lastri– dengan pandangan menelisik, seolah ada rasa ingin tahu yang mengusik.

“Dari mana nih siang-siang begini ? Mukanya kok kelihatan berseri-seri banget?” sapa Bu Lastri saat Ferdi membukakan pintu mobil untuk Salma.

Ferdi hanya tersenyum tipis. “Habis ada keperluan Bu.”

“Keperluan apa ni kalau boleh tahu? Apa keperluan yang ‘itu’ ya?” celetuk Bu Lastri tanpa rasa bersalah.

“Kami duluan Bu.” ucap Ferdi tanpa menghiraukan pertanyaan Bu Lastri.

Ferdi melangkah sambil menggandeng tangan Salma.

Sesampainya di dalam rumah.

Salma terdiam. Teringat ucapan Bu Lastri tadi.

Biasanya sindiran itu selalu membuat dada Salma ‘sesak’. Kini, perasaan itu tak lagi hadir. Salma tersenyum, mengusap lembut perutnya yang masih rata. Ada kekuatan besar yang ia simpan, yang dapat membungkam lidah tajam mereka.

“Sayang….”, lamunan Salma seketika terhenti.

Ia terkejut, Ferdi langsung mengubah ruang tengah menjadi ruang istirahat Salma yang paling nyaman. Ia mengganti isi rak dan menumpuk nya dengan buku. Ia ingin, semua yang dibutuhkan Salma terjangkau, tanpa harus banyak bergerak.

“Mas..ini terlalu berlebihan. Aku hamil, bukan sakit.” ujar Salma pelan, menegaskan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

“Kamu lupa apa yang dokter katakan tadi? Tidak boleh kecapean, tidak boleh stress. Jadi, untuk beberapa bulan kedepan, aku akan menjadi asisten pribadi mu selama masa kehamilan ini.” ucap Ferdi sembari sibuk membereskan semuanya.

“Tapi Mas—”, ucapan Salma terhenti ketika handphone Ferdi berdering.

Mbak Rani

“Aku angkat dulu sebentar.”

Ferdi menghela nafas berat. Ia sedikit menjauh ke arah dapur. Takut Salma mendengar dan terbebani.

“Ada apa Mbak ?”. Ucap Ferdi mencoba tetap biasa saja.

“Ada apa kamu bilang? Setelah dua minggu lebih tanpa kabar. Kamu masih bertanya ada apa?” ujar Rani di seberang telpon. “Ibu sakit, ia selalu berpikir kamu menjadi durhaka, rela meninggalkan keluarga kita demi wanita mandul itu.”

“Aku bukannya durhaka Mbak. Hanya ingin berjarak sejenak, agar hati kami bisa lebih tenang.” Ferdi menurunkan suaranya, takut didengar Salma. “Sekarang, bagaimana kondisi ibu?”

“Bilang saja kamu memang mau membuang kami.” ucap Rani kesal. “Tekanan darah ibu naik. Beliau hanya minta satu hal. Minggu depan ada acara arisan keluarga. Disana akan ada doa bersama. Dia meminta kamu dan Arini datang. Hitung-hitung minta berkah, supaya kalian cepat dapat anak.”

Ferdi terdiam. Ia tak mudah dibohongi, ini hanya sekedar dalih yang disusun untuk menekan Salma lagi. Ia tak ingin tekanan dari keluarganya yang belum tahu kabar bahagia ini, menjadi beban bagi Salma.

“Baik, aku akan datang, tapi sendiri. Salma tidak ikut, dia sedang sakit dan butuh istirahat.”

“Sakit apalagi? Bilang saja kalau dia malu untuk bertemu sepupu-sepupu kita yang sudah duluan punya anak. Kamu sih suruh nikah lagi nggak mau, jangan terlalu bodoh jadi laki-laki.” Rani membentak sebelum mematikan ponsel sepihak.

Ferdi memijit pelipisnya pelan. Ia berbalik, dan Salma sudah berada di belakang nya.

“Aku akan ikut Mas. Ibu sakit karena kita kan?” tanya Salma lirih.

Ferdi membawa istrinya ke ruang tengah. Salma duduk, dan Ferdi berlutut menggenggam tangan Salma. “Tidak. Biar Mas yang pergi. Ibu sakit karena belum bisa menerima keputusan kita. Ingat, rumah tangga kita bukan ruang terbuka, orang lain tidak punya hak untuk masuk.” Ferdi menatap perut Salma. “Jangan biarkan rasa bersalah itu menguasai mu. Ingat, disini ada bayi kita. Ia butuh ibu yang tenang.”

Acara arisan keluarga pun tiba, Ferdi benar-benar pergi sendiri tanpa Salma. Alih-alih disambut hangat. Justru, ia mendapati suasana dingin yang menusuk.

Ferdi menghampiri Bu Lastri yang tengah duduk di kursi rotan nya, ditemani Rani yang menatap Ferdi dengan pandangan menghakimi.

“Dimana istrimu ? Benar-benar menantu durhaka. Mertua sakit bukannya menjenguk, malah tumpang kaki di rumah.” Ucap Rani tajam

Ferdi jongkok di hadapan ibunya. Mengabaikan Rani yang terus menyindir nya. “Bagaimana kondisi ibu sekarang? Ini, Ferdi bawakan kue kesukaan ibu. Masih hangat Bu.”

Bu Mayang tak langsung menerima buah tangan Ferdi. “Ferdi, bagaimanapun ibu sudah tua. Ibu ingin melihat kamu bahagia. Jangan habiskan sisa hidupmu dengan sia-sia. Banyak wanita diluaran sana yang bisa memberikanmu anak. Kenapa kamu keras kepala sekali, mempertahankan sesuatu yang tidak memberikan hasil?”

Ferdi meletakkan kue itu di meja kecil samping Rani. Ia duduk dan menghela nafas dalam. Apa yang ia takuti benar. Ibunya kembali meminta Ferdi untuk poligami.

“Bu, Ferdi sudah sangat bahagia dengan Salma. Jika soal anak… bersabarlah Bu, ibu akan mendapatkan nya. Tapi tolong beri kami waktu. Jangan terus menerus menyalahkan dan memojokkan istriku. Dia butuh banyak istirahat sesuai arahan dokter.”

“Arahan dokter? Memangnya dia lumpuh? Sampai ke rumah mertua pun tidak bisa?” cerocos Rani

“Bukan tidak bisa. Aku yang melarang Salma untuk datang pada acara hari ini. Dia sedang berjuang, Mbak. Dan kalian tak akan pernah bisa mengerti akan hal itu. Ibu, Ferdi pamit. Kalau butuh apa-apa, jangan ragu memanggilku.”

Ferdi keluar melangkah dari rumah itu. Perasaannya campur aduk. Ia sedih, menjaga jarak dari sang Ibu. Tapi, jika membiarkan ibunya ikut campur terus dalam rumah tangga mereka, itu akan mengganggu Salma dan calon bayinya.

“Maafkan aku Ibu. Suatu saat Ibu akan mengerti”...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 13

    Pria berseragam itu melangkah maju dua langkah, lalu mengeluarkan sebuah map jepit berwarna biru tua dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping kotak kayu milik bude Rahmi. Sebuah kontras tajam terpampang jelas di sana, masa lalu yang penuh kejujuran berdampingan dengan masa kini yang terbelit kepalsuan.“Total tunggakan dan denda berjalan saat ini sudah melewati batas yang ditentukan, Pak.” lanjut pria berseragam itu. Ia mendorong map biru tua tersebut sedikit ke depan hingga tepat dihadapan Ferdi.Ferdi menatap dokumen itu, ia tahu persis apa arti cap merah di sudut berkas tersebut. Surat peringatan penyitaan aset. Dan surat itu tidak pernah datang tanpa konsekuensi besar.“Tunggu dulu,” sela Ferdi cepat. Suaranya berat dan terdengar bergetar samar. Jemarinya naik memijat pangkal hidung dengan gerakan kasar, sementara dahinya berkerut tajam.“Cicilan mana yang dimaksud? Ibu saya tidak punya utang apa pun pada pihak bank. Semua aset keluarga sudah dibereskan.”Senyum profesiona

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 12

    Jejak bazar amal masih tampak di halaman rumah yang belum sepenuhnya sepi. Suara tawa warga perlahan mereda, berganti ucapan terimakasih yang tulus. Salma berdiri sejenak di tengah halaman, membiarkan aroma nasi hangat itu menenangkan hatinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa langkah yang diambilnya tidak salah.Salma melangkah masuk ke dalam rumah. Arkana sudah terlelap di dalam boks bayi nya, tak terusik oleh sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Di ruang tamu, Bu Mayang duduk dengan kaku, memperhatikan Salma dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa malu yang mendalam.“Kau merasa sudah menang, Salma?” suara Ibu Mayang memecah kesunyian, dingin dan tajam.Salma menoleh, sorot matanya tenang. “Aku tidak sedang bersaing dengan Ibu. Aku hanya ingin melakukan yang menurutku benar untuk Arkana.” “Benar untukmu atau sengaja ingin melawan?” suara itu terdengar lebih berat dari sebelumnya.Salma terdiam sejenak, sebelum m

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 11

    Tiga hari berlalu sejak Bu Mayang meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Sekilas, suasana di rumah mulai kembali tenang seperti biasa. Namun bagi Salma, ketenangan itu terasa rapuh, seolah hanya jeda sementara sebelum masalah lain kembali muncul.Trang Trang Salma yang sedang menyusui Arkana langsung tersentak ketika suara gaduh terdengar dari depan rumah. Saat melirik keluar jendela, ia membeku melihat sebuah truk besar terparkir dan beberapa pekerja mulai menurunkan perlengkapan tenda.“Mas, Mas Ferdi!” panggil Salma panik. “Ada orang pasang tenda di depan rumah!”Ferdi yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas keluar. “Maaf, Pak” ucapnya cepat mendekati salah satu pekerja. “Sepertinya ini salah alamat. Kami tidak memesan tenda.”Mendengar penolakan itu, pria paruh baya tersebut langsung membuka map plastik yang sejak tadi di jepit di bawah lengannya. Dengan cepat, ia memperlihatkan yang sudah distempel.“Tidak salah, Pak. Alamatnya sudah sesuai,” jelas nya hati-hati. “P

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 10

    Salma baru saja selesai berjemur bersama Arkana di pagi hari. Setelah itu, ia memandikan putranya dengan hati-hati, memastikan tubuh kecil itu bersih dan nyaman sebelum akhirnya menidurkannya. Setelah memastikan Arkana benar-benar aman dan tertidur nyenyak di kamarnya, Salma menarik napas pelan. Hari itu terasa sedikit lebih tenang dari biasanya, apalagi Ferdi sedang libur kerja dan bisa berada di rumah sejak siang.Keduanya duduk di ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. Suasana terasa hangat dan sederhana, hanya diisi suara pelan peralatan makan serta obrolan ringan antara Salma dan Ferdi yang sesekali bertukar pandang.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Terdengar suara pintu depan terbuka. Langkah kaki masuk perlahan, memecah ketenangan rumah yang sebelum nya damai.Dari arah ruang makan, Bu Mayang dan Rani terlihat memasuki rumah. Keduanya berjalan masuk begitu saja.Rani menoleh ke meja makan dan tersenyum tipis. “Wah, kebetulan sekali kita datang pas jam ma

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 09

    Bab 09Kepulangan Salma ke rumah dengan bayi kecil dipelukannya seharusnya menjadi awal yang menenangkan. Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, ia hanya ingin beristirahat sambil menikmati kehadiran Arkana Pratama di sisinya.Namun, baru saja pintu rumah terbuka, Salma langsung menyadari bahwa ketenangan yang ia dambakan rupanya belum benar-benar menunggu nya di rumah itu. Perhatian Salma tertuju pada keluarga besar Ferdi, orang-orang yang kini tersenyum padanya seolah setahun lalu tidak pernah ada pertengkaran menyakitkan diantara mereka.Salma berdiri beberapa detik diambang pintu sambil memeluk Arkana lebih erat. Senyum-senyum yang diberikan padanya terasa asing, bahkan sebagian tampak terlalu manis untuk dipercaya.“Salma sudah pulang?” sapa salah satu bibinya dengan nada hangat yang terdengar dipaksakan.“Ya ampun, cucunya ganteng sekali,” ujar yang lain antusias.Salma menunduk menatap putranya sesaat. Hatinya aneh, bukan bahagia melainkan waspada. Ia masih terlalu ingat

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 08

    Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang. Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya. Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status