共有

Bab 27 Demam

作者: AishAisyi
last update 公開日: 2026-08-11 20:00:10

Di kediaman Adipati Surenggana, Arya sedang duduk bersandar bantal dengan dibantu istrinya.

Mukanya masih lebam, bekas cairan merah sudah dibersihkan sejak sore tadi. Luka terbuka juga sudah dijahit kembali. Kini tinggal rasa pusing di kepalanya yang masih tertinggal.

Malam itu abdi dalem datang dengan membawa makanan baru, abdi dalem itu mengambil makanan siang tadi yang masih utuh belum tersentuh sebab Arya memang baru bangun dan Wandari yang juga ikut tertidur.

Wandari bangkit
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 36 Versi Rakyat Jelata

    Argapati sudah siap di tiang cambukan. Kedua tangannya diikat keatas dengan kuat. Baju atasnya dilepas. Punggungnya menghadap algojo serta deret korban yang berhak mengeksekusi. Sementara Wajahnya menghadap ke dampar Sinuwun. Tak lupa Wandari sebagai saksi korban juga sudah duduk di kursi yang disiapkan dengan dijaga oleh pengawal di sebelah kanan tiang cambuk berjarak 10 meter.Seorang tabib sedang sibuk mengecek kondisi fisik Argapati. Denyut nadinya normal, badannya tidak demam atau sedang sakit, nafasnya juga sehat. Artinya, hukum cambuk bisa dieksekusi hari itu juga.Sebelum menepi di sudut panggung ekseskui, tabib memberi pesan kepada korban yang berhak mengeksekusi untuk berhenti dulu setelah 10 kali cambuk. Terdakwa perlu di cek dulu kesehatannya sebelum lanjut ke cambukan berikutnya.Korban pun mengangguk tanda paham.Algojo yang sudah siap di belakang Argapati memberi tanda berupa anggukan kepala kepada Sinuwun Maheswara. Sang raja itu pun mengangkat t

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 35 Putusan Sidang

    Sinuwun mulai menginterogasi saksi 4, "Ceritakan kowe krungu opo wae selama matamu ditutup terdakwa" Tanya Sinuwun.Arya mengusap air matanya yang sudah ia tahan sejak kemarin-kemarin, kini tangisnya pecah di sidang keraton siang itu. "Terdakwa bilang jangan ngintip, tapi kamu boleh dengar. Aku cuma mau memeriksa apa tubuhnya baik-baik saja atau tidak." Ucap Arya terjeda. "Kulo lemes habis dihajar tapi berusaha bangkit buat nulungi garwo kulo tapi ndak bisa. Kulo di rante" lanjutnya."Setelah itu kulo dengar terdakwa bilang ke garwo kulo, jangan teriak ya kakang cuma mau liat ada yang luka apa tidak. Terdakwa memanggil dirinya kakang di depan istri orang. Itu artinya dia menganggap istri orang sama seperti istrinya sendiri" Tegas Arya."Kulo dengar garwo kulo njerit, mulutnya di sumpal. Kulo hancur sinuwun" Lanjutnya lagi dengan nafas sesak."Apalagi waktu terdakwa membuka paksa... Kulo sakit dengarnya..." suara Arya bergetar.Wandari mengusap dadanya.

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 34 Kesaksian

    Sinuwun Maheswara membaca surat yang ditangannya, di sana ada stempel darah. Hatinya semakin tak menentu melihat satu per satu dakwaan atas putranya terbukti benar. Namun ia harus tetap menjadi hakim."Adipati Surenggana, kowe yakin surat ini dari terdakwa? kowe melihat terdakwa menulis dan memberikan stempel ini?" Tanya Sinuwun memastikan.Adipati Surenggana menunduk, "Kulo namung menerima surat ini dari Senopati Kadipaten Sinuwun. Setelah operasi sisir wilayah untuk mencari orang yang katanya buronan, terdakwa benar-benar datang ke ndalem kadipaten untuk menghukum orang yang katanya buronan ini, Sinuwun. Itu artinya yang menulis dan memberikan stempel ini memang terdakwa" Jawab Adipati Surenggana.Sinuwun mengangguk, ia beralih ke Argapati yang masih duduk ndodok ditempat terdakwa. "Terdakwa! apa terdakwa mengakui surat ini kowe sing nulis dan memberi stempel?"Argapati masih diam, dia tak memberikan suaranya. Bahkan tidak mengangguk atau pun menggeleng.Sinuwu

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 33 Dakwaan

    "Bacakan dakwaan!" Ucap Sinuwun Maheswara.Patih Pradata pun berdiri dari tempat duduknya. Setelah itu ia membungkuk ke arah Sinuwun Maheswara untuk meminta izin untuk mulai berbicara. Sinuwun Maheswara pun membalas dengan anggukan kepala."Terdakwa atas nama Argapati Jayawikrama.." Ucapan Patih Pradata mengingatkan Wandari bahwa Argapati sudah dicopot gelar bangsawannya sehingga ia hanya dipanggil nama, tidak menggunakan gelar. Itu membuat dadanya ikut sesak."Dengan ini didakwa dengan tuduhan sebagai berikut. 1. Melakukan penggrebekan paksa di Desa Luhurwangi hingga menganiaya ketua desa, Ki Lurah2. Menyalahgunakan stempel darah yang berarti negara dalam keadaan darurat tingkat satu untuk urusan pribadi3. Menuduh rakyat biasa sebagai buronan hingga memanfaatkan kekuatan militer untuk mengintimidasinya4. Melakukan tindak kekerasan pada rakyat lemah di dalam sel Kadipaten Luhurawangi5. Memperkosa seorang wanita yang sudah bersuami tepat diha

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 32 Sidang Keraton

    Pagi menyapa, udara masih dingin sebab matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri. Hari itu Arya dan Wandari berjalan menuju meja makan di kediaman Adipati Surenggana. Pagi itu abdi dalem sudah tidak mengantar makanan ke kamar lagi sebab Arya sudah pulih. Mereka makan di meja makan juga bukan sebab lancang. Tapi karena Adipati Surenggana sendiri yang mengundang mereka untuk makan bersama sebelum berangkat ke alun-alun keraton untuk sidang.Sesampainya di meja makan Adipati Surenggana sudah ada disana bersama Ki Lurah. Arya dan Wandari tidak tau bahwa Ki Lurah pemimpin desa tempat tinggal mereka juga ada disana. Orang itu melotot lalu mencela Arya dan Wandari. "Kalian ternyata sembunyi di sini? kalian tau desa digrebek sama Raden Mas Argapati cuma gara-gara mau cari kalian. Kalian malah enak-enak disini" Ucap Ki Lurah yang merupakan salah satu korban kekerasan Argapati juga. Laki-laki itu hanya tau akan undangan sidang dari Adipati Surenggana, tak tau kalau warganya yan

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 31 Saksi Korban

    Keesokan harinya, berita tentang pencopotan gelar Argapati tersebar ke seluruh penjuru. Prajurit dan abdi dalem mulai bergosip yang menyebabkan berita itu bocor sampai keluar area keraton. Para pedagang di pasar gedhe pun turut menyebarkan informasi kepada pembeli yang berasal dari berbagai daerah.Seorang petani di Bhumi Sekarpari pun sampai menangis dan mengelus dadanya saat mendengar kabar itu. "Kenapa di copot? dulu Raden Mas pernah mampir ke gubukku dan tidak jijik duduk diatas tikar. Aku cuma mampu menyuguhi singkong rebus, dan dia memakannya bersama tetangga sini yang penasaran dengan Raden Mas. Dia juga memberiku 3 keping emas sebagai alat tukar karena meminta air minum untuk kuda, pelita, dan jerami kering untuk makan kudanya" Ucap petani yang pernah merasakan kebaikan Argapati secara langsung.Berbeda halnya dengan rakyat di desa luhurwangi, terutama Ki Lurah yang kemarin sempat dipukuli membabi buta oleh Argapati saat marah dengan keputusannya yang membuat Wandari

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status