Share

Bab 91 Ribut

Author: AishAisyi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-11 09:00:14

Kursi kayu jati itu terlalu besar untuk suasana sekecil ini. Mereka duduk dalam satu ruangan, tapi jarak di antara mereka terasa sejauh keraton ke tempat pengasingan. Warseno menatap lantai, Wandari menggenggam ujung jariknya, dan Kirana menahan amarah di balik bibir yang terkatup.

Rembug keluarga belum dimulai, tapi ketegangan sudah menggantung di atas kepala mereka.

Tak ada yang bicara. Hanya bunyi napas yang tertahan dan tatapan Kirana yang menelusuri wajah suaminya, seolah mencar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 119 Gemetar

    Angin sore berhembus masuk melalui celah pintu ndalem. Dingin. Menerobos masuk ke ndalem Pangeran Adipati Harya, Keraton Surya Kencana.Wandari masih di sana. Posisi yang sama. Tidak berpindah sedikit pun selama berjam-jam. Beruntungnya siang tadi ada abdi dalem yang masuk mengantar makanan. Nampan nasi, lauk, air putih. Ia tak jadi mati kelaparan karena tidak bisa pergi kemana-mana. Tapi sekarang... perutnya sudah kenyang. Tubuhnya yang lemas.Perlahan ia merasakan kepala di pangkuannya mulai bergerak lembut. Satu kali. Dua kali.Mata itu mulai terbuka. Sayu. Diam beberapa saat. Seperti orang baru bangun dari mimpi buruk yang terlalu panjang.Wandari menarik napas dalam-dalam. Dadanya kencang. Bersiap menghadapi Bhaskara jika ia akan meracau lagi. Bersiap lari. Bersiap teriak.Laki-laki itu mengangkat wajahnya pelan. Wajah itu sekarang sejajar dengan dadanya. Tapi matanya... menatap lurus ke wajah Wandari. Jernih. Tidak kosong seperti tadi.Mereka salin

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 118 Membakar Keraton

    Suasana masih tegang. Mencekik.Obat di kamar sudah habis. Sudah lama sekali Bhaskara tidak kambuh separah ini. Dulu Sinuwun selalu stok. Tapi sejak Bhaskara "sembuh" obat itu tidak pernah diisi ulang lagi.Pengawal yang satu sudah berlari ke Pendopo Tabib. Kaki itu seperti terbang. Minta obat baru secepat kilat.Bhaskara masih menggigil di lantai. Tubuhnya kejang-kejang kecil. Ia merangkak sedikit. Lemah. Lalu... menjatuhkan kepalanya di pangkuan Wandari.Wandari yang sejak tadi duduk kaku di hadapannya.Ia tengkurap. Tangan kekarnya memeluk erat paha Wandari. Seperti orang tenggelam yang menemukan kayu."Puspita..." Gumamnya. Parau. Pecah.Tidak ada "Diajeng" lagi yang ia panggil. "Puspita milikku, kan..." Ia bertanya. Tapi nadanya seperti memohon."Tidak. Tidak akan pergi. Tidak Argapati. Tidak Giritirta. Tidak kemana-mana." Ia menjawab pertanyaannya sendiri. Membuat janji untuk Wandari. Janji yang bahkan ia sendiri takut tidak bisa tepat

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 117 Ketakutan

    Wandari diam di dalam kamar mandi. Ia menatap permukaan air di gentong. Tenang. Tapi memantulkan wajahnya yang sembab. Matanya bengkak. Bibirnya pecah-pecah.Bajunya sama sekali belum ia lepas. Jarik kebaya hijau lumut pemberian Bhaskara tergeletak di bangku kayu. Ia belum berniat menyentuhnya. Ia tak berniat untuk selesai mandi dengan cepat.Karena selesai mandi sama dengan keluar dari kamar ini yang artinya ia harus masuk ke ndalem Bhaskara.Kalimat Sinuwun Surya Wisesa tadi masih terngiang di kepalanya. Menggema di dinding kamar mandi yang lembab.Saat Bhaskara akhirnya mau melangkah keluar, Sinuwun masih bertahan sebentar. Hanya sebentar. Ia menatap Wandari. Matanya tua. Lelah. Penuh rasa bersalah yang bukan miliknya."Aku bisa mengabulkan apapun permintaanmu, Puspita." Suaranya serak. "Bahkan untuk mengadili putriku Kirana sekalipun."Wandari tertegun. Napasnya tercekat."Asal..." Sinuwun menelan ludah. "Asal, tolong ikuti dulu apa maunya B

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 116 Penjaga Pemilik

    Napas Bhaskara tidak teratur lagi. Dadanya naik turun."Dia tidak mau, Diajeng..." Gumamnya lirih. Suaranya pecah.Sinuwun mengambil satu langkah maju. Tangannya terulur. Hendak meraih bahu putranya. Tapi terlambat.Bhaskara mundur selangkah dari pintu. Matanya masih terpaku pada kayu itu. Belum sadar ada Sinuwun di belakangnya.Ia mundur bukan untuk pergi. Tapi ancang-ancang.Kaki kanannya terangkat. Kuat. Mantap. Jurus tendangan T menghantam tepat di engsel.BRAKKK!!!Pintu itu jebol. Kayu retak. Debu beterbangan.Wandari tersentak. Tubuhnya terlempar ke sudut ruangan. Ia menepi, membekap mulutnya sendiri. Tangisnya tertahan. Matanya liar mencari jalan keluar.Meski jebol, pintu masih menutup. Tangan Bhaskara masuk dari celah retakan. Jari-jarinya mencari. Meraih kunci yang tergantung di sisi dalam. Ceklek.Kunci tercabut. Pintu terbuka dengan derit panjang.Matanya mengedar cepat. Berhenti.Wandari mematung di sudut.

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 115 Suara Gaib

    Hari sudah terang. Embun di dedaunan mulai mengering. Udara dingin perlahan berubah hangat.Di sisi Gunung Wanasura, dataran lebih rendah. Keraton Giritirta.Kirana meremas jemarinya di depan Sinuwun Maheswara. Telapak tangannya dingin. Matanya terpaku pada selembar surat di tangan mertuanya. Surat balasan dari Bhaskara. Ia terima kemarin sore.Sinuwun meletakkan surat itu pelan di atas meja. Jari-jarinya mengetuk kayu sekali. Lalu ia menghela napas panjang."Kakangmasmu pasti akan sangat marah setelah membaca surat ini." Suaranya berat.Jantung Kirana berdegup kencang. "Lalu kulo harus bagaimana, Romo?" Suaranya hampir bergetar. "Kakangmas pasti sudah menunggu kabar di pengasingan..."Hening.Hanya suara napas Kirana yang terdengar. Ia menunggu. Menunggu vonis.Sinuwun memejamkan mata sebentar. Berpikir. Dagu Sinuwun bertumpu di gagang keris."Sore nanti Romo akan mengundangnya ke Kedung Arang lagi." Akhirnya Sinuwun buka suara. "Biar Romo s

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 114 Kambuh

    Malam di Alun-Alun Kidul selalu punya caranya sendiri untuk hidup. Lampu teplok bergantungan di tiap lapak, menumpahkan cahaya kuning yang menari di atas asap sate dan wedang jahe. Suara pedagang bersahut-sahutan. Menawar. Memanggil. Tertawa. Anak-anak berlarian membawa mainan, sementara para lelaki duduk melingkar di tikar, menghisap tembakau sambil bercerita tentang panen. Angin berhembus pelan, membawa wangi melati dari dagangan Mbok Jamu. Di tengah riuh itu, dua orang duduk di bangku taman, seolah punya dunia sendiri."Kau mau beli sesuatu, Puspita?" ucap Bhaskara tiba-tiba.Lamunan Wandari buyar. Ia kembali ke tubuhnya sekarang. Di Alun-Alun Kidul. Duduk di kursi taman. Bersama Bhaskara.Bhaskara menunjuk lapak satu per satu tanpa menoleh ke arah Wandari. "Lihat, ada sate kelinci, kacang rebus, ubi... minuman hangat juga ada. Wedang jahe, teh, cemue... kau mau yang mana?" Suaranya lembut.Hening.Bhaskara menoleh ke arah Wandari. Perempuan itu memasang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status