MasukSelesai pemaparan rencana perluasan wilayah dan tahap awal mega proyek, Pak Mikel cepat berdiri. "Pak Agus, saya izin ke lantai dua sebentar menyambut direksi lain. Bu Rosa dan Mbak Dina, boleh ikut ke ruang teknis sebentar untuk cek draf awal?""Boleh, Pak Mikel," sahut Rosa anggun. Sebelum melangkah keluar, mata tajam Rosa melirik Agus seolah memberi sinyal peringatan.Agus cuma mesem santai, memilih tetap bersandar di ujung meja rapat sambil menikmati sisa kopinya.Melihat rombongan Pak Mikel dan Rosa menghilang di lorong, Clara juga ikut pamit ke toilet. Tapi bukan ke kamar mandi, cewek itu justru berbelok cepat kembali ke ruang rapat VIP.Klek!Suara kunci pintu diputar dari dalam terdengar nyaring. Agus mengangkat sebelah alisnya, menatap Clara yang tersenyum nakal dengan mata berbinar gatal."Ngapain dikunci, Neng? Mau merampok?" goda Agus santai, suara beratnya bergetar karismatik.Clara melangkah cepat, pinggulnya bergoyang sensual dalam balutan rok mini span ketat. Kakiny
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, sedan hitam kinclong milik Agus meluncur mulus menuju ke gedung pencakar langit milik Pak Mikel. Begitu pintu mobil terbuka, Agus melangkah keluar. Siap mencaplok aset baru. Kemeja rapi yang membalut tubuhnya press badan habis-habisan, bikin dada bidang dan otot bahunya tercetak jelas kayak benteng kokoh.Di sampingnya, Rosa berjalan anggun berbalut gaun elegan, memancarkan pesona Nyonya kelas atas yang bikin siapapun tunduk. Sementara Dina berjalan di belakang sambil memeluk map dokumen penting.Lobi perkantoran yang tadinya bising mendadak hening. Pasukan staf mbak-mbak resepsionis sampai lupa cara bernapas begitu rombongan Agus lewat. "Anjay, itu siapa sih? Gagah banget, bisepnya padat amat kayak batu kali!" bisik seorang staf cewek di balik meja resepsionis, matanya mau copot."Bukan main! Aura pawangnya kerasa banget. Mana bawa asisten sama mitranya bening-bening semua lagi, berasa raja minyak bawa selir!" sahut temannya sambil meme
Agus melangkah turun ke ruang tamu bersama Rosa, Maya dan Siska di belakangnya. Begitu mata Clara menangkap sosok Agus, cewek itu langsung melompat berdiri dari sofa. Dia mengabaikan Pak Mikel dan sama sekali tidak menganggap keberadaan tiga wanita di belakang Agus."Mas Agus!" jerit Clara super heboh.Tanpa canggung, Clara merangsek maju dan langsung menangkup kedua pipi Agus. Jemari lentiknya membelai lembut sudut bibir Agus yang cukup membengkak."Ya ampun, Mas. Bibir sampai lebam iih. Aku cemas banget semalaman tahu enggak!" celecos Clara dengan suara manja yang dibuat-buat. Dia mengangkat bingkisan dari kelab mahal yang dibawanya. "Ini aku bawain obat oles impor sama sup herbal khusus buat Mas Agus tersayang."Rosa dan Siska seketika menghentikan langkah. Keduanya berdiri bersedekap, melipat tangan di bawah dada. Tatapan mata mereka tajam bak belati yang siap menusuk Clara dari belakang."Cewek ini siapa sih, Mbak? Kok ngelunjak banget nempel-nempel Agus-nya kita?" bisik Siska
Agus menggeliat, terbangun dengan tubuh segar. Pagi ini di samping ranjang, ada Rosa sudah duduk rapi memangku wadah kecil berisi air hangat dan salep."Duduk dulu, Gus. Biar aku obati lukanya," bisik Rosa lembut.Agus tersenyum miring, menatap wajah ayu Nyonya cantik yang kelihatan khawatir. Muka Rosa pucat melihat sudut bibir Agus yang agak membengkak."Luka kecil gini doang, Mbak. Enggak usah berlebihan," sahut Agus santai."Kecil gimana? Ini robek, Gus!" protes Rosa sambil pelan-pelan menempelkan kapas hangat ke bibir Agus. "Semalem Pak Adul cerita kamu dihajar duluan gara-gara ngelindungin area kelab. Harusnya kamu hati-hati, kalau ada apa-apa gimana?"Meski mengomel, mata Rosa memancarkan rasa bangga yang luar biasa pada pria perkasa di depannya.Agus tak menjawab. Tangan besarnya justru merangkul pinggang Rosa yang makin berisi karena sedang mengandung, lalu menariknya cepat sampai tubuh mulus wanita itu jatuh pasrah di atas dadanya."Aduh, Agus! Nanti airnya tumpah!" pekik
Clara melangkah masuk ke ruang tengah rumah gedong Pak Mikel sambil senyum-senyum gatal. Matanya merem-melek, jalannya agak melayang mirip orang mabuk kecubung. Bibirnya yang masih terasa sedikit janggut dan hangat bekas lumatan Agus terus diusap-usap pakai ujung jari.Pak Mikel yang duduk di sofa sambil baca dokumen langsung menurunkan kacamatanya. Dialihkan pandangannya ke anak gadisnya itu."Jam berapa ini, Clara? Ditelepon susah banget," tegur Pak Mikel, dahinya berkerut. "Terus tadi Papi dapet kabar heboh dari manajer kelab. Katanya si Ben anak Pak Pengusaha itu ngompol di sofa VIP gara-gara dihajar orang? Kamu enggak diapa-apain, kan?"Clara bukannya takut malah terkikik geli, lalu menjatuhkan diri di sofa samping papinya."Papi nih kudet banget! Si Ben itu emang pantes ngompol! Udah sok ganteng, posesif, pas dihajar langsung mengkeret," cetus Clara sambil mengibaskan tangan."Hah? Dihajar siapa?" tanya Pak Mikel heran.Clara menyengir lebar, matanya berbinar gatal. "Sama cow
Clara menarik tangan Agus setengah menyeret menuju restroom VIP yang terisolasi dan kedap suara. Begitu mereka masuk, bunyi klek terdengar nyaring saat Clara mengunci pintu dari dalam."Sini duduk, Mas. Bikin aku deg-degan aja dari tadi," bisik Clara dengan napas agak ngos-ngosan.Agus cuma terkekeh santai, lalu mendaratkan bokongnya di tepi meja rested wastafel marmer. Clara tidak membuang waktu. Dia langsung merangsek maju, berdiri sangat rapat tepat di antara kedua paha kokoh Agus. Ujung gaun ketatnya bergesekan langsung dengan celana jeans Agus."Bisa diem enggak sih? Aku mau obatin luka di bibirmu ini," omel Clara pura-pura galak.Tangannya mengambil tisu basah, lalu pelan-pelan mengusap bercak darah di sudut bibir Agus. Tapi, matanya malah liar menatap lekat bibir tebal serta dada bidang Agus yang mengintip dari balik kemeja hitam yang kancingnya terbuka."Ngapain ngeliatin dada aku terus? Mau megang?" goda Agus sambil tersenyum miring."Ih, pede banget!" sergah Clara.
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p
“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni







