แชร์

Bagian 4

ผู้เขียน: Antariksa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-01 18:35:19

“Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.

Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut pembebasan.

Agus mencoba singkirkan tangan Siska, tapi gadis ini malah melirik tajam dan menepuk dadanya lebih kencang.

“Aku mau minta giliran main sama Agus, boleh dong?” Mata Siska menantang Rosa. Siska sengaja menggesek-gesek dada ranumnya ke lengan Agus.

Rosa melotot tidak percaya mendengar permintaan gila adiknya. Tangannya terkepal sampai gemetar. Apalagi usai melihat pusaka Agus yang gagah, tak mau lah dia berbagi.

"Enggak bisa! Cari yang lain aja sana. Dia ini enggak cocok buat kamu!" Rosa mengamuk, wajahnya yang cantik sekarang mirip singa betina.

Dia memukul keras tangan Siska dan menarik sekuat tenaga adiknya itu menjauh dari si pelayan muda, sampai tali baju tidurnya lepas, dan Agus melihat lagi dada yang menggantung tanpa dalaman.

Agus menelan ludah karena matanya benar-benar dikunci oleh pemandangan itu. Pikirannya langsung membayangkan dia berbaring di bawah sang Nyonya. Tapi suara keras Siska menendang khayalannya yang indah.

"Ih, pelit amat sih jadi kakak. Itu syarat tutup mulut dariku.” Siska membalas pukulan Rosa.

“Heh, kamu berani mukul Mbak? Dasar adik kurang ajar kamu! Enggak tahu diri, Siska!” Rosa tak mau kalah, kini menarik rambut panjang adiknya.

"Aww, sakit! Mbak kan udah kenyang tiap hari di rumah! Aku baru pulang, butuh yang segar-segar. Kasihlah si Agus buat aku, semalam aja!" Siska merintih dan tangannya berusaha melepas tangan Rosa dari rambutnya.

"Enggak ada! Kamu itu masih kecil, jangan ikut-ikutan urusan orang dewasa. Cari sana pacarmu yang anak pejabat itu!" bentak Rosa semakin gila menjambak Siska.

Siska berteriak, “Mas Hendro! Tolong! Ahhh, Mas Hendrooo!”

Rosa tidak menutup mulut adiknya, tapi sekarang gantian Siska yang menarik rambut hitam kakaknya sampai terjatuh ke lantai.

“Percuma kamu teriak, Mas Hendro enggak ada di rumah. Dia keluar kota sore tadi!” Rosa mendengkus.

“Ahhhh, pokoknya mau aku telepon aja. Laporin Mbak!” Siska sibuk raba-raba kantong rok mininya, mencari ponsel.

“Enggak akan bisa!” Rosa mengambil ponsel itu lebih dulu dan melempar sembarangan.

“Ih, Mbak, jahat banget. Aduhhh, rambut aku,” ringis si gadis itu sambil melihat Agus, meminta pertolongan.

Keduanya kini bergulat di atas lantai, saling tindih dan jambak. Pakaian tidur Rosa serta tank top dan rok mini Siska semakin tersingkap ke mana-mana, memperlihatkan kulit putih dan lekuk tubuh aduhai yang membuat napas Agus jadi sesak.

Agus gemetaran karena belum pernah melihat dua orang wanita bertengkar memperebutkannya yang hanya perantau dari desa.

"Anu... Nyonya, Non... saya cuma pelayan, badan saya bau, tolong jangan ribut karena saya," bisik Agus. Tapi suaranya tenggelam karena teriakan kedua wanita itu.

Agus melihat ke pintu yang terbuka. Dia harus memanfaatkan kesempatan ini. Dia tidak buang waktu, sambil memegangi bagian yang berdiri tegak, dia menyelinap dan berjinjit keluar dari kamar yang panas seperti oven.

Kalau terlalu lama di kamar, bisa-bisa dia juga ikut remuk dihantam dua wanita beringas. Agus merinding karena tidak mau tertimpa masalah baru. Larinya semakin kencang menyusuri lorong ke arah dapur.

Tubuh yang panas membuat Agus memilih menghentikan langkahnya di depan pintu kulkas. Napasnya megap-megap mirip ikan mujair yang dilempar ke tanah. Dia meneguk air dingin langsung dari botol kulkas dengan tangan gemetar.

Suara Rosa dan Siska masih terdengar samar ke dapur. Agus memikirkan nasib kuliahnya yang di ujung tanduk, kalau sampai Tuan Besar tahu istri dan iparnya bertengkar karena pelayan muda di rumah gedong mereka.

“Kalau aku dipecat, enggak punya duit, dan gagal jadi sarjana, nasib Emak dan adik-adik di kampung gimana?” bisik Agus, menutup mata pakai tangannya. Sekarang kepalanya tambah pusing.

Agus menyandarkan kepala ke pintu kulkas, mencari ketenangan dari suasana sepi dan remang-remang di dapur supaya juniornya tidur. 

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

HAP!

Tiba-tiba sepasang lengan halus dan licin melingkar erat di pinggang Agus dari belakang. Pemuda ini kaget setengah mati hingga hampir menjatuhkan botol air dari tangannya. 

Dia bisa merasakan tekanan dua gundukan kenyal yang menempel sempurna di punggungnya yang basah oleh keringat.

“Aduh, Gusti. Ini apaan lagi? Nona Siska? Nyonya Rosa? Atau jangan-jangan mereka berdua udah damai terus mau ngajak aku main di dapur?” gumam Agus memperhatikan tangan yang kinclong mirip milik istri majikannya.

Tapi hidung Agus yang tajam bergerak-gerak mencium ada keanehan.

“Eh, bau minyak wanginya beda? Ini mah bukan Nyonya Rosa, bukan juga Non Siska,” pikir Agus yang masih ingat harum sang Nyonya dan parfum milik si gadis genit itu.

Tangan itu lanjut masuk ke balik kemejanya, membuat Agus menoleh dan melotot melihat wanita lain ada di rumah majikannya.

“B-bu Ma-maya? Kenapa… ada di sini?” gagap Agus. Jantungnya yang tadi serasa aman kini beneran sudah copot.

“Aku mau nginap di sini, Gus. Di rumah bosan, ah. Suamiku ke rumah istri tuanya,” bisik Maya. Suara  serak-serak basah dan aroma alkohol samar membuat bulu kuduk Agus merinding. 

Maya semakin mengeratkan pelukan, membiarkan gundukan kenyalnya menempel pada punggung Agus tanpa penghalang.

“Tapi Nyonya Rosa sudah tidur, Bu.” Agus berharap Maya percaya dan kembali ke rumahnya.

“Kata siapa Rosa tidur? Tuh, dia lagi ribut sama adiknya. Lagian aku ke sini mau bobok sama kamu.” Maya tertawa pelan. “Yuks, bobo, Gus.”

“Iya juga ya, suara Nyonya dan Non Siska kedengaran gini. Aduh, nasib, ketahuan bohong,” gumam Agus sangat pelan.

Agus tahu wanita kesepian bertubuh semok dengan rambut pirang ini adalah tetangga sebelah yang juga teman sosialita Rosa. Beberapa hari lalu mereka berkumpul di rumah ini untuk arisan. Dia ingat betul bagaimana Maya menatapnya sejak saat itu, dan dia sering menggunakan pintu belakang yang jarang dikunci untuk bertamu.

Pusaka Agus berdiri lagi karena melihat Maya mengenakan kimono satin warna merah menyala, sama seperti lipstik di bibirnya. Pandangannya turun pada paha berisi yang nampak kenyal kalau dihisap.

Otak Agus mendadak konslet karena membayangkan Maya sengaja melepas kimononya hingga kain licin itu merosot ke lantai. Dalam khayalannya, Agus tidak lagi gemetaran, tapi dengan beringas mengangkat tubuh semok itu ke atas meja dapur, menjelajahi setiap lekuk paha kenyal sampai Maya mendesah meminta lebih.

"Aduh, Gus! Sadar! Malah mikir jorok!" batinnya berusaha menampar diri sendiri. Namun, imajinasi itu justru membuat bagian bawahnya berdenyut kencang.

Maya mengusap punggung Agus. “Gimana, mau uang jajan tambahan enggak? Lebih banyak lho, dari uang gajimu di sini.”

“Anu… Bu Maya. Gaji saya di sini sudah cukup. Tuan dan Nyonya baik sama saya,” tolak Agus. Dia tidak mau cari masalah lagi, keributan Rosa dan Siska sudah cukup menyulitkan. Jangan sampai jadi ribut tiga wanita ini.

Maya memaksa Agus berbalik lalu menyudutkan tubuh pemuda itu ke kulkas. 

Agus kaget setengah mati.

“Kamu bilang Rosa baik? Hih, enggak ya. Sudah deh, mending sama aku aja, Gus.” Maya menyeringai dan tiba-tiba meremas tonjolan celana Agus dengan kuat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 300

    Empat tahun berlalu membawa kedamaian dan kejayaan yang mengakar di vila mewah milik Agus. Halaman belakang yang membentang luas kini disulap menjadi area piknik keluarga yang asri dan mewah. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang, menyajikan panorama sore yang hangat bertabur gelak tawa.Tawa renyah membahana karena anak-anak berlarian mengejar bola di atas hamparan karpet sutra. Di antara hiruk-pikuk itu, Rosa duduk anggun di atas kursi rotan berukir, memangku putra bungsunya, Perwira dan mengawasi dua putra tertuanya, Perkasa dan Gagah yang sibuk bermain.Tiga persalinan putra-putra pilar keluarga tidak melucuti pesonanya. Sebaliknya, aura Rosa memancar semakin matang, elegan, dan menawan. Busana kasual premium yang melekat di tubuh moleknya menegaskan statusnya sebagai matron utama yang disegani, memancarkan kecantikan abadi seorang wanita yang dicintai seutuhnya."Mas, lihat anak-anakmu. Tambah hari kelakuannya mirip sekali dengan ayahnya, enggak bisa diam

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 299

    Satu tahun berjalan, deretan karangan bunga memenuhi pelataran gedung berarsitektur modern di pusat kota. Hari ini menjadi saksi pemotongan pita peresmian cabang ke-20 Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif, menandai kejayaan ekspansi gurita bisnis kesehatan yang dibangun dengan fondasi kokoh.Tari berdiri anggun di samping pita merah. Dibalut busana kerja formal yang menonjolkan lekuk tubuhnya, aura kepemimpinan sang Kepala Operasional sekaligus Instruktur Utama memancar sempurna. Senyum menawannya menyapa para investor dan awak media yang sibuk mengambil gambar."Terima kasih atas kepercayaan seluruh mitra. Cabang ke-20 ini adalah bukti nyata bahwa metode terapi yang kami kembangkan tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga kualitas pemulihan fisik yang nyata," kata Tari dengan suara tenang dan penuh percaya diri.Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari dinginnya tangan Tari dalam menggembleng para terapis muda. Setiap standar pelayanan, teknik pemijatan, hingga simulasi tekanan

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 298

    Malam harinya, ruang kerja rumah mewah kebanggan Agus diselimuti ketegangan dingin. Agus duduk mengangkasa di balik meja kayu jati, menatap marah ke arah lembaran kertas yang dibawa Cak Kumis. Di sudut ruangan, Rosa dan Sari menyimak rapat-rapat, sementara Tari menunduk pasrah memilin ujung bajunya."Gua udah usut semua sampai ke akar-akarnya, Bos," buka Cak Kumis tegas yang meletakkan sebuah map hitam dan flashdisk di atas meja.Cak Kumis membongkar bukti faktual tanpa keraguan. "Ini rekaman CCTV klinik terapi tempat Mbak Tari kerja dulu, lengkap sama berkas audit keuangan dari pemilik klinik langsung. Kagak ada uang sejengkal pun yang dicuri Mbak Tari."Mata Rosa menyipit tajam. "Terus tuduhan si Rian itu dari mana, Cak?"Cak Kumis meludah pelan ke samping. "Bangsat itu cuma sakit hati berat gara-gara diputusin Mbak Tari. Dia ngutang judi online ratusan juta ke lintah darat, terus sengaja manfaatin momen pernikahan ini buat m

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 297

    Pagi menyingsing megah di halaman rumah gedong. Dekorasi bernuansa putih-emas garapan Sari berdiri kokoh, menyulap pelataran menjadi arena pesta penguasa yang elegan. Seluruh dokumen legalitas dan berkas KUA arahan Rosa telah tersusun rapi di meja akad di ruang utama.Agus tampil gahar dan gagah. Kemeja batik sutra eksklusif membungkus ketat tubuh kekarnya, menyamarkan balutan jahitan di pinggang yang masih terasa menyengat. Di sampingnya, Tari duduk gemetar dalam balutan kebaya pengantin putih. Jemari perawat muda itu dingin, napasnya memburu menahan ketegangan dahsyat."Tenang, Tar. Kamu udah jadi milik Mas Agus," bisik Agus yang meremas tangan Tari dengan dominasi mutlak yang menenangkan saraf wanita itu.Penghulu membetulkan letak kacamata, mengulurkan tangan tepat ke genggaman kekar Agus. Suasana ruang utama mendadak hening, menyisakan aura wibawa Sang Penguasa yang memenuhi ruangan.Tanpa sedikitpun keraguan, Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 296

    Agus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 295

    "Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 5

    “Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 3

    “Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 2

    “Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 1

    “Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status