แชร์

Bagian 3

ผู้เขียน: Antariksa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-01 18:34:20

“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.

Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.

“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Enggak aneh kan, aku pakai tank top begini?” ketus Siska sambil menyisir rambut berantakannya, tidak sadar Rosa sedang berkeringat dingin.

Mendengar kata tank top, naluri Agus membandel. Dia juga mau lihat seperti apa Siska, dan mendorong pintu lemari sedikit.

Keberanian Agus membuat Rosa melotot sampai matanya mau melompat.

Sekarang Agus menikmati pemandangan tepat di depannya, dia sampai lupa pada tatapan tajam Rosa. 

Siska terlihat begitu menggoda dengan tank top hitam berbahan tipis yang menempel ketat. Potongan dada rendah membuat sepasang dadanya yang montok dan kencang menyembul nakal.

“Busyet, itu pakai bra atau enggak? Gede bener. Mana kencang pula,” pikir Agus. Dia sampai tidak berkedip dan mulutnya menganga lebar. Tanpa sadar lidahnya melet-melet.

Pemuda itu sudah kehabisan udara di dalam sini. Bayangan untuk melahap keindahan di depannya membuat adik kecil yang baru saja mereda kini kembali menegang. Agus benar-benar terjepit di antara rasa takut mati dan gairah gila melihat dua wanita cantik sekaligus di satu ruangan.

Pikirannya lama-lama semakin liar. Agus mengelus-elus bagian yang menggembung di celananya.

“Gimana rasanya kalau main sama Nyonya dan Non Siska?”

Tapi Agus berpikir lagi, biasanya perempuan model Siska begitu banyak di kampus, mereka sukanya dekat sama om-om kelas kakap. Bukan mahasiswa kere dengan masa depan belum jelas seperti Agus. Harapan untuk mencicip sedikit pun pupus.

“Jangan minta lebih, Gus. Dikasih lihat aja udah syukur ini mata,” gumamnya.

Tidak menutup pintunya lagi, Agus malah sengaja ingin menonton duo montok ini. Apa yang bakal mereka lakukan?

Siska bukan hanya membuka jaket, tapi gadis itu mau membuka tank top dan rok mininya. Agus semakin suka melihat tontonan gratis ini. Sudah berapa kali juga dia menelan ludah saking kepinginnya.

“Heh, ngapain kamu?” bentak Rosa, membuat aksi Siska tertahan dan Agus ikut memegang dadanya sendiri.

“Buka bajulah, Mbak. Masa tidur pakai ini? Gerah tahu!” Siska mengipas-ngipas badannya dengan tangan.

“Enggak bisa! Jangan di sini! Mending kamu ke kamar atas aja. Di sana lebih adem. Cepat!” perintah Rosa, sambil sesekali memperhatikan bayangan Agus melalui celah sempit.

“Ih, apaan sih? Sok ngatur kamu, Mbak. Minggir ah, mau tidur!” Siska malah menjatuhkan dirinya ke kasur. “Enak banget.”

Siska tidak tahu kalau aksinya itu membuat Agus hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat melihat rok mini Siska tersingkap tanpa sensor. Dia telusuri mulai dari kaki yang ramping, paha yang kecil tanpa lemak, sampai pangkalnya yang tertutup bahan tipis dan menerawang.

"Waduh, ini mah beneran cuci mata gratis! Mana bening banget lagi kayak bihun," batin Agus.

Rosa tidak diam saja, dia memarahi adiknya itu. “Jangan di sini, Sis! Ke atas sekarang atau Mbak potong uang bulanan kamu!”

Tapi Siska malah tersenyum dan berguling di atas kasur. Kini kepalanya terbenam di atas seprai yang berantakan. Mendadak senyum memudar di wajah si gadis, berganti dengan kerut dalam di dahi dan kedua tangan yang meraba-raba permukaan seprai.

“Ih, kok baunya beda? Kecut-kecut enak... kayak bau keringat cowok habis olahraga,” selidik Siska sambil menggerakkan mata liarnya mencari sumber bau itu. “Jelas banget ini sih anak muda, bukan Pak Tarno sopirnya Mas Hendro.”

Rosa melotot lebar dan napasnya tertahan. "Ngaco kamu, Sis! Itu mungkin bau pewangi pakaian baru!”

“Bau pewangi? Bukan!” Siksa mengendus lagi. “Atau jangan-jangan ini bau lelembut di rumah ini.” Siska kini menatap kakaknya dengan tawa dan tangan teracung ke udara.

Agus mengeluh pelan, “Cantik sih, sexyi juga tapi moncongnya ngeri bener aku disamain sama setan.”

Kini Siska memperhatikan seisi ruangan, termasuk pada lemari kayu di samping ranjang.

“Enggak ada!” bentak Rosa mulai panik.

Melihat Siska melangkah mendekati lemari, jantung Agus mendadak konser, dan tangannya spontan menutup mulut dan hidung supaya napasnya tidak terdengar. Dia juga memundurkan badannya terus, meski sudah mentok pada dinding lemari.

“Enggak ada siapa-siapa, Non. Jangan buka!” gumam Agus.

“Masa?” ejek Siska yang tahu kalau kakaknya pasti tidak puas bermain dengan suaminya yang sudah sepuh.

Tiba-tiba saja pintu lemari terbuka lebar. Mata Siska melebar melihat ada Agus yang sedang berjongkok menahan napas.

“Eh ada ora—”

Belum selesai Siska bicara, Agus berseru, “Enggak ada siapa-siapa, Non! Sumpah, kosong!”

Siska menunjuk ke depan. "Kosong apanya? Ini apa?”

Jantungnya serasa mau copot lewat tenggorokan, Agus yang panik luar biasa hendak menyambar gagang pintu dari dalam. Namun upayanya gagal karena lemari ini sudah terbuka lebar.

Siska cekikikan, mata sayu dan kemerahannya menatap Agus yang hanya memakai kemeja terbuka. 

"Mbak... hic! Kamu pelit banget sih punya mainan baru," oceh Siska.

Tangan Agus langsung menutupi area bawahnya yang masih tegang dan menonjol, tapi hal itu justru membuat Siska makin salah fokus. Sementara itu, Rosa hampir pingsan karena syok.

“Wow, ternyata gede banget... mantap,” kata Siska lagi.

“Tolong Non, jangan salah sangka. Saya cuma mau membersihkan lemari aja.” Agus berdiri dan merapatkan kemeja flanelnya yang terbuka dengan tangan gemetar.

“Ah, masa sih? Eh, kamu mirip si pelayan baru itu, benar kan?” tebak Siska, tangannya malah meremas bahu Agus.

“I-iya Non, saya Agus. Pe-pelayan baru di sini,” gagap Agus, mencoba mundur, tapi badannya malah berat.

Cepat-cepat Rosa menarik tangan adiknya supaya menjauh dari Agus. "Lepasin, Sis! Jangan bikin malu, dia itu cuma pelayan, enggak level sama kita!" bisiknya.

"Kenapa enggak? Daripada aku main sama aki-aki karatan seperti Mas Hendro, sumimu itu, mending sama si Agus. Masih muda, pastinya lebih greng, wow," balas Siska, tajam.

Si gadis ini menepis keras tangan Rosa. Dia malah menyeringai dan mendekati Agus lagi yang berdiri tidak jauh dari lemari.

“Kalau Mas Hendro tahu istrinya main sama pelayan rumahnya sendiri, kira-kira apa yang bakal terjadi?”

Wajah Rosa yang sebelumnya gahar, kini jadi pucat. “Jangan cari masalah! Kamu juga kena imbasnya kalau suamiku tahu!” Rosa melotot dan menaruh tangannya di pinggang.

"Ih, masalah apa sih? Mbak tuh yag cari masalah.” Siska tertawa keras. “Ternyata Mbak Rosa pintar juga ya nyari hiburan, mana di rumah sendiri pula.  Pantas aja betah di kamar," bisik Siska.

Tangan si gadis itu sudah merayap genit di dada Agus yang basah karena keringat.

Agus membatin, “Waduh, mati aku.”

Siska malah menyeringai. “Aku mau minta sesuatu buat tutup mulut, Mbak harus kabulin!” 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 300

    Empat tahun berlalu membawa kedamaian dan kejayaan yang mengakar di vila mewah milik Agus. Halaman belakang yang membentang luas kini disulap menjadi area piknik keluarga yang asri dan mewah. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang, menyajikan panorama sore yang hangat bertabur gelak tawa.Tawa renyah membahana karena anak-anak berlarian mengejar bola di atas hamparan karpet sutra. Di antara hiruk-pikuk itu, Rosa duduk anggun di atas kursi rotan berukir, memangku putra bungsunya, Perwira dan mengawasi dua putra tertuanya, Perkasa dan Gagah yang sibuk bermain.Tiga persalinan putra-putra pilar keluarga tidak melucuti pesonanya. Sebaliknya, aura Rosa memancar semakin matang, elegan, dan menawan. Busana kasual premium yang melekat di tubuh moleknya menegaskan statusnya sebagai matron utama yang disegani, memancarkan kecantikan abadi seorang wanita yang dicintai seutuhnya."Mas, lihat anak-anakmu. Tambah hari kelakuannya mirip sekali dengan ayahnya, enggak bisa diam

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 299

    Satu tahun berjalan, deretan karangan bunga memenuhi pelataran gedung berarsitektur modern di pusat kota. Hari ini menjadi saksi pemotongan pita peresmian cabang ke-20 Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif, menandai kejayaan ekspansi gurita bisnis kesehatan yang dibangun dengan fondasi kokoh.Tari berdiri anggun di samping pita merah. Dibalut busana kerja formal yang menonjolkan lekuk tubuhnya, aura kepemimpinan sang Kepala Operasional sekaligus Instruktur Utama memancar sempurna. Senyum menawannya menyapa para investor dan awak media yang sibuk mengambil gambar."Terima kasih atas kepercayaan seluruh mitra. Cabang ke-20 ini adalah bukti nyata bahwa metode terapi yang kami kembangkan tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga kualitas pemulihan fisik yang nyata," kata Tari dengan suara tenang dan penuh percaya diri.Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari dinginnya tangan Tari dalam menggembleng para terapis muda. Setiap standar pelayanan, teknik pemijatan, hingga simulasi tekanan

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 298

    Malam harinya, ruang kerja rumah mewah kebanggan Agus diselimuti ketegangan dingin. Agus duduk mengangkasa di balik meja kayu jati, menatap marah ke arah lembaran kertas yang dibawa Cak Kumis. Di sudut ruangan, Rosa dan Sari menyimak rapat-rapat, sementara Tari menunduk pasrah memilin ujung bajunya."Gua udah usut semua sampai ke akar-akarnya, Bos," buka Cak Kumis tegas yang meletakkan sebuah map hitam dan flashdisk di atas meja.Cak Kumis membongkar bukti faktual tanpa keraguan. "Ini rekaman CCTV klinik terapi tempat Mbak Tari kerja dulu, lengkap sama berkas audit keuangan dari pemilik klinik langsung. Kagak ada uang sejengkal pun yang dicuri Mbak Tari."Mata Rosa menyipit tajam. "Terus tuduhan si Rian itu dari mana, Cak?"Cak Kumis meludah pelan ke samping. "Bangsat itu cuma sakit hati berat gara-gara diputusin Mbak Tari. Dia ngutang judi online ratusan juta ke lintah darat, terus sengaja manfaatin momen pernikahan ini buat m

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 297

    Pagi menyingsing megah di halaman rumah gedong. Dekorasi bernuansa putih-emas garapan Sari berdiri kokoh, menyulap pelataran menjadi arena pesta penguasa yang elegan. Seluruh dokumen legalitas dan berkas KUA arahan Rosa telah tersusun rapi di meja akad di ruang utama.Agus tampil gahar dan gagah. Kemeja batik sutra eksklusif membungkus ketat tubuh kekarnya, menyamarkan balutan jahitan di pinggang yang masih terasa menyengat. Di sampingnya, Tari duduk gemetar dalam balutan kebaya pengantin putih. Jemari perawat muda itu dingin, napasnya memburu menahan ketegangan dahsyat."Tenang, Tar. Kamu udah jadi milik Mas Agus," bisik Agus yang meremas tangan Tari dengan dominasi mutlak yang menenangkan saraf wanita itu.Penghulu membetulkan letak kacamata, mengulurkan tangan tepat ke genggaman kekar Agus. Suasana ruang utama mendadak hening, menyisakan aura wibawa Sang Penguasa yang memenuhi ruangan.Tanpa sedikitpun keraguan, Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 296

    Agus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 295

    "Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 1

    “Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 5

    “Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 4

    “Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 2

    “Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status