Share

Bagian 5

Author: Antariksa
last update publish date: 2026-04-01 18:36:23

“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.

Maya tertawa sambil menutup mulut. Belum kapok, dia malah terus maju mendekati Agus. Matanya yang liar itu menatap ke arah barang yang tadi diremasnya kuat.

“Kamu pelit banget sih sama aku. Ayo Gus, satu jam aja deh kelonin aku. Jangan setia-setia bangetlah sama si Rosa. Aku tahu apa yang kamu pikir, penasaran kan? Hayo ngaku aja. Masih segar lho, aku rajin perawatan.” 

Maya melepas kimononya dan mengedip sebelah mata. Kini bukan lagi belahan bening yang kelihatan, tapi dada kenyal itu juga memanggil-manggil untuk dilahap.

“Anu… Bu, ingat Pak Bambang. Beliau itu pejabat. Kalau tahu saya macam-macam sama istrinya, bisa-bisa saya dicor di proyek jalanan depan.” Agus sampai mengusap lehernya karena ngeri. Dia tidak paham kenapa istri-istri cantik, mulus, dan sexy ini sampai kesepian, dan malah mengejarnya yang bau keringat.

“Halah, si Bambang itu paling lagi mantap-mantap sama bini tuanya. Enggak bakalan peduli sama aku di sini. Lagian aku juga maunya semacam doang kok. Buruan, Gus, udah basah ih, enggak kuat.” Maya semakin nekat memegang dadanya sendiri dan menyerahkannya ke arah si pemuda yang masih kaget itu.

“Tolong Bu Maya pulang saja ke rumah sebelum ada yang lihat. Saya temani sampai pintu belakang.” Suara Agus gemetaran karena melihat kepunyaan Maya yang tumpah-tumpah keluar dari gaun tidurnya.

“Ih, bawel banget mulut kamu. Mending dipakai sedot ini aja, lebih enak.” Maya menunjuk dadanya sendiri, lalu ia mulai tersenyum licik. “Atau aku teriak sekarang kalau kamu berani pegang-pegang aku?”

“Ya Gusti! Mana ada saya pegang-pegang duluan? Malah Bu Maya yang remas anu saya tadi,” keluh Agus karena merasa lebih sulit menjinakkan Maya yang sudah terbakar gairah ini.

“Hilih, siapa yang bakal percaya sama pelayan kayak kamu? Makanya nurut aja mauku—”

Belum selesai Maya bicara, ada gebrakan keras di meja dapur membuat keduanya melompat kaget.

 Rosa dan Siska muncul dari balik tembok dapur secara bersamaan. Penampilan mereka masih tidak keruan, baju melorot dan rambut gimbal karena habis saling jambak.

Kini mata sang Nyonya rumah melotot ke arah Maya lalu berganti ke Agus. Suasana ini membuat si pemuda semakin serba salah.

“Eh, ada Nyonya dan Non Siska. Ini saya mau antar Bu Maya pulang.” Agus menyengir sampai giginya mengering.

“Ngapain kamu nyelonong ke sini, May? Mentang-mentang aku bebasin dan enggak kunci pintu belakang, malah kurang ajar kamu!” bentak Rosa dengan tangan bertumpu di pinggang.

Siska yang berdiri di belakang Rosa sambil menguap berbisik, “Nah, kan, Mbak. Makanya jangan pelit sama adik, sekarang malah ditikung sama teman sendiri.”

Rosa menoleh tajam ke belakang. “Diam kamu, Sis! Ingat ya, urusan kita belum beres!”

Bibir Siska dimonyongkan ke arah Rosa yang kini sudah kembali melihat ke depan. 

Sebagai pemilik rumah, Rosa marah karena teman dekatnya berani mendahuluinya mengambil jatah.

Bukannya malu, Maya malah santai merapikan kimononya, meski bagian dadanya masih sengaja diperlihatkan untuk menantang milik Rosa yang juga sama-sama menyembul.

“Santai aja kali, Ros. Jangan galak-galak dong. Tadi itu aku dengar suara teriakan, kukira ada maling, tapi aku malah lihat Agus di dapur. Iya kan, Gus?” Tatapan Maya kini memaksa Agus untuk mengiyakan.

Tapi si pelayan ini tidak sependapat. Ia memilih menggelengkan kepala. “Saya enggak dengar Bu Maya bilang apa-apa tentang maling.”

“Eh, si Agus! Tinggal bilang iya aja susah banget!” omel Maya, matanya ikut melotot ke arah Agus.

Agus langsung mengusap dadanya sendiri. “Buset, betina moodnya gampang benar berubah.”

“Dengar ya, May! Agus ini milikku. Dia kerja di rumahku, jadi sudah jelas dia di bawah tanggung jawabku. Kamu enggak usah ikut campur. Sana pergi!” usir Rosa. Napasnya yang memburu membuat dadanya kian membusung.

“Nah, ribut deh gara-gara si Agus, ya terus, kalau kalian berantem, aku bisa tempur sama Agus.” Siska yang masih di bawah pengaruh alkohol tersenyum-senyum sendiri.

“Hak milik apanya? Si Agus itu manusia, bukan robot. Lagian dia cuma pelayan doang, bukan siapa-siapa,” balas Maya dengan bibir mencemooh.

“Ih, lambenya jahat banget! Ngatain si Agus cuma pelayan tapi mau juga coba barangnya!” Giliran Siska yang maju sambil menunjuk-nunjuk hidung Maya.

“Heh, bocah! Berani banget kamu tunjuk-tunjuk aku!” Maya membalas Siska.

Agus hanya bisa menunduk pasrah karena tiga wanita borju ini mengerubunginya seperti lalat. Ucapan Maya memang benar, dia hanya pelayan. Agus sadar diri tidak mungkin bisa dekat dengan majikannya yang bening-bening sementara penampilannya sendiri mirip roti bulukan.

Saat Siska dan Maya adu mulut, Rosa mengambil kesempatan. Dia dengan cepat menarik tangan Agus menuju kamar utama.

“Nyonya Rosa!” tegur Agus.

“Diam! Nanti mereka tahu!” Pegangan tangan Rosa di pergelangan Agus semakin keras.

Mereka pun masuk ke kamar yang luasnya mirip lapangan bola. Rosa mengunci pintu dan melempar kuncinya ke atas meja, tepat di samping foto Tuan Hendro yang tampak seperti sedang memelototi mereka.

“Ini kamar Nyonya dan Tuan. Itu Tuan saja sampai melotot ke saya,” Agus menunjuk ke arah meja.

“Itu cuma foto. Asal kamu tahu, sore tadi suamiku pamit ke luar kota! Enggak usah ciut gitulah. Sekarang, buka baju kamu!”

“Tapi… anu, Nyonya, kalau di sini nanti kualat. Masalahnya ini kasur Tuan.” Agus melirik ke belakang, berusaha mencari alasan logis.

“Oh, jadi kamu mau dipecat dari sini? Oke, gampang. Sekalian juga aku blacklist kamu dari beasiswa mana pun. Biar Emak kamu tahu kuliah anaknya enggak benar di kota. Itu kan maunya?” Rosa melepas tali gaun tidurnya yang tipis bukan main, hingga asetnya terlihat jelas.

Agus mendadak menahan napas. Terbayang nikmatnya, tapi juga sengsaranya. Jika tidak menuruti keinginan Nyonya berkuasa ini, bisa-bisa dia jadi gelandangan saat pulang kampung nanti.

“Ini namanya pemerasan, Nyonya. Masa saya enggak punya ijazah gara-gara nolak Nyonya.” Mulut Agus masih terus bicara, tapi pandangannya terpaku pada bongkahan kembar yang aduhai.

“Pilihannya cuma dua, kamu lulus dengan nilai memuaskan, atau pulang sana angon bebek di kampung!” ketus Rosa sambil terus melangkah mendekati pelayannya.

Agus menelan ludah susah payah. “Saya… pilih angon Nyonya saja, eh, maksudnya lulus dengan nilai bagus.”

Agus akhirnya menyerah pada ancaman yang sekaligus godaan itu. Tangannya melepas kemeja flanel yang basah kuyup, juga jeans belelnya yang kini jatuh ke lantai. 

Pemandangan polos itu membuat Rosa menganga sebentar karena tubuh Agus ternyata lebih perkasa dari bayangannya. Tanpa membuang waktu, sang Nyonya mendorong dada Agus hingga pemuda itu terjengkang ke atas ranjang besar yang empuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Ir Sutan Rajo Ameh
sangat suka
goodnovel comment avatar
Any Tobing
lanjut dong
goodnovel comment avatar
Any Tobing
sangat menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 300

    Empat tahun berlalu membawa kedamaian dan kejayaan yang mengakar di vila mewah milik Agus. Halaman belakang yang membentang luas kini disulap menjadi area piknik keluarga yang asri dan mewah. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang, menyajikan panorama sore yang hangat bertabur gelak tawa.Tawa renyah membahana karena anak-anak berlarian mengejar bola di atas hamparan karpet sutra. Di antara hiruk-pikuk itu, Rosa duduk anggun di atas kursi rotan berukir, memangku putra bungsunya, Perwira dan mengawasi dua putra tertuanya, Perkasa dan Gagah yang sibuk bermain.Tiga persalinan putra-putra pilar keluarga tidak melucuti pesonanya. Sebaliknya, aura Rosa memancar semakin matang, elegan, dan menawan. Busana kasual premium yang melekat di tubuh moleknya menegaskan statusnya sebagai matron utama yang disegani, memancarkan kecantikan abadi seorang wanita yang dicintai seutuhnya."Mas, lihat anak-anakmu. Tambah hari kelakuannya mirip sekali dengan ayahnya, enggak bisa diam

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 299

    Satu tahun berjalan, deretan karangan bunga memenuhi pelataran gedung berarsitektur modern di pusat kota. Hari ini menjadi saksi pemotongan pita peresmian cabang ke-20 Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif, menandai kejayaan ekspansi gurita bisnis kesehatan yang dibangun dengan fondasi kokoh.Tari berdiri anggun di samping pita merah. Dibalut busana kerja formal yang menonjolkan lekuk tubuhnya, aura kepemimpinan sang Kepala Operasional sekaligus Instruktur Utama memancar sempurna. Senyum menawannya menyapa para investor dan awak media yang sibuk mengambil gambar."Terima kasih atas kepercayaan seluruh mitra. Cabang ke-20 ini adalah bukti nyata bahwa metode terapi yang kami kembangkan tidak hanya menjual kenyamanan, tetapi juga kualitas pemulihan fisik yang nyata," kata Tari dengan suara tenang dan penuh percaya diri.Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari dinginnya tangan Tari dalam menggembleng para terapis muda. Setiap standar pelayanan, teknik pemijatan, hingga simulasi tekanan

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 298

    Malam harinya, ruang kerja rumah mewah kebanggan Agus diselimuti ketegangan dingin. Agus duduk mengangkasa di balik meja kayu jati, menatap marah ke arah lembaran kertas yang dibawa Cak Kumis. Di sudut ruangan, Rosa dan Sari menyimak rapat-rapat, sementara Tari menunduk pasrah memilin ujung bajunya."Gua udah usut semua sampai ke akar-akarnya, Bos," buka Cak Kumis tegas yang meletakkan sebuah map hitam dan flashdisk di atas meja.Cak Kumis membongkar bukti faktual tanpa keraguan. "Ini rekaman CCTV klinik terapi tempat Mbak Tari kerja dulu, lengkap sama berkas audit keuangan dari pemilik klinik langsung. Kagak ada uang sejengkal pun yang dicuri Mbak Tari."Mata Rosa menyipit tajam. "Terus tuduhan si Rian itu dari mana, Cak?"Cak Kumis meludah pelan ke samping. "Bangsat itu cuma sakit hati berat gara-gara diputusin Mbak Tari. Dia ngutang judi online ratusan juta ke lintah darat, terus sengaja manfaatin momen pernikahan ini buat m

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 297

    Pagi menyingsing megah di halaman rumah gedong. Dekorasi bernuansa putih-emas garapan Sari berdiri kokoh, menyulap pelataran menjadi arena pesta penguasa yang elegan. Seluruh dokumen legalitas dan berkas KUA arahan Rosa telah tersusun rapi di meja akad di ruang utama.Agus tampil gahar dan gagah. Kemeja batik sutra eksklusif membungkus ketat tubuh kekarnya, menyamarkan balutan jahitan di pinggang yang masih terasa menyengat. Di sampingnya, Tari duduk gemetar dalam balutan kebaya pengantin putih. Jemari perawat muda itu dingin, napasnya memburu menahan ketegangan dahsyat."Tenang, Tar. Kamu udah jadi milik Mas Agus," bisik Agus yang meremas tangan Tari dengan dominasi mutlak yang menenangkan saraf wanita itu.Penghulu membetulkan letak kacamata, mengulurkan tangan tepat ke genggaman kekar Agus. Suasana ruang utama mendadak hening, menyisakan aura wibawa Sang Penguasa yang memenuhi ruangan.Tanpa sedikitpun keraguan, Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 296

    Agus menyandarkan punggung kekarnya di sofa kulit ruang kerja. Rasa perih di pinggangnya yang berbalut jahitan rapat tidak lagi dipedulikan. Di hadapannya, Rosa dan Sari duduk mendampingi dengan raut yang mulai tenang usai ketegangan semalam melamun."Mas nikahi Tari kagak cuma karena dia udah nambal nyawa Mas semalam," buka Agus tegas, suaranya berat dan sarat dominasi penguasa.Rosa mengangkat alisnya yang lentik, sementara Sari menyimak rapat-rapat."Tari punya keahlian medis klinis sekaligus paham seluk-beluk terapi pengobatan. Mas mau buka Pusat Terapi & Kesehatan Eksklusif di pusat kota. Tari yang bakal Mas pasang buat pegang operasional, ngerawat pasien, sampai ngelatih para terapis baru di sana."Mata Rosa mendadak berbinar. Sebagai mantan wanita karier berotak encer, dia langsung menangkap potensi ceruk pasar raksasa yang dibeberkan suaminya."Rencana yang tajam, Mas," puji Rosa dengan senyum kagum. "Bisnis Jasa Kesehatan eksklusif punya margin keuntungan luar biasa."Agus me

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 295

    "Bawa Mas Agus ke ruang tindakan! Cepat!" jerit Tari, menepis kepanikan yang sempat melumpuhkan dadanya.Dengan sigap, Tari memimpin Adul dan Cak Kumis memindahkan tubuh kekar Agus ke atas ranjang periksa. Jarum jam seolah merambat lambat sewaktu Tari membersihkan goresan darah kental yang membanjiri pinggang sang penguasa. Perawat muda itu sampai bergetar hebat, namun keahlian klinisnya menuntun gerakan tangannya merawat dan menjahit robekan kulit Agus, benang demi benang dengan presisi tinggi. Sepanjang sisa malam sampai fajar menyingsing, Tari tidak pergi sedikit pun dari sisi ranjang, terus mengompres dahi Agus dan memantau denyut nadinya.Begitu tirai jendela tersingkap oleh sinar matahari pagi, kelopak mata Agus perlahan bergerak. Agu menggerang pelan, merasakan perih yang kini perlahan mereda."Mas ... Mas Agus udah sadar?" bisik Tari sangat lembut suaranya, matanya yang bengkak dan berkaca-kaca menatap pria kuat di hadapannya.Agus mengedipkan mata, menyesuaikan cahaya. "Tar

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 4

    “Apaan sih? Mulai rese kamu!” Rosa kelihatan kesal, kulit beningnya jadi kemerahan.Tapi si gadis genit ini semakin menggosok tangannya di dada Agus yang basah karena keringat. Berada di antara dua makhluk cantik yang memiliki perabotan premium tentulah membuat juniornya tegang terus dan menuntut p

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 3

    “Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 2

    “Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 1

    “Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status