LOGINNote: *This is not a horror story!* --- Olivia Jillian Hunters has it all— beauty, body, brain, money, friends, the perfect boyfriend that every girl wanted, and the haters, of course. But because of a broken heart from knowing that her boyfriend has been cheating on her with Sydney Roswell, her long-time enemy, OJ got into an accident that caused her to be in a coma. She woke up one day and knew that she was not in her body... not even near. She is now a ghost. When OJ overheard that her physical body is living with a machine for life-support and will not go for long, she panicked as she doesn't know how to stop her parents from letting her die. In searching for help, she found herself wandering in the academy and learned that Sydney is the only one who can see and hear her. Will she ever ask for help from the girl who she hates and hates her back even more? #this is a story of love and hate between two girls
View More“Lala Sayang. Nenek senang masih bisa melihat kamu.” Nenek tersenyum. Ada butiran bening menetes dari sudut matanya dan jatuh ke bantal.
“Nenek akan terus melihat Lala.” Keyla memaksa diri untuk tetap tersenyum. Walaupun kabut putih telah memenuhi matanya sehingga pandangan menjadi buram.
Jantung Keyla berdebar tidak karuan. Dia melihat wajah nenek yang sudah pucat dan tidak bercahaya lagi. Wanita itu itu menatap cucunya dengan tatapan kosong. Senyuman yang memiliki satu arti.
Keduanya saling pandang dalam diam. Genggaman tangan yang tidak ingin dilepaskan.
“Temui ibu kamu di Tiongkok. Kamu harus bahagia, Lala.” Suara nenek sangat lemah dan pelan. Wanita itu benar-benar tidak ingin meninggalkan Keyla.
“Lala tidak mau ke tempat ibu.” Keyla menempelkan pipinya pada tangan nenek.
“Kamu tetap harus pergi, ya.” Nenek tersenyum dan menangis.
“Tidak. Tidak mau. Lala mau sama-sama Nenek.” Lala tidak bisa menahan tangis. Butiran bening jatuh dan tumpah di pipinya.
Tangan yang dingin dan keribut perlahan jatuh dari pipi Keyla. Jari-jari tua itu tidak lagi menyentuh kulit cucu kesayangan. Sang nenek telah berpulang di usia yang senja.
“Nenek. Bangun.” Keyla mengusap tangan nenek.
“Nek, bangun, Nek.” Keyla menyentuh pipi nenek. Dia tahu bahwa neneknya telah pergi meninggalkan dirinya sendiri.
“Tuuuuuut.” Nada mengerikan terdengar sangat nyaring dari layar monitor membuat kaki Keyla mendadak lemas.
“Dokter!” teriak Keyla.
“Tidak. Nenek tidak boleh pergi. Lala tidak mau sendirian. Lala tidak punya siapa-siapa lagi. Nenek bangun!” Air mata telah membasahi wajah Keyla. Gadis itu terus berbicara dalam tangis.
Dokter dan perawat datang. Mereka melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisi pasien.
“Kamu harus kuat. Nenek sudah tidak ada.” Dokter menepuk pundak Keyla.“Tidak. Nenek. Nenek!” Keyla berteriak.
Dunia seakan berputar dan runtuh. Pandangan Keyla menjadi gelap. Tubuhnya tidak mampu lagi bertahan dan ambruk ke lantai. Dokter pria segera menggendong tubuh Keyla dan membaringkan di atas kasur
“Apa Anda keluarganya?” tanya dokter pada bibi yang mendekati Keyla.
“Saya tetangganya, Dok. Gadis ini tidak punya siapa-siapa selain neneknya,” jawab bibi.
“Ayahnya sudah meninggal ketika dia masih SD. Ibunya bekerja di luar negeri menjadi TKW dan tidak pernah pulang,” lanjut bibi.
“Kasian sekali,” ucap dokter.
“Nenek!” teriak Keyla bangun dari pingsannya.
“Lala. Nenek sudah tenang. Lala harus ikhlas ya.” Bibi berusaha menenangkan Keyla yang sangat terpukul karena kehilangan nenek.
“Bibi, kenapa nenek meninggalkan aku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi.” Keyla memeluk bibi.
“Sabar. Kamu masih punya Bibi.” Bibi mengusap punggung Keyla dengan lembut.
“Kenapa Yanti tidak menerima panggilanku?” Bibi berusaha menghubungi mama Keyla yang berada di Tiongkok. Wanita yang telah meninggalkan putri kecilnya dan pergi dengan membawa putri sulungnya.
“Kita bawa nenek pulang ya, Keyla.” Bibi berusaha membujuk Keyla.
“Ya.” Keyla mengangguk.
Mereka pulang ke rumah untuk memakamkan nenek dalam peristirahatan terakhir. Keyla benar-benar sangat sedih dan terpukul kehilangan satu-satunya keluarga yang mencintainya.
Perempuan yang membesarkan dirinya dalam kasih sayang yang tulus sejak dilahirkan ke dunia hingga menjadi wanita muda yang cerdas.
Keramaian menjadi sunyi seketika saat semua telah pulang dan tinggal Keyla sendirian yang masih bertahan di pusaran neneknya. Gadis itu tidak ingin meninggalkan neneknya.
“Kenapa Nenek meninggalkan, Lala? Kenapa, Nek?” Keyla berbicara dengan tumpukan tanah basah dengan taburan bunga segar.“Lala, ayo pulang.” Bibi membantu Keyla beranjak dari pusaran nenek dan pulang ke rumah.
Keyla hanya berkurung di rumah. Dia menunggu keputusan kampus yang akan mentranfernya ke universitas yang ada di Tiongkok.
Di Tiongkok, Yanti telah mendapatkan kabar bahwa ibu mertuanya sudah meninggal dunia sehingga dia harus meminta izin kepada majikannya untuk membawa Keyla tinggal di gudang tempatnya bekerja.
“Tuan, apa saya bisa berbicara dengan Tuan Kai?” tanya Yanti pada kepala pelayan.
“Kamu mau bicara apa?” Meng balik bertanya.
“Meminta izin membawa anak saya tinggal di gudang belakang,” jawab Yanti.
“Tunggu di sini, Saya akan bicara dengan Tuan Kai,” ucap Meng.
“Baik, Tuan. Terima kasih.” Yanti mengangguk dan menunggu di luar ruang kerja Kai.
“Permisi, Tuan.” Meng mengetuk pintu ruang kerja Kai. Pria tampan yang dingin dan sedikit bicara. Lelaki lajang yang tidak pernah melirik wanita mana pun. Dia bahkan digosipkan penyuka sesama jenis.
“Ada apa?” tanya Kai tanpa melihat pada Meng.
“Bibi Yanti meminta izin untuk membawa anaknya kemari dan tinggal di gudang belakang,” jelas Meng.
“Jangan sampai terlihat olehku dan ponakan kembar,” tegas Kai.
“Baik, Tuan. Saya akan menyampaikan kepada Yanti. Permisi.” Meng membungkuk dan keluar dari ruang kerja Kai.
Pria berusia empat puluh lima tahun itu pergi menemui Yanti. Dia menjelaskan peraturan yang harus dipatuhi setelah membawa anaknya ke rumah Kai. Yanti segera menghubungi Keyla.
“Beli tiket dan terbang ke Tiongkok. Ibu akan kirimkan alamat dan rute perjalanan,” ucap Yanti.
“Kamu harus mengikuti aturan rumah ini agar bisa tinggal di sini,” tegas Yanti.
“Iya, Bu.” Keyla melihat panggilan yang telah terputus. Gadis itu segera berkemas dan bersiap pergi ke Tiongkok. Dia tidak bisa tetap di Indonesia tanpa keluarga.
Keyla tiba di bandara Pudong Shanghai. Gadis itu terbangun ketika pesawat telah mendarat. Dia segera berjalan menuju loket bus agar biayanya lebih murah. Keyla memberikan alamat kepada sopir bus.
“Nona, Apa Anda akan pergi Garden Phoenix?” tanya sopir meyakinkan.
“Iya. Apa ada yang salah?” Keyla menatap secarik kertas yang ada di tangannya.
“Tidak. Lokasi ini berada paling ujung dan tidak ada kendaraan umum yang bisa masuk. Kamu hanya bisa sampai persimpangan saja,” jelas sopir. “Tidak apa.” Keyla duduk di kursi samping jendela.Bus terus membawa penumpang dan menurunkan di tempat masing-masing hingga tersisa Keyla seorang. Dia diantar ke alamat paling ujung. Kawasan pribadi yang elit dan tidak mudah terjamah.
“Ini adalah persimpangan Garden Phoenix.” Sopir menghentikan mobil.
“Terima kasih.” Keyla turun. Dia melihat jalanan yang sangat sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat atau masuk ke dalam.
Pohon-pohon rindang dan tinggi menjadi pelindung jalanan. Begitu teduh dan sejuk. Cahaya matahari hampir tidak mampu menempus celah untuk memberikan kehangatan. Keyla terus berjalan hingga tiba di pintu kecil paling ujung. Dia sudah ditunggu Yanti.
“Ibu.” Keyla berlari bahagia melihat ibunya.
“Ayo masuk!” Yanti menarik tangan Keyla dengan kasar masuk ke dalam perkarangan belakang.
“Kamu tinggal di sini.” Yanti membuka pintu gudang dan masuk bersama Keyla.
“Itu kamar Ibu dan pelayan lainnya. Kamu tidak usah mendekat ke rumah utama karena dilarang oleh Tuan besar. Jangan sampai terlihat oleh penghuni lain,” tegas Yanti.
“Terima kasih, Bu,” ucap Keyla.
“Istirahatlah!” Yanti meninggalkan Keyla.
*Olivia Jillian Hunters' POV*---Her lips trailed kisses down my neck, making me grip tight on the sheets while I bit my lower lip to keep myself from crying her name in pleasure. As she casually licked and gently sucked my skin, I couldn't help but grab her hair with my left hand, and my right one was inside her shirt and scratching her bareback. She stopped kissing my neck and chuckled when I involuntarily pulled her hair back a bit hard, and I apologized quickly."Sorry, Love.""Don't worry. I like it." Syd replied and looked me in the eyes. I saw her smirk and eyed my lips."Please stop biting your lip too hard. It'll bleed." She asked me and leaned down to peck on my lips, and I responded immediately. How can I not bite it if she was so damn good at this kind of matter? And I don't want to be loud because neighbors might hear, or maybe any of her housemates or friends have arrived and wonder what we're doing here. Well, if she were in my situation, I am so freaking sure she'll
*Sydney Roswell's POV*—"What? No! I don't know what the heck you are talking about, Oj. You know what? Let's take some snacks downstairs. Let's just figure out what to do with this one later tonight or tomorrow." I renounced and asserted as I really wanted to escape from being cornered by her."Oh, no! Where are you going, Sydee? We're not yet done here. You said you'll take a break after editing the 70th chapter. We are going nowhere but here, My Love." She teased and held my chin with her right hand, making me face her, but I tried to avoid eye contact."No! Did I say that? Well, I've changed my mind. Let's go, Mi Amor! What do you want to eat?" I exclaimed and was about to stand up, but I could barely move because of this laughing girl sitting on me who's not that light at all."Hmm. Hey! I have a better idea, Oj! Why don't we… umm, later before we go to our dinner date, let's go and find a dog that you want to adopt. A puppy! Yeah! I remember you want to call him Mickey. Right? D
*Sydney Roswell's POV*---"Her soft rosy lips gracefully danced with mine in a remarkable rhythm, making me feel all these familiar sensations inside me. When her powerful warm moist tongue slipped inside my mouth, I, with all enthusiasm, welcomed it for a friendly match.I heard her chuckle while still not breaking our passionate kiss, and I gently bit her lower lip as I tried to dominate this session. Then I lost control of my hands when they started creeping inside her shirt to caress her delicate skin, which caused her to let out soft moans. Mmm, her voice is such excellent music in the ears. I could listen to it my whole life and never get tired.And things happened a bit too quickly when she's now topless while we both sat on the bed. I swear I have no full control of my hands. But I absolutely love to see her wear nothing on top but her jade pendant necklace. She continued bussing my neck, making me all turned on, while her right hand had been gently kneading my left boob unde
THIS IS A FREE CHAPTER!!! Hey, my darling! I hope you are doing well! Thank you so much for reading this book! I'm glad you made it through here. I hope you loved it as much as I loved writing it. It's so damn hard to let this book's characters go, but sadly I have to. Sydian is one of my favorite ships, and I am having a hard time finding the perfect ending for them because I don't want this book to end. But don't worry, I'll put one last chapter for this story after this announcement. ***ANNOUNCEMENT!!*** I'll make Ghost In Red into a WEBCOMIC soon, as well as my book The Queen And The Freak!!! And I am looking forward to GoodNovel having that comics category soon, like their sis app, MegaNovel. Just check it out when it's out, wherever and whenever. XD--- Once again, thank you, thank you, thank you for reading this book and my other books!!! And if you haven't checked out my other works, you can tap my profile and explore and enjoy. One not-so-fun fact, though, my pen name i
*Olivia Jillian Hunters' POV* — "Okay. What is it?" Sydney asked and curiously looked at me. I grinned and locked my eyes on her luscious pink lips, and I could sense she already knew what I meant when her facial expression changed into something that seemed to be alarmed. "No." She asserted and gla
*Sydney Roswell's POV*---Monday came. It's the first time I'm going back to the academy after about a month of absence. It was an absence to do something I know I will forever be grateful for and will never regret.I had spent almost my whole day taking quizzes and exams in the empty detention room n
*Olivia Jillian Hunters’ POV*---"Did you get it, Syd?" I asked my girl as she walked out of the establishment with a piece of paper in hand, and she smiled at me before answering.
*Sydney Roswell's POV* --- "Eeeeep! Sydney, Sydney, Sindeeeey!" Emma screeched in enthusiasm as she finally went out of the classroom after talking to Ms. Valerian, our lovely History te












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore