LOGINBullied, broke, and battling to save his sick mother, Ethan's life couldn't get worse—until he crossed paths with Professor Lucian, revealing the dangerous bond between them. As a Lycan, Lucian wanted nothing to do with a human mate—especially not someone like Ethan Wave, a bullied fragile human boy. However, neither could resist the unmistakable pull between them, awakening a fierce possessiveness for each other. But it was a cursed bond that would soon haunt them...
View More"Revisi."
Satu kata dari pria di hadapannya itu membuat Reyna mendongak. Setengah mati ia berusaha menekan amarah yang sejak tadi sudah ditahan."Lagi, Pak?" tanya Reyna tak percaya. Demi Tuhan, sekarang sudah hampir pukul sebelas malam dan dia masih terjebak di kantor dengan bos paling tidak punya hati nurani ini!Tak ada jawaban dari Andreas. Pria arogan itu hanya mengedik ke arah pintu, mengusir Reyna dari ruangannya tanpa banyak kata.Reyna menghela napas kasar dan berbalik ke arah mejanya sendiri. Suara ketikan pada keyboard menggema memenuhi ruangan yang sudah sangat sepi itu.Kalau bukan karena harus menghidupi diri sendiri dan adiknya, Reyna tidak akan mau jadi orang gila kerja seperti bosnya itu!Reyna memang beruntung bisa bekerja di Hilton House, salah satu perusahaan terkuat dan berpengaruh di negara ini. Sialnya, ia menjadi sekretaris calon pewaris perusahaan, Andreas Hilton. Pria tampan yang tak pernah tersenyum itu benar-benar membuat Reyna harus menambah stok kesabarannya setiap hari.Reyna lantas memeriksa pesan yang ia kirimkan pada Dario beberapa waktu lalu. Ia terpaksa membatalkan janjinya untuk merayakan ulang tahun kekasihnya itu karena harus lembur bersama bosnya.Sedang merenungi nasibnya yang gagal berkencan malam ini, suara langkah kaki bosnya dari dalam membuat Reyna beranjak dari kursi kerjanya."Kamu sudah boleh pulang," ucap Andreas membuat Reyna mengernyit selama beberapa detik.Tapi setelah itu Reyna langsung tersenyum senang, tandanya ia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan kekasihnya malam ini."Terima kasih, Pak," sahut Reyna. Setelah memastikan Andreas pulang, Reyna tak mau membuang waktu lagi. Wanita itu berlari mencari taksi untuk membeli kue ulang tahun dan tak lupa menyiapkan kado untuk kekasihnya.Reyna akan memberikan surprise kepada Dario dengan mendatanginya secara langsung ke apartemen pria itu.Sekitar jam dua belas malam, Reyna berhasil sampai di depan apartemen Dario. Wanita itu memencet pasword pintu apartemen kekasihnya dan masuk perlahan agar tak ketahuan Dario.Namun, matanya langsung memicing saat ada sepasang sepatu tinggi yang sudah pasti milik seorang wanita berada tepat di samping sepatu kerja kekasihnya.'Lagi ada tamu?' Reyna bertanya-tanya dalam hati dengan gelisah.Firasat Reyna semakin tidak enak ketika suara lenguhan dari dalam kamar mulai terdengar hingga ke telinganya. Jantungnya kini berdegup begitu kencang karena takut kalau apa yang sempat terbersit di pikirannya menjelma nyata.Reyna mendorong pintu kamar yang tidak tertutup sempurna dengan pelan. Ia langsung mendekap mulut karena terkejut dengan apa yang ia temukan.Dario-nya tengah bercinta dengan wanita lain..."Ah... Dario... apa Reyna benar-benar tidak akan datang?" ujar wanita itu di tengah desahannya, membuat Reyna mulai bertanya-tanya karena suara itu terdengar sangat familiar.“Mnggsh… uhmngh… mnghshugh!” lenguh keduanya saling membalas."Tenang saja. Dia pasti masih sibuk bekerja. Reyna tidak mungkin datang malam ini," ucap Dario seraya melenguh nikmat, dengan terus memuji tubuh wanita yang kini sedang digagahinya.Seakan telah mati rasa dan tak mau nampak semakin bodoh meratapi semua ini, dengan cepat Reyna memasuki kamar Dario sembari membawa kue yang sempat ia beli lalu melemparkan kue itu tepat di wajah pria brengsek tersebut.Tapi seolah belum cukup hancur, Reyna kembali dibuat kaget kala dirinya melihat wanita yang sedang bercinta dengan Dario ternyata teman dekatnya sendiri.Air matanya terjatuh karena tak dapat terbendung lagi."Mari kita akhiri hubungan ini," ujar Reyna sebelum memutuskan keluar dari kamar menjijikkan itu.Dario buru-buru menggunakan pakaian seadanya lalu mengejar Reyna, yang akhirnya tertangkap juga di depan pintu apartemen."Reyna dengarkan aku dulu, aku bisa menjelaskan semuanya," kata Dario dengan suara memohon.Tapi Reyna sudah lebih dulu menampar pipi Dario cukup kencang."Jangan pernah menyentuhku lagi dengan tangan kotormu!" ujar Reyna sembari pergi meninggalkan kediaman kekasihnya sambil bercucuran air mata.Keesokan harinya, Reyna muncul dengan mata bengkak di kantor. "Selamat pagi Pak Andreas," sapa gadis itu ketika melihat bosnya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.Meja kerja Reyna yang berada persis di hadapan ruangan Andreas membuat wanita itu lebih mudah memantau pergerakan bosnya.Reyna kembali berdiri saat seorang yang tidak dikenalinya menghampiri. "Saya kuasa hukum keluarga Hilton, apa bisa bertemu dengan Pak Andreas sekarang juga?" tanya pria paruh baya tersebut yang terus menerus melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya."Silakan ikut saya," ujar Reyna sebelum mengentuk pintu ruangan bosnya terlebih dahulu sebelum membawa masuk pria paruh baya tersebut."Pak Andreas, ada yang ingin bertemu Bapak," ucap Reyna membuat Andreas menaikan satu alisnya sebelum menatap tajam pria paruh baya yang dibawanya."Haruskah saya membawanya pergi lagi?" tanya Reyna seraya mengarahkan ibu jari ke pintu keluar kepada Andreas yang menggelengkan kepala lalu menyuruhnya untuk membuatkan kopi.Reyna mengangguk mengerti lalu pergi meninggalkan ruangan bosnya, namun baru saja dirinya melangkah keluar dari ruangan tersebut ponselnya bergetar ketika mendapati kembali pesan dari mantannya."Dasar bajingan. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memaafkanmu," ucap Reyna seraya memblokir nomor mantan kekasihnya itu, belum lagi hatinya masih terasa panas mengingat kejadian semalam.Di dalam ruangan, Andreas yang telah mengenal betul siapa pria di hadapannya saat ini hanya bisa menerka-nerka tentang masalah apa yang akan datang kepadanya.“Katakan ada urusan apa. Jangan buang waktu berhargaku,” ujar Andreas datar."Saya tahu Pak Andreas sangat sibuk, jadi saya akan langsung ke intinya." Pria itu mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya. "Di dalam sini tertulis bahwa Andreas Hilton, ditetapkan bisa mewariskan perusahaan dengan syarat dalam kurun waktu satu tahun harus memiliki seorang pewaris juga pasangan hidup yang saling mencintai."Pria tua itu menyodorkan kertas berisikan wasiat milik kakeknya atas dasar syarat yang harus Andreas penuhi jika ingin menjadi pewaris seluruh harta kekayaan keluarga Hilton.Andreas nampak diam dan mencoba mencerna, kepalanya mulai berputar mencari ide tentang bagaimana cara agar dirinya mendapatkan sebuah pasangan dan keturunan dalam waktu sesingkat itu."Begitulah isi dari wasiat kakek Pak Andreas jika Bapak tertarik ingin mengambil alih perusahaan seutuhnya," ucap kuasa hukum itu pada Andreas kembali.“Saingan di dalam keluarga Bapak cukup banyak, mendapatkan wasiat seperti ini seperti mendapat sebuah peti emas. Tidak semua cucu beliau bisa mendapatkan kesempatan ini. Pak Andreas adalah satu-satunya,” jelas pria itu lagi.Reyna yang baru saja masuk ke dalam ruangan bosnya bisa merasakan atmosfer yang tidak enak.“Tamu Bapak sudah mau pergi?” tanya Reyna saat melihat kuasa hukum keluarga Hilton itu sudah membereskan barang-barangnya.Reyna memberikan hormat pada pria tua yang langsung keluar dari ruangan setelah berpamitan pada Andreas.Melihat bosnya hanya terdiam, Reyna pun memutuskan untuk ikut pamit. “Kalau begitu saya akan keluar sekarang,” ucap Reyna.“Tunggu, berdiri di hadapan saya sekarang,” titah Andreas, membuat Reyna yang baru saja membalikan tubuhnya harus kembali berputar menghadap bosnya.Reyna berdiri tepat di hadapan Andreas seraya menunggu bosnya untuk kembali berbicara kepadanya. Andreas menatap manik mata Reyna tanpa mengucapkan sepatah kata selama beberapa waktu.Reyna sampai gugup dibuatnya. Karena entah mengapa... tatapan itu terlihat berbeda dari biasanya."Istri. Saya membutuhkan istri sekarang juga."When Ethan reached Lucian, Yara gently passed Ethan’s hand to him.“You better take care of him,” she whispered.“I will, Mom,” Lucian replied softly, then turned to face Ethan to say their vows.Martin sat with Cole, their hands entwined. He leaned down to Cole’s ear and whispered, “I love you, Cole.”Cole didn’t hesitate to kiss him, and when he pulled away, he whispered back, “I love you, Mart.”Charlie had her head resting on Jericho, their own wedding was coming up soon.Weston was with his girlfriend, and Xander was seated beside a girl who seemed to match his vibe.For the first time, it seemed he was genuinely getting along with someone of the opposite sex. The girl was the daughter of their business partner, which meant they would be seeing each other often.The priest announced the union of Lucian and Ethan. Their lips met, moving gently against each other with love as the crowd erupted in cheers and celebration.Yara wiped away her tears, and Rowan pulled her close, kissing
Twilight sighed with a smile. “Sorry to disturb, but just make sure you don’t burn the house down.”Ethan looked away, embarrassed, while Lucian nodded.“Go fuck Eric,” Lucian said teasingly, and Ethan almost nudged him in the groin.Twilight shook her head amusingly and left the threshold.•Meanwhile, that same night, Cole finished his work really late. The owner had offered him to stay in one of the restaurant’s spare rooms, but Cole politely denied.He stepped out and was surprised to find a familiar car, the one he had been seeing for the past few days after work.Had he waited for him? This late?Cole went and knocked on the tinted window. It rolled down, revealing Martin's sleepy eyes.“What do you think you are doing?”Martin rubbed his eyes and yawned. “You're done with work? How come you're finishing this late? It's almost midnight. Your boss needs to chill.”“We had a new contract, that's why. How long do you plan to keep stalking?”Martin's lips tightened, and he shrugged.
There was a pause.Long. Suspicious.“…That’s not funny. Who the fuck is this?” Eric's voice trembled, and Ethan could tell how it felt.He had reacted the same way upon hearing Lucian's voice at the business event.“You always said my sarcasm would get me killed, didn’t you?” Lucian asked.Another long silence.Then, a low, shaky breath on the other end.“…No.”It came out barely above a whisper. “No. You’re dead. You’ve been dead for five years, Lucian. Is this some scam? How did you get my number?”Lucian chuckled softly. “Yeah. Ask that to the ceiling I’m staring at.”Eric didn’t speak. The phone line crackled slightly, the silence on his end almost deafening.“Eric,” Lucian said again, his tone dropping serious. “It’s me.”A sharp breath. Then, an unsteady voice.Eric’s voice finally cracked, raw and broken with emotion. “It’s really you? Lucian?!”“Last I checked.”“Holy shit—holy fucking hell—Lucian, what the fuck?! You died. I buried what was left of you myself. Oh God!!! Wait
Real.He confirmed it and yet, greedily shoved his tongue into Lucian's mouth, meeting and entangling with his. It was real, and the thought of it made him groan.He kissed him back, slow and gentle, not rushing things. After a while, Ethan pulled away, meeting Lucian’s captivating gaze.“If you still think I'm not real, there's another way to clear that thought,” Lucian muttered with a sly smirk.“You haven't changed one bit,” Ethan said.“Do you want me to?”“No. I like you the way you are. I might punch you in the face one day,” Ethan smirked.“This sassy side of you is gonna be a problem… or perhaps fun,” Lucian said, and both smiled at each other.As they settled down, Ethan decided to call his parents. There were missed calls from them; they must be worried.“Ethan. Baby, are you okay? I've been trying your line since last night,” Yara's shaky voice sounded from the other side.“I'm fine. I'm fine, Mom. I just happened to sleep early,” Ethan said.“Huh? Where? Wait… your date’s
Ethan didn’t turn immediately. Instead, he panicked, feeling like he had lost his mind. Hallucination—that was what he’d been living with for the past year and a half, ever since he started taking hard drugs.After college, having earned enough from tech, his depression had led him down that path.
Flashback Lucian suddenly found himself in a dark void. He was shirtless, wearing only a pair of dark pants.His memories from the battle were still fresh—he recalled burning along with Aldric. He had truly died, but didn’t remember everything that happened afterward.Looking around, he spotted a
The air went stilled and quiet only broken by Zoraya's chocking sound.“A… Al…” she croaked, tears streaming down her face.“You betrayed me. I’m only returning the favor. Besides, you made the vow… not me.” He let go, watching her body crumple to the floor lifelessly.Zoraya’s body turned grey ins
On the following week, Ethan gained recovery and was finally discharged from the hospital. His parents were asked to always look after him.The doctor offered candy as a way to resist drugs when tempted. Yara bought a lot of them and Ethan got worried he might develop diabetes from that quantity.H
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore