Share

Bab 2

Author: Si Kuat
Beberapa hari berikutnya, Aditya hampir menjadikan rumah sakit sebagai rumahnya sendiri.

Shafira memanfaatkan kondisi tubuhnya yang lemah setelah transplantasi ginjal, selalu memanggil Aditya untuk urusan besar maupun kecil.

Hari ini bilang lukanya sakit, besok bilang susah tidur.

Aditya seperti pelayan pribadi yang selalu siap dipanggil, berputar mengelilinginya dua puluh empat jam.

Sesekali pulang sebentar ke rumah pun hanya sebentar saja untuk mengambil beberapa pakaian ganti.

Sementara Shafira tampak seperti seorang ratu yang akhirnya memenangkan perang, mulai melakukan provokasi yang makin berlebihan terhadapku.

Dia mengirimiku foto-foto mesranya dengan Aditya.

Di dalam foto itu, Aditya menundukkan kepala dengan lembut sambil mengupas apel untuknya. Tatapannya penuh sayang yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia juga mengirimiku tangkapan layar dari status Aditya di media sosial.

Status itu entah kenapa hanya aku yang tidak bisa melihatnya.

[Istriku benar-benar pengertian, makin terlihat seperti pemimpin keluarga yang sesungguhnya.]

Namun, gambar yang menyertai status itu justru memperlihatkan Aditya menggenggam tangan Shafira.

Shafira bahkan akan meneleponku di tengah malam, di ujung telepon terdengar suaranya yang manja dan Aditya yang tidak sabar mengusirku.

"Kak Siska, maaf ya mengganggu di tengah malam. Aku cuma sedikit takut, apa Kak Aditya bisa menemaniku sebentar lagi?"

Aku mendengarkan pertunjukan itu lewat telepon, tetapi hatiku sama sekali tidak terguncang.

Aku hanya diam-diam menyimpan semua rekaman panggilan itu, tangkapan layar, semuanya.

Lalu, aku pergi sendiri ke rumah sakit.

Menjadwalkan operasi aborsi.

Aku berbaring di atas meja operasi yang dingin. Alat yang masuk ke tubuh terasa tajam dan jelas.

Aku tidak menangis, bahkan tidak meneteskan setetes air mata pun.

Aku hanya membuka mata, menatap lampu pucat di langit-langit.

Di dalam hati, aku terus-menerus menegaskan pada diri sendiri.

Siska, ini adalah utang pada dirimu sendiri.

Mulai sekarang, kamu harus hidup untuk dirimu sendiri.

Setelah operasi selesai, aku menyeret tubuh yang lemah kembali ke tempat yang sudah tidak bisa lagi disebut rumah itu.

Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku.

Segala hal yang dulu pernah kuanggap berharga, yang berhubungan dengannya, kini terlihat seperti lelucon belaka.

Aku mengemas semuanya satu per satu, siap untuk dibuang.

Tepat seminggu setelah operasi Shafira berhasil, tiba-tiba Aditya meneleponku.

Suaranya terdengar lelah sekali.

"Siska, kamu ada waktu hari ini? Bisa tidak ke rumah sakit untuk menjaga Shafira sebentar?"

Aku memegang ponsel, hampir saja mengira diriku salah dengar.

"Aku ada rapat darurat di kantor, jadi tidak bisa ke rumah sakit. Shafira sendirian di rumah sakit, aku tidak tenang."

Menyuruhku merawat wanita yang merebut ginjalku dan menghancurkan keluargaku?

Aditya, seberapa percaya dirinya kamu sampai berani mengajukan permintaan segila ini?

Aku terdiam sejenak.

Lalu, dengan suara lembut, kuucapkan satu kata.

"Baik."

Aditya tampaknya sedikit lega. Dia terus-menerus mengucapkan terima kasih, lalu menambahkan beberapa pesan seperti Shafira suka makan apa dan dia sekarang masih belum bisa bangun dari tempat tidur sebelum akhirnya buru-buru menutup telepon.

Aku meletakkan ponsel, menatap wajahku yang pucat di cermin, dan tersenyum dingin.

Baiklah, tentu saja aku akan pergi.

Drama seheboh ini, bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya langsung?

Aku membawa keranjang buah yang sudah kusiapkan sejak tadi, dan melangkah masuk ke ruang VIP tempat Shafira dirawat.

Dia sedang bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya. Saat melihatku, wajahnya terpancar sedikit keterkejutan, lalu segera diganti dengan senyum puas seorang pemenang.

"Wah, bukankah ini Kak Siska? Kenapa ada waktu datang menjengukku?"

"Aditya yang menyuruhku datang." Aku meletakkan keranjang buah di meja samping ranjang, berbicara dengan tenang.

Shafira tersenyum lebih lebar lagi. "Dia memang tahu kalau kamu paling bisa diandalkan."

Dia menatapku dari atas ke bawah, matanya penuh dengan rasa pamer dan meremehkan.

"Kak Siska, lihat? Aku benar, 'kan? Orang yang paling diperhatikan Kak Aditya itu aku."

"Demi aku, dia bahkan merebut ginjal yang bisa menyelamatkanmu."

Aku tidak berkata apa-apa, hanya menarik kursi dan duduk di samping ranjangnya.

Sepertinya dia merasa reaksiku terlalu datar, jadi merasa sedikit tidak puas, lalu memutuskan untuk menambahkan api lagi.

"Oh, ya, aku lupa memberitahumu satu hal."

Dia mendekatiku, menundukkan suaranya, dengan nada jahat tetapi penuh kepuasan berkata, "Sebenarnya, ginjalku sama sekali tidak ada masalah serius."

"Aku cuma ingin menguji, di antara kita siapa yang lebih penting di hati Kak Aditya."

"Hasilnya lihat saja. Dia tanpa ragu langsung memilih aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 8

    Aditya benar-benar membeku. Dia duduk di kursi roda tanpa bergerak sedikit pun, hanya air mata yang mengalir diam-diam.Akhirnya dia mengerti.Apa yang selama ini dia anggap sebagai pasangan yang ditakdirkan oleh langit, ternyata hanyalah rencana matang yang telah lama kususun dengan penuh perhitungan."Kemudian, cinta idaman pria itu pulang dari luar negeri, dan segalanya berubah. Gadis itu masih mencintainya. Mencintai dengan rendah diri dan penuh kepedihan. Sampai suatu hari, pria itu menderita penyakit yang sangat serius, dan dia membutuhkan transplantasi ginjal.""Gadis itu takut membuatnya khawatir, takut dia ketakutan. Dia tidak memberitahu si pria betapa parah penyakitnya, hanya mengatakan itu masalah kecil. Tapi diam-diam, dia mengerahkan seluruh koneksi keluarganya di luar negeri. Tidak peduli berapa pun biayanya, menghabiskan uang yang sangat banyak, dalam waktu sesingkat mungkin menemukan ginjal yang benar-benar cocok untuknya. Ginjal itu seharusnya bisa menyelamatkan nyawa

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 7

    Untuk meluluhkan hatiku, dia mulai mengingat masa lalu dengan gila-gilaan.Satu per satu, Aditya menghitung kenangan manis yang dulu kuanggap sebagai harta paling berharga.Setiap detail, dia ingat begitu jelas.Dia pikir, kenangan-kenangan itu bisa membangkitkan sisa cinta di hatiku, membuatku luluh.Dia menatapku, matanya penuh harap.Namun, aku hanya mendengarkan dengan tenang, wajahku tetap tanpa sedikit pun riak emosi.Setelah dia selesai berbicara, kafe itu kembali terdiam.Beberapa saat kemudian, aku mengangkat cangkir kopi yang sudah benar-benar dingin dan menyesapnya.Lalu, aku mendongak, menatap matanya yang penuh harap, dan perlahan membuka suara."Aditya, aku akan menceritakan sebuah kisah padamu."Dia tertegun, tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba mengatakan hal itu.Aku mengabaikan keterkejutannya dan melanjutkan ceritaku."Dulu sekali, ada seorang gadis kecil yang sangat, sangat kecil. Di suatu musim dingin, salju turun sangat lebat. Dia pergi ke pasar bersama ayah dan ib

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 6

    Siang itu, aku baru saja keluar dari laboratorium dan hendak pergi ke kafe kampus untuk membeli secangkir latte panas.Di dekat jendela kafe, ada sebuah kursi roda, dan di atasnya duduk seorang pria.Dia mengenakan mantel wol tebal, tetapi tetap tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang kurus dan tidak bersemangat.Pipinya sangat tirus. Kulitnya pucat kekuningan seperti orang yang sudah lama sakit. Rongga matanya dalam, bibirnya pecah-pecah. Seluruh dirinya diselimuti aura kematian yang begitu kuat.Namun, aku langsung mengenalinya. Itu adalah Aditya.Aku hanya menatapnya dengan tenang selama beberapa detik, lalu berpaling seolah tidak terjadi apa-apa.Setelah mengambil kopiku, aku segera berbalik dan bersiap keluar lewat pintu lain. Aku tidak ingin terlalu terlibat dengannya."Siska ....""Jangan pergi … kumohon .…" Suaranya terdengar rapuh, penuh permohonan lirih. Roda kursi rodanya berderit pelan di lantai kayu.Aku berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh."Kita bisa bicara?" pintan

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 5

    "Penyakitnya … semakin parah."Suara pengacara itu ditekan sangat pelan, seolah takut didengar orang lain."Katanya sudah masuk stadium akhir. Setiap minggu harus menjalani dialisis beberapa kali. Tubuhnya kurus kering sampai berubah bentuk, hampir tidak bisa lepas dari ranjang.""Yang paling krusial, golongan darahnya sangat langka. Golongan darahnya rhesus negatif yang sangat jarang. Di dalam negeri, bank donor ginjal sama sekali tidak menemukan yang cocok.""Selama setengah tahun ini, Keluarga Yudana sudah mengerahkan semua koneksi, bahkan menaikkan hadiah hingga sebelas digit, tapi tetap belum menemukan donor ginjal yang sesuai."Mendengar semua itu, hatiku tetap tidak bergejolak sedikit pun.Hukum sebab akibat, hanya itu saja.Dia sendiri yang menyingkirkan satu-satunya donor ginjal yang mungkin bisa menyelamatkannya. Sekarang saat dia menginginkannya kembali, tapi tidak bisa mendapatkannya, siapa lagi yang bisa disalahkan?"Tapi ini semua belum yang paling menarik." Nada suara pe

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 4

    Jari-jariku menyapu layar, dengan tegas menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.Dunia seketika menjadi hening.Aku bersandar di sandaran kursi, menurunkan penutup mata, dan membiarkan diri tenggelam dalam kegelapan yang total.Dengungan pesawat bukan membuatku merasa kesal, malah menghancurkan semua kelelahan, ketidakadilan, dan ketidak relaan yang kumiliki selama tiga tahun terakhir, lalu membawaku jauh dari tanah.Selama belasan jam penerbangan, aku tidur dengan nyenyak seperti belum pernah terjadi sebelumnya.Tidak ada mimpi buruk, tidak terbangun tergesa-gesa, bahkan satu pun pikiran tentang Aditya tidak muncul.Pesawat mendarat dengan mulus, pintu kabin dibuka, dan udara asing yang bercampur aroma laut menyerbu hidungku.Aku menarik napas dalam-dalam, rasanya seluruh paru-paruku seakan tersucikan kembali.Aku menghidupkan kembali ponsel. Seperti yang sudah diduga, layar ponsel langsung penuh dengan notifikasi pesan belum dibaca dan panggilan tidak terjawab sampai layar se

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 3

    Shafira tertawa hingga tubuhnya gemetar. Seolah sedang menikmati kehancuran dan keputusasaan yang akan muncul di wajahku.Namun, aku hanya menatapnya dengan tenang, lalu mengangguk sedikit."Mm, mengerti."Tawa Shafira tiba-tiba terhenti.Dia menatapku dengan tidak percaya, seakan melihat hantu."Cuma itu reaksimu?""Memang harusnya bagaimana?" Aku balik bertanya, "Aku harusnya menangis memohon padamu untuk mengembalikan Aditya padaku?""Kamu .…" Dia terdiam seketika, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, wajahnya memerah padam.Aku berdiri, menatapnya dari atas dengan sikap menguasai."Shafira, apa yang kamu inginkan akan kuberikan semuanya padamu.""Tapi kuharap kamu bisa memegangnya dengan mantap."Setelah berkata begitu, aku tidak menatapnya lagi dan berbalik keluar dari ruang perawatan.Di belakangku terdengar teriakan paniknya dan suara benda yang pecah.Sejak saat itu, Aditya makin jarang pulang ke rumah.Dia harus merawat cinta idamannya yang lemah sekaligus menangani pekerj

  • Ginjal untuk Kekasih Lain   Bab 1

    Aku menatap hiruk-pikuk kendaraan di bawah gedung, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan nomor ayahku."Ayah, proyek yang pernah Ayah bilang sebelumnya, aku memutuskan untuk ikut."Di ujung telepon, ayahku langsung terdengar bersemangat."Bagus sekali! Akhirnya kamu mengerti. Yang terpenting adala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status