Home / Romansa / Godaan Liar Sang Pengasuh / Bab 1 Hari pertama yang tak terduga

Share

Godaan Liar Sang Pengasuh
Godaan Liar Sang Pengasuh
Author: Unknown_Book's

Bab 1 Hari pertama yang tak terduga

last update Last Updated: 2025-11-20 16:25:35

Sudah berbulan-bulan Abel tidak mendapatkan pekerjaan. Ia sudah melamar ke banyak penyalur pengasuh, tetapi tak satu pun memberi kabar.

“Hff… sampai kapan begini?” gumam Abel sambil menyapu halaman rumah.

Saat itu pula, sosok yang sangat ia pikirkan tiba-tiba muncul di depan gerbang.

“Bi Olla?” Abel mengerjap, tak percaya.

“Abel, kita bicara di dalam, ya,” balas bibinya, terburu-buru.

Begitu pintu rumah tertutup, Bi Olla langsung bertanya, “Kamu sudah bekerja?”

Abel menggeleng. “Belum, Bi. Memangnya kenapa?”

Bibinya menjawab tanpa basa-basi, “Majikan Bibi—Tuan Leon—butuh pengasuh bayi segera. Bibi bilang kamu terbiasa merawat anak kecil.”

Abel sempat ragu, tapi tekanan ekonomi tak memberinya pilihan.

“Kalau memang ada lowongan… aku mau, Bi. Tapi aku kerjanya cuma jaga bayi, kan?”

“Hanya itu,” jawab Bi Olla cepat, terlalu cepat. “Yang penting kamu siap dengan peraturan rumah itu.”

“Peraturan apa?”

“Nanti kamu tahu.”

Tak lama mereka berangkat. Di perjalanan, Bi Olla menatap dada Abel sesaat—tatapan yang membuat Abel heran.

“Kamu masih keluar ASI, kan?”

Abel mengangguk malu. “Iya Bi… hormonku memang belum stabil.”

“Bagus,” gumam Bi Olla pelan—terlalu pelan.

Abel tidak menangkap apa pun dari nada itu.


Rumah Tuan Leon menjulang besar dan dingin seperti pemiliknya. Saat Bi Olla memperkenalkan Abel, Leon hanya mengangguk tanpa senyum.

“Duduk,” titah Leon.

Abel segera menuruti, menunduk dalam-dalam.

“Nama?”

“A-Abelleza, Tuan. Panggil saja Abel.”

Leon melemparkan selembar kertas. “Ini peraturan di rumah ini. Baca, tanda tangan.”

Abel memutar lembarannya—halaman demi halaman—dan hampir pingsan melihat betapa panjangnya aturan itu.

“Tuan… ini banyak sekali—”

“Kamu punya lima detik.”

Baru hitungan “satu”, Abel langsung menandatangani.

Leon tersenyum tipis, dan itu justru lebih menyeramkan.

“Dengar baik-baik. Tugasmu bukan hanya menjaga putraku.”

Abel mengangkat wajah. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Kamu akan menyusuinya.”

“A-apa?” Abel refleks berdiri. “Bi Olla tidak bilang kalau—”

Leon menatapnya datar. “Jika tidak mau, keluar.”

Abel beku. Ia butuh pekerjaan. Ia butuh penghasilan. Dan ia sudah terlanjur tanda tangan.

“…Baik, Tuan.”


Leon membawanya ke sebuah kamar bernuansa hitam-abu. Tangis bayi menggema dari crib putih di tengah ruangan.

“Kemari,” perintah Leon.

Abel mendekat, gemetar.

“Inilah Arvazio,” katanya. “Susui dia.”

Abel menahan napas. Sial, bagaimana bisa hidupnya berubah secepat ini?

Namun ia mengambil bayi itu perlahan, membawanya ke sofa. Tangisan Arvaz tak juga berhenti.

“Cup… jangan nangis, Nak…” bisik Abel.

Leon berdiri tidak jauh di depannya, kedua tangan di saku, mengawasi seperti seorang hakim menilai terdakwa.

“Tuan… Anda masih di sini?” Abel hampir berbisik.

“Aku harus pastikan kamu melakukannya dengan benar.”

Abel menelan ludah. Tidak ada pilihan. Dengan tangan gemetar ia membuka kancing bajunya satu per satu, memiringkan tubuh agar Leon tidak melihat terlalu jelas.

Ketika Arvaz mulai menyusu, Abel menghela napas lega.

Akhirnya.

“Nama yang bagus…” gumamnya lirih, menatap bayi itu penuh iba.

Leon menatap sebentar lalu berkata, “Jika dia terluka atau kekurangan ASI, kamu orang pertama yang akan menanggung akibatnya.”

Kemudian ia pergi begitu saja.

Pintu menutup.

Abel membeku.

  "Takdirku harus bekerja di sini dan bertemu dengan anak tampan sepertimu," ucap Abel dengan tersenyum tipis.

  Dia mengusap kepala Arvaz dengan lembut, Abel yang memang seorang wanita penyayang dan suka dengan anak-anak jelas saja gemas dengan Arvaz yang sangat tampan itu.

  Tetapi mengingat-ingat lagi ancaman yang diberikan oleh Daddynya membuat Abel bergedik ngeri.

  "Jangan sampai kamu kenapa-napa ya, nanti Sus Abel dibunuh oleh daddymu," gumam Abel sambil membayangkan tatapan tajam dari Leon.

  Seketika sekujur tubuhnya bergedik ngeri. "Menyeramkan."

    

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 25

    Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 24 Pagi Asupan

    Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 23

    Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 22 Berhasil

    Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 21 jatah dari abel

    Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 20

    manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status