MasukAbel menatap Arvaz yang tampak sangat nyaman di pelukannya, wanita itu begitu gemas melihat bagaimana Arvaz yang tertidur dalam pelukannya.
"Udah kenyang sekarang tidurnya malah nyenyak," ucap Abel dengan terkekeh melihat bagaimana cara Arvaz yang tertidur, wanita itu menatap Arvaz yang mulutnya sedikit terbuka ketika tidur. Abel tidak suka dirinya menjadi pengasuh anak seperti ini, dia hanya orang kampung saja dan sudah biasa menjaga anak tetapi menyusui? Tidak pernah terpikirkan dalam benaknya Abel. Tetapi melihat bagaimana Arvaz yang tampak lahapnya menyusu membuat Abel pun merasa kasihan. "Dimana Ibunya, kenapa tidak menyusui anak iini," lirih Abel, terlihat sekali wajah Arvaz sangat tampan membuat Abel yakin Ibunya pasti sangat cantik sekali dan Ayahnya, jangan tanya Abel pun menyukai ketampanannya Leon, hanya saja mata tajam dan wajah dinginnya membuat Abel tidak berani dengannya. Wanita itu sedikit bergedik saat membayangkan wajah Leon yang menatapnya dengan dingin, wanita itu masih teringat bayang-bayangnya Leon saat memperingatinya dan ancaman-ancaman pria itu membuat Abel jadi bergedik ngeri. "Dia tampan seperti dewa yunani tapi... Mirip iblis, yang benar saja dia mau membunuhku," ucap Abel dengan tubuhnya yang seketika merinding membayangkannya, Leon tampan dengan kharismanya itu sehingga Abel diam-diam membayangkan tubuh kekarnya. "Ishh sadarlah Bel, dia menyeramkan. Jangan tertarik dengannya," ucap Abel pada dirinya sendiri. Abel memilih meletakkan Arvaz ke dalam box bayinya, anak itu tampak tenang saat diletakkan di box bayinya. "Sus Abel pergi dulu ya, Sus Abel mau makan dulu soalnya belum ada makan," ucap Abel sambil mengusap lembut pipi Arvaz dan wanita itu segera pergi dari sana meninggalkan Arvaz seorang diri di sana, tak lupa Abel menutup setengah saja pintu kamarnya jika Arvaz menangis dia bisa mendengarnya. Abel turun ke bawah dan melihat banyaknya pelayan di sana, Abel mendekati Bibinya. "Abel, kamu sudah bertemu dengan Tuan kecil?" tanya Bibinya membuat Abel menganggukkan kepalanya. "Dia sangat tampan sekali bayi mungil itu," ucap Abel dengan tersenyum kecil, tetapi teringat satu hal dia pun menatap Bibinya dengan tatapan yang kesal. "Kenapa tidak katakan kepadaku jika aku harus memberikan ASI-ku juga pada anak bayi itu?" tanya Abel dengan tatapannya yang menusuk Bibinya. Bibinya hanya tersenyum saja seolah tidak ada rasa bersalah. "Jika Bibi katakan mungkin saja kamu tidak akan mau, makanya Bibi tidak mengatakannya kepadamu," ucap Bibinya membuat Abel mendesah pelan, entah apa yang Bibinya pikirkan saat itu sehingga meminta Abel untuk menerima tawarannya ini. "Ehmm Bibi... Boleh aku tanya sedikit?" tanya Abel menatap Bibinya, dia sangat penasaran sekali. "Apa?" tanya Bibinya menatap Abel yang tampak berfikir. "Dimana ibunya Arvaz?" tanya Abel membuat mata Bibinya melotot, wanita itu langsung memberikan arahan telunjuk di bibir agar Abel diam. "Sini," ajak Bibinya menarik Abel sedikit jauh dari sana. "Kenapa sih Bi?" tanya Abel heran, dia diseret menuju ke halaman belakang. "Dengarkan Bibi, peraturan yang terutama di kediaman ini tidak boleh menyebut Ibunya Arvaz, mengerti?" Abel semakin heran mendengar ucapan Bibinya, apa salahnya Abel hanya bertanya saja tetapi responnya sangat. berlebihan, seolah sesuatu terjadi. "Memangnya ada apa Bi, kenapa tidak boleh disebut?" tanya Abel lagi dengan heran. Bibinya menggelengkan kepala dengan pelan. "Jangan. sampai menyebutnya, lebih baik diam dan jangan menanyakan apapun, Tuan tidak suka itu," ucap Bibinya lagi. Abel masih berfikir kenapa, tetapi sepertinya ada konflik yang tak biasa. "Sudahlah, Bibi mau kembali bekerja," ucapnya sambil berlalu dari sana. Abel langsung mengejarBibinya. "Bibi, Abel mau makan, perut Abel rasanya laper banget," ucap Abel membuat Bibinya langsung menoleh kepada Abel. "Ini bukan rumah kamu Abel yang bisa minta makan sembarangan," kata Bibinya dengan kesal, keponakannya ini memang sangat aneh sekali. Abel memajukan bibirnya, dia sangat lapar biasanya porsi makan wanita itu memang banyak tetapi syukurnya badannya tetap bagus. "Abel kan menyusui, kalau sampai Abel kenapa-napa nanti bagaimana Tuan kecil?" tanya Abel membuat Bibinya mendengus mendengar ucapannya Abel. "Cepatlah ke belakang, Bibi berikan kamu makan," kata Bibinya membuat Abel sangat senang sekali, wanita itu mengikuti Bibinya ke belakang dan beberapa pelayan ada di sana. Abel menyapa mereka dengan ramah dan mereka juga menyapa Abel dengan ramah, tetapi ada satu pelayan yang tampak tidak menyukainya dan Abel tau itu melihat dari tatapannya. "Tunggulah di sini dulu," ucap Bibinya dan Abel hanya menurut saja kepada Bibinya. "Apa kamu yang menjadi babysitternya Tuan kecil?" tanya mereka dan Abel menganggukkan kepalanya. "Iya Bi, Abel yang menjaga Tuan kecil," ucapnya dengan tersenyum lebar. Abel terlihat cantik dan ramah, mereka senang melihat wanita itu. Tak ma Bibinya datang membawakan makanan, Bibinya pun menjelaskan pada yang lain kalau Abel harus menjaga makannya karena Abel juga menyusui Tuan kecil, Bibinya memberikan penjelasan jika Abel memiliki kelebihan hormon sehingga dia bisa memberikan ASI kepada Tuan kecil, mereka pun mengerti. Beberapa saat Abel selesai makan dia langsung kembali ke kamar Tuan kecil, dilihatnya ternyata di sana ada Leon menatapnya dengan tajam. "Belum sehari kamu kerja sudah mau membuat anak saya mati?" tanya Leon dengan membentak Abel dengan keras. Abel terkejut mendengarnya, apalagi terdengar tangisan Arvaz di gendongannya Leon. "Ma-maaf Tuan," ucap Abel dengan menunduk takut kepada Leon yang tampak sangat galak sekali. "Tidak becus pekerjaanmu!" bentak Leon lagi membuat Arvaz kembali menangis dan leon berusaha menenangkannya. "Perut saja terasa sakit Tuan dan ASi saya bisa tidak keluar jadi saya tidak mengisi perut saya, itu sebabnya saya turun untuk makan sebentar, saya tidak tau kalau Tuan kecil menangis," ucap Abel tidak berani menatap ke arah Leon yang menatap tajam ke arahnya. Pandai sekali dia berkilah, Leon tidak tau benar atau tidaknya dia, tetapi dengan alasan seperti ini sepertinya Abel bisa lepas dari Leon. Leon menahan emosinya meski begitu dia kesal dengan Abel yang ceroboh sekali. "Kemari dan diamkan Arvaz, jika tidak diam maka kamu yang saya lempar ke kandang singa belakang!" Abel menelan salivanya dengan susah payah, dia memberanikan dirinya mendekat kepada Leon dan mengambil Arvaz dari gendongannya Leon yang masih menangis. Di bawah tatapan tajamnya Leon bisa dirasakan oleh Abel aura dingin yang menyelimutinya, dia merasa tubuhnya semakin bergetar. "Sayang jangan nangis ya," ucap Abel membujuknya dengan lembut sambil menimang Arvaz, tetapi sayangnya Arvaz tak juga kunjung berhenti menangis. "Apa dia haus lagi ya, batin Abel melihat Arvaz yang menangis. Abel menuju ke sofa dan langsung duduk di sana ditempat tadi dia menyusui Arvaz, Leon terus memperhatikannya untuk melihat bagaimana Abel menenangkan anaknya. Abel merasa malu dan jantungnya berdebar tetapi dia pun tidak tega melihat bayi kecil ini yang terus saja menangis dalam pelukannya, Abel menghela nafas pelan dan dia mulai menarik bagian dadanya dan memasukkan ke dalam mulutnya Arvaz Benar saja, anak itu tampak diam dan tidak lagi menangis malah menyusu dengan lahap. "Aahh syukurlah," batin Abel merasa lega, dia tidak jadi dilempar ke kandang singa yang Leon maksud. Melihat Abel yang sudah menenangkan Arvaz pria itu pun mendekat kepadanya. "Jika berani kamu meninggalkan Arvaz lagi dan saya mendapati dia menangis tanpa ada yang menjaga, siap-siap saja kamu!" ancam Leon dengan tatapan tegasnya kepada Abel. Abel hanya bisa mengangguk saja mengiyakan ucapannya Leon dan pria itu pergi dari sana meninggalkan Abel yang mau mati saat itu. "Astaga, astaga, Itu Daddymu atau iblis, kenapa dia menyeramkan sekali Ar," kata Abel menatap Arvaz yang kembali tertidur setelah menyusu. Abel memegang dadanya yang berdetak dengan sangat kencang, wanita itu merasa jika dirinya hampir saja mati serangan jantung karena pria itu yang membuatnya terus berdebar karena takut, bukan karena jatuh cinta. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Daddymu menyeramkan sekali," ucap Abel sambil mengusap lembut kepala Arvaz Wanita itu tdak akan berani pergi lagimeninggalkan Arvaz seorang diri, dia hampir saja dipecat dan lebih parah dia akan dilempar ke kandang singa. "Apa di sini memang ada kandang singa," batin Abel tetapi dia berfikir tidak mungkin ada kandang singa di sini, pasti itu hanya bualannya Tuan Leon saja. Yah Abel berfikir seperti itu. Abel menghela nafas pelan, dia menatap ke arah Arvaz yang sudah nyenya tidurnya. "Jangan nangis lagi ya sayangnya Sus," ucap Abel dengan terkikik geli, dirinya sudah dipanggil Sus saja. Abel beranjak dan menuju ke arah box bayinya Arvaz dan meletakkan bayi itu di sana, setelahnya dia kembali ke sofa dan memainkan ponselnya karena pekerjaannya hanya menjaga Arvaz saja Abel ingin mencari tau pria yang bernama Leonardo Valentino itu, siapa dia sepertinya orang yang sangat berkuasa pikir Abel mengingat rumahnya yang sebesar ini dengan pekerja yang sangat banyak di sini. Abel pun segera mencari taunya tetapi tidak ada pemberitaan di sana, hanya tertulis jika Leonardo seorang pengusaha besar dan tidak ada pemberitaan apapun lagi. "Istrinya, yah siapa tau ada di sini," gumam Abel tetapi tidak ada berita yang muncul membuat Abel heran. "Seharusnya ada bukan, gumamnya lagi dan terus mencari tetapi tidak ada juga yang didapatkannya membuat wanita itu malas mencarinya lagi. "Ah sudahlah, bukan urusanku." Abel memilih bermain social media saja dari pada mengurus hal itu, tidak penting juga untuknya. Sedangkan Leon dia berada di ruangan kerjanya, dia memantau Abel dari CCTV di kamar Arvaz " wanita ini," ucap Leon saat melihat Abel bersantai di sofa, dia tidak masalah asal Abel tidak meninggalkan Arvaz lagi, untung tadi dia lewat dan mendengar suara tangisan Arvaz, Leon tidak mau kalau sampai Abel kembali ceroboh. "Untung saja dia bisa memberikan ASI-nya untuk Arvaz, jika tidak aku tidak membutuhkannya," gumam Leon dan ingatannya. tertuju pada bagian gunung kembar yang terlihat bulat dan besar membuat pria itu diam-diam menelan salivanya dengan susah payah. "Sial, kenapa bisa sebesar itu. Ukurannya pasti 40."Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang
Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny
Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman
Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den
Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang
manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau







