Masuk"Karena tesis saya," jawab Jovian pelan tapi yakin. "Prediksi Krisis Melalui Psikologi Massa."
Senyum miring terbit di bibir Vandella. Bingo.
"Tepat," bisik Vandella. Ia membungkuk sedikit, membuat belahan dadanya terlihat samar di balik blazer sutra merah marun itu. "Semua analis di luar sana hanya bicara soal angka, grafik, dan rasio P/E. Membosankan. Tapi kau... kau menulis bahwa pasar saham tidak digerakkan oleh logika, tapi oleh ketakutan dan keserakahan."
Vandella meraih dagu Jovian, memaksa pemuda itu mendongak lebih tinggi. Kuku merahnya yang dingin menekan kulit rahang Jovian.
"Kau memprediksi jatuhnya sektor properti bulan lalu saat semua orang sibuk membeli. Kau bilang, 'Aroma kepanikan sudah tercium dari cara CEO mereka berbicara'. Itu bukan analisis ekonomi, Jovian. Itu analisis perilaku."
Jovian menahan napas. Di dalam kepalanya, alarm berbunyi. Dia tidak mencari akuntan. Dia mencari seseorang yang bisa memanipulasi emosi pasar. Dia mencari monster yang sejenis dengannya.
"Saya hanya mengamati apa yang orang lain abaikan, Madam," jawab Jovian merendah, mempertahankan persona polosnya.
"Jangan berlagak suci," desis Vandella, tapi nadanya terdengar puas. Tangannya turun dari dagu ke dasi Jovian, memainkannya pelan. "Perusahaan ini butuh darah segar. Aku butuh seseorang yang bisa melihat 'manusia' di balik angka-angka itu, lalu menghancurkan mereka dari dalam. Orang lain takut padaku, Jovian. Si Harvard tadi gemetar sampai mengompol hanya karena aku menatapnya tajam. Dia lemah."
Vandella mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya yang beraroma mint dan kopi menerpa bibir Jovian.
"Tapi kau... kau gemetar bukan karena takut, kan?"
Mata Jovian menyipit di balik kacamata. Ia sadar Vandella sedang mengetesnya.
Dia bosan, analisis Jovian dalam hati. Dia memiliki segalanya—uang, kuasa, takhta. Dia mencari mainan yang tidak mudah rusak. Dia melihat potensiku bukan hanya sebagai aset perusahaan, tapi sebagai tantangan pribadi.
"Saya gemetar karena kagum, Madam," dusta Jovian, menyisipkan sedikit getaran dalam suaranya untuk memuaskan ego narsistik Vandella. "Anda... sangat mengintimidasi."
Vandella tertawa kecil. Suara tawa yang gelap dan seksi.
"Kau pembohong yang manis," bisik Vandella. Tiba-tiba, ia bergerak naik, duduk di atas meja kerjanya tepat di depan wajah Jovian, lalu membuka lebar kakinya yang terbalut rok mini.
... "Mari kita lihat..." Vandella menatap Jovian dengan tatapan lapar—kali ini bukan soal saham, tapi soal daging. "Apakah otak jeniusmu itu sejalan dengan nyalimu?"
Vandella menyingkirkan tumpukan analisis pasar di mejanya seolah itu sampah tak berharga. Dengan gerakan lambat yang disengaja, ia naik dan duduk di tepi meja mahoni yang dingin.
Srekk.
Suara gesekan rok mininya yang tertarik ke atas memecah keheningan, mengekspos paha jenjangnya yang mulus tanpa cela. Cahaya lampu meja yang remang memantul di kulitnya yang seputih porselen.
Atmosfer di ruangan itu berubah menjadi vakum yang menyedot oksigen.
"Mendekat," perintahnya. Bukan seruan, tapi bisikan yang wajib dipatuhi.
Jovian melangkah maju satu langkah. Kakinya terasa berat, seolah lantai marmer itu telah berubah menjadi lumpur hisap. Kini ia berdiri tepat di antara kedua kaki Vandella yang terbuka.
Hembusan napas Vandella yang beraroma mint dan kopi menerpa wajah Jovian, bercampur dengan aroma Black Opium yang menguar dari belahan dadanya—wangi vanila yang manis namun beracun. Aroma itu begitu pekat hingga Jovian merasa mabuk tanpa meminum apa pun.
"Kau tegang, Jovian?" goda Vandella.
Tangan sang CEO terangkat. Kuku merah darahnya yang runcing menyentuh jakun Jovian, lalu turun perlahan... sangat perlahan... menelusuri garis kancing kemeja Jovian hingga berhenti tepat di atas jantung yang berdetak liar bak genderang perang.
"Jantungmu berisik sekali," bisik Vandella, bibirnya menyunggingkan senyum miring. "Apakah kau takut padaku? Atau kau justru... menginginkan ini?"
Tanpa memutus kontak mata, Vandella meraih tangan kanan Jovian yang mengepal kaku di sisi tubuh. Ia menarik tangan besar itu, lalu meletakkannya tepat di atas lututnya yang telanjang.
Kulit bertemu kulit.
Jovian menahan napas. Telapak tangannya bisa merasakan suhu tubuh Vandella yang panas membara, kontras dengan dinginnya ruangan ber-AC itu. Tekstur kulit Vandella sehalus sutra, namun otot di balik paha itu terasa kencang—otot seorang predator yang siap menerkam.
"Jangan ditarik," desis Vandella saat merasakan tangan Jovian hendak mundur karena kaget. Cengkeraman tangan wanita itu pada pergelangan tangan Jovian menguat. "Sentuh aku. Rasakan siapa yang sedang kau hadapi."
Vandella memaksa tangan Jovian bergerak naik, merayap dari lutut menuju paha bagian dalam. Semakin tinggi tangan itu naik, semakin besar pupil mata Vandella membesar.
"Analisismu tentang pasar sangat tajam," suara Vandella memberat, berubah menjadi desahan tertahan. "Tapi bisakah kau menganalisis ini? Bisakah kau merasakan betapa 'lapar'-nya aku hanya dengan menyentuh kulit?"
Di dalam kepalanya, Jovian berteriak.
Analisis: Psychological Entrapment. Dia sedang mengaburkan batas profesionalitas untuk melihat apakah aku akan lari (seperti mangsa) atau menerkam (seperti pemangsa). Jika aku menarik tangan, aku lemah. Jika aku meremasnya terlalu kasar, aku kurang ajar. Aku harus diam. Aku harus membiarkan dia memegang kendali.
Jari Jovian bergetar di atas kulit paha dalam Vandella yang sensitif. Ia bisa merasakan denyut nadi wanita itu di sana. Cepat. Memburu. Vandella terangsang oleh kekuasaannya sendiri.
Vandella melepaskan tangan Jovian, membiarkan tangan pemuda itu "tertinggal" di sana, menggantung berbahaya di dekat area terlarangnya.
Lalu, Vandella mencondongkan tubuhnya ke depan. Blazer sutra merah marunnya melorot sedikit, memperlihatkan belahan dada yang berkilau oleh keringat tipis. Ia menempelkan dahinya ke dahi Jovian, memaksa pemuda itu menatap ke dalam matanya yang kelam.
Tangan Vandella yang bebas kini turun drastis, bukan lagi di dada, tapi langsung menekan gundukan di celana bahan Jovian.
Jovian tersentak. Matanya membelalak.
Vandella tidak meremas, hanya menekan dengan telapak tangannya yang dingin, merasakan betapa keras dan siapnya "senjata" Jovian di balik kain itu.
"Kandidat Harvard tadi..." bisik Vandella di bibir Jovian, "dia 'kecil' dalam segala hal. Nyalinya kecil. Ambisinya kecil."
Vandella menekan lebih kuat, membuat Jovian mengerang tertahan.
"Tapi kau..." Vandella menjilat bibir bawahnya sendiri, matanya berkilat liar. "Kau menyembunyikan monster di balik wajah malaikat ini. Aku bisa merasakannya berdenyut di tanganku."
Cengkeraman Vandella di selangkangan Jovian mengetat, sebuah ancaman sekaligus janji kenikmatan.
"Sekarang katakan padaku, Jovian," bisik Vandella menuntut, napasnya panas membakar telinga Jovian. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Gaji 2 digit? Asuransi kesehatan? Atau kau hanya ingin memuaskan ego kecilmu sebagai lulusan terbaik?"
Vandella menggoyangkan pinggulnya sedikit di atas meja, menciptakan gesekan yang menyiksa bagi Jovian yang tangannya masih terperangkap di paha wanita itu.
"Katakan padaku apa yang kau lapar-kan. Apakah uang? Atau..." Vandella melirik ke arah selangkangan Jovian yang ada dalam genggamannya, "...kau ingin masuk ke dalam diriku?"
Hujan deras mengguyur aspal ibu kota saat sebuah mobil van operasional keamanan berwarna hitam milik Arthesia Capital melaju menembus kemacetan. Di kursi belakang, Jovian duduk diapit oleh dua petugas keamanan bertubuh raksasa. Kedua pergelangan tangannya diikat menggunakan zip-tie plastik tebal berlapis ganda."Sayang sekali, Tuan Vaelis," dengus salah satu petugas keamanan yang duduk di sebelah kirinya. "Siapa sangka CFO jenius pujaan perusahaan ternyata adalah seorang mata-mata. Karir Anda tamat hari ini. Madam Vandella telah berpesan agar kami memastikan Anda membusuk di sel tahanan."Jovian tidak membalas. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram, menatap jalanan yang basah. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Sang Ratu. Aktingnya sebagai pria yang baru saja kehilangan segalanya terlihat begitu nyata dan menyedihkan."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Bentakan sopir van keamanan itu tiba-tiba memecah keheningan. Sopir itu menginjak rem dalam-dalam
Vandella menaikkan sebelah alisnya, merangkai jemarinya di atas meja dengan raut wajah terganggu yang sangat natural. "Ibu? Apa-apaan ini? Kita sedang berada di tengah rapat paripurna. Jika Ibu hanya ingin membuat keributan—""Tutup mulutmu, Vandella! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini!" potong Malora kasar.Wanita itu melangkah beringas memutari meja rapat raksasa, mengabaikan tatapan syok dari puluhan direktur dan komisaris. Malora berhenti tepat di seberang Vandella dan Jovian. Dengan satu sentakan arogan, ia merampas map kulit dari tangan Rustam, lalu melemparkannya dengan keras ke tengah meja marmer.Plak! Map itu meluncur dan berhenti tepat di depan Vandella."Selama berbulan-bulan, kau memelihara seekor ular berbisa di sebelahmu, Vandella," desis Malora, menudingkan telunjuknya yang berhias cincin berlian tepat ke arah wajah Jovian. "Kau memberinya kuasa, memberinya posisi CFO, dan bahkan... menidurinya, bukan?! Kau telah diperdaya mentah-mentah oleh musuh terbesar kel
Napas Vandella mengalun teratur, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Jovian. Namun, pikiran Jovian sama sekali tidak sedang beristirahat. Jari-jarinya yang besar membelai rambut hitam Vandella yang bergelombang, sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit, menyusun kepingan-kepingan rencana di kepalanya."Kau sedang berpikir keras," gumam Vandella memecah keheningan. Jari-jarinya bermain pelan di atas kancing kemeja pemuda itu yang terbuka. "Aku bisa mendengarnya dari detak jantungmu."Vandella mendongak, menopang dagunya di dada Jovian. Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik. "Jadi... apa langkahmu selanjutnya untuk meruntuhkan Vance Corp?"Jovian menundukkan pandangannya, menatap wajah cantik di atasnya. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya."Vance Corp tidak bisa diruntuhkan dari luar," jawab Jovian, suaranya berat dan mengalun sangat tenang. "Julian telah membangun benteng yang terlalu tebal selama puluhan tahun. Menyerangny
"Biar aku yang menjelaskannya kepada para dewan direksi yang kebingungan," Jovian mengambil alih. Jovian menatap lurus ke arah para pemegang saham, lalu menjatuhkan pandangannya pada Julian dengan sorot mengejek."Empat jam yang lalu, Arthesia Capital telah resmi melakukan takeover terhadap 45% saham mayoritas divisi pelabuhan dan logistik Lau Holdings di Hong Kong," Jovian mengumumkan dengan artikulasi yang sempurna. "Kita tidak lagi bekerja sama dengan mereka. Mulai detik ini, Arthesia adalah pemilik sah atas seluruh jaringan logistik tersebut. Krisis yang kalian takutkan... tidak pernah ada."Ruang rapat itu meledak dalam bisak-bisik keterkejutan. Wajah para direktur yang tadinya cemas kini berubah menjadi takjub dan lega luar biasa. Mengakuisisi raksasa logistik Asia dalam hitungan jam? Itu adalah manuver yang mustahil dilakukan tanpa cadangan dana likuid raksasa."Dari mana... dari mana kalian mendapatkan dana likuiditas sebesar itu dalam waktu satu malam?!" desis Julian, menatap
Mendengar nama pamannya disebut, seringai di sudut bibir Jovian semakin dalam. Ia mengecup dahi Vandella dengan lembut."Tentu, Sayang," balas Jovian tenang.***Roda-roda pendaratan Gulfstream G650ER menghantam aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengoyak genangan air sisa hujan deras yang baru saja mengguyur ibu kota.Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu pekat, di dalam kabin utama yang mewah, Vandella duduk dengan postur tegak yang sempurna. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita manja dan rapuh yang semalaman menangis dalam orgasme di atas ranjang Ritz-Carlton. Sang Ratu telah kembali mengenakan mahkota berdurinya. Ia mengenakan pantsuit
—meledak."AAARRRGGHH!"Geraman purba Jovian memecah pekatnya udara malam Hong Kong. Pria itu membeku kaku, menghentakkan pinggulnya ke atas dalam satu dorongan pamungkas yang menyentuh dasar terdalam lubang basah Vandella. Dari ujung kejantanannya, gelombang benih yang teramat panas, kental, dan melimpah menyembur deras.Semburan itu menembak bertubi-tubi, membanjiri ruang terdalam rahim Vandella. Tubuh wanita itu mengejang hebat di udara, liangnya memeras batang Jovian dengan hisapan vakum yang seakan ingin menyerap jiwa pria tersebut.Vandella menangis tanpa suara. Air mata kelegaan dan kenikmatan mengalir membasahi bahu Jovian. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma keringat maskulin yang kini menjadi candu baginya.Di bawah pendar lampu kota yang berkedip dari kejauhan, mereka berdua terdiam dalam posisi saling mengunci di udara terbuka. Kaki Vandella yang melingkar di pinggang Jovian perlahan melemas, kehilangan seluruh tenaganya. Hanya lengan Jovian







