Share

Bab 3

Author: kodav
last update Last Updated: 2026-02-19 19:15:28

"Karena tesis saya," jawab Jovian pelan tapi yakin. "Prediksi Krisis Melalui Psikologi Massa."

Senyum miring terbit di bibir Vandella. Bingo.

"Tepat," bisik Vandella. Ia membungkuk sedikit, membuat belahan dadanya terlihat samar di balik blazer sutra merah marun itu. "Semua analis di luar sana hanya bicara soal angka, grafik, dan rasio P/E. Membosankan. Tapi kau... kau menulis bahwa pasar saham tidak digerakkan oleh logika, tapi oleh ketakutan dan keserakahan."

Vandella meraih dagu Jovian, memaksa pemuda itu mendongak lebih tinggi. Kuku merahnya yang dingin menekan kulit rahang Jovian.

"Kau memprediksi jatuhnya sektor properti bulan lalu saat semua orang sibuk membeli. Kau bilang, 'Aroma kepanikan sudah tercium dari cara CEO mereka berbicara'. Itu bukan analisis ekonomi, Jovian. Itu analisis perilaku."

Jovian menahan napas. Di dalam kepalanya, alarm berbunyi. Dia tidak mencari akuntan. Dia mencari seseorang yang bisa memanipulasi emosi pasar. Dia mencari monster yang sejenis dengannya.

"Saya hanya mengamati apa yang orang lain abaikan, Madam," jawab Jovian merendah, mempertahankan persona polosnya.

"Jangan berlagak suci," desis Vandella, tapi nadanya terdengar puas. Tangannya turun dari dagu ke dasi Jovian, memainkannya pelan. "Perusahaan ini butuh darah segar. Aku butuh seseorang yang bisa melihat 'manusia' di balik angka-angka itu, lalu menghancurkan mereka dari dalam. Orang lain takut padaku, Jovian. Si Harvard tadi gemetar sampai mengompol hanya karena aku menatapnya tajam. Dia lemah."

Vandella mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya yang beraroma mint dan kopi menerpa bibir Jovian.

"Tapi kau... kau gemetar bukan karena takut, kan?"

Mata Jovian menyipit di balik kacamata. Ia sadar Vandella sedang mengetesnya.

Dia bosan, analisis Jovian dalam hati. Dia memiliki segalanya—uang, kuasa, takhta. Dia mencari mainan yang tidak mudah rusak. Dia melihat potensiku bukan hanya sebagai aset perusahaan, tapi sebagai tantangan pribadi.

"Saya gemetar karena kagum, Madam," dusta Jovian, menyisipkan sedikit getaran dalam suaranya untuk memuaskan ego narsistik Vandella. "Anda... sangat mengintimidasi."

Vandella tertawa kecil. Suara tawa yang gelap dan seksi.

"Kau pembohong yang manis," bisik Vandella. Tiba-tiba, ia bergerak naik, duduk di atas meja kerjanya tepat di depan wajah Jovian, lalu membuka lebar kakinya yang terbalut rok mini.

... "Mari kita lihat..." Vandella menatap Jovian dengan tatapan lapar—kali ini bukan soal saham, tapi soal daging. "Apakah otak jeniusmu itu sejalan dengan nyalimu?"

Vandella menyingkirkan tumpukan analisis pasar di mejanya seolah itu sampah tak berharga. Dengan gerakan lambat yang disengaja, ia naik dan duduk di tepi meja mahoni yang dingin.

Srekk.

Suara gesekan rok mininya yang tertarik ke atas memecah keheningan, mengekspos paha jenjangnya yang mulus tanpa cela. Cahaya lampu meja yang remang memantul di kulitnya yang seputih porselen.

Atmosfer di ruangan itu berubah menjadi vakum yang menyedot oksigen.

"Mendekat," perintahnya. Bukan seruan, tapi bisikan yang wajib dipatuhi.

Jovian melangkah maju satu langkah. Kakinya terasa berat, seolah lantai marmer itu telah berubah menjadi lumpur hisap. Kini ia berdiri tepat di antara kedua kaki Vandella yang terbuka.

Hembusan napas Vandella yang beraroma mint dan kopi menerpa wajah Jovian, bercampur dengan aroma Black Opium yang menguar dari belahan dadanya—wangi vanila yang manis namun beracun. Aroma itu begitu pekat hingga Jovian merasa mabuk tanpa meminum apa pun.

"Kau tegang, Jovian?" goda Vandella.

Tangan sang CEO terangkat. Kuku merah darahnya yang runcing menyentuh jakun Jovian, lalu turun perlahan... sangat perlahan... menelusuri garis kancing kemeja Jovian hingga berhenti tepat di atas jantung yang berdetak liar bak genderang perang.

"Jantungmu berisik sekali," bisik Vandella, bibirnya menyunggingkan senyum miring. "Apakah kau takut padaku? Atau kau justru... menginginkan ini?"

Tanpa memutus kontak mata, Vandella meraih tangan kanan Jovian yang mengepal kaku di sisi tubuh. Ia menarik tangan besar itu, lalu meletakkannya tepat di atas lututnya yang telanjang.

Kulit bertemu kulit.

Jovian menahan napas. Telapak tangannya bisa merasakan suhu tubuh Vandella yang panas membara, kontras dengan dinginnya ruangan ber-AC itu. Tekstur kulit Vandella sehalus sutra, namun otot di balik paha itu terasa kencang—otot seorang predator yang siap menerkam.

"Jangan ditarik," desis Vandella saat merasakan tangan Jovian hendak mundur karena kaget. Cengkeraman tangan wanita itu pada pergelangan tangan Jovian menguat. "Sentuh aku. Rasakan siapa yang sedang kau hadapi."

Vandella memaksa tangan Jovian bergerak naik, merayap dari lutut menuju paha bagian dalam. Semakin tinggi tangan itu naik, semakin besar pupil mata Vandella membesar.

"Analisismu tentang pasar sangat tajam," suara Vandella memberat, berubah menjadi desahan tertahan. "Tapi bisakah kau menganalisis ini? Bisakah kau merasakan betapa 'lapar'-nya aku hanya dengan menyentuh kulit?"

Di dalam kepalanya, Jovian berteriak.

Analisis: Psychological Entrapment. Dia sedang mengaburkan batas profesionalitas untuk melihat apakah aku akan lari (seperti mangsa) atau menerkam (seperti pemangsa). Jika aku menarik tangan, aku lemah. Jika aku meremasnya terlalu kasar, aku kurang ajar. Aku harus diam. Aku harus membiarkan dia memegang kendali.

Jari Jovian bergetar di atas kulit paha dalam Vandella yang sensitif. Ia bisa merasakan denyut nadi wanita itu di sana. Cepat. Memburu. Vandella terangsang oleh kekuasaannya sendiri.

Vandella melepaskan tangan Jovian, membiarkan tangan pemuda itu "tertinggal" di sana, menggantung berbahaya di dekat area terlarangnya.

Lalu, Vandella mencondongkan tubuhnya ke depan. Blazer sutra merah marunnya melorot sedikit, memperlihatkan belahan dada yang berkilau oleh keringat tipis. Ia menempelkan dahinya ke dahi Jovian, memaksa pemuda itu menatap ke dalam matanya yang kelam.

Tangan Vandella yang bebas kini turun drastis, bukan lagi di dada, tapi langsung menekan gundukan di celana bahan Jovian.

Jovian tersentak. Matanya membelalak.

Vandella tidak meremas, hanya menekan dengan telapak tangannya yang dingin, merasakan betapa keras dan siapnya "senjata" Jovian di balik kain itu.

"Kandidat Harvard tadi..." bisik Vandella di bibir Jovian, "dia 'kecil' dalam segala hal. Nyalinya kecil. Ambisinya kecil."

Vandella menekan lebih kuat, membuat Jovian mengerang tertahan.

"Tapi kau..." Vandella menjilat bibir bawahnya sendiri, matanya berkilat liar. "Kau menyembunyikan monster di balik wajah malaikat ini. Aku bisa merasakannya berdenyut di tanganku."

Cengkeraman Vandella di selangkangan Jovian mengetat, sebuah ancaman sekaligus janji kenikmatan.

"Sekarang katakan padaku, Jovian," bisik Vandella menuntut, napasnya panas membakar telinga Jovian. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Gaji 2 digit? Asuransi kesehatan? Atau kau hanya ingin memuaskan ego kecilmu sebagai lulusan terbaik?"

Vandella menggoyangkan pinggulnya sedikit di atas meja, menciptakan gesekan yang menyiksa bagi Jovian yang tangannya masih terperangkap di paha wanita itu.

"Katakan padaku apa yang kau lapar-kan. Apakah uang? Atau..." Vandella melirik ke arah selangkangan Jovian yang ada dalam genggamannya, "...kau ingin masuk ke dalam diriku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 13

    Lidah itu terasa begitu hangat dan basah, bergerak dengan ritme yang lambat namun menuntut dari pangkal hingga ke ujung kejantanan Jovian.Jovian memejamkan mata erat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sensasi hangat yang luar biasa di tengah kegelapan ruangan. Ia sedang berbaring terlentang di atas sofa, mencengkeram kain pelapis sofa hingga buku jarinya memutih. Di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, ia bisa merasakan siluet seorang wanita yang sedang berlutut, menyibukkan diri dengan titik paling sensitif miliknya."Ahhh... Binar... pelan-pelan sayang..." erang Jovian parau. Aroma stroberi yang manis seolah memenuhi indra penciumannya.Wanita itu mendongak sebentar. Di bawah cahaya remang yang menerobos dari jendela, Jovian melihat kacamata bulat dan rambut bobcut

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 12

    "A…ada tikus besar, Pah!!!" Binar tersentak keras, menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Jovian seolah mencari perlindungan sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu.Langkah Paul terhenti seketika. "Hah? Tikus besar??" Paul menolehkan wajahnya ke arah bagian rumah yang ditunjuk Binar.Detik itu juga, transformasi luar biasa terjadi pada diri Pendeta Paul. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, tiba-tiba berubah menjadi putih pucat seputih kapas. Matanya yang tajam kini membelalak ngeri, pupilnya mengecil drastis. Wibawa sang pendeta yang berwibawa menguap habis dalam hitungan seper seratus detik."OMG!!! TUHAN YESUS!!!" pekik Paul tiba-tiba dengan nada suara melengking tinggi yang sangat feminim, nyaris menyerupai jeritan histeris yang sama sekali tidak gagah.

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 11

    Suara deru mesin dan kilatan lampu SUV hitam dari luar menghantam kesadaran Jovian dan Binar seperti tamparan telak. Genggaman hangat tangan Binar pada kejantanan Jovian seketika terlepas, meninggalkan rasa dingin yang mendadak menggigit kulit. Wajah Binar berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap pintu depan yang perlahan terbuka dengan derit panjang, menyingkap celah sempit cahaya jalanan yang mulai menyusup ke dalam ruang tamu yang redup.Tidak ada waktu untuk bersembunyi. Tidak ada waktu untuk menarik ritsleting atau merapikan piyama. "Monster" Jovian yang berdenyut ungu—masih basah kuyup oleh hasrat yang memuncak—sudah terlanjur melompat keluar dengan kurang ajar dari balik celananya.Jovian dihantam adrenalin gila yang membuat jantungnya serasa ingin meledak, namun otaknya bekerja cepat saat insting liarnya mengambil alih.Sebuah seringai tipis namun dingin terlintas di bibir Jovian. Gerakannya secepat kilat, nyaris tidak terlihat di dalam pencahayaan yang remang-

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 10

    Dalam hening yang menyesakkan, Jovian mematung. Matanya yang menggelap karena nafsu menelusuri setiap jengkal tubuh polos Binar yang tergeletak pasrah di bawah dekapannya. Keringat tipis berkilau di atas kulit Binar yang seputih porselen, menciptakan bias cahaya yang sangat sensual. Jovian memperhatikan bagaimana dada Binar yang ranum naik-turun dengan cepat, mencoba menangkap oksigen di tengah kabut berahi yang mencekik.Pandangan Jovian merambat turun, menyisiri paha mulus Binar yang masih sedikit bergetar, hingga ke leher jenjangnya yang kini dihiasi rona merah akibat ciuman-ciuman panas tadi. Setiap jengkal tubuh Binar seolah mengundang Jovian untuk melangkah lebih jauh, untuk menuntaskan dahaga yang selama ini tertahan.“Ayo Jovian, tinggal sedikit lagi,..!” suara iblis dalam benaknya berteriak parau, m

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 9

    Napas Binar tersentak hebat, sebuah kejutan elektrik yang merambat ke seluruh sarafnya saat merasakan kain tipis pakaian dalamnya ditarik paksa ke bawah oleh tangan besar Jovian yang kokoh. Suara kain yang bergesekan dengan kulit paha terdengar sangat nyaring, memecah kesunyian ruang tamu yang seolah ikut menahan napas. Cahaya lampu yang redup dari pojok ruangan memberikan bias jingga, memperlihatkan pemandangan yang sanggup melumpuhkan logika pria mana pun; paha Binar yang putih bersih kini merona merah muda karena gairah yang meluap, dengan area sensitif yang sudah berkilau basah, memantulkan sedikit cahaya remang yang menggoda.Kemurnian yang selama ini dijaga Jovian dengan penuh rasa hormat seolah sedang memohon untuk dirusak malam ini. Jovian tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang menuntut, ia menyibakkan piyama sutra merah muda Binar ke atas, mengekspos bentuk tubuh gadis itu yang masih sanga

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 8

    Jovian tertegun. Sebelum ia sempat bertanya, wanita itu sudah membereskan segalanya dan pergi setengah berlari. Jovian tetap tenang. Alih-alih panik karena dikuntit, sebuah senyum tipis yang sarat akan makna muncul di sudut bibirnya saat ia menatap pantulan spion motornya. Jovian melihat sekilas sebuah tangan yang memegang ponsel. Cahaya dari layar ponsel itu berkedip singkat dari dalam kegelapan kabin belakang, menerangi separuh wajah seorang wanita yang tampak sedang mengamati gerak-geriknya.Ia sengaja merapikan rambutnya perlahan, memberi waktu bagi sosok di dalam mobil itu memperhatikannya dengan cukup jelas. Setelah memastikan "umpan" telah ditelan, Jovian menyalakan mesin motornya dan melaju pergi, meninggalkan area parkir Arthesia Capital tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Di dalam kabin belakang sedan hitam yang kedap suara, seorang wanita duduk de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status