Beranda / Romansa / Godaan Panas Pegawai Magang / Bab. 05. Istri Lain Suamiku

Share

Bab. 05. Istri Lain Suamiku

Penulis: Kurnia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 16:56:47

Aku menggelengkan kepala, heran dengan pemikiran Intan.

Kami berdua duduk bersama setelah mengambil nampan berisi makanan.

"Intan, anakmu sekarang sudah kelas berapa, ya? Terakhir aku bertemu dengannya... Sekitar dua tahun lalu," tanyaku, teringat anak semata wayang Intan.

Intan memasukkn sesuap nasi ke dalam mulutnya, lalu menjawab, "Anakku tinggal di asrama, sesuai keinginannya."

Aku tidak menyangka, Intan akhirnya memperbolehkan anaknya dididik orang lain. Kalau aku jadi Intan, aku mungkin tak akan merelakan anakku dibawa jauh dariku.

Setiap orang memiliki prinsip masing-masing. Aku tidak boleh membanding-bandingkan hidupku dengan Intan.

"Oh ya, gimana rumahmu yang di Prima Cube? Pasti sudah selesai dibangun dong...." Intan menyenggol pundakku, alisnya naik-turun saat memandangku. "Sudah pindah rumah?"

Aku menghembuskan napas berat. "Boro-boro pindah rumah. Rumahku yang di Prima Cube saja belum rampung digarap," jelasku.

Keterkejutan Intan membuatku tersentak. Ada apa dengannya? Kebiasaannya yang over reaction tidak pernah berubah.

"Satu tahun yang lalu adikku membeli tanah di Prima Cube. Dia membangun rumah tiga lantai, dan kemarin selesai, malah sekarang sudah ditempati," beber Intan, panjang lebar.

*Cepat sekali?" timpalku, berpikir keras.

"Kamu pasti lagi bangun rumah mewah, ya? Mangkanya belum selesai-selesai," sindir Intan, tersenyum jahil.

Aku sebal sekali, semua perkataan yang diucapkan Intan meracuni isi kepalaku, membuatku pusing karena berpikir negatif mengenai suamiku tercinta.

Tak berselang lama, Leon muncul bersama Desy yang seperti terus berusaha menempeli Leon.

Leon duduk di hadapanku tanpa permisi, atau hanya sekedar mengucapkan sepatah kata.

"Wah... Siapa laki-laki tampan yang duduk di depanmu, Lia?" Intan menggodaku sambil mencolek-colek lenganku.

Dih, dia kira aku sabun colek?

"Perkenalkan, saya calon suami kedua Mbak Lia," ucap Leon, penuh kebanggaan.

Tentu, detik itu juga aku menyangkal, dan membeberkan bahwa Leon ini orangnya memang doyan nyablak. Kalau ngomong suka nggak di pakai otaknya.

"Mbak Lia di kantor didekati cowok ganteng. Pantesan betah kerja terus," sahut Desy. Nada suaranya terdengar tak ramah.

Pasti Desy kesal dengan perkataan Leon yang seolah-olah tertarik denganku.

Aku menyentuh punggung tangan Desy. "Kamu jangan salah paham. Leon hanya bercanda," terangku, meyakinkannya.

"Warna dan gaya rambutmu... Seperti familiar. Aku kayak pernah lihat. Tapi di mana ya??" Intan menarik perhatiaannya untuk Desy.

"Oh iya! Kamu 'kan wanita yang aku lihat di hotel bersama suami Lia!" cetus Intan, heboh sendiri.

Aku menatap Desy dengan seksama, memperhatikan bagaimana wajahnya mulai pucat. Jemarinya saling meremas gelisah, seakan tidak tahu harus berpegangan pada apa.

Sorot matanya yang bergetar, gelagatnya yang kikuk, jelas menunjukkan bahwa Desy menyimpan sesuatu dariku.

Dengan napas yang terasa berat, aku menuntut jawaban dari Desy atas pernyataan atau tuduhan berani yang dilontarkan Intan, sahabatku.

Dengan tingkah manja, Desy mencoba menenangkan suasana. Ia meraih ujung rambutnya, memutarnya dengan gugup sambil sesekali melirikku. Senyum tipis ia paksa, tapi sorot matanya yang penuh kecemasan, tidak bisa ia tutupi dariku.

"Mbak Lia... Aku memang pernah pergi ke hotel bersama Paman Yuan. Tapi... Bukan untuk melakukan hal-hal aneh, kok. Mbak Lia percaya padaku, 'kan?" ucapnya, berusaha membujukku dan membela dirinya sendiri.

Aku tersenyum lembut sambil menganggukan kepala. "Iya, aku percaya sama kamu. Lagipula, kamu dan Mas Yuan adalah keluarga," balasku, bijaksana.

Intan berdecap, seakan tak senang dengan tanggapan yang aku berikan.

"Kalau aku sih... Aku nggak bakal mau pergi ke hotel bersama pamanku sendiri. Buat apa? Menggelikan sekali," cibir Intan tanpa ragu.

Selain suka bertingkah berlebihan, dan blak-blakan, Intan juga kerap kali melontarkan kalimat atau kata-kata pedas untuk sesuatu yang tak sepemikiran dengannya.

"Ngapain kamu pergi ke hotel bersama pamanmu? Pakek pegangan tangan segala?" sosor Intan menyudutkan Desy. "Orang lain yang nggak tahu hubungan kalian, bakal ngira kalau kalian sepasang kekasih," imbuhnya, heran.

Aku meminta Intan untuk tak lagi memojokkan Desy, dan melanjutkan makan siang.

"Lia... Kamu bodoh sekali," gerutu Intan, kesal.

Aku hanya membalasnya dengan senyum. Tak lama kemudian, notifikasi ponselku berbunyi, aku pun membuka pesan yang ternyata dari suamiku.

Dalam pesan, suamiku mengirim foto rumah kami yang sedang dikerjakan. Suamiku juga memintaku mengirim sejumlah uang untuk membeli bahan bangunan.

Tanpa pikir panjang, aku mengirim uangku ke rekening suamiku. Setelah menyimpan kembali ponselku ke dalam saku, tatapanku bertemu dengan tatapan Leon.

"Leon, jangan lupa. Nanti kamu lembur," ucapku mengingatkannya.

"Lembur untuk apa? Semua tugas yang kamu berikan, sudah selesai," jawab Leon, santai.

"Apa?" Aku tidak percaya.

Hey, aku memberi Leon setumpuk dokumen yang harus ia input. Mana mungkin ia bisa menyelesaikannya dalam sekejap. Memangnya ia sakti? Tak masuk akal.

"Aku lihat sendiri kok, Mas Leon memang sudah mengerjakan semuanya. Soalnya aku yang diminta Mas Leon untuk menandai kertasnya,” sahut Desy, membela Leon.

Intan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi pada kinerja Leon yang gesit.

"Lia memiliki bawahan yang mempuni. Kamu akan menjadi orang sukses." Tanpa ragu Intan memuji Leon.

"Terima kasih, aku selalu bersemangat saat mengerjakan tugas dari Mbak Lia," timpal Leon, tersenyum tipis untuk Intan.

"Aduh... Gantengnya. Jadi pengen nikah lagi, nih," kelakar Intan, tertawa kecil.

Aku merinding dengan kegenitan Intan. Janda satu ini memang lagi gatal-gatalnya.

"Pengen nikah lagi? Kenapa kamu tidak bilang? Aku bisa menikahimu," sahut Kevin, entah muncul dari mana, tapi ia sudah berdiri di dekat Intan.

"Kenapa orang gila ada di kantin kantor?" gumamnya, melototiku.

Aku mengalihkan perhatian Kevin dengan memberitahunya bahwa menu makan siang untuknya telah disiapkan khusus.

Tapi sepertinya Kevin tidak peduli. Ia terus memandang Intan, seolah menunggu sahabatku menyapanya.

Dengan senyum yang amat sangat terlihat tidak iklas, Intan menyambut Kevin. Ia mempersilakan Kevin duduk di samping Leon, berhadap-hadapan dengannya.

"Pak Direktur... Apa kabar? Lama tidak bertemu, ya. Dilihat-lihat makin ganteng aja, nih." Mode penjilat Intan keluar.

Benar saja, pujian palsu Intan mampu membuat Kevin luluh, dan memasang wajah tolol.

Sebenarnya aku sudah tahu kalau Intan dan Kevin dulu pernah berpacaran. Namun, berhubung perusahaan tak memperbolehkan sesama karyawan memiliki hubungan romantis, mereka pun mengakhiri kisah cinta mereka dan memilih karier.

Bahkan aku ingat, Intan sempat dipindahkan ke Thailand beberapa tahun akibat skandal ini, dan Kevin harus dijatuhi denda yang jumlahnya tidak sedikit.

Pokoknya, perusahaan ini... Anti-romantic.

"Intan, apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kantin di kantormu tidak masak?" tanya Kevin, heran.

Intan tertawa kecil. "Pengen aja makan di sini. Sekalian bertemu teman lamaku," jawabnya, sok manis.

"Hanya itu?" tanya Kevin, agak kecewa.

"Ah... Aku juga hendak mengurus surat dinas untuk diriku dan Lia yang akan dikirim perusahaan ke Singapura," terang Intan.

Aku sudah mengetahui hal itu. Aku ditunjuk secara pribadi oleh CEO Vici Industri untuk datang ke acara penting yang akan diselenggarakan di Singapura.

Aku juga tidak mengerti, mengapa CEO baru memilihku. Mungkin karena dulu aku pernah menjadi Sekretaris pribadi CEO lawas. Suatu kehormatan untukku.

"Bagus, kalian bisa bertemu CEO baru. Sampaikan salamku padanya, ya," pesan Kevin.

Pasti akan kami sampaikan, itu pun... Kalau kami bertemu secara langsung dengan Pak CEO.

***

Gara-gara Intan yang ngoceh sembarang soal suamiku tadi, aku jadi kepikiran. Maka dari itu, untuk menghilangkan kecemasanku, aku mendatangi rumahku di Prima Cube.

Begitu sampai di rumahku yang masih dibangun, aku merasa janggal dan aneh. Sesuai ingatanku, dulu aku membeli tanah kaplingan di dekat aliran sungai. Tapi, kenapa rumahku berpindah di dekat pintu masuk?

Bukannya menghubungi suamiku untuk mengonfirmasi, aku justru menghubungi Pak Yulian pemilik perumahan.

Entah sebuah keruntungan atau hanya sekedar kebetulan, Pak Yulian berada di cafe yang letaknya tak jauh dari perumahan. Aku pun bergegas menemuinya.

Begitu sampai di cafe, Pak Yulian yang tak sendirian, melainkan bersama Pak RT, menyambutku dengan baik.

"Mbak Lia ini... Berhati malaikat. Membeli tanah dan membangun rumah tiga lantai, lalu memberikannya pada suami dan istri muda Pak Yuan," beber Pak Yulian, disela obrolan basa-basi kami.

"Apa maksud anda?" tanyaku, menganggap jika telingaku tuli.

Pak Yulian dan Pak RT saling memandang bingung satu sama lain.

Aku meminta penjelasan mengenai sungai di dekat tanah yang aku beli. Maksudku, mengapa sungai itu menghilang?

Dan jawaban yang diberikan Pak Yulian membuatku terkejut, sekaligus tercengang.

Suamiku selama ini menipuku, dan mengirim foto palsu mengenai rumah kami yang masih dibangun.

Padahal, faktanya, rumah kami sudah selesai dibangun dua tahun lalu. Bahkan sudah ditempati oleh suamiku dan istri barunya.

Jantungku terasa sangat sakit, seperti dihantam keras oleh palu raksasa.

Dadaku sesak mengetahui bahwa suamiku memiliki wanita lain. Aku... Sama sekali tidak menyangka.

Ini... Terlalu mengejutkan.

Gongnya, sertifikat tanah dan bangunan yang awalnya atas namaku, kini berubah menjadi hak milik suamiku. Bagaimana ini bisa terjadi?

Apakah karena aku terlalu percaya pada suamiku.

Untuk membuatku lebih yakin, Pak RT dan Pak Yulian mengajakku melihat rumah yang seharusnya menjadi rumah impianku.

Begitu melihat rumah yang aku disain sendiri, aku tak kuasa menahan air mataku. Aku menangis sesenggukan.

"Mbak Lia, saya minta maaf. Seharusnya saya menghubungimu saat Pak Yuan mengalihkan kepemilikan rumah." Pak RT sepertinya merasa bersalah.

Aku mencoba tetap tegar, dengan menghapus air mataku, dan memaksa untuk tersenyum.

"Bukan kesalahan, Bapak," kataku, bersuara parau.

"Pak Yuan bersama istri mudanya, hanya sesekali menginap di rumah ini," terang Pak RT.

"Pak... Siapa istri muda suamiku?" tanyaku, pelan.

"Soal itu... Karena mereka menikah siri, datanya tidak tercatat dengan benar. Dan juga, karena mereka hanya sesekali datang, nama isri muda Pak Yuan juga tidak diketahui."

Dalam kekecewaan, aku mengangguk mengerti. Aku akan mencari tahu sendiri, siapa istri Mas Yuan yang lain. Aku juga meminta Pak RT dan Pak Yulian untuk melupakan hari ini.

"Anggap saja kita tidak pernah bertemu, dan tolong... Jangan bilang suamiku kalau aku datang. Ini, urusan rumah tanggaku. Aku tidak ingin melibatkan kalian."

Kalimat itu bukan permintaan, melainkan ancaman terselubung untuk Pak Yulian dan Pak RT.

Jika mereka memberitahu Mas Yuan kalau aku datang ke Prima Cube, aku akan menyeret mereka. Dan menuduh mereka sebagai mafia tanah.

Dasar sinting, bisa-bisanya mereka memindahkan nama kepemilikan tanpa persetujuan dariku.

"Mas Yuan... Beraninya kamu menginjak-nginjakku. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu."

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 32. KEHIDUPAN ASLI LEON

    Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 31. BERTEMU CALON IBU MERTUA

    Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 30. HAMPIR BERCINTA DI MEJA DAPUR

    Aku tertawa melihat Desy kebingungan."Desy... Desy... Rumah ini dibangun menggunakan uangku. Tentu saja, rumahku. Masak... Rumahmu?" ledekku."Ini rumah Mas Yuan yang dikasih ke aku!" ujar Desy, menyangkal pernyataanku.Suara tawaku semakin kencang. Kalimat yang dilontarkan Desy barusan, sangat menghiburku.Baiklah, aku harus menghentikan tawaku dan memberitahu Desy yang sebenarnya. "Mas Yuan menipumu," kataku."Apa? Menipuku? Enggak mungkin. Rumah ini... Mahar dari Mas Yuan," gumam Desy, terduduk di atas lantai dengan tubuh lemas. "Mas Yuan keterlaluan! Tak hanya menikahiku secara palsu, bahkan dia menikahimu dengan mahar palsu! Benar-benar berengs*k!" seruku, sambil menghentakkan kakiku, pura-pura kesal. "Desy... Bagaimana jika kamu pastikan dulu, apakah harta gono-gini yang diberikan Yuan itu beneran asli," saran Leon, yang sedari tadi diam. Aku langsung setuju dengan Leon. "Mas Yuan j

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 29. AKHIRNYA BERCERAI JUGA

    Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak Desy tepat di wajah Mas Yuan. 'Plak!' Satu tamparan keras menghantam pipi Desy hingga wanita itu terhuyung, dan jatuh di atas lantai.Semua orang tercengang, tak terkecuali aku. Pak Wan buru-buru naik ke atas panggung untuk menolong putrinya yang akan mendapat pukulan lagi dari Mas Yuan. Bisik-bisik dari tamu mulai bermunculan. Aksi tak terduga Mas Yuan sangat cocok untuk dijadikan bahan gosip. Ah sial, aku ingin sekali tertawa lepas. Tapi aku harus menahannya. Simpan perayaan ini untuk nanti di rumah."Wanita sialan! Coba ulangi kata-katamu!" perintah Mas Yuan, menarik rambut Desy.Dilihat dari respons Mas Yuan yang begitu marah, di

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 28. DRAMA RESEPSI DIMULAI

    “Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu. Maka dari itu, aku sarankan untuk menceraikan Mas Yuan,” kataku, meyakinkan Desy.Aku membeberkan semua keburukan Mas Yuan selama kami tinggal bersama pada Desy. Aku juga mengatakan bahwa aku tak ingin Desy bernasib sama sepertiku, terbuang, dikhianati, dan diperlakukan seperti sapi perah.“Kamu sudah masuk dunia hiburan. Penghasilanmu bisa mencapai ratusan juta sekali posting. Kamu kira, Mas Yuan tidak akan memanfaatkan itu? Dia akan menghisapmu, menyuruhmu membayar biaya hidu

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 27. PILIHAN SULIT DESY

    Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, aku bakal menghabiskan sisa hidupku dengan meratap dan menangis?" ucapku, tersenyum miring."Aku... Akan melanjutkan hidupku dengan suka cita. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki pengganti Yuan," imbuhku, sambil terus memandang rendah Desy.Desy yang semula terduduk di lantai, perlahan mendirikan tubuhnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengembalikan ekspresi wajahnya yang tadi bengong seperti orang kehilangan jiwa, menjadi Desy yang sombong, manja, dan penuh percaya diri.Tatapan matanya kembali tajam, dagunya sedikit terangkat, seolah tak pernah ada momen rapuh yang barusan singgah. Ia kembali mengenakan topengnya dengan rapi, menutup segala kegamangan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status