Beranda / Romansa / Godaan Panas Sang Asisten CEO / 5. Aku Tetap Pemenangnya

Share

5. Aku Tetap Pemenangnya

Penulis: Dezaa_Author
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 01:16:23

“Leon, katakan pada Mama bahwa kau hanya main-main saja dengan wanita itu, kan?”

Suara Maria terdengar lembut, hampir seperti rayuan seorang ibu.

Ia memaksakan senyum yang tampak manis, meski kegelisahan jelas tercetak di wajahnya.

Maria berpikir, “kalau aku bicara lebih pelan, mungkin dia mau mendengar.”

“Kau tidak mungkin serius pada wanita seperti dia. Mama tahu sendiri siapa itu Leon Karlsson.”

Leon bersandar di sofa kerjanya. Matanya memandang ibunya dengan lelah. Tapi kali ini, ia tidak langsung bersikap dingin. Hanya diam dan mencoba mendengarkan.

Maria menangkap itu. Sedikit lega menyelinap ke dadanya.

“Leon, selama ini Mama hanya diam,” lanjutnya. Tangannya merapikan bros di dadanya, seolah ingin terlihat tenang.

“Setiap hari kau didatangi gadis-gadis penggoda di kantormu… Mama tidak pernah mempermasalahkannya. Karena Mama tahu mereka hanya mainanmu.”

Leon hanya memandangi ibunya. Masih tetap diam.

“Itulah sebabnya,” Maria menambahkan, “sampai detik ini Mama selalu menutupi semuanya dari Daria.”

Nama itu membuat Leon mendengus pendek, jelas tidak suka.

Ruangan kembali hening.

Maria memanfaatkan celah itu, menggeser langkah mendekati putranya.

Nadanya berubah lebih rendah dan tajam.

“Ingat, Leon.” Tatapan Maria menusuk dalam.

“Kau bisa duduk di kursi CEO ini juga berkat keluarga Louise. Jangan sembarangan mengatakan kau tidak akan menikahi Daria.”

Kata “menikahi” membuat rahang Leon mengeras.

Dan baru saat itu ia tersadar, betapa dalamnya jeratan keluarga Louise pada posisinya.

Saham terbesar setelah miliknya… milik mereka.

Jika ia membatalkan pertunangan dengan Daria—putri tunggal Louise—

kursinya sebagai CEO mungkin bisa digoncang dalam sekejap.

Maria melihat perubahan kecil pada wajah putranya. Dan ia tersenyum puas.

Ia mendekat, tangannya membenarkan kerah jas Leon dengan lembut seolah itu kasih seorang ibu—padahal kata-katanya berikutnya lebih tajam dari pisau.

“Pikirkan semuanya sebelum terlambat, Leon.”

Bisikan itu meresap seperti racun yang halus namun mematikan.

Maria berbalik, melangkah meninggalkan ruang kerja dengan kepuasan yang jelas terpampang di wajahnya.

Pintu tertutup.

Sementara itu, Leon hanya terdiam tegak di tempat, kedua tangannya mengepal pelan.

Wajahnya mengeras. Pikirannya sedikit kacau. Ucapan ibunya pagi ini menusuk tempat yang selama ini tidak ingin ia akui: kelemahannya.

***

“Kita lihat saja sampai kapan Tuan Leon membutuhkannya…

“Setelah bos puas bermain, dia pasti dibuang…”

“Dia hanya mainan. Kita paling tahu Leon Karlsson pemain yang handal.”

Bisikan-bisikan itu memenuhi lorong kantor seperti kabut racun yang sudah biasa Shenina hirup setiap hari.

Namun, seperti biasanya…

Ia hanya tersenyum ramah, santun dan profesional. Tatapannya tetap tenang seolah tiap bisikan kecil itu tidak mengenai dirinya sama sekali.

Padahal, Shenina mendengar semuanya.

Dan ia menikmatinya.

Senyuman kecil terangkat di bibirnya saat ia membuka pintu ruangan CEO.

Seketika itu juga, sebuah tarikan kuat menyeretnya masuk. Tubuhnya seketika limbung dan wajahnya langsung menabrak dada bidang Leon.

Napas pria itu hangat di telinganya.

Dingin dan sedikit berbahaya.

“Kau terlambat lagi lima menit, Shenina.”

Bisik Leon rendah. “Tiga hari belakangan kau selalu terlambat. Jadi total lima belas menit. Kau sudah melanggar aturan kantor.”

Cuping telinga Shenina disentuh giginya dengan ringan, tapi cukup untuk membuat napas wanita itu tercekat.

Shenina tersenyum kecil.

Leon sedang emosi pagi ini.

Dari getaran napasnya dan suaranya yang terlalu dingin.

Shenina tahu persis sumbernya: Maria.

“Bagus,“ pikir Shenina.

“Biar tekanan itu datang. Biar dia butuh tempat pulang… dan tempat itu adalah aku.”

“Jadi… aku harus menerima hukuman, ya?”

Nada Shenina polos, tapi tangannya sudah meraba dada Leon secara halus.

Leon mengembuskan napas berat yang nyaris seperti erangan tertahan.

Dalam sekejap ia menarik Shenina, mendudukkannya di pangkuan, memeluk erat sambil mencengkeram pinggangnya.

Ia tidak bicara dan memerintah.

Hanya mencari kenyamanan pada sang asisten. Dan itu saja sudah cukup membuat Shenina merasa menang.

“Tuan sedang tegang,” bisik Shenina, suaranya lembut namun memancing. “Mau kubuat rileks? Pijat gratis. Aku rasa kau membutuhkannya.”

Tangan Shenina bergerak naik perlahan, sentuhan yang cukup membuat Leon menahan napas dan matanya menggelap.

“Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan, Shenina.”

Leon membalik tubuhnya sehingga wajah mereka sejajar.

Shenina berdiri di atas pangkuannya, tubuh mereka nyaris menempel, aura panas dan tekanan emosional bercampur jadi satu.

Jari-jarinya memijat kepala Leon dengan ritme lembut, sementara napas Leon makin berat. Ketegangan di tubuh pria itu terasa jelas.

Leon menatapnya seperti hendak kehilangan kendali dan ketika ia menarik Shenina lebih dekat, waktu terasa berhenti.

Mereka larut dalam momen yang panas dan intens, cukup untuk membuat Leon terlepas dari emosinya selama lima belas menit.

Saat semuanya mereda, Leon memandangnya dengan napas masih kasar.

“Sebaiknya kau jangan sering terlambat atau hukumannya bisa lebih lama.”

Shenina menggoda balik dengan senyum yang menggila. “Kalau begitu, mungkin besok aku akan terlambat sepuluh menit lagi, Tuan.”

Leon menahan senyum yang berubah menjadi smirk tajam.

“Jadi kau… menerima hukuman dengan senang hati?”

Shenina menutup jarak dan berbisik, “Kau sangat berpengalaman menyenangkan wanita, ya? Pasti sering lakukan hal begini dengan gadis-gadis lain.”

Leon menatapnya lama lalu tersenyum dingin.

“Tapi kau tetap yang paling berbeda.”

Shenina mengangkat alis menantang.

“Termasuk… dari Daria?”

Atmosfer langsung berubah. Hangat tadi berubah menjadi dingin membeku.

Leon mengenakan jasnya kembali, rapi dan terkontrol, namun matanya jelas menyimpan badai. Ia memegang pinggang Shenina, menariknya, lalu mengecup bibirnya singkat namun sangat menuntut.

“Kau yang terbaik. Terbaik, Shenina.”

Dan itu cukup membuat Shenina tersenyum puas. Ia berhasil dan masih menjadi pemenang. Bahkan dari nama sebesar Daria Louise.

Namun ia belum selesai.

“Lalu… bagaimana ibumu soal hubungan ini?”

Nada Shenina ringan, tapi matanya menguji.

Wajah Leon mengeras seketika.

Shenina melihat itu dan dia sangat menikmatinya.

“Itu urusanku, Shenina.”

Ah. Masih setengah hati.

Tentu Maria sudah mengancam posisi Leon, dan itu membuat batas yang ditarik pria ini semakin jelas.

Alih-alih frustrasi, Shenina justru tersenyum kecil.

“Bagus.

Ini membuat permainan lebih menarik.”

“Aku harus bekerja lebih keras, ya?”

Pikir Shenina dalam hati, matanya menatap pria itu dengan keyakinan mematikan.

Shenina tidak gentar.

Ia justru bernafas semakin ringan.

Karena semakin Maria menekan…

semakin jauh Leon melangkah ke arahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   37. Memutuskan Hubungan

    Eren tidak membalas pelukan itu. Hatinya terlalu sakit dengan semua fakta ini, tapi kehadiran Shenina selalu membuatnya kembali luluh. Meski begitu, hati Eren yang menghangat tiba-tiba menjadi dingin.Shenina melepas pelukannya, ia bisa merasakan hawa dingin itu. Shenina mundur beberapa langkah. Ia bahkan tak berani menatap wajah Eren.“Maaf, Eren,” ucap Shenina lirih, menyadari beberapa hal.Ia langsung bergegas hendak pergi. Lagipula jika terus berada di sini, hati nuraninya bisa saja berubah menjadi iba. Jujur saja, Shenina sedikit sulit untuk mengontrol perasaannya. Eren adalah pria baik, tapi kehancuran Eren juga adalah kehancuran Maria yang sangat diinginkan oleh Shenina.Ketika langkah Shenina mulai menjauh, tiba-tiba tubuhnya melayang ke pelukan Eren. Pria itu menariknya lembut lalu memeluk Shenina begitu erat. Eren masih diam seribu bahasa, tapi Shenina bisa merasakan bahunya mulai menghangat. Itu adalah air mata yang menetes dari wajah Eren.Shenina terdiam. Dia seharusnya

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   36. Diselamatkan lagi

    Wajah Shenina nyaris tak bisa menyembunyikan kepuasannya.Dari kejauhan, matanya beberapa kali melirik Maria yang berdiri kaku di antara para tamu. Wanita itu tampak semakin masam, senyumnya kaku, sorot matanya penuh tekanan. Semakin banyak tamu berdatangan, semakin jelas bahwa Maria kehilangan kendali atas pesta Leon dan Shenina. Dan yang paling menyiksa, Maria tidak bisa berbuat apa-apa.Saat Leon tengah sibuk berbincang dengan para relasi bisnis dan para pria penting yang sengaja ia undang untuk menegaskan dominasinya, Shenina melepaskan genggaman lengan suaminya.Ia melangkah pelan menuju arah Maria.Senyum tetap terukir di bibir Shenina.Senyum itu justru membuat Maria ingin merobek wajah Shenina.Langkah Shenina terhenti sejenak ketika melihat beberapa wanita yang seumuran dengan Maria, berbalut perhiasan mencolok dan gaun mahal, mendekati Maria. Tawa mereka dibuat-buat. Gerak-gerik mereka terlalu terlatih.Shenina mengamati dari kejauhan, matanya menyipit tipis. “Para nenek sos

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   35. Ancaman

    “Dan orang itu adalah ibumu, Leon. Maria Karlsson.”Shenina baru tersadar ketika sepasang lengan kuat memeluknya tiba-tiba. “Leon?”Shenina sedikit terkejut. Kalimat itu beruntungnya hanya bergaung di kepalanya. Tapi pelukan ini terasa nyata. Ia bisa merasakan kehangatan yang tulus. “Shenina,” panggil Leon lirih.Pria itu merasakan sesuatu yang perih, sesuatu yang asing, setelah mendengar penderitaan masa kecil Shenina. Ia memeluk istrinya begitu ingin melindungi, meski egonya menolak mengakui bahwa cerita itu benar-benar melukai hatinya.“Aku janji,” ucap Leon tiba-tiba. “Mulai sekarang, kau akan merasakan kebahagiaan.”Nada suaranya tetap datar, namun Shenina mendengar ketulusan yang tak biasa di sana. Meski begitu, Shenina tidak goyah. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan datar.“Kebahagiaanku sudah mati sejak dulu, Leon,” batinnya dingin. “Kini hidupku hanya untuk menghancurkan keluarga kalian.”Ia justru membalas pelukan itu lebih erat, seolah perempuan yang sangat m

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   34. Sisi Lain Shenina

    “Kita tidak akan ke rumah?” tanya Shenina saat mobil yang seharusnya berbelok ke kanan justru melaju lurus.Leon menyetir dengan kecepatan sedang bahkan terlalu pelan untuk ukuran dirinya. Tidak ada lagi raungan mesin dan desakan emosi. Jalanan terasa stabil, cukup membuat napas Shenina kembali teratur, meski sisa trauma masih mengendap di dadanya.“Tidak,” jawab Leon singkat. “Kita ke rumah baru. Kau perlu menenangkan diri dulu.”Kata-kata itu menusuk telinga Shenina. Rumah baru dan ketenangan bukan bagian dari rencananya. Shenina tidak memerlukan semua itu. Justru yang ia tunggu adalah bagian dari menjadi parasit di keluarga Karlsson.Shenina menatap lurus ke depan, lalu suaranya turun menjadi dingin.“Aku kira setelah menikah, aku akan langsung mendapat pengakuan sebagai bagian keluarga Karlsson. Rupanya aku terlalu berharap.”Ia menoleh, menampilkan raut sedih yang nyaris sempurna. Namun Leon tetap menatap jalanan, ekspresinya tak berubah.“Kita akan datang malam ini,” balas Leon

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   33. Pertemuan dan rasa trauma

    Shenina tercekat. Kata-kata seolah lenyap dari tenggorokannya. Seharusnya pertemuan ini membuat Shenina senang atau setidaknya puas. Namun wajah Eren yang pucat dan terluka justru membuat dadanya mengencang tanpa alasan yang ia suka. Eren melangkah mendekat dengan langkah goyah, seolah setiap jarak yang ia tempuh adalah pertaruhan antara harapan dan kenyataan. Dalam benaknya, ia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk. “Shenina…” panggil Eren lagi, lirih dan serak. “Eren,” balas Shenina pelan. Satu detik yang hening sebelum akhirnya pecah. Leon menatap Eren dengan sorot tajam yang langsung membeku. “Eren!” sentaknya. Terlalu kaget dan tidak percaya jika adiknya bisa mengenal Shenina. Eren mengangkat wajahnya. Tatapannya yang penuh luka bercampur amarah, kini bertabrakan dengan mata kakaknya. “Leon.” Leon beralih menatap Shenina, dingin, menuntut jawaban. “Kau mengenalnya?” Namun Eren lebih dulu berbicara, emosinya tumpah tanpa kendali. “Tentu saja dia menge

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   32. Kembali ke Austria

    Leon tertidur begitu nyenyak sepanjang perjalanan. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat begitu lelah. Shenina menatapnya datar dari samping, tanpa emosi yang jelas terbaca.“Sejak dulu...”Meski kalimat itu keluar dari bibir Leon berjam-jam yang lalu, gema katanya masih berputar-putar di kepala Shenina, menolak pergi. Leon mengaku mencintainya sejak dulu, namun saat Shenina mencoba bertanya lebih jauh, pria itu memilih diam seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.“Ini tidak perlu menjadi pikiran,” gumam Shenina, berulang kali menenangkan dirinya sendiri.Ia hanya perlu fokus pada langkah selanjutnya.Shenina menyandarkan punggung, senyum miring terbit di sudut bibirnya saat membayangkan betapa kacaunya keluarga Karlsson setelah mereka sampai. Retakan yang selama ini ia ciptakan akan segera berubah menjadi kehancuran nyata.“Aku jadi sudah tidak sabar,” bisiknya lirih.Pandangan Shenina kembali jatuh pada Leon. Ia mendekat perlahan, nyaris tanpa suara, lalu mengangkat tangan dan memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status