MasukYasmin mematung sesaat, lalu berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Berusaha mengabaikan suaminya begutu saja, Namun dengan cepat Angga mencekal lengannya.
“Yasmin, saya bertanya sama kamu!” bentaknya dengan suara tertahan. “Ada apa sih, Mas?” “Ada apa? Saya bertanya sama kamu!” teriak Angga tepat di depan wajahnya. Yasmin menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi yang sejak tadi bergemuruh di dadanya. “Aku mau mandi dulu, boleh?” ucapnya pelan, menatap Angga dengan tatapan lembut seperti biasanya. “Badan aku rasanya lengket banget.” “Kamu dari mana saja?” tanya Angga, kini sedikit menurunkan suaranya. “Anak-anak nungguin kamu berjam-jam di sekolah,” “Mereka biasa pulang sendiri, nggak masalah,” sahut Yasmin cuek. “Apa?” Angga menatapnya tak percaya. “Aku mandi dulu. Capek.” Yasmin melepaskan paksa tangan Angga yang mencekal lengannya, lalu melangkah pergi menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi. Angga menatap punggung istrinya dengan heran. Tak biasanya Yasmin bersikap sedingin dan sepembangkang ini. Tak lama kemudian, Yasmin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya—sebatas dada dan di atas lutut. Kain tipis itu menempel mengikuti lekuk tubuhnya yang molek, terekspos tanpa ia sadari. Dengan santai Yasmin melepas handuknya di depan lemari, lalu mengenakan daster rumahanya. Catat! Daster bukan lingerie seperti biasanya. Angga yang tengah bersandar di kepala ranjang menatapnya heran. "Tadi kamu dari mana saja?" tanyanya dengan suara datar. "Ke tempat temen, lupa waktu. Maaf," jawab Yasmin, sambil naik ke tempat tidur. Lalu menutup selimut hingga sebatas dada. "Temen siapa?" tanya Angga datar. "Temen kuliah dulu, gak sengaja ketemu di jalan. Besok aku minta maaf sama anak-anak," jawab Yasmin santai. "Jangan di ulangi." cara "Iya," sahut Yasmin, lalu berbalik memunggungi suaminya. Sementara Angga menatapnya dengan heran. 'Ada apa dengan Yasmin, sorot mata wanita itu yang dingin, membuat amarahnya yang tadi memuncak menjadi redup seketika. Belum pernah ia melihat Yasmin menatapnya seperti itu. "Selamat malam." gumamnya, lalu mematikan lampu tidur di nakas. Seketika cahaya menjadi temaram hanya ada cahaya dari lampu tidur di nakas di sisi Yasmin, memang dia tidak pernah mematikan lampu tidurnya. Tak berapa lama, suara dengkuran halus terdengar, perlahan Yasmin membuka kembali matanya yang tadi sudah terpejam. Ia menatap kosong ruangan gelap di hadapannya, pikirnya seakan sedang berperang di dalam sana. 'Kamu bodoh, Yasmin.' gumamnya dalam hati. Kemudian tak lama ia pun terlelap dalam tidurnya, berharap esok bisa lebih baik lagi. *** Pagi hari, seperti biasa Yasmin menyiapkan sarapan di dapur seorang diri. Ia sedang sibuk berkutat dengan spatulanya saat Angga datang kemudian duduk di kursinya. "Selamat pagi," sapa Angga, berusaha menarik perhatian Yasmin yang terkesan cuek saat melihat kedatangannya. "Pagi," balas Yasmin dengan nada dingin. Yasmin meninggalkan penggorengannya, lalu beralih ke mesin kopi mengambil kopi yang tadi di buatnya untuk Angga. "Makasih," ucap Angga, saat Yasmin meletakan cangkir di depannya. "Heemmm," Yasmin hanya bergumam saja, kemudian kembali sibuk dengan wajannya. "Anak-anak sudah bangun?" tanya Angga, sambil menghirup aroma kopi buatan istrinya. Lalu meresapnya pelan. Rasanya tetap yang terbaik. pujinya dalam hati, seolah enggan memuji istrinya langsung. "Sebentar lagi turun." jawab Yasmin singkat, sangat singkat malah. Angga mengikuti setiap pergerakan Yasmin yang begitu cekatan di dapur, meski heran dengan sikap Yasmin yang tiba-tiba dingin kepadanya, Angga ingin bertanya, namun rasanya suaranya tercekat di tenggorokan. Dan benar saja ... tak berapa lama kemudian, Bianca dan Brayan datang dengan seragam dan tas sekolahnya yang sudah rapi. Angga dapat melihat perubahan raut wajah istrinya saat anak-anak mendekat. "Selamat pagi, sayang ...." sapa Yasmin dengan senyum hangat menyambut kedua buah hatinya. "Gimana tidur kalian nyenyak?" "Pagi Mamah ...." sahut keduanya kompak, sambil duduk di tempatnya masing-masing. “Tidur kalian nyenyak?” tanya Yasmin sambil meletakkan piring berisi omurice di hadapan Bianca dan Brayan. “Nyenyak, makasih, Mamah,” ucap Bianca ceria, seraya menyuapkan omurice kesukaannya ke dalam mulut. “Makan yang banyak,” ujar Yasmin lembut, mengusap puncak kepala keduanya sebelum duduk di kursinya dan mulai menyantap sarapan. Semua itu tak lepas dari perhatian Angga—betapa hangatnya Yasmin kepada kedua anaknya, sementara kepadanya … dingin seperti es. “Mamah, kemarin kenapa nggak jadi jemput kita?” tanya Bianca di sela kunyahannya. Yasmin meletakkan sendok di atas piring, menatap Bianca dengan sorot penuh penyesalan. “Maaf ya, sayang. Kemarin Mamah lupa, keasyikan di rumah teman Mamah,” ujarnya lirih. Bianca mengangguk paham. “Oh … nggak apa-apa. Kita bisa pulang sendiri kok.” “Iya, sayang … maafin Mamah ya,” “Iya,” sahut keduanya kompak, lalu kembali melanjutkan sarapan buatan sang Mamah. Angga yang merasa diacuhkan berdehem keras, berusaha menarik perhatian. “Ekheem ….” Berhasil. Ketiganya kini menatap ke arahnya. Angga meletakkan sendok di atas piring, tanda makannya telah selesai. Ia bangkit dari duduknya, lalu meraih jas yang tersampir di sandaran kursi. “Kalian sudah selesai? Kita berangkat sekarang. Ayah ada meeting sebentar lagi,” “Iya,” Bianca dan Brayan segera menghabiskan makanan mereka, meneguk susu hingga tandas, lalu bangkit mengambil tas masing-masing. “Mamah, kami pamit,” ujar keduanya sopan, mencium punggung tangan Yasmin dengan khidmat. “Hati-hati sekolahnya, sayang. Nanti Mamah jemput,” “Iya,” Yasmin mengantar mereka hingga teras, berdiri menunggu sampai mobil meninggalkan pekarangan rumah. Tatapannya mengikuti kendaraan itu hingga menghilang di belokan kompleks. Setelah mobil yang membawa suami dan anak-anaknya benar-benar lenyap, Yasmin berbalik masuk ke dalam rumah dengan langkah kakinya terasa semakin berat. "sepuluh tahun yang sia-sia, Yasmin." gumamnya, sambil menahan sesak di dada yang kian mencekiknya. *** Pulang kantor, seperti biasa Angga menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu untuk mengambil kotak bekal makan siangnya—yang biasanya habis dimakan oleh kedua resepsionis itu daripada terbuang mubazir. “Sore, kakak-kakak,” sapanya ramah, membuat kedua wanita itu tersipu. “Sore, Pak Angga. Tumben nggak lembur, Pak?” tanya salah satunya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Iya nih, tumben banget nggak ada kerjaan dadakan,” kekeh Angga. “Oh …” Keduanya mengangguk pelan. “Mana?” Angga menadahkan tangan. “Mana apa, Pak?” tanya keduanya bingung. “Kotak bekal saya.” “Ohhh!” Keduanya berseru sambil menepuk dahi. “Hari ini Ibu nggak nitip bekal, Pak,” jawab Andini, resepsionis berambut hitam. “Nggak nitip?” Angga tampak heran. “Iya, Pak.” “Kenapa?” “Lah, mana saya tahu, Pak. Kan Bapak suaminya,” balas Andini sambil terkikik kecil. “Ooh … iya,” Angga tersenyum tipis. “Saya duluan, ya.” Ia pun melangkah meninggalkan meja resepsionis, berjalan menuju pintu kaca besar kantor. Sepanjang langkahnya, pikiran Angga dipenuhi tanda tanya. Kenapa Yasmin tidak membawakan bekal seperti biasa? Padahal istrinya itu selalu paling bersemangat menyiapkan makan untuknya. Terlebih sejak semalam, sikap Yasmin terasa berbeda. “Ada apa dengan Yasmin …?”Tiba di dalam toilet, Satrio langsung memeluk Yasmin dari belakang membuat wanita itu hampir berteriak. "Astagaaa!" "Sstttt... Ini aku." bisik Satrio, sembari mengeratkan pelukannya. Yasmin menoleh ke samping, kepala pria itu sudah tenggelam di lekukan lehernya. Yasmin pun mengeliatkan tubuhnya hingga pelukan Satrio terlepas. Dan ia segera mundur dua langkah dengan tatapan tajamnya. "Kamu udah gila?!" teriaknya dengan suara tertahan." "Iya, aku udah gila, Yas." aku Satrio. "Aku hampir gila karena memikirkan kamu." Yasmin menggeleng. "Kamu bener-bener gak waras!" umpatnya geram. "Gimana kalo mas Angga tau soal kita? Apa kamu gak mikir kesana?""Aku gak peduli, Yas." Satrio menggeleng cepat, membuat Yasmin semakin menatapnya dengan tajam. "Aku udah bilang... Aku mau mengakhiri hubungan terlarang ini sebelum semuanya menjadi kalau." ucapnya penuh penekanan. Satrio kembali mendekat, berniat memeluk Yasmin kembali. Namun dengan cepat Yasmin munduri ke belakang. Membuat Satrio menat
Sikap Yasmin kembali lagi dingin kepada Angga, ia hanya merespon jika di tanya dan akan melayani Angga di ranjang jika pria itu memintanya. Tentu saja hal itu membuat Angga heran dan bertanya-tanya dalam hati, meski masih meresponnya, tapi... Angga seperti tengah mengagahi patung ketimbang manusia. Dan itu membuatnya sedikit tak nyaman. "Pak..." Bisikan seseorang di iringi dengan tepukan di lengannya, membuat Angga tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati anak buahnya tengah memberikan kode. Angga pun langsung menegang saat suara atasannya terdengar menyebut namanya. Ia pun langsung mengalihkan perhatian kepada Satrio–orang no satu di kantornya. "Bagaimana, Pak Angga. Anda sudah ada terobosan baru lagi?" Satrio kembali mengulang pertanyaannya, ia menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap Angga dengan intens. "Sepertinya pikiran Anda tidak sedang berada di sini, Pak?" sindirnya kemudian. Angga langsung menundukan kepalanya, sambil terus meminta maaf at
Yasmin menatap kosong suaminya yang sedang terlelap dalam tidurnya, pikirannya masih berputar pada tanda merah yang ada di belakang telinga Angga. Siapa yang sudah membuat kissmark itu di sana? Apakah Angga benar-benar selingkuh selama ini? Dan apa yang di lihat Bianca benar adanya. Kepalanya rasanya penuh dengan pertanyan-pertanyaan yang membuat hatinya semakin sesak. Perlahan Yasmin beringsut turun dari ranjang, lalu mengambil jubah tidurnya untuk menutupi gaun malam tipisnya. Sekarang baru jam tiga pagi, tapi Yasmin sama sekali tidak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun. Yasmin melirik Angga yang masih terlelap, lalu berjalan perlahan ke arah nakas di sisi bagian Angga. "Huhh..." Yasmin menarik napasnya sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya mengabil ponsel Angga yang tergeletak di sana. Seumur-umur, batu kali ini Yasmin memeriksa ponsel suaminya. Sehingga membuat mereka tak pernah memakai memakai pasword di ponselnya, karena saling percaya satu sama lain. "Maaf,
Mata Yasmin membola saat melihat siapa yang ia tabrak. Pria yang sejak beberapa hari ini ia hindari. Satrio. "Yasmin, kamu sedang apa di sini?" tanya Satrio sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar lobby. Yasmin mengerjap, tersadar dari lamunannya. "Aku permisi," tanpa menjawab pertanyaan Satrio, Yasmin berlalu begitu saja melewati pria itu. Satrio yang enggan kehilangan jejak Yasmin, segera menyusulnya. Lalu mencekal lengan wanita itu yang hendak keluar dari pintu kaca perusahaannya. "Tunggu dulu, Yas. Kita harus bicara." ucap Satrio dengan suara memohon. Yasmin menepis cekalan tangan Satrio dengan kasar, hingga cekalannya terlepas. "Tolong jangan ganggu saya. Permisi," ucapnya tanpa berbalik melirik Satrio sedikit pun. "Tapi, Yas–" Ucapan Satrio menggantung di udara ketika Yasmin malah berlari kecil keluar dari lobby perusahaannya. Ia menatap nanar punggung Yasmin yang perlahan menghilang dari pandangannya. "Sedang apa dia di sana?" gumam Satrio pelan. Tanpa Satrio sad
Suara hak sepatu yang beradu dengan lantai teedengar mengema di lorong kantor yang sepi. Sabrina–wanita itu berjalan dengan elegan sehingga membuat pinggulnya ikut bergoyang sensual. Hingga ia tiba di depan sebuah pintu bertuliskan–ruangan menejer pemasaran. Tok. Tok. Di ketukan ke tiga, terdengar sahutan dari dalam. Sabrina melebarkan senyumnya, lalu menarik pegangan pintu itu. "Selamat siang, Bapak Angga Wijaya ...." sapanya dengan nada centilnya. Angga yang masih fokus ke layar laptopnya, mengangkat pandangannya, lalu tersenyum lembut menyambut kekasih gelapnya. "Haii, sayang. Kemarilah ...." ucap Angga, meminta Sabrina menghampirinya. Sabrina pun mendekat, lalu duduk di pangkuannya. "Sayaaang ... Aku kangen,".rengek Sabrina, sambil melingkarkan tangannya di leher Angga. " Aku juga merindukan kamu, sayangku." Angga balas mencubit gemas hidung mancung kekasihnya itu. Bibir Sabrina mengerucut, tangannya sejak tadi sibuk memainkan dasi yang melingkar di leher Angga. "Bohong
Yasmin kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, cuma satu yang membedakan–adanya sang mertua di rumah membuatnya harus menebalkan rasa sabarnya. Sebab, apapun yang ia lakukan akan salah di mata mertuanya itu. Seperti pagi ini, Utari dari pagi buta sudah memberikan Qulyah subuh padanya. Gara-gara Yasmin telat bangun pagi dan membuatkan sarapan untuk keluarganya. "Kamu itu, Ibu perhatiin sekarang bangun siang mulu! Ibu udah beres bikin sarapan buat anak-anak kamu baru nongol dari kamar." ujar Utari, dengan nada tajam. Yasmin hanya menunduk dalam, sambil menyiapkan makanan di meja makan. "Maaf, Bu..." ucapnya pelan. Utari tidak tau saja, Yasmin sering mendapat serangan fajar dari putranya yang sekarang sering mengurungnya di kamar. "Maaf, maaf aja bisanya." Utari memutar bola matanya malas, lalu duduk di kursi meja makan. "Jadi istri tuh harus cekatan, gak boleh bangun kedahuluan sama ayam berkokok.""Iyaa, Bu." "Kasihan suami kamu udah capek kerja buat hidupin kamu, kalo kamu







