共有

Bab 5

作者: Neng_gemoyy
last update 公開日: 2025-12-14 21:08:45

Lepas magrib Angga tiba di rumah, ia keluar dari mobilnya setelah memastikan semua barang-barangnya tidak ada yang tertinggal. Sambil membuka sabuk pengamannya, matanya sesekali melirik ke pintu masuk. Biasanya Yasmin akan berdiri di sana menyambutnya pulang.

"Tumben gak nyambut, gue?" gumannya tanpa sadar.

Biib.

Setelah memastikan mobilnya terkunci dengan benar, Angga pun melangkah dengan ringan masuk kedam rumah.

Ceklek.

Kedua alis Angga mengerut saat akan memasukan anak kunci yang biasa ia bawa, namun keadaan pintu tidak terkunci dari dalam.

"Tumben gak di kunci ...." gumamnya heran.

Angga pun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Ada sesuatu yang hilang, namun ia tidak tau itu apa?

"Hahahaha ...."

"Mamah yang kalah, jadi harus di hukum!"

"Jangan, Kak. Ampun! Hahaha ...."

"Ian bantu pegangin Mamah, Kak!"

"Iyaa, pengang yang erat."

"Hahaha ... Ampun, Bi ... Dek tolong Mamah, Dek!"

"Ndak, Mamah harus di hukum."

Senyum Angga terbentuk sempurna, saat melihat kebersamaan istri dan anak-anaknya. yang tengah asik bermain di depan televisi yang masih menyala. Pantas saja Yasmin tidak menyadari kedatangannya.

"Ayah pulang!" seru Angga, membuat ketiganya menoleh. Lalu kedua putra-putrinya terpekik girang.

"AYAAAH!!"

keduanya melompat, menghampiri Angga yang sudah bersimpuh sampil membuka kedua tangannya lebar-lebar. menyambut keduanya kedalam pelukan.

"Seru banget kayaknya, sampai Ayah pulang gak sadar." ucap Angga pura-pura merajuk.

"Maaf, kita lagi asik main." balas Bianca, sambil turun dari pangkuan ayahnya. "Ayah tumben pulang siang?" tanyanya heran.

Biasanya, mereka akan bertemu dengan ayahnya saat sarapan saja, jarang sekali Angga pulang masih siang seperti ini. Apalagi saat datang wajahnya terlihat sangat hangat tidak dingin seperti biasanya.

"Iyaa, kerjaan Ayah gak begitu banyak, jadi bisa pulang cepat," jawab Angga, sambil mengusap sayang rambut halus sang putri.

Ekor matanya melirik Yasmin yang langsung sibuk dengan ponselnya, dari pada menawarinya makan atau minum.

"Yas, kamu sakit?" tanya Angga, membuat Yasmin mengalihkan perhatian dari ponselnya.

"Enggak," jawab Yasmin, menggeleng pelan.

"Tumben tadi gak nganterin makan siang?" tanya Angga, seraya bangkit saat Bianca dan Brayan kembali menghampiri ibunya.

"Lagi males aja," balasnya singkat. "Kamu gak nungguin sampai gak makan siang 'kan Mas?"

Di tanya seperti itu Angga sedikit gelagapan. "Eng–enggak, aku makan di kantin kok."

Yasmin mengangguk dengan bibir tersenyum lembut. "Bagus deh, mungkin mulai sekarang dan seterusnya aku gak nganter makan siang lagi, gak apa-apa kan?"

"Kenapa?" tanya Angga, entah kenapa ada rasa tak rela saat Yasmin berhenti mengiriminya makan siang.

"Gak apa-apa, aku mau mulai usaha aja dari rumah." jawab Yasmin, tanpa menatap suaminya.

Sementara Bianca dan Brayan kembali sibuk dengan permainan ular tangga mereka, pipi keduanya sudah penuh dengan bedak akibat hukuman jika kalah, begitu pun dengan Yasmin tak jauh berbeda, cemongnya.

Keduanya seolah pura-pura tidak mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.

"Mau usaha apa?" Angga membuka dasi yang terasa mencekiknya, lalu menaruhnya asal di sofa.

"Bikin kue muffin, nanti aku coba share di grup ibu-ibu komplek."

"Ohhh," Angga membulatkan mulutnya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. bingung harus bertanya apa lagi.

"Kamu sudah makan?" tanya Yasmin, yang langsung membuat Angga kembali bersemangat.

"Belum!" ia menggeleng cepat.

Yasmin menghela napas lelahnya, lalu bangkit dari duduk lesehannya. "Ya udah, aku siapin dulu. Kamu mandi dulu sana," titahnya, sambil beranjak ke dapur.

"Iyaa," Angga dengan semangat mengambil dasi yang tadi ia lempar, lalu menghampiri anak-anaknya. "Sayang, Ayah mandi dulu yaa. Nanti kita main bareng,"

"Iyaa," sahut keduanya dengan nada senang.

Angga berlari kecil ke arah tangga, menaiki tangga dengan cepat, seolah-olah takut ketinggalan kereta.

Hingga tak sampai sepuluh menit, Angga sudah kembali turun dengan wajah yang sudah terlihat segar.

"Lhoo, cepat amat. Kamu gak mandi?" tanya Yasmin heran, bahkan sayur yang ia panaskan belum panas sempurna.

"Mandi," jawab Angga, kemudian duduk di kursinya.

“Oh,” Yasmin mengangkat bahu acuh. “Makanan sudah aku panasin. Silakan. Aku mau nemenin anak-anak di depan.”

Yasmin hendak beranjak, namun dengan cepat Angga mencekal tangannya.

“Jangan pergi,” ucapnya pelan.

Bahkan Yasmin nyaris tak mendengarnya. “Apa?”

“Gak apa-apa.” Angga menggeleng, lalu segera melepaskan cekalannya.

Yasmin kembali mengangkat bahu, acuh tak acuh, lalu melangkah meninggalkan dapur.

Selepas Yasmin pergi, Angga menghela napas panjang. Entah apa yang salah dengan dirinya hari ini—rasanya ia seperti bukan dirinya sendiri.

Angga mulai menyendok nasi beserta sop iga sapi yang tampak begitu menggugah selera. Seketika rasa hangat dan gurih memenuhi mulutnya, membuat lelah yang sejak tadi menempel perlahan mereda.

Seperti biasa, masakan Yasmin tak pernah gagal. Rasanya selalu pas di lidahnya yang terkenal pemilih. Selama ini … bukan karena masakan Yasmin tak enak hingga ia memberikannya pada orang lain. Angga hanya berusaha menjaga perasaan seseorang dan tanpa ia sadari, justru itulah yang paling menyakiti hati istrinya sendiri.

***

Setelah lelah bermain bersama anak-anak, Angga masuk ke dalam kamar, menyusul Yasmin yang sudah lebih dulu beranjak dengan alasan mengantuk.

Dengan langkah perlahan, Angga membuka pintu kamar mereka. Ia takut jika Yasmin benar-benar sudah tertidur dan kehadirannya justru mengganggu.

Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada Yasmin yang tampak terlelap dalam tidur yang damai.

Angga melangkah mendekat. Ditelaahnya wajah ayu istrinya yang tanpa polesan riasan. Ia harus mengakui—Yasmin sangat cantik. Tubuhnya pun masih terjaga, tak kalah dengan gadis muda, meski telah melahirkan dua anak.

Hanya saja … Angga memilih menjaga hati seseorang dengan cara yang keliru: tidak memberikan seluruh hatinya kepada sang istri.

Angga menekuk lututnya, bersimpuh di sisi ranjang. Perlahan wajahnya mendekat hingga hangat napasnya menyentuh kulit Yasmin.

Pelan tapi pasti, ia menempelkan bibirnya di kening istrinya. Lama dan dalam. Mungkin … inilah kecupan pertamanya yang benar-benar tulus.

Angga menjauhkan wajahnya, kembali menatap Yasmin dengan intens. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Setelah puas memandangi sang istri, Angga naik ke sisi ranjang, lalu masuk ke dalam selimut. Ia sempat melirik Yasmin yang sama sekali tidak terganggu oleh gerakannya. Sepertinya Yasmin benar-benar telah terlelap.

Angga tak tahu, jika sebenarnya Yasmin belum tertidur. Ia sadar saat Angga menatapnya dari jarak sedekat itu. Ia juga merasakan kecupan hangat yang meninggalkan jejak lembap di keningnya.

Kini… sikap hangat Angga malam ini terasa sangat asing. Padahal dulu, perlakuan seperti inilah yang paling ia dambakan.

Apakah perlahan hatinya sudah membeku?

Kekecewaan yang terus ia tumpuk telah menggerogoti perasaannya, meninggalkan ruang kosong yang dingin dan luka yang dalam.

“Percuma … Yasmin, percuma .…”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Godaan Papa Teman Anakku   perceraian

    "Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust

  • Godaan Papa Teman Anakku   kabar yang menyakitkan

    Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe

  • Godaan Papa Teman Anakku   Yasmin pulang

    Satrio menepikan mobilnya di komplek perumahan Yasmin, hanya terhalang tiga rumah lagi dengan rumahnya. "Kamu yakin mau pulang, sayang?" Satrio menoleh, bertanya dengan nada lembut. Yasmin balas menatapnya, kemudian mengangguk mantap. "Iyaa, gak baik lari dari masalah." "Heemm," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. "Pikirkan baik-baik tawaran aku sayang, aku sedang proses cerai kita bisa bersama nanti." Yasmin hanya terdiam menatapnya, bingung harus menjawab apa. "Pelan-pelan aja sayang... Aku pasti bakal nungguin kamu." ucap Satrio lagi, yang kini di balas anggukan oleh Yasmin."Iyaa, aku pulang dulu." Yasmin menurunkan tangan Satrio dari wajahnya, kemudian berbalik membuka pintu mobil di sampingnya. Satrio menatap kepergian Yasmin dengan kedua tangannya yang terkepal erat, ingin sekali rasanya ia menahan wanita itu. Tapi ia sadar... Yasmin harus nyelesaikan masalahnya bukannya lari dari masalah. Satrio berdiam dengan mesin dan lampu mobilnya

  • Godaan Papa Teman Anakku   penyesalan Angga

    Angga melangkah lebar masuk kedalam rumahnya, setelah tadi sore tidak menemukan Yasmin, Angga segera pulang kembali ke rumahnya tanpa memperdulikan Sabrina yang menahannya di rumah ibunya.Angga membuka pintu dengan kasar, pelat pintunya berdengung keras menyambut pukulan tangannya. Ia berlari cepat menaiki tangga yang berderak keras di bawah tapak kakinya, langsung ke arah kamarnya di lantai dua."Yasmin!" panggil Angga dengan napas memburu ketika membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Udara di kamar terasa sejuk dan sunyi, tidak ada satu pun bau parfum kesukaan Yasmin yang biasanya memenuhi ruangan itu.Kosong.Ranjangnya masih rapi seperti baru saja disusun, seprai putihnya rata tanpa sedikit pun kerutan. Tidak ada suara atau sosok sang istri di sana—tidak ada jejak bahwa ia pernah berada di kamar itu sejak pagi hari.Angga mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dengan mata yang penuh kegelisahan. Ia melihat lemari pakaian masih tertutup rapat, meja riasnya rapi tanp

  • Godaan Papa Teman Anakku   pilihan Yasmin

    Satrio memarkirkan mobilnya asal di depan rumah yang biasa ia datangi bersama Yasmin. Pintu mobil bahkan tak ia tutup dengan benar. Ia melangkah lebar memasuki rumah yang dari luar tampak gelap dan sunyi, membuat dadanya semakin dipenuhi rasa cemas."Yasmin!" panggil Satrio dengan napas memburu, suaranya menggema di dalam rumah yang hening. Matanya menelisik ke segala penjuru, mencari keberadaan wanita yang begitu ia khawatirkan."Yasmin!"Tak ada sahutan. Keheningan itu justru terasa menyesakkan.Dengan tangan sedikit gemetar, Satrio menyalakan lampu ruang utama. Seketika cahaya menerangi ruangan—dan di sanalah Yasmin terlihat, duduk di lantai bersandar pada sofa, memeluk lututnya sendiri dalam gelap yang tadi menyelimutinya."Sayang..." Suara Satrio melembut seketika. Ia segera menghampiri, berlutut di hadapan Yasmin. "Yas... kamu kenapa?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Saat Yasmin mengangkat wajahnya, hati Satrio seperti diremas kuat. Wajah itu sembab, mata memerah, pipin

  • Godaan Papa Teman Anakku   telpon dari Yasmin

    Yasmin memandang dua sosok yang tengah tertawa bersama di ruang tamu rumah mertuanya, acara arisan sejak tadi sudah selesai, tapi wanita itu belum juga beranjak dari sana.Dan itu membuatnya semakin muak dan sesak."Yaampun... Tante juga aslinya dari sana," ucap Utari berseru heboh."Iyaa kah, Tante?" Sabrina pura-pura menutup mulutnya, terkaget-kaget. "Yaampun, ternyata kita satu daerah...""Heemmm," Utari mengangguk semangat. "Kayaknya nanti kalo mudik kita bisa barengan.""Boleh banget, Tente..." Sabrina tersenyum lembut.Namun yang terlihat oleh Yasmin, itu adalah senyum penuh kepalsuan.Tak tahan, Yasmin mengeluarkan ponselnya, lalu memotret momen dua orang itu. Mengirimkannya kepada Angga.Yasmin ingin tau reaksi Angga saat mengetahui kekasih gelapnya bersama ibunya, bahkan sangat terlihat akrab. Berbeda dengan dirinya... Yang hanya terlihat sebagai bayangan di sana."Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Sabrina?" gumamnya dengan menahan perih yang terus menggerogoti hatinya.Yasm

  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 12

    Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 13

    Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar sa

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 14

    Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyama

    last update最終更新日 : 2026-03-17
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status