Home / Romansa / Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu! / 44. Kedatangan Sosok Tak Terduga

Share

44. Kedatangan Sosok Tak Terduga

Author: OTHOR CENTIL
last update publish date: 2026-09-23 00:27:13
“Ya? Daddy sakit lagi? Jantung Daddy kambuh?!”

Seingat Nora, ia baru saja memejamkan mata dan tertidur sebentar di sofa. Namun, selalu saja ada hal yang merusak ketenangannya.

Ponsel di atas kepalanya tidur tiba-tiba menjerit nyaring, dan begitu melihat nama si penelepon di layar, seketika darahnya berdesir hebat.

Itu panggilan dari sang ayah.

Tanpa berpikir panjang, Nora langsung terperanjat bangun, diliputi kepanikan luar biasa mengingat kondisi kesehatan pria yang menjadi cinta pertaman
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   80. Ber-Cin-Ta Di Dalam Kendaraan Yang Melaju Kencang

    “Setelah orang itu tahu bahwa hubungan kita baik-baik saja dan kita bahkan tidak berniat berpisah, dia pasti akan terus berusaha merongrong kita. Dia akan mencari segala cara untuk memisahkan kita lagi. Entah dengan membuat kepercayaanmu pada saya kembali goyah seperti waktu lalu, atau menggunakan cara lain untuk memisahkan kita.”Nora tak lagi memiliki alasan untuk menolak perlindungan Erlangga. Bagaimanapun, pria itu bukan sekadar ingin mengawasinya, melainkan benar-benar mengkhawatirkan keselamatannya.Kini, Nora mengerti bahwa cara Erlangga melindunginya memang berbeda dari sebelumnya. Pria itu tidak sekadar berusaha menjaganya tetap aman, tetapi juga memastikan tak ada celah bagi siapa pun untuk kembali mengusik hubungan mereka.“Kamu paham sekarang?” tanya Erlangga kembali.Nora mengangguk pelan. Ketika Erlangga mulai mendekatkan wajahnya, dia langsung tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Jantungnya berdegup kencang, tetapi kali ini dia tidak menghindar. Nora justru memejamkan

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   79. Bangkitnya Kehangatan & Gairah Semalam

    “Hasil pemeriksan menunjukkan tidak ada masalah serius, Nyonya Yan. Suami Anda tidak mengalami cedera kepala seperti yang Anda takutkan. Keluhan yang dialaminya kemungkinan besar disebabkan oleh kelelahan saja. Untuk itu, Anda tidak perlu khawatir.”Nora mendengarkan penjelasan dokter dengan saksama. Di sampingnya, Erlangga duduk tenang dengan wajah dingin seperti biasanya, seolah bukan dirinya yang beberapa jam lalu bertingkah bak anak kecil hanya karena masalah jeruk dan markisa.Namun, begitu mereka meninggalkan rumah sakit, pria itu mendadak banyak bertanya. “Apa maksudmu mencurigai saya mengalami gegar otak hanya karena saya pingsan?”“Kamu memang aneh. Wajar, ‘kan, kalau aku berpikir begitu?” balas Nora ketus. Dia terus menatap lurus ke depan tanpa sekalipun menoleh untuk melihat wajah suaminya. “Benturan kepalamu dengan lantai tadi cukup keras. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Kalau kamu sampai mati, aku juga yang repot. Bisa-bisa aku dipenjara oleh ibumu karena dituduh membun

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   78. Mencari Dukun?

    “Kenapa nggak bilang dari tadi kalau maunya jeruk hijau?” tanya Nora, dia berusaha menahan kesal.Erlangga mengerutkan kening, seolah Nora-lah yang melakukan kesalahan besar. “Memangnya saya tahu kamu akan mengambilkan jeruk yang oranye?”Nora terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya masih memegang jeruk yang telanjur dikupas. “Mas, kamu itu udah besar. Kalau punya keinginan, bilang dari awal. Jangan setelah saya repot-repot mengupasnya, baru protes!”Namun, alih-alih merasa bersalah, Erlangga justru menatap jeruk di tangan Nora dengan wajah kecewa. “Tapi saya maunya yang hijau.”Nora memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kesabaran yang rasanya sudah menipis hingga ke ujung tanduk. Entah apa yang terjadi pada suaminya malam ini. Biasanya, Erlangga adalah pria keras kepala yang selalu ingin menang sendiri. Namun, sekarang dia malah bertingkah seperti anak kecil yang merengek hanya karena keinginannya tak terpenuhi.“Ya sudah, makan aja dulu yang ini. Rasanya jug

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   77. Merengek Seperti Bayi

    “Bagaimana kondisi suami saya, Dokter? Apakah beliau baik-baik saja?”Setelah dokter umum yang dipanggilnya selesai memeriksa Erlangga, Nora segera mengajukan pertanyaan itu. Dia masih begitu cemas melihat suaminya belum juga sadarkan diri, bahkan setelah hampir setengah jam berlalu.Dokter tersebut membereskan peralatan medisnya, lalu menatap Nora dengan senyum ramah. “Suami Anda hanya mengalami kelelahan. Tadi Anda mengatakan beliau muntah-muntah? Apa itu benar?”Nora mengangguk cepat. “Benar, Dokter. Dia muntah beberapa kali. Awalnya, saya mengira dia mual karena masuk angin. Tadi dia sempat tidak mengenakan pakaian saat berada di luar rumah setelah makan malam. Kami juga sempat ... ‘berolahraga’ di luar.”Dokter itu memahami maksud tersirat di balik ucapan Nora sebab pasiennya memang hanya memakai handuk kimono saja tanpa berpakaian kengkap. Namun, dia memilih tidak bertanya lebih jauh karena menyadari bahwa hal tersebut merupakan urusan pribadi pasangan suami istri itu.“Baiklah.

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   76. Kepedulian Yang Sulit Disangkal

    “Erlangga! Bangun! Erlangga, kamu dengar aku? Bangun! Bangun!”Tubuh Erlangga ambruk tepat menimpa Nora hingga wanita itu ikut terjatuh ke lantai dengan keras.Gelas yang semula berada di tangan pria itu terlepas, jatuh menghantam lantai kayu, lalu pecah berhamburan dengan denting nyaring yang ke segala penjuru kamar.Kemarahan Nora yang sejak tadi masih membara seketika luruh. Melihat Erlangga tak berdaya dalam pelukannya, dia tak lagi memikirkan pertengkaran mereka. Hal pertama yang memenuhi benaknya hanyalah kondisi sang suami.Well, sekalipun Nora sedang marah besar kepada Erlangga dan ingin sekali menggugat cerai pria itu, faktanya hatinya masih menyimpan kepedulian yang sulit disangkal. Nora mungkin bisa mengabaikan Erlangga saat pria itu bersikap menyebalkan, tetapi melihatnya terkulai lemah seperti ini membuat hatinya mencelos.“Erlangga, jangan bercanda, dong!” Nora menepuk pelan pipi Erlangga, berusaha menyadarkannya. “Erlangga, buka matamu!”Namun, pria itu tetap tak memb

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   75. Mual

    “Hoek! Hoek!”Dalam kurun waktu satu menit, Erlangga muntah berkali-kali. Makanan yang tadi disantapnya bersama Nora kini kembali keluar melalui mulutnya dan bermuara di saluran pembuangan wastafel.Setelah merasa lambungnya terkuras habis, Erlangga segera berkumur. Jantungnya masih berdebar kencang, seolah-olah ia baru saja selesai lari maraton.Erlangga perlahan menegakkan tubuh, meski kedua tangannya masih bertumpu pada tepian wastafel untuk menopang tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga.Baru saja hendak beranjak, rasa mual kembali menyerang. Erlangga terpaksa membungkuk dan muntah berulang kali hingga nyaris tak sanggup berdiri tegak.“Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” batinnya dengan napas terengah-engah. Mulutnya terasa begitu pahit, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.Di tengah kondisinya yang memprihatinkan, terdengar langkah kaki mendekat. Erlangga yakin itu Nora karena di rumah ini hanya ada dia dan wanita itu.Benar saja, wanita itu segera me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status