مشاركة

Bab 2

مؤلف: Jule
Vivian tertegun.

Belum sempat dia merespons, Yesika berjalan masuk ke kelas dikelilingi beberapa teman. Suaranya terdengar merajuk. "Dirly, aku mengaku kalah dalam taruhan kita."

"Nggak kusangka kamu benar-benar memberi Vivian obat pencahar. Sekarang aku percaya kamu benar-benar nggak suka padanya."

Sambil berkata begitu, dia pura-pura terkejut dan mengedipkan mata ke arah Vivian.

"Satu botol penuh obat pencahar, kamu benar-benar nggak merasakannya?"

Dirly tertawa dingin. "Bahkan kalau aku memberinya racun, dia akan memakannya seperti gula."

Vivian membeku tak percaya. Rasa mulas yang tak tertahankan mendadak menyayat perutnya. Seketika itu juga, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Ujian simulasi kelulusan terakhir sangat krusial.

Namun sepanjang sore itu, dia harus bolak-balik ke kamar mandi dengan amat mengenaskan. Pandangan bernada cemoohan serta tatapan menyalahkan dari pengawas ujian bagaikan paku-paku baja yang menusuk harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.

Hingga akhirnya, dia benar-benar lemas tak berdaya dan pingsan di koridor saat hendak kembali ke kelas.

Sementara Dirly hanya bersandar di pintu kelas memperhatikan dirinya dengan senyuman jahat.

"Baru bolak-balik 27 kali saja sudah nggak kuat. Vivian, kamu benar-benar nggak berguna."

Suara pemuda itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Pada saat itulah Vivian baru menyadari sesuatu. Ternyata, bersikap muka tembok itu tidak ada gunanya sama sekali. Ketika angin berembus, rasanya tetap sangat sakit.

Saat terbangun kembali, hari sudah berganti.

Perawat memberitahunya bahwa obat pencahar membuat penyakit lambungnya makin parah hingga hampir menyebabkan kebocoran lambung.

Vivian menatap ke luar pintu dengan tatapan kosong.

Apakah Dirly yang membawanya ke sini?

"Oh ya, wali kelasmu yang membawamu ke sini dan membantumu membayar uang muka biaya medis. Beliau memintaku menyampaikannya agar kamu segera memulihkan diri dan jangan sampai mengganggu Ujian Nasional."

Harapan kecil yang menyedihkan di lubuk hatinya runtuh sepenuhnya bersamaan dengan ucapan perawat tersebut.

Tentu saja.

Dirly sendiri yang menyuapinya obat pencahar dan menonton penderitaannya dengan dingin, mana mungkin peduli pada hidup matinya?

Ponselnya berdering tiada henti, menampilkan pesan dari grup kelas.

Yesika dengan gembira mengumumkan di grup tanpa guru bahwa sebelum Ujian Nasional dia ingin mengundang semua orang makan bersama untuk melepaskan penat, sekalian merayakan bahwa dirinya sudah tidak jomblo lagi.

Foto yang dilampirkan memperlihatkan dua tangan yang saling bertautan jari.

Dalam sekali lihat, Vivian mengenali tangan di bagian atas.

Di bagian sela antara ibu jari dan telunjuknya, terdapat dua bintik hitam sejajar yang terlihat seperti bekas gigitan ular.

Itu milik Dirly.

Rasa sakit yang tajam dan menusuk menjalar di jantungnya.

Dia benar-benar tidak mengerti.

Dia dan Dirly sudah saling kenal selama delapan belas tahun. Kenapa hanya karena dia izin tidak masuk sekolah seminggu, sikap Dirly padanya bisa berubah drastis bagai bumi dan langit?

Namun, dia tidak bisa menghubungi nomor Dirly. Nomornya telah diblokir, dan pesan yang dikirimkannya pun ditolak.

Vivian menatap layar dengan pandangan layu—pesan yang dikirimnya tak kunjung terkirim.

Saat itulah, Bibi Mega, asisten rumah tangga di rumahnya, menelepon.

"Nona Vivian, ayah Nona membawa wanita simpanannya ke rumah."

Jantung Vivian seolah berhenti. Dia segera bergegas pulang.

Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Yesika ternyata ada di rumahnya!

"Vivian, ini Tante Rasta dan putrinya, Yesika. Mulai hari ini mereka berdua akan pindah ke sini dan tinggal bersama kita."

Vivian menatap tajam wajah ayahnya yang tampak berseri-seri, lalu berteriak histeris dengan mata memerah.

"Soni Halim, ibuku belum meninggal! Suruh mereka keluar!"

Senyum Soni membeku, wajahnya mendadak menjadi kelam.

"Ibumu tersiksa kemoterapi sampai nggak seperti manusia lagi! Aku nggak menceraikannya saja sudah cukup baik padanya!"

"Soal Tante Rasta dan Yanran, sebelum ibumu meninggal, aku nggak akan memberi mereka status resmi. Tapi kalau kamu berani buat keributan, jangan salahkan aku kalau memotong biaya kemoterapi ibumu!"

Vivian tak percaya. Melihat punggung Soni yang merangkul Rasta naik ke lantai atas, seluruh darah di tubuhnya serasa membeku.

"Kejutan bukan, Vivian?" Yesika mendekatinya sambil tersenyum provokatif. "Apa kamu nggak sadar kalau wajah kita berdua agak mirip? Aku bahkan lebih tua lima bulan darimu."

Pupil mata Vivian mengecil tajam. Dia mendadak menatap Yesika.

Yesika tersenyum makin puas.

"Kamu merebut ayahku, jadi sudah adil kalau aku merebut semua hal yang kamu sayangi, termasuk namamu dan Dirly yang kamu sukai."

Vivian tidak sanggup menahannya lagi, ia melayangkan tamparan keras ke wajah itu!

"Ah! Kamu berani memukulku?"

Yesika menjerit dan menerjang maju.

"Kamu tahu kenapa sikap Dirly berubah padamu? Karena aku sudah tidur dengannya. Pria yang sudah merasakan hubungan intim akan percaya apa pun yang kukatakan. Dia bahkan nggak mengenali saat aku menyamar sebagai kamu menggunakan akun palsu, dan mengira kamu yang sengaja menyebarkan masalah ibunya ke internet sebagai bahan lelucon ... ah!"

Dalam perkelahian itu, keduanya kehilangan keseimbangan dan menghantam vas bunga antik setinggi satu meter.

Vas porselen itu hancur berantakan di lantai. Yesika dan Vivian jatuh di atas pecahan porselen, darah segar seketika mengucur deras dari tubuh mereka.

Dirly baru saja sampai di ambang pintu saat melihat kejadian ini.

Dia seketika menerobos masuk, menarik Vivian lalu menghempaskannya dengan kasar.

Kepala Vivian membentur lemari dengan keras. Pandangannya menggelap, darah segar mengalir menyusuri tulang alisnya.

Dalam pandangannya yang dengan cepat ternoda merah, Dirly membopong Yesika dengan sangat hati-hati. Tatapannya pada Vivian seolah terpatri oleh rasa benci yang dingin.

"Vivian, aku baru saja jadian dengan Yesika, dan kamu sudah nggak sabar bertindak sekejam ini padanya? Dia itu kakak kandungmu yang beda ibu!"

Kakak kandung beda ibu.

Kata-kata itu bagaikan pisau tajam yang merobek-robek jantung Vivian hingga hancur luluh.

Dirly ... ternyata juga tahu kalau Yesika adalah anak haram ayahnya?

Saat itu, Soni dan Rasta yang mendengar keributan ikut berlari keluar dari kamar.

Vivian menatap diam pada Dirly dan Soni yang mengelilingi Yesika dengan panik, sibuk mengkhawatirkan lukanya dan memanggil ambulans.

Tak seorang pun berpaling untuk melihatnya walau sekilas.

Dia mendadak tertawa.

Namun makin tertawa, air matanya makin tak terbendung bagaikan bendungan bobol.

Hingga vila kembali hening, dia berpegangan pada dinding dan bangkit berdiri dengan langkah sempoyongan.

Kemudian, dia memutar sebuah nomor telepon.

"Profesor John, saya tidak akan ikut Ujian Nasional dan memilih kuliah di luar negeri. Jika sekolah kedokteran tempat Anda mengajar masih menerima saya, apa Anda bisa menyetujui satu syarat saya?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 17

    Vivian selalu merasa akhir-akhir ini ada sepasang mata yang terus menempel pada tubuhnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Hingga pada suatu hari, saat sedang menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, Vivian menerima telepon dari Profesor John yang memintanya segera kembali ke laboratorium.Setelah meminta maaf pada pemilik acara, dia pulang lebih awal.Namun saat berjalan di jalanan yang tinggal berjarak satu blok dari kampus, Vivian mendadak diseret paksa ke dalam sebuah mobil pribadi yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.Di dalam mobil itu, terdapat dua pria berbadan tinggi dan kekar.Di hadapan Vivian, kedua pria itu secara terang-terangan berdiskusi tentang bagaimana cara membuatnya menangis memohon ampun nanti.Dia gemetaran ketakutan dari kepala hingga kaki, tetapi karena melihat senjata api di tangan mereka, wanita itu tidak berani bertindak gegabah.Mobil melaju makin jauh ke daerah terpencil, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di te

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 16

    Dirly melangkah maju, hendak memaksakan buket bunga itu ke dalam pelukan Vivian.Namun, Vivian langsung mundur satu langkah ke belakang.Gerakan refleks itu menusuk tepat di ulu hati Dirly.Meskipun begitu, dia memaksakan diri menyunggingkan senyum tegar."Nggak apa-apa, aku bakal nunggu sampai kamu mau memberiku kesempatan lagi."Sejak hari itu, Dirly selalu muncul di jalan yang pasti dilalui Vivian setiap hari. Kadang dia membawa sebuket bunga matahari, kadang membawa tumpukan kue-kue manis yang lezat.Setiap Senin malam, langit di atas kampus akan dihiasi oleh pesta kembang api selama beberapa jam.Dirly teringat, Vivian dulu sering berkata bahwa hari Senin adalah hari favoritnya. Karena hari itu menandai mulainya minggu baru dan dia bisa menempel pada Dirly selama seminggu penuh.Demi bisa bebas keluar masuk area kampus, Dirly meminta keluarganya untuk mengurus status mahasiswa exchange untuknya.Pria itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berbuat baik pada Vivian, meskipun dia

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 15

    Vivian tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Dirly dengan pandangan datar.Tidak ada gejolak emosi sedikit pun di matanya, seolah-olah dia sedang menatap orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.Jakun Dirly naik turun, binar di matanya meredup.Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana kamar rawat inap seketika hening mencekam bagaikan kuburan, bahkan suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas.Setelah lama terdiam, Vivian akhirnya berbicara pelan. Nadanya terdengar tenang, tetapi menyimpan rasa asing yang tak pernah didengar Dirly sebelumnya."Gimana kamu bisa tahu aku ada di sini?""Aku ...."Baru saja Dirly hendak menjawab, Vivian kembali menyela."Lupakan saja, aku juga nggak mau tahu urusanmu.""Keluar sana, aku mau istirahat."Nadanya sangat dingin dan hampa, begitu hampa hingga membuat dada Dirly mendadak terasa sangat sesak dan perih.Mereka tumbuh bersama sejak kecil, selalu bertemu setiap hari sejak masih bisa mengingat.Selama tiga tahun di SM

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 14

    Vivian dan Mateo saling berpandangan.Mereka segera meletakkan semua barang di tangan dan berlari ke arah pintu keluar.Bagaimanapun juga, di dalam laboratorium terdapat terlalu banyak bahan yang mudah terbakar dan meledak. Potensi terjadinya ledakan susulan yang lebih besar bisa terjadi kapan saja.Benar saja, tepat saat mereka hampir mencapai pintu keluar, ledakan kedua menghantam."Vivian, awas!"Tanpa sempat berpikir, Mateo melompat dan menerjang Vivian untuk melindunginya.Duar!Cairan kimia bertemperatur tinggi dan pecahan kaca menyembur ke segala arah.Mateo menggeram menahan sakit sambil menggertakkan gigi, darah segar mengucur deras dari punggungnya.Vivian dilindungi dengan sangat rapat di bawah tubuhnya tanpa luka sedikit pun, tetapi telinga wanita itu berdenging hebat.Setelah lama terdiam, Vivian menyadari bahwa orang di atas tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Baru saat itulah, dia menyadari sesuatu, matanya membelalak panik."Kak Mateo!"Bereaksinya berbagai zat kimia,

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 13

    Menyadari suasana yang berubah aneh, Vivian baru tersadar. Demi menyembuhkan depresi Dirly, dia menjadi gadis humoris selama tiga tahun, hingga beberapa kebiasaan sulit dihilangkan dalam waktu singkat.Dan Mateo, kemungkinan besar tidak menyukai hal-hal seperti itu.Namun, tepat saat dia hendak meminta maaf, Mateo yang biasanya dingin dan irit bicara, justru terkekeh pelan setelah terdiam beberapa detik.Pada saat itu, seluruh isi laboratorium dibuat terperanjat."Mataku yang kemasukan zat kimia atau gimana ya? Masa aku lihat kulkas 10 pintu tersenyum?""Aku juga lihat! Apa otakku rusak gara-gara kebanyakan eksperimen?""Kak Mateo kalau tersenyum ... benar-benar bikin melayang! Kalau sampai dilihat fans rahasianya yang agresif seperti serigala di luar sana, apa laboratorium ini bakal nggak dikepung?"Vivian dibuat tertawa geli sampai perutnya sakit melihat tingkah berlebihan teman-temannya.Setelah hari itu, setiap dia melontarkan lelucon garing, seberapa aneh pun itu, atau bahkan ket

  • Gugurnya Bunga Melati, Berlalunya Angin Malam   Bab 12

    Demi mencegah Yesika melarikan diri, Dirly langsung menelepon polisi dan menyerahkan bukti-bukti di tangannya untuk mengurung wanita itu lebih dulu.Saat borgol dikunci di pergelangan tangannya, Yesika akhirnya panik setengah mati.Dia memohon ampun dengan panik.Ketika tidak mendapatkan respons, dia mulai mengumpat pada Dirly seperti orang gila."Ibuku akan segera menikah dengan ayahku, mereka pasti akan menyelamatkanku!""Dirly! Kamu pikir kalau memasukkanku ke penjara, Vivian bakal memaafkanmu? Mimpi kamu!""Dia sudah tahu kalau kamu pernah tidur denganku! Kamu kasih dia obat pencahar demi aku, menghinanya berkali-kali, dan membuat video-video menjijikkan itu pakai tanganmu sendiri! Sebenarnya kamu juga punya tanggung jawab atas kematian ibunya! Vivian nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"Kepalan tangan Dirly mendadak terkunci erat, buku-buku jarinya memutih.Ya, atas kematian ibu Vivian, dia juga memiliki tanggung jawab.Kalau saja dia tidak dibutakan oleh kebohongan Yesika hi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status