Accueil / Romansa / Guru Aku Milikmu / Bab 2: Awal Masa Kelam (Flasback 1)

Share

Bab 2: Awal Masa Kelam (Flasback 1)

Auteur: Aksarara
last update Dernière mise à jour: 2025-10-03 23:57:14

Pagi menyambut hari baru. Kicaun burung mengantar kedatangan sang metari. 

Suasana di paviliun Tingquan sangat semarak, terdengar suara ocehan gadis kecil disertai dengan tawa anak - anak remaja. Nyonya Lin yang melihat pemandangan ini tak dapat melunturkan senyum di wajahnya.

"Nyonya, melihat pemandangan seperti di pagi hari memang memanjakan mata" Mama Wu di samping Nyonya Lin berkomentar dengan nada jahil.

Nyonya Lin hanya bergumam tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya. Pemandangan di depannya ini memang sangat menyenangkan untuk di lihat dan tak akan pernah merasa bosan. 

"Tak hanya memanjakan mata tetapi juga memanjakan hati. Hati senang, pikiran tenang wajahpun terlihat cermelang. Bukankah begitu Nyonya?" Tanya Mama Wu masih dengan menggunakan nada menggoda.

"Mama Wu, selama ini aku terlalu memanjakanmu ya?" Tanya Nyoya Lin dengan memasang wajah marah.

"Hamba tidak berani... tidak berani" menanggapi Nyonya Lin dengan senyum yang tertahan. 

'Huh, lihatlah orang tua ini berkata tidak berani tetapi seolah - olah ada tulisan -aku bahagia- di wajahnya. Huh... lain di mulut lain di hati' 

"Anak memberi hormat pada ibu" seorang pemuda berusia dua belas tahun, mengenakan pakaian hitam dengan tepi garis merah. Ma Jingguo, putra pertama Perdana Mentri Ma. Setiap gerakannya penuh tenaga menggambarkan seorang tuan muda yang menggemari beladiri. 

Di belakangnya sepasang anak kembar laki - laki berusia tujuh tahun, Ma Mingyu berwajah secerah sinar bulan purnama penuh dengan aura keceriaan. Ma Mingzhe mempunyai raut yang serius dan terkesan dingin, setiap gerakannya tenang dan terkendali.

Keduanya sama - sama mengenakan pakaian putih terang bulan, yang membedakan hanya motif sulur bunga di tepi pakaian yang di kenakan oleh Ma Mingyu menambah kesan ceria yang dimilikinya.

Seorang gadis kecil yang duduk di pergelangan tangan Ma Mingyu. Tanganya menggenggam kue ketan manis. Ma Mingzhu memakan kue ketan manis itu dengan bahagia pipinya yang masih terdapat lemak bayi menggembung seperti bakpao kukus.

Sepertinya pembicaraan Nyonya Lin dengan Mama Wu sedikit menimbulkan kegaduhan hingga menginterupsi kebahagiaan anak - anaknya.

"Ibu lihat tadi kalian sedang bergurau? Katakan hal apa yang membuat kalian begitu bahagia?" Ucap Nyonya Lin sambil berjalan ke arah paviliun yang ada di taman Ting Quan. 

"Anak tadi melafalkan puisi -pagi musim semi- dan ibu tahu tidak apa yang menakjubkan? Xiao Zhuzhu bisa mengikuti ucapanku yang hanya sekali ucap tanpa kesalahan satu kata pun" Ma mingyu bercerita dengan wajah ekspresif, nadanya penuh kesombongan seolah - olah dirinya yang melakukan hal membanggakan tersebut.

"Lihat anak ini, orang yang tidak tahu mengira ia mendapat gelar Zhuangyuan. Lihatlah betapa bangga wajahnya itu" kata Nyonya Lin ke Mama Wu.

"Ibu... bukankah mempunyai adik seperti Xiao Zhuzhu yang cerdas memang membanggakan? Teman - temanku pasti iri karena tak mempunyai adik sepintar Zhuzhu kecilku" 

"Minyu benar bu... aku saja iri kenapa aku mempunyai adik sebodoh Mingyu" Ma Jingguo berkata degan raut serius, namun jika di perhatikan dengan benar terdapat seulas senyum jahil yang tersungging di sudut bibirnya.

"Apa maksud ucapanmu itu! Oh... jadi kau tak mengakui Xiao Zhuzhu sebagai adikmu?" Balas Ma Mingyu dengan nada menggoda. 'Lihat saja jika tak mengakui, jatah bermainku dengan Xiao Zhuzhu menjadi lebih banyak. 

Dengan raut wajah yang tetap tenang Ma Jingguo menjawab "Jadi kau bukan adikku begitu?"

"Siapa yang mau menjadi adikmu!" Mendengar ini Ma Mingyu langsung tersulut emosi. Ma Jingguo walaupun terlihat memiliki kepribadian yang tenang namun ia memiliki sifat jahil yang mendarah daging. Hal inilah yang menyebabkan Ma Mingyu enggan mengakuinya sebagai kakak.

'Huh.. siapa juga yang menginginkan kakak menyebalkan seperti dia. Hanya terpaksa, ingat... ter pak sa' gerutunya dalam hati.

Nyonya Lin tak bisa menghentikan tawanya. Kedua anak ini, jika sudah bertemu tak ada sedikitpun kedamaian.

Walaupun Ma Mingyu dan Ma Mingzhe sepasang anak kembar mereka memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Kepribadian Ma Mingyu yang cerewet dan tak mau kalah sering menjadi keisengan Ma Jingguo yang jahil namun wajahnya tetap menampilkan ketenangan.

Berbeda dengan kepribadian Ma Mingzhe yang tenang namun serius. Bahkan di saat kakak dan adiknya berdebat, ketenangan di wajahnya tak goyah sedikitpun.

Kegembiraan di paviliun Ting Quan berakhir karena kedatangan seorang pelayan yang tergesa - gesa. Namun saat ingin menyampikan pesan wajahnya di penuhi keraguan.

"Ada apa Su Yu?" Tanya Nyonya Lin dengan penasaran. 

"Tuan telah kembali" 

"Tuan kembali? Bukankah ini kabar gembira kenapa mukamu begitu tertekan Su Yu?" Nyonya Lin bertanya dengan penasaran, namun tak dapat menyembunyikan raut kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.

"Itu Nyonya, tuan membawa... mem ba wa..." 

"Selir?" Ucapan Su Yu yang penuh keragu raguan itu menjadi kesempatan Ma Mingyu untuk menyela, namun perkataan yang di ucapkan Ma Mingyu mengejutkan semua orang yang ada di paviliun Ting Quan. 

"Bukan!" Jawab Su Yu setengah berteriak, khawatir para tuan muda dan Nyonya salah paham.

"Bagaimana selir masih begitu kecil?" Ucap Su Yu dengan setengah berbisik.

"Maksudmu ayah membawa anak haram?" Tanya Ma Mingyu dengan nada marah. Walaupun ucapan Su Yu terdengar lirih namun Ma Mingyu yakin dengan pendengarannya, mendengar hal ini kedua alis Ma Mingzhe ikut berkerut.

"Maaf Tuan Muda, hamba hanya melihat Tuan membawa anak kecil ke dalam Aula Tingyue " 

"Sebenarnya apa maksud ayah ini?" 

***

Di dalam Aula Tingyue seorang laki - laki setengah baya dengan gadis kecil di pangkuannya.  Laki - laki itu memandangnya  penuh kehangatan. Entah mengapa saat ia memandang gadis di pangkuanya semakin di pandang semakin menyenangkan.

Sebenarnya pemandangan ini terlihat manis, namun entah mengapa para pelayan merasa  sangat ketakutan .

Tuan Ma membelai rambut anak tersebut dengan penuh kelembuatan dan berkata "Saat bertemu dengan ibu dan saudara - saudaramu bersikaplah baik" 

"Baik ayah" gadis itu mengangguk patuh, melihat gadis itu begitu patuh Tuan Ma tersenyum puas. Namun senyum Tuan Ma tak bertahan lama.

"Siapa yang mau memiliki saudara yang tidak jelas asal usulnya itu ayah" Suara pemuda yang berasal dari depan pintu aula itu langsung menghilangkan senyum di wajah Tuan Ma.

Suasana di dalam aula semakin menegang, tak ada seorang pelayan pun yang berani menegakan kepala mereka. Mereka sangat ketakutan bahkan untuk menghembuskan nafaspun hanya bisa  dilakukan perlahan.

Bahkan kepala pelayan Cheng juga ikut merasa tertekan, pelayan Cheng hanya bisa mengeluh dalam hati. 'Kedamaian di rumah Perdana Menteri telah berakhir.

Hanya ada seorang masih tetap tersenyum di saat suasana begitu menegangkan, dan tak ada seorang pun yang mengetahui alasanya selain orang itu sendiri.

'Langkah pertama terlaksana. Menyusup,pecah belah, yang berguna pertahankan yang tidak berguna singkirkan'

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Guru Aku Milikmu   Bab 13 : Mutasi Akar Spiritual

    Setelah berendam di telaga warna tubuh Ma Mingzhu telah menjadi sumber racun. Ma Mingzhu dapat mengolah racun dengan darah, atau sentuhan. Ya, semudah itu. Pada kenyataannya Ma Mingzhu belum bisa mengontrol racun didalam tubuhnya, efek dari racun yang belum terkontrol tak berbeda dengan terkena racun itu sendiri.'Mungkin ini yang ibu rasakan saat itu'Baju yang basah kuyup menunjukan keringat mengalir deras di seluruh badan Ma Mingzhu. Kemarin adalah tepat tujuh hari Ma Mingzhu menyerap racun di telaga warna, dengan badan yang di penuhi rasa sakit Zhao Yue menyeretnya pulang untuk segera berkultivasi.Benua Xuantian merupakan benua kelas rendah yang mengandung sedikit energi spiritual.Walaupun banyak orang yang menekuni beladiri di Benua Xuantian mereka bukanlah seorang kultivator, mereka hanyalah seorang praktisi beladiri. Seorang praktisi beladiri berbeda dengan kultivator. Seorang praktisi beladiri menguasai teknik beladiri tanpa menggunakan energi spiritual, sedangkan seorang k

  • Guru Aku Milikmu   Bab 12 : Desa Hu

    Tok.. Tok...Sebuah bambu satu ruas yang di beri lubang kecil berbentuk persegi panjang sedang di pukul kencang oleh seorang lelaki tua yang sedang berdiri di atas menara."Cepat lari cepat... ada moster bermata merah" "Bagaimana bisa? Bukankah moster mata merah selalu muncul saat matahari terbenam?""Siapa yang tahu kapan dia datang, cepat kunci pintunya"Suara auman yang mengegelegar membuat bulu kuduk berdiri. Ada seorang penduduk yang penasaran dengan rupa moster tersebut, mencoba mengintip dari celah lubang. Moster itu berkepala singa dengan tanduk iblis di atasnya, badan manusia namun berukuran lima kali lipat lebih besar dari manusia pada umumnya, matanya merah menyala. Selama dua tahun terakhir, entah bagaimana di Desa Hu mengalami lonjakan kelahiran hampir dua puluh kali lipat di bandingkan penduduk desa lainnya. Namun kabar gembira beriringan dengan duka, tak ada yang tahu darimana datangnya moster bermata merah. Setiap kali moster datang akan selalu ada anak di bawah umur

  • Guru Aku Milikmu   Bab 11 : Telaga Warna

    Di benua Xuantian terbagi menjadi empat wilayah besar, yaitu Kerajaan Hualing, Kerajaan Xiling, Kerajaan Dongling, dan hutan kematian. Kerajaaan Hualing terletak di dataran tengah, merupakan tempat yang letak geografisnya paling diuntungkan dalam sektor pertanian, sehingga di sebut sebagai wilayah paling subur di seluruh benua Xuantian.Kerajaan Xiling memiliki tempat yang sebagian besar berisi gurun pasir, hanya sepertiga wilayah berisi padang rumput. Seluruh penduduk Xiling bersifat nonmaden, hal ini di kerenakan cuaca buruk yang tak menentu. Sistem kerajaan berdasarkan yang terkuat yang memimpin, jika ingin menduduki tahta tertinggi hanya perlu menaklukan seratus dua puluh suku untuk mendapat pengakuan sebagai Penguasa Agung. Lingkungan yang begitu keras menjadikan Kerajaan Xiling terkenal sebagai kerajaan dengan kekuatan militer yang buas dan tangguh.Kerajaan Dongling, terkenal sebagai kerajaan terkaya diantara tiga kerajaan. Karena letak geografisnya yang di kelilingi oleh pegun

  • Guru Aku Milikmu   Bab 10 : Mencari Kebenaran

    "Nikmat.... gurihh....... masih hangat....... Ayo mampir kastanye panggang....... kastanye panggang..... kastanye panggang.....""Hei Guogan, kau berdagang atau mau mengajak anak gadis masuk rumah bordil? ""Pak Tuo pikiranmu itu buruk sekali, apa yang salah dengan caraku berdagang? Katanye ini memang baru saja di angkat dari panggangan masih hangat, rasanya juga gurih nikmat""Ahh nona manis, jangan pedulikan para laki - laki bau yang sedang berdebat itu. Bagaimana jika nona beli saja manisan buah persik ini, sama manisnya dengan nona" Ma Mingzhu yang sedang mengamati suasana pasar terkejut mendengar ucapan salah satu pedagang yang menawarkan manisan buah persik. Berapa tahun Ma Mingzhu tak memakan manisan buah persik? Mungkin lima tahun? Semenjak sang ibu meninggal Ma Mingzhu hanya makan untuk menyambung hidup. Bahkan makanan pelayan jauh lebih baik dari apa yang Ma Mingzhu makan sehari - hari. Terkadang juga Ma Mingzhu harus menahan lapar seharian. Sekarang melihat manisan buah p

  • Guru Aku Milikmu   Bab 9 : Panggil Aku Guru

    Di kedalaman hutan yang tak pernah tersentuh manusia, terdapat sebuah rumah sederhana dengan satu halaman. Asap yang mengepul menyatu dengan angin yang berhembus membuktikan jika didalam rumah terdapat kehidupan.Seorang laki - laki tengah merebus obat dengan tungku bara api, tangannya terus bergerak tak mengenal lelah. Terkadang ia mengipasi bara api agar tetap menyala atau terkadang menambahkan beberapa bahan obat - obatan.Melihat obat telah di masak dengan sempurna ia menuangkan ke dalam mangkuk. Laki - laki itu melangkahkan kaki ke dalam kamar lalu duduk bersandar di tepi ranjang, menenggak obat yang di bawanya dengan sekali minum. Ada yang berbeda dengan cara laki - laki itu meminum obat, ia tak langsung menelannya justru menggerakkan salah satu tanggannya untuk membuka mulut seorang gadis yang sedang tidur di sampingnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya mengalirkan cairan pahit ke dalam mulut sang gadis sedikit demi sedikit.Sepuluh hari gadis ini tertidur, sebenarnya luka ya

  • Guru Aku Milikmu   Bab 8 : Jurang Kematian

    Lin Ziyu merasakan hawa dingin menyergap dirinya, saat tersadar lehernya telah di cekik. Namun bukan merasakan ketakutan Lin Ziyu tertawa terbahak - bahak. "Kamu yang membunuh ibuku?""Jika iya mengapa? Bisakah kamu membalaskan dendam ibumu?" Jawab Lin Ziyu dengan santai, bahkan saat tangan yang mencekik leher Lin Ziyu semakin mengerat namun tak ada takut sedikitpun di matanya."Hahaha.. akh.. biar aku ceritakan bagaimana ibumu mati, di paksa menenggak racun lalu tubuh bagian dalamnya membusuk. Kau ingin tahu bagian yang paling seru? Rasanya seperti di sayat, di tusuk, dibakar, gatal panas dan sakit di saat bersamaan, mungkin lebih baik mati? Kakak, aku sudah berbaik hati membiarkan ibumu mati dalam keadaan tubuh yang utuh""Apa kamu juga ingin tahu kabar kakakmu yang jatuh ke jurang kematian? Oh.. bagaimana yaa keadaan mayatnya? Kepala pecah? Atau di makan binatang buas? Kakak.. menurutmu bagaimana? Akhh.... auu.. mungkin jika aku menemukan mayatnya aku sambung dengan kepala anjing s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status