Mag-log inPyarr
Suara pecahan cangkir teh itu mengejutkan semua orang. Tak terkecuali Mu Mingyu hingga wajahnya pucat pasi, tak ada lagi raut ceria atau kesan flamboyan seperti biasanya.
"Zhuzhu, kamu baik - baik saja sayang?" Nyonya Lin bertanya dengan cemas, tangannya gemetar terulur untuk memeriksa keadaan buah hatinya.
"Bu, kakak Guo berdarah" Ma Mingzhu menunjuk ke arah pundak kakak pertamanya. Pandangan matanya tak lepas dari pecahan porselen yang tertancap hingga mengeluarkan aroma darah.
Saat itu Nyonya Lin tersadar jika anak sulungnya terluka. "Mama Wu, cepat panggil tabib Wang" Perintah Nyonya Lin dengan panik. Walaupun Ma Jingguo memiliki keterampilan bela diri yang tinggi dan terbiasa dengan luka, namun tetap saja Jingguo adalah anaknya darah dan dagingnya. Melihat hal ini Mama Wu Tanpa pikir panjang segera berlari keluar untuk memanggil tabib Wang.
Melihat ibunya yang cemas Ma Jingguo berusaha menenangkanya, "Bu, ini hanya luka kecil, akan aku suruh Mingzhe untuk mengurusnya"
Bukan semakin tenang Nyonya Lin justru merasa geram 'Anak ini selalu menganggap sepele ketika terluka'. "Apa yang luka kecil. Kembailah tunggu tabib Wang obati lukamu itu" Perintah Nyonya Lin dengan tegas. Bukan di taidak mempercayai kemampuan Ma Mingzhe dalam hal pengobatan, namun jika luka itu di tangani oleh yang lebih ahli maka hatinya bisa tenang.
"Tapi bu..." Belum selesai Ma Jingguo berbicara sudah di sela Nyonya Lin.
"Tapi apa? Tidak ada tapi - tapian, bawa juga adik - adikmu untuk beristirahat." Perintah Nyonya Lin tanpa mau di bantah.
Ke tiga anak itu berjalan keluar dari Aula Tingyue dengan pikiran yang berbeda - beda. Sebenarnya mereka tak ingin menurut begitu saja namun melihat pundak kakak pertama yang tak berhenti mengeluarkan darah mereka lebih memilih menuruti perkataan sang ibu untuk kembali dan mengobati luka kakak pertama.
Setelah satu batang dupa sepasang suami istri tetap berada di tempat masing - masing. Tuan Ma yang duduk di kursi kepala keluarga dan Nyonya Lin yang tetap berdiri di depannya.
Gadis di pangkuan Tuan Ma telah di antar oleh kepala pelayan Chen ke paviliun Lanyun yaitu paviliun tempat tamu yang menginap. Para pelayan semuanya telah di usir keluar dari dalam Aula Tingyue.
"Tuan apa maksudnya ini? Melempar cangkir teh ke arah Mingzhu? Tuan ingin membunuh anakmu sendiri?" Pertanyaan yang di ajukan Nyonya Lin itu membuat kepala Tuan Ma berdengung. Sebenarnya ia hanya ingin memberi pelajaran ke Ma Mingyu, anak itu terlalu sembrono dan tak tahu sopan santun namun siapa yang tahu bahwa Mingyu sedang menggendong adiknya. Seharusnya ia tak melempar cangkir teh hanya dengan mengandalkan arah datangnya suara, lihat dulu orangnya baru lempar. Namun ia tetap tak ingin di salahkan, Tuan Ma berbalik menyalahkan Nyonya Lin.
"Untuk apa mengkritisiku, lalu bagaimana kamu seorang ibu mendidik anak - anak. Tidak menghormati orang tua, tidak tahu sopan santun" Ucap Tuan Ma mengingatkan Nyonya Lin akan tindakan Ma Mingyu yang masuk tanpa memberi salam hormat ke ayahnya.
Mendengar hal ini Nyonya Lin hampir tak bisa menahan amarahnya. "Tuan bisa berbicara baik - baik, bagaimana jika Mingzhu yang terluka?"
"Oh, bukankah dia baik - baik saja" Tuan Ma menjawab dengan santai. Nyonya Lin terkejut setengah mati melihat hal ini, anaknya hampir celaka dan begitu santainya tak ada rasa bersalah sedikitpun.
Melihat jika terus melanjutkan, perdebatan ini tidak akan pernah berakhir Nyonya Lin memilih berhenti. Ada hal lebih penting harus segera di perjelas.
"Siapa anak itu?" Tanya Nyonya Lin sedikit ragu. Nyonya Lin takut mendengarkan jawaban yang di berikan suaminya itu. Bagaimana jika Tuan Ma mengatakan jika anak itu adalah anak kandungnya? Bukan hanya dirinya yang merasa kecewa pasti anak - anak tentu juga merasa sedih, seakan kehangatan keluarga yang dulu dirasakan mereka adalah sebuah kebohongan.
"Namanya Li Ziyu, seorang gadis yang menyelamatkan nyawaku. Usianya sama dengan Mingzhu aku ingin menjadikannya anakku. apakah Nyonya keberatan?"
Mendengar ucapan yang di berikan Tuan Ma tak bisa tidak membuat alis Nyonya Lin berkerut. 'Jika dilihat dia seumuran dengan Mingzhu, perbuatan apa yang telah di lakukan dengan badan sekecil itu hingga di sebut menyelamatkan nyawa?'
Karena masih terdapat keraguan di hatinya Nyonya Lin tak bisa menahan pertanyaan yang meluncur dari mulutnya. "Dia bukan anak harammu Tuan?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku bisa menikahi dua istri empat selir. Kenapa aku harus mencoreng reputasiku?" Amarah Tuan Ma yang sempat mereda kembali melonjak naik, karena mendengar pertanyaan dari istrinya.
Sebenarnya Nyonya Lin merasakan banyak hal yang terasa janggal, namun melihat suaminya yang kembali tersulut emosi memilih untuk menahan diri. Semuanya dapat di selesaikan secara perlahan.
***
Di halaman Shuiyuan tepatnya di dalam paviliun milik Ma Jingguo, mereka bertiga memandang kakak pertama yang sedang di obati oleh tabib Wang. Semuanya melihat dengan serius saat tabib Wang mencabut pecahan porselen tersebut.
"Hsst" Ma mingzhu reflek berdesis, begitu pecahan itu tercabut darah mengucur deras. Ma Jingguo melihat Ma Mingyu dan Ma Mingzhu pucat pasi tak bisa untuk tidak tersenyum geli.
'Lihatlah siapa yang terluka namun muka siapa yang terlihat kesakitan' batin Ma Jingguo. Setelah pecahan porselen itu tercabut tabib Wang menaburkan obat di atasnya lalu membalut luka tersebut dengan cermat. Setelah semua rangkaian pengobatan selesai tabib Wang pamit undur diri.
Ma Jingguo mengangkat Ma Mingzhu ke pangkuannya dan mengelus puncak kepalanya seakan mengatakan 'kakak baik - baik saja' lewat tindakannya. Serangkaian gerakan tadi dilakukan tanpa mengalihkan pandanganya dari Ma Mingyu, wajahnya masih sepucat kertas seolah dia lah yang telah kehilangan banyak darah.
"Yu Yu kecil melihat mukamu yang sepucat kertas orang yang tidak tahu akan mengira kamu sedang mencemaskanku"
Ma Mingyu yang sejak tadi terpaku dengan luka di pundak Ma Jingguo seketika merasa kesal.
''Berhenti memanggilku Yu Yu kecil!" Ma Minyu mendengus marah.
Ma Mingzhe melihat adegan yang familiar merasa lega, kemudian mengambil kue ketan manis dan memberikannya ke gadis yang ada di pangkuan kakak pertamanya. Ada hal yang ingin di bicarakan secara serius, perhatian Mingzhu harus di alihkan. Anak sekecil ini tak seharusnya memikirkkan hal berat.
"Anak perempuan yang di bawa oleh ayah itu" Ucapan Ma Mingzhe menggantung karena ia ragu mengatakan hasil penilaiannya, karena menurutnya pribadi hal ini sangat tidak masuk akal.
"Orang jahat?" Tanya Ma Mingyu tidak sabar mendengar kelanjutan dari saudaranya itu.
"Hal ini tidak sesederhana orang baik atau orang jahat, dia seperti seorang ahli yang bersembunyi di tubuh anak berumur dua tahun"
"Seorang ahli? Bukankah kakak menilainya terlalu tinggi?" Ma mingyu meremehkan.
'Mungkin saja dia anak haram ayah karena faktor keturunan jadi terlihat lebih pintar'
Tak ada seorangpun yang mengetahui jika diamnya Ma Mingzhu bukan karena menikmati kue ketan manis, namun dalam hatinya ia mengeluhkan satu kalimat 'Ayah menghilang'
Setelah berendam di telaga warna tubuh Ma Mingzhu telah menjadi sumber racun. Ma Mingzhu dapat mengolah racun dengan darah, atau sentuhan. Ya, semudah itu. Pada kenyataannya Ma Mingzhu belum bisa mengontrol racun didalam tubuhnya, efek dari racun yang belum terkontrol tak berbeda dengan terkena racun itu sendiri.'Mungkin ini yang ibu rasakan saat itu'Baju yang basah kuyup menunjukan keringat mengalir deras di seluruh badan Ma Mingzhu. Kemarin adalah tepat tujuh hari Ma Mingzhu menyerap racun di telaga warna, dengan badan yang di penuhi rasa sakit Zhao Yue menyeretnya pulang untuk segera berkultivasi.Benua Xuantian merupakan benua kelas rendah yang mengandung sedikit energi spiritual.Walaupun banyak orang yang menekuni beladiri di Benua Xuantian mereka bukanlah seorang kultivator, mereka hanyalah seorang praktisi beladiri. Seorang praktisi beladiri berbeda dengan kultivator. Seorang praktisi beladiri menguasai teknik beladiri tanpa menggunakan energi spiritual, sedangkan seorang k
Tok.. Tok...Sebuah bambu satu ruas yang di beri lubang kecil berbentuk persegi panjang sedang di pukul kencang oleh seorang lelaki tua yang sedang berdiri di atas menara."Cepat lari cepat... ada moster bermata merah" "Bagaimana bisa? Bukankah moster mata merah selalu muncul saat matahari terbenam?""Siapa yang tahu kapan dia datang, cepat kunci pintunya"Suara auman yang mengegelegar membuat bulu kuduk berdiri. Ada seorang penduduk yang penasaran dengan rupa moster tersebut, mencoba mengintip dari celah lubang. Moster itu berkepala singa dengan tanduk iblis di atasnya, badan manusia namun berukuran lima kali lipat lebih besar dari manusia pada umumnya, matanya merah menyala. Selama dua tahun terakhir, entah bagaimana di Desa Hu mengalami lonjakan kelahiran hampir dua puluh kali lipat di bandingkan penduduk desa lainnya. Namun kabar gembira beriringan dengan duka, tak ada yang tahu darimana datangnya moster bermata merah. Setiap kali moster datang akan selalu ada anak di bawah umur
Di benua Xuantian terbagi menjadi empat wilayah besar, yaitu Kerajaan Hualing, Kerajaan Xiling, Kerajaan Dongling, dan hutan kematian. Kerajaaan Hualing terletak di dataran tengah, merupakan tempat yang letak geografisnya paling diuntungkan dalam sektor pertanian, sehingga di sebut sebagai wilayah paling subur di seluruh benua Xuantian.Kerajaan Xiling memiliki tempat yang sebagian besar berisi gurun pasir, hanya sepertiga wilayah berisi padang rumput. Seluruh penduduk Xiling bersifat nonmaden, hal ini di kerenakan cuaca buruk yang tak menentu. Sistem kerajaan berdasarkan yang terkuat yang memimpin, jika ingin menduduki tahta tertinggi hanya perlu menaklukan seratus dua puluh suku untuk mendapat pengakuan sebagai Penguasa Agung. Lingkungan yang begitu keras menjadikan Kerajaan Xiling terkenal sebagai kerajaan dengan kekuatan militer yang buas dan tangguh.Kerajaan Dongling, terkenal sebagai kerajaan terkaya diantara tiga kerajaan. Karena letak geografisnya yang di kelilingi oleh pegun
"Nikmat.... gurihh....... masih hangat....... Ayo mampir kastanye panggang....... kastanye panggang..... kastanye panggang.....""Hei Guogan, kau berdagang atau mau mengajak anak gadis masuk rumah bordil? ""Pak Tuo pikiranmu itu buruk sekali, apa yang salah dengan caraku berdagang? Katanye ini memang baru saja di angkat dari panggangan masih hangat, rasanya juga gurih nikmat""Ahh nona manis, jangan pedulikan para laki - laki bau yang sedang berdebat itu. Bagaimana jika nona beli saja manisan buah persik ini, sama manisnya dengan nona" Ma Mingzhu yang sedang mengamati suasana pasar terkejut mendengar ucapan salah satu pedagang yang menawarkan manisan buah persik. Berapa tahun Ma Mingzhu tak memakan manisan buah persik? Mungkin lima tahun? Semenjak sang ibu meninggal Ma Mingzhu hanya makan untuk menyambung hidup. Bahkan makanan pelayan jauh lebih baik dari apa yang Ma Mingzhu makan sehari - hari. Terkadang juga Ma Mingzhu harus menahan lapar seharian. Sekarang melihat manisan buah p
Di kedalaman hutan yang tak pernah tersentuh manusia, terdapat sebuah rumah sederhana dengan satu halaman. Asap yang mengepul menyatu dengan angin yang berhembus membuktikan jika didalam rumah terdapat kehidupan.Seorang laki - laki tengah merebus obat dengan tungku bara api, tangannya terus bergerak tak mengenal lelah. Terkadang ia mengipasi bara api agar tetap menyala atau terkadang menambahkan beberapa bahan obat - obatan.Melihat obat telah di masak dengan sempurna ia menuangkan ke dalam mangkuk. Laki - laki itu melangkahkan kaki ke dalam kamar lalu duduk bersandar di tepi ranjang, menenggak obat yang di bawanya dengan sekali minum. Ada yang berbeda dengan cara laki - laki itu meminum obat, ia tak langsung menelannya justru menggerakkan salah satu tanggannya untuk membuka mulut seorang gadis yang sedang tidur di sampingnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya mengalirkan cairan pahit ke dalam mulut sang gadis sedikit demi sedikit.Sepuluh hari gadis ini tertidur, sebenarnya luka ya
Lin Ziyu merasakan hawa dingin menyergap dirinya, saat tersadar lehernya telah di cekik. Namun bukan merasakan ketakutan Lin Ziyu tertawa terbahak - bahak. "Kamu yang membunuh ibuku?""Jika iya mengapa? Bisakah kamu membalaskan dendam ibumu?" Jawab Lin Ziyu dengan santai, bahkan saat tangan yang mencekik leher Lin Ziyu semakin mengerat namun tak ada takut sedikitpun di matanya."Hahaha.. akh.. biar aku ceritakan bagaimana ibumu mati, di paksa menenggak racun lalu tubuh bagian dalamnya membusuk. Kau ingin tahu bagian yang paling seru? Rasanya seperti di sayat, di tusuk, dibakar, gatal panas dan sakit di saat bersamaan, mungkin lebih baik mati? Kakak, aku sudah berbaik hati membiarkan ibumu mati dalam keadaan tubuh yang utuh""Apa kamu juga ingin tahu kabar kakakmu yang jatuh ke jurang kematian? Oh.. bagaimana yaa keadaan mayatnya? Kepala pecah? Atau di makan binatang buas? Kakak.. menurutmu bagaimana? Akhh.... auu.. mungkin jika aku menemukan mayatnya aku sambung dengan kepala anjing s
Angin malam berhembus melewati celah jendela berdampingan dengan cahaya perak bulan.Diantara gelapnya malam seorang pemuda sedang berjongkok di samping tempat tidur seorang gadis. Melihat gadis itu tidur dengan begitu lelap ia mengambil sebotol salep dari balik lengan bajunya.Pemu
Satu bulan yang lalu Tuan Ma mengadakan pertemuan keluarga dan menyampaikan keputusan untuk mengumumkan ke dunia luar bahwa Li Ziyu adalah saudara kembar dari Ma Mingzhu. Tuan Ma akan membuat alasan bahwa pendeta mengatakan mereka berdua tak bisa hidup berdampingan karena dapat menyebabkan bencana
Seorang pengawal dengan pakaian serba hitam menyelusup ke kediaman Perdana Menteri, memasuki halaman Lanyun. Gerakannya yang begitu cepat dan stabil dapat menyelinap tanpa di ketahui seorang pengawal yang sedang berptroli, jelas dia bukan pengawal biasa.Orang tersebut memberi hormat ke seorang gadi
"Kamu masih juga mudah terbawa emosi, belajarlah untuk mengendalikannya Mingyu! Apa kau juga belum sadar? Dengan situasi saat ini seharusnya kita bersikap lebih dewasa. Kamu beruntung Mingzhe cepat tanggap, kalau tidak? Melihat keadaan ayah saat ini bisa - bisa kau di pukul sampai mati" Walaupun mul







