LOGIN"Kamu masih juga mudah terbawa emosi, belajarlah untuk mengendalikannya Mingyu! Apa kau juga belum sadar? Dengan situasi saat ini seharusnya kita bersikap lebih dewasa. Kamu beruntung Mingzhe cepat tanggap, kalau tidak? Melihat keadaan ayah saat ini bisa - bisa kau di pukul sampai mati" Walaupun mulutnya mengeluarkan omelan sepanjang sungai Yangzhe namun tangan Ma Jingguo dengan cekatan membalut luka setelah di oleskan obat dari tabib Wang.
Ya, suara pecahan cangkir teh saat perjamuan itu berasal dari Mingyu, diantara mereka Mingyu adalah orang yang mudah sekali terbawa emosi. Beruntungnya di saat semua mata para tamu undangan tertuju ke arah datangnya suara, Mingzhe dengan santainya ikut memecahan cangkir dan berkata "Aku kalah"
Tindakan tersebut terbukti efektif hal ini di buktikan dengan seorang tamu undangan yang bercanda "Cucu Jendral Penjaga Utara memang luar biasa, bahkan saat bermain pun adu kekuatan tak takut luka, tidak seperti anakku yang jatuh sedikit langsung menangis" Beruntung setelah gurauan tersebut suasana kembali meriah.
Perjamuan telah usai dua cangkir teh yang lalu, walaupun sebagian besar tamu undangan telah berpamitan namun ayah dan ibunya masih menjamu beberapa kerabat dan teman dekat. Mengenai anak pungut itu? Entahlah, semakin jarang bertemu justru semakin baik.
Ma Mingyu yang mendapat omelan dari kakak sulungnya hanya bisa terdiam, kini ia menyadari betapa gentingnya situasi.
"Kak, waktu itu kakak bilang anak pungut ayah tidak sederhana hal itu benar - benar?" Tanya Ma Mingyu, namun Ma Mingzhe hanya membalas dengan gumaman malas.
Jika hal ini benar - benar terjadi betapa mengerikannya. Melihat sikap sang ayah selama ini kemungkinan besar sudah masuk perangkap iblis cilik itu, lalu apa jadinya ia yang hanya anak kemarin sore?
Melihat wajah Mingyu yang pucat pasi, Ma Jingguo hanya menghela nafas, "Mingzhe, bawa Mingzhu dan Mingyu beristirahat"
Ma Mingzhe tidak segera menjawab perintah kakaknya ia malah mengangkat kepala melihat ke atas pohon plum yang ada di samping paviliun. Setelah mempertimbangkan beberapa hal Mingzhe mengulurkan tangan ke adik bungsunya itu "Pulang hmm?"
Walaupun Ma Mingzhu tengah mengantuk berat, ia tetap mengangguk dan menerima uluran tangan sang kakak. Ma Mingzhe yang melihat saudaranya tengah linglung ia menggunakan tangan satunya untuk menarik kerah baju belakang leher. "Pulang!"
Ma Mingyu yang di tarik kerah bajunya tersentak dari lamunan, "Hei!, apa ini? Lepaskan kak" Seakan tak mendengar suara rengekan saudaranya Mingzhe tetap menarik kerah baju Ma Mingyu.
"Kak, Lepas... "
"Kak..."
Setelah melihat bayangan ketiga saudaranya menghilang dari jarak pandangnya ia ingin berkata "Keluar!" Namun belum sempat terucap sesosok pemuda dengan pakaian hitam polos tanpa hiasan apapun telah duduk di hadapnnya sedang menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Gerakannya lembut, elegan namun tetap membawa kesan berwibawa.
"Bagimana?" Tanya orang itu setelah mencicipi teh yang ada di hadapannya.
Sebenarnya ia tak bisa percaya begitu saja dengan orang yang baru di temuinya sebanyak dua kali. Namun selama seminggu ini mau sebanyak apapun dirinya berfikir, nyatanya tak mendapatkan solusi yang lebih baik dariapada yang di tawarkan oleh orang di depannya ini.
Ma Jingguo membenci dirinya yang tidak bisa diandalkan. Jika saja ia lebih kuat dan bisa melindungi saudaranya tanpa harus terikat perjanjian yang merugikan ini.
"Baik setuju, Tuan harap ingat tentang syarat jika Mingzhu harus setuju dengan sukarela tanpa ada paksaan apapun"
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji" Ucapnya tanpa menunjukkan ekspresi sedikitpun di wajahnya. 'Yah, walaupun tak setuju pun ia punya ribuan cara agar gadisnya berkata setuju'.
Pemuda itu melemparkan liontin ke arak Ma Jinguo lalu berdiri dan mengibaskan lengan bajunya. "Pertemuan selanjutnya harap Tuan Muda menyajikan teh Yuzu" Ucapan pemuda itu bersamaan dengan hilangnya bayangan di balik atap bangunan.
***
Memasuki awal musim semi, di halaman Fuzheng terasa damai, namun suasana damai yang dilihat para tuan muda justru terasa menyesakkan hati.
Dulu halaman Fuzheng merupakan halaman yang paling semarak di bandingkan halaman lainnya. Ma Mingzhu adalah anak yang aktif mempunyai banyak hal untuk dilakukan. Namun sekarang melihat gadis kecil itu sedang duduk termenung di bangku, ingin sekali rasanya mendekap tubuh mungilnya dan mengatakan bahwa
'kakak selalu bersama dengan adik kesayangan kakak ini'. Namun sadar jika ia melakukan hal itu sama saja dengan menyatakan kebohongan, bukankah pada ahirnya sama saja menambah luka?
"Kakak pertama, haruskah kita batalkan saja rencananya?" Tanya Ma Mingyu dengan nada yang berat.
"Rencana buruk, tetap tinggal sama saja dengan menyerahkan diri menjadi boneka dia?" Jawab Ma Jingguo memcoba mengingatkan Ma Mingyu.
"Tapi... menurut kakak kedua kita juga harus tetap pergi?" Tanya Ma Mingyu. Sungguh ia merasa tak aman jika harus meninggalkan adik bungsunya sediri semenjak kedatangan anak angkat ayahnya. Banyak hal yang terasa janggal namun mereka tak menemukan satu bukti yang tertinggal.
"Pergi" ucap Ma Mingzhe dengan nada tenang, namun di balik sorot matanya terdapat banyak perhitungan.
Ma Minyu merasa keberatan dengan jawaban yang kakaknya itu, namun sewaktu ingin membantah dan melihat pandangan mata Ma Mingzhe yang penuh siasat semua kata yang ingin di keluarkan dari mulutnya tertelan kembali.
Ma Jingguo menatap adiknya satu per satu dari si kembar yang memiliki kepribadian terbalik hingga ke si bungsu yang tampak kesepian. Melihat rumah yang dulunya tampak harmonis kini terasa dingin dan suram ia hanya bisa menghela nafas.
Sejak perjamuan pengenalan Lin Ziyu telah dilaksanakan seminggu yang lalu. Interaksi ayah dan ibunya tak seperti dulu kini makin terasa dingin. Ma Jingguo hanya mampu menahan adik - adiknya untuk tidak ikut campur terlalu memdalam urusan kedua orang tuanya.
Tak ada pilihan lain, ibunya semakin hari tampak seperti semakin lilung sedangkan sang ayah dan penghuni mansion Perdana Menteri seakan di perbudak secara tak kasat mata oleh Lin Ziyu.
Sebagai seorang kakak ia hanya ingin yang terbaik untuk para adiknya. Walaupun ia tak percaya sepenuhnya terhadap orang itu, setidaknya ia memberikan satu kelemahannya untuk jadi jaminan.
"Tuan muda, Nyonya meninggal" Seruan seorang pelayan dengan langkah tergesa - gesa mumbuat semua orang terkejut setengah mati.
"Apa kamu bilang!" Teriak Ma Mingyu
Ma Jingguo mengerutkan dahi dan berkata "Mu Yu kalau bercanda jangan tak tahu aturan!" Ucapnya dengan nada tegas
"Tuan muda saya tidak sedang bercanda, Nyonya di temukan tenggelam di danau oleh seorang pelayan dan setelah di selamatkan ternyata Nyonya telah.. telah berhenti bernafas" Mu Yu menjelaskan dengan nafas yang terengah - engah.
"Ibu"
Suara lirih seorang gadis menyadarkan para Tuan Muda yang entah sejak kapan Ma Mingzhu sudah berdiri di dekat mereka.
Setelah berendam di telaga warna tubuh Ma Mingzhu telah menjadi sumber racun. Ma Mingzhu dapat mengolah racun dengan darah, atau sentuhan. Ya, semudah itu. Pada kenyataannya Ma Mingzhu belum bisa mengontrol racun didalam tubuhnya, efek dari racun yang belum terkontrol tak berbeda dengan terkena racun itu sendiri.'Mungkin ini yang ibu rasakan saat itu'Baju yang basah kuyup menunjukan keringat mengalir deras di seluruh badan Ma Mingzhu. Kemarin adalah tepat tujuh hari Ma Mingzhu menyerap racun di telaga warna, dengan badan yang di penuhi rasa sakit Zhao Yue menyeretnya pulang untuk segera berkultivasi.Benua Xuantian merupakan benua kelas rendah yang mengandung sedikit energi spiritual.Walaupun banyak orang yang menekuni beladiri di Benua Xuantian mereka bukanlah seorang kultivator, mereka hanyalah seorang praktisi beladiri. Seorang praktisi beladiri berbeda dengan kultivator. Seorang praktisi beladiri menguasai teknik beladiri tanpa menggunakan energi spiritual, sedangkan seorang k
Tok.. Tok...Sebuah bambu satu ruas yang di beri lubang kecil berbentuk persegi panjang sedang di pukul kencang oleh seorang lelaki tua yang sedang berdiri di atas menara."Cepat lari cepat... ada moster bermata merah" "Bagaimana bisa? Bukankah moster mata merah selalu muncul saat matahari terbenam?""Siapa yang tahu kapan dia datang, cepat kunci pintunya"Suara auman yang mengegelegar membuat bulu kuduk berdiri. Ada seorang penduduk yang penasaran dengan rupa moster tersebut, mencoba mengintip dari celah lubang. Moster itu berkepala singa dengan tanduk iblis di atasnya, badan manusia namun berukuran lima kali lipat lebih besar dari manusia pada umumnya, matanya merah menyala. Selama dua tahun terakhir, entah bagaimana di Desa Hu mengalami lonjakan kelahiran hampir dua puluh kali lipat di bandingkan penduduk desa lainnya. Namun kabar gembira beriringan dengan duka, tak ada yang tahu darimana datangnya moster bermata merah. Setiap kali moster datang akan selalu ada anak di bawah umur
Di benua Xuantian terbagi menjadi empat wilayah besar, yaitu Kerajaan Hualing, Kerajaan Xiling, Kerajaan Dongling, dan hutan kematian. Kerajaaan Hualing terletak di dataran tengah, merupakan tempat yang letak geografisnya paling diuntungkan dalam sektor pertanian, sehingga di sebut sebagai wilayah paling subur di seluruh benua Xuantian.Kerajaan Xiling memiliki tempat yang sebagian besar berisi gurun pasir, hanya sepertiga wilayah berisi padang rumput. Seluruh penduduk Xiling bersifat nonmaden, hal ini di kerenakan cuaca buruk yang tak menentu. Sistem kerajaan berdasarkan yang terkuat yang memimpin, jika ingin menduduki tahta tertinggi hanya perlu menaklukan seratus dua puluh suku untuk mendapat pengakuan sebagai Penguasa Agung. Lingkungan yang begitu keras menjadikan Kerajaan Xiling terkenal sebagai kerajaan dengan kekuatan militer yang buas dan tangguh.Kerajaan Dongling, terkenal sebagai kerajaan terkaya diantara tiga kerajaan. Karena letak geografisnya yang di kelilingi oleh pegun
"Nikmat.... gurihh....... masih hangat....... Ayo mampir kastanye panggang....... kastanye panggang..... kastanye panggang.....""Hei Guogan, kau berdagang atau mau mengajak anak gadis masuk rumah bordil? ""Pak Tuo pikiranmu itu buruk sekali, apa yang salah dengan caraku berdagang? Katanye ini memang baru saja di angkat dari panggangan masih hangat, rasanya juga gurih nikmat""Ahh nona manis, jangan pedulikan para laki - laki bau yang sedang berdebat itu. Bagaimana jika nona beli saja manisan buah persik ini, sama manisnya dengan nona" Ma Mingzhu yang sedang mengamati suasana pasar terkejut mendengar ucapan salah satu pedagang yang menawarkan manisan buah persik. Berapa tahun Ma Mingzhu tak memakan manisan buah persik? Mungkin lima tahun? Semenjak sang ibu meninggal Ma Mingzhu hanya makan untuk menyambung hidup. Bahkan makanan pelayan jauh lebih baik dari apa yang Ma Mingzhu makan sehari - hari. Terkadang juga Ma Mingzhu harus menahan lapar seharian. Sekarang melihat manisan buah p
Di kedalaman hutan yang tak pernah tersentuh manusia, terdapat sebuah rumah sederhana dengan satu halaman. Asap yang mengepul menyatu dengan angin yang berhembus membuktikan jika didalam rumah terdapat kehidupan.Seorang laki - laki tengah merebus obat dengan tungku bara api, tangannya terus bergerak tak mengenal lelah. Terkadang ia mengipasi bara api agar tetap menyala atau terkadang menambahkan beberapa bahan obat - obatan.Melihat obat telah di masak dengan sempurna ia menuangkan ke dalam mangkuk. Laki - laki itu melangkahkan kaki ke dalam kamar lalu duduk bersandar di tepi ranjang, menenggak obat yang di bawanya dengan sekali minum. Ada yang berbeda dengan cara laki - laki itu meminum obat, ia tak langsung menelannya justru menggerakkan salah satu tanggannya untuk membuka mulut seorang gadis yang sedang tidur di sampingnya. Kemudian ia menundukkan kepalanya mengalirkan cairan pahit ke dalam mulut sang gadis sedikit demi sedikit.Sepuluh hari gadis ini tertidur, sebenarnya luka ya
Lin Ziyu merasakan hawa dingin menyergap dirinya, saat tersadar lehernya telah di cekik. Namun bukan merasakan ketakutan Lin Ziyu tertawa terbahak - bahak. "Kamu yang membunuh ibuku?""Jika iya mengapa? Bisakah kamu membalaskan dendam ibumu?" Jawab Lin Ziyu dengan santai, bahkan saat tangan yang mencekik leher Lin Ziyu semakin mengerat namun tak ada takut sedikitpun di matanya."Hahaha.. akh.. biar aku ceritakan bagaimana ibumu mati, di paksa menenggak racun lalu tubuh bagian dalamnya membusuk. Kau ingin tahu bagian yang paling seru? Rasanya seperti di sayat, di tusuk, dibakar, gatal panas dan sakit di saat bersamaan, mungkin lebih baik mati? Kakak, aku sudah berbaik hati membiarkan ibumu mati dalam keadaan tubuh yang utuh""Apa kamu juga ingin tahu kabar kakakmu yang jatuh ke jurang kematian? Oh.. bagaimana yaa keadaan mayatnya? Kepala pecah? Atau di makan binatang buas? Kakak.. menurutmu bagaimana? Akhh.... auu.. mungkin jika aku menemukan mayatnya aku sambung dengan kepala anjing s







