Happy Reading
***** Lelaki itu menatap Mutia dengan marah, membuat si ibu guru langsung menundukkan kepala. "Angkat kepalamu!" perintah Bagas, "Aku bukan Nazar yang tidak akan mau mendengarkan apa yang wanitanya inginkan." Perlahan, Mutia memberanikan diri mengangkat kepala. Namun, wajahnya masih terlihat ketakutan. Siapa yang tidak akan takut ketika berhadapan dengan lelaki seperti Bagaskara ini. Nama kejam dan cap playboy sudah tersemat lama pada lelaki tersebut. "Sekarang, katakan apa yang ingin kamu sampaikan. Tapi, aku tidak akan menerima penolakan karena kamu telah berjanji tadi." Walau lembut, tetapi perkataan Bagas sarat ancaman. Mana mungkin Mutia akan mengingkari apa yang sudah dia ucapkan tadi. "Saya cuma minta waktu sebentar untuk membersihkan diri. Sejak tadi pagi, saya belum sempat mandi. Pastinya, Anda nggak akan suka dengan bau-bau tak sedap yang mungkin akan tercium dari tubuh ini." Mutia berkata sambil menundukkan kepala. Terdengar suara tawa dari Bagas. "Tapi, di rumah ini tidak ada baju perempuan. Jadi, baju apa yang akan kamu gunakan setelah selesai mandi nanti?" Mutia melirik lawan bicaranya, jarang sekali lelaki don juan itu berkata seperti tadi. Biasanya, kalimat yang dikeluarkan lelaki itu selalu singkat, padat, jelas. Jarang sekali mengatakan hal-hal random seperti tadi. "Kalau begitu, bolehkah saya meminjam kemeja Anda?" pinta Mutia, menatap lawan bicaranya dengan rasa takut. "Pilih saja di lemari. Jangan memilih yang sudah aku pakai. Ambil yang baru, ada banyak di sana." Bagas berdiri menjauhi perempuan yang dibawanya. Namun, ketika akan mencapai gagang pintu, lelaki itu berbalik. "Untuk peralatan mandi, kamu juga ambil yang baru." "Iya." Patuh, Mutia menganggukkan kepala dan tidak menoleh pada Bagas lagi. Beberapa menit berlalu, Mutia sudah mengenakan kemeja milik Bagas tanpa menggunakan dalaman sama sekali karena memang tidak ada pengganti yang bisa dia gunakan. Mutia sengaja memilih kemeja berwarna hitam agar tidak terlihat mencolok di mata Bagas. Sang pemilik rumah sudah berada di ranjang dengan piyama berbahan satin. Menatap Mutia yang baru saja keluar dari kamar mandi nyaris tanpa berkedip. "Kemarilah," perintah Bagas tanpa mengalihkan tatapannya. "Hmm. Rambut saya masih basah," ucap Mutia dengan suara bergetar. Tanpa membalas perkataan perempuan tersebut. Bagas turun dari pembaringan. Menarik tubuh Mutia ke dalam pelukan, hanya sebentar saja. Setelah mencium aroma sampo yang digunakan perempuan itu, Bagas menuntunnya untuk duduk di depan cermin. "Biar aku keringkan. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi," bisik Bagas sambil mencium cuping telinga Mutia. Bulu kuduk perempuan itu berdiri. Sejak tadi, Bagas memperlakukannya begitu intim. "Pak, biar saya saja," pinta Mutia, merebut hair dryer di tangan sang Don Juan. "Aku tidak suka dibantah oleh seorang perempuan," sahut Bagas begitu tegas, syarat perintah yang harus dipatuhi oleh orang lain. Mutia terpaksa membiarkan lelaki itu mengeringkan rambutnya. Walau ada rasa takut dan khawatir jika Bagas akan segera menyerangnya. Namun, semua hal yang dirasakan si perempuan tidak terjadi bahkan untuk menyentuh area intim dan terlarang. Lelaki itu tidak melakukannya. Cuma butuh waktu sekitar lima menit bagi Bagas untuk mengeringkan rambut Mutia. Setelahnya, si lelaki langsung membopong perempuan itu keranjang besar miliknya. Meletakkan Mutia dengan hati-hati seolah sang guru adalah barang antik yang mudah rusak jika dia berlaku kasar. Kilat gairah memenuhi indera Bagas. Jangan tanya seberapa takut Mutia saat ini, rasanya dia ingin menghilang saja. Kesucian yang berusaha dijaga mati-matian, mungkin akan segera lenyap setelah malam ini. Bagas semakin tampak menakutkan ketika dia sengaja membuka kancing piyama dan melepas pakaian tersebut. Cengkeraman tangannya begitu kuat di pundak Mutia. "Pak," panggil Mutia lirih. "Apa?" Tak sabar, lelaki itu merebahkan Mutia, menindihnya hingga tidak ada ruang untuk melarikan diri bagi mangsanya. "Saya ...." ucap Mutia bergetar. Cup .... Sebuah ciuman mendarat di kening perempuan itu. "Jangan takut. Kita nikmati saja malam ini." Ciuman Bagas mulai turun ke area pipi. Lalu, beralih ke bibir. Menuntut sang wanita untuk membalasnya. Mutia, memukul pelan punggung Bagas yang terbuka. "Pak, tolong pelan-pelan. Ini pertama kalinya bagi saya berhubungan intim dengan laki-laki," kata Mutia gemetaran. Suara tawa Bagas meledak. "Aku nggak suka diatur-atur. Penuhi janjimu tadi!" bentaknya.Happy Reading*****"Agak aneh," sahut Arham."Nggak aneh, cuma kaget saja. Kamu bisa ngomong sebijak itu," tambah Surya."Anak Mama ternyata sudah semakin dewasa," timpal Anjani."Makin sayang kalau suamiku seperti ini," jawab Mutia."Kalian ini," ucap Bagas, malu-malu.Anjani tidak berani berkomentar karena takut Bagas akan tersinggung. Sementara itu, Nazar sudah berhasil memeluk Fardan. Sejak anak itu ditemukan dan dibawa pulang oleh anjani dan Surya, Nazar sebenarnya juga ingin dekat. Namun, sayangnya kebenciannya pada Bagas terlalu besar sehingga menyebabkan tembok pemisah yang menjulang tinggi. Pada dasarnya, Nazar itu penyayang dan sangat menyukai anak-anak."Boy, apa kamu mau manggil aku, Om?" tanya Nazar sebelum benar-benar memeluk si kecil yang hampir beranjak remaja.Tangan Fardan terangkat, mencegah Nazar mendekatinya."Boy, jangan begitu," nasihat Bagas disertai senyuman lembut."Apaan, sih, Pa," protes si kecil. Menatap lelaki di depannya. "Om boleh meluk, tapi ada syara
Happy Reading*****Mutia hampir melayangkan kembali tamparan di pipi Nazar andai tangan sang suami tidak bergerak cepat mencekalnya."Sayang, kekerasan tidak akan menyadarkannya. Lagian, saat ini dia sedang dipengaruhi oleh alkohol. Otaknya sudah bergeser," bisik Bagas memperingati sang istri. Mutia terdiam, baru menyadari jika suaminya memang sudah berubah. Biasanya, Bagas akan langsung melakukan kekerasan fisik pada seseorang yang nyata-nyata menentangnya."Mas, dia sangat menentangmu," kata Mutia, masih tak percaya jika suaminya akan dengan mudah memaafkan apa yang sudah dilakukan Nazar."Perkataan Mutia benar. Aku menantangmu secara terang-terangan. Serahkan dia untuk kembali padaku. Maka, aku akan melupakan semua dendam ini." Nazar menatap garang pada Bagas."Nazar, di mana hati nuranimu? Kenapa kamu tega melakukan ini? Jangan sampai Mas Bagas kembali marah dan nggak akan memaafkanmu," bentak Mutia."Biarkan dia melampiaskan semua kekesalan hatinya, Sayang," sahut Bagas, "Apa y
Happy Reading*****Mutia menoleh ke arah sang suami. Mengerutkan keningnya sambil bertanya dengan gerak bibir. "Siapa?"Bagas mengangkat kedua bahunya karena memang tidak mengetahui siapa yang menelpon Mutia dan tidak mempercayai jika dia adalah suami si ibu guru."Tolong jangan marah dulu, Pak. Saya cuma pekerja kafe yang diminta untuk menelpon nomor ini. Orang itu mengatakan jika Bu Mutia adalah istrinya dan sekarang Bapak mengaku sebagai suami Bu Mutia. Jadi, saya bingung. Siapa yang benar dan salah di sini," jelas suara di seberang. "Ngawur saja!" bentak Bagas. Mutia dengan cepat memencet tombol speaker untuk mengetahui penyebab kemarahan sang suami. "Sabar, Sayang," bisik Mutia disertai kecupan di pipi sang suami. "Maaf, kalau memang salah, Pak. Kami cuma menjalankan tugas saja. Kafe kami sudah mau tutup dan orang ini mabuk berat. Jadi, tujuan saya menelpon Bu Mutia sebagai istrinya supaya mau menjemput beliau."Mutia dan Bagas saling pandang. Lalu, si ibu guru membisikkan se
Happy Reading*****Mutia menempelkan kedua tangannya pada pipi sang suami. Menatap Bagas penuh cinta."Maaf, Mas Sayang," ucap si ibu guru membuat Bagas membulatkan kelopak matanya. Mutia beringsut, menggeser posisinya semula, mundur.Senyum si lelaki terbit, lalu menyerang bibir Mutia secara membabi buta. Bagas sama sekali tidak memberikan kesempatan pada sang istri untuk melanjutkan perkataannya tadi. Mengapa Mutia sampai harus meminta maaf.Selang beberapa menit kemudian karena ciuman Bagas yang menuntut, Mutia mulai kehabisan napas. Memukul-mukul pelan dada bidang sang suami, si ibu guru meminta untuk menghentikan aksi mereka.Bagas melepaskan pagutannya. Menyatukan kening dengan napas memburu. "Kenapa minta maaf, Hem?" tanyanya."Kita nggak bisa melakukan itu," kata Mutia."Kenapa?" Kedua alis Bagas hampir menyatu. Keningnya berkerut dan raut mukanya menunjukkan kekecewaan yang sangat.Si ibu guru mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami. Lalu berkata cukup lirih, "Aku lagi da
Happy Reading*****Bagas mengutuk lelaki yang memecah konsentrasinya tadi. Dia menatap tajam pada tamu yang tak dikenalnya itu. Keringat pun mulai turun membasahi dahinya.Mutia dengan cepat menggerakkan tangannya, menggenggam tangan sang calon imam dan menggelengkan kepalanya supaya tidak marah pada tamu yang sedang menelepon dengan berisik tadi."Nggak usah marah-marah di hari bahagia kita. Mas bisa ngulang lagi, kok," bisik Mutia lembut."Ya, bisa. Tapi, Mas, malu, Sayang. Gara-gara orang itu ngomongnya kenceng banget. Konsentrasinya Mas buyar," kata Bagas membalas perkataan sang pujaan."Ya, sudah. Sabar, ulang saja, Mas."Tak lama setelah Mutia mengatupkan bibir, sang penghulu memintanya untuk mengulang kalimat akad tersebut. Saat itu, semua tamu undangan sudah berhenti tertawa dan mulai menyimak apa yang akan diucapkan oleh sang mempelai pria."Ayo, Mas. Kita mulai lagi, konsentrasi, ya. Jangan sampai fokusnya hilang lagi. Nanti, makin lama belas durennya," goda sang penghulu un
Happy Reading*****Mutia menganga menatap lelaki di depannya yang terlihat sangat tampan. Tampilan Bagas sungguh mempesona dan sangat menakjubkan. Pantas jika banyak wanita kepincut padanya."Terpesona, ya? Masmu ini memang ganteng, kok," bisik Bagas yang melihat Mutia masih belum berkedip dan terus menatapnya."Dih," ucap si ibu guru. Baru sadar jika dia terlena oleh ketampanan sang calon suami. Para sahabat keduanya pun tertawa melihat tingkah lucu sang calon pengantin."Jujur saja kenapa?" kata Bagas."Udah nggak usah banyak ngomong. Ayo berangkat keburu telat," ajak Mutia."Hahai, sudah ada yang nggak betah pengen segera nikah," goda Azalia.Mutia mencebik, setelahnya masuk mobil tanpa menggubris candaan para sahabatnya. Bersama Bagas sebagai sopirnya, perempuan itu melaju ke tempat pernikahan."Mas kita mau ke mana sebenarnya? Arah ini kan nggak menuju rumah utama," tanya Mutia."Hmm, siapa yang mengatakan kita nikahnya di rumah?" Menoleh pada sang pujaan, tangan Bagas mulai jah