Home / Young Adult / HANYA ANAK PENGGANTI / BAB 31: PERTANYAAN DI UJUNG SENJA

Share

BAB 31: PERTANYAAN DI UJUNG SENJA

Author: thole
last update publish date: 2026-08-30 19:59:21

Mobil sedan hitam milik Yudistira berhenti di depan teras rumah megah bernuansa cermin dan semen itu pada Minggu siang. Yuna melangkah turun dari pintu penumpang belakang dengan gerakan lambat. Tubuhnya masih terasa lemas, dan pergelangan tangan kirinya tertutup kain jaket tipis untuk menyembunyikan bekas tusukan jarum yang memar.

Yuna berjalan lurus menuju kamarnya di lantai dua tanpa menyapa siapa pun. Di dalam kamar yang luas namun sunyi itu, Bik Sum sudah bersiap merapikan tempat tidur dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 34: KEMBALINYA SANG RATU ES

    Matahari pagi menyusup lembut menembus celah jendela kaca kamar Yuna di lantai dua kediaman keluarga Yudistira. Suasana di dalam kamar luas bernuansa minimalis itu tampak rapi dan sunyi seperti biasa. Di depan meja rias, Yuna berdiri tegak mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi yang terpasang rapi di kerah bajunya. Rambut panjangnya dikuncir satu dengan sangat teliti, memperlihatkan garis leher dan rahangnya yang tegas tanpa cela sedikit pun.Pergelangan tangan kiri Yuna masih dibalut rapi oleh plester medis berukuran kecil guna menutupi bekas tusukan jarum infus dari rumah sakit beberapa hari lalu. Gadis itu mengambil tas punggung berwarna hitam di atas kursi, menyampirkannya ke salah satu bahu, lalu bersiap melangkah keluar untuk memulai aktivitas paginya di sekolah.Tiba-tiba, pintu kamar yang tidak terkunci terdorong perlahan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan mengenakan seragam sekolah yang serupa, meski wajah pucatnya masih menyisakan sedikit kelelahan pasca pe

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 33: SENIN PAGI YANG TERBURU-BURU

    Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah ventilasi rumah sederhana keluarga Wandi. Udara Senin pagi terasa segar, berpadu dengan aroma kopi hangat dari dapur serta deru kendaraan bermotor yang mulai memadati jalanan komplek perumahan. Biasanya, suasana pagi di rumah ini diisi dengan rutinitas santai, obrolan ringan di meja makan, serta persiapan santai sebelum berangkat beraktivitas.Namun, kediaman keluarga Wandi pagi ini mendadak dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sama sekali tidak biasa.Jarum jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul enam lewat lima menit pagi. Pintu kamar utama terbuka perlahan saat Wandi dan Arumi keluar bersamaan dengan pakaian rumah yang masih santai. Di ruang tengah, mereka mendapati anak sulung mereka sudah berdiri tegap dengan seragam sekolah putih abu-abu yang disetrika sangat rapi. Tas ransel hitam berukuran besar sudah tersampir sempurna di kedua bahunya, lengkap dengan s

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 32: DUA KORBAN DI BALIK DINDING MEWAH

    Keheningan kamar bertambah pekat saat sore merambat naik. Bayangan tirai memanjang di atas keramik, membingkai dua sosok bersaudara yang duduk di atas kasur berseprai putih. Yuda masih memandangi pergelangan tangan Yuna yang menarik diri dari jangkauannya. Penyesalan yang menggantung di udara terasa kian mencekik tenggorokan, membuat suasana di dalam ruangan yang luas itu menjadi sangat berat dan menyesakkan dada.Yuna menatap lurus ke arah jendela luar. Iris mata cokelat gelapnya berair, memantulkan sinar jingga penutup hari. Ia menghembuskan napas pendek yang bergetar. Keheningan panjang berlalu sebelum akhirnya bibir pucat gadis itu kembali bergerak untuk menyuarakan rasa sakit yang terendap sekian lama di lubuk hatinya."Aku tahu kok, Kak," ucap Yuna pelan. Nada suaranya tak lagi sedingin batu, melainkan terdengar rapuh dan sangat tipis. "Aku tahu Kakak tidak punya niat. Aku tahu Kakak juga sakit. Aku juga enggak bisa benci sama Kakak... Karena Kakak juga korban."Pertahanan tembo

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 31: PERTANYAAN DI UJUNG SENJA

    Mobil sedan hitam milik Yudistira berhenti di depan teras rumah megah bernuansa cermin dan semen itu pada Minggu siang. Yuna melangkah turun dari pintu penumpang belakang dengan gerakan lambat. Tubuhnya masih terasa lemas, dan pergelangan tangan kirinya tertutup kain jaket tipis untuk menyembunyikan bekas tusukan jarum yang memar.Yuna berjalan lurus menuju kamarnya di lantai dua tanpa menyapa siapa pun. Di dalam kamar yang luas namun sunyi itu, Bik Sum sudah bersiap merapikan tempat tidur dan menyiapkan segelas air hangat di meja samping.Yuna merebahkan tubuhnya di atas kasur, menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca balkon yang tertutup rapat. Bik Sum berdiri di samping meja, menatap anak asuhnya dengan rasa iba yang tak pernah pudar.Tiba-tiba, pintu kamar Yuna yang sedikit terbuka didorong pelan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan napas yang agak berat. Langkah kakinya perlahan, tangannya masih memegang area perut yang terasa sedikit

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 30: MINGGU PAGI DAN CANDA TAWA

    Sinar matahari Minggu pagi memancar cerah menghangatkan pekarangan kecil di depan rumah keluarga Wandi. Aroma kopi hitam hangat dan kue balok yang baru selesai dipanggang berembus halus dari arah dapur. Suasana komplek perumahan sederhana itu tampak tenang, dihiasi suara cicit burung liar di dahan pohon mangga serta sapuan sapu lidi tetangga yang sedang membersihkan halaman.Namun, suasana santai di teras depan rumah Wandi terasa sedikit berbeda bagi anak sulungnya.Ken duduk bersandar kaku di atas bangku kayu teras, mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek santai. Tubuhnya disandarkan lesu ke dinding, dengan kedua kaki diluruskan ke depan tanpa bertenaga. Wajah pemuda yang biasanya penuh semangat dan senyum ceria itu kini tampak muram, dengan mata yang menatap kosong ke arah deretan pot bunga kertas milik ibunya di sudut halaman.Ken menghembuskan napas panjang secara dramatis untuk yang kesepuluh kalinya pagi itu."Haaaaah..."Arumi yang baru saja keluar dari dalam rumah sambi

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 29: BINTIK CAHAYA DI KEGELAPAN

    Sinar matahari Sabtu sore memancar redup dari balik tirai kamar rawat VIP nomor 302, membias warna jingga hangat di atas keramik steril. Suasana di dalam ruangan terasa begitu hening, hanya diwarnai oleh gesekan pendingin udara dan bunyi teratur monitor detak jantung Yuna yang sudah jauh lebih stabil.Yuna duduk bersandar di atas ranjang periksa. Slang infus masih menancap di tangan kirinya, mengalirkan kantong vitamin penambah darah yang hampir habis. Wajahnya tidak sepucat kemarin malam, namun raut dingin dan tatapan matanya yang hampa kembali terkunci rapat, seolah isakan hebat dan kerapuhan luar biasa beberapa jam lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang menguap disapu fajar.Bik Sum duduk di kursi kayu di samping ranjang. Tangan tua wanita paruh baya itu dengan telaten mengupas buah apel merah, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil lalu menaruhnya di piring kaca kecil di meja samping bed.Bik Sum melirik Yuna yang sejak tadi hanya menatap lurus ke arah jendela luar tanpa mengucapk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status