ログインAna masih terisak. Memeluk perutnya erat. Dia merasakan ada rasa tidak nyaman di bawah perutnya. "Tolong lepaskan saya." Pintanya. Dia tidak sebegitu berharga sampai Jeffreyan menukar perusahaan dengan nyawanya. Meski begitu, Ana masih berharap bekas kasih setidaknya keselamatan nyawa bayinya. "Hidup dan matimu saat ini ada ditangan Tuan Jeffreyan, satu keputusan yang dia ambil akan menjadi pedal kematian atau justru penyelamatan." Jeffreyan menatap Ana. Wanita itu tampak kecil. Rapuh. Tapi sedang membawa bagian dari dirinya. Padahal tidak ada yang sulit dari pilihan yang ditawarkan. Tujuannya membuat Ana menderita, dan mungkin tercapai melalui Davin . Tapi rasanya ada yang mengganjal dihatinya memikirkan bayi itu ikut terseret. Davin menyeringai tipis. “Anda selalu bilang semua orang punya harga.” Ia menatap tajam kearah Jeffreyan. “Sekarang giliran Anda membuktikan… seberapa mahal harga anak anda.” Srettt... "akh... " Ana meringis perih ketika ujung pisau
Gudang itu tidak besar. Bau oli dan besi tua menyengat di udara. Ana tidak tahu persisnya mereka ada dimana. Semalam di nyeri di perutnya teras amat menyiksa sampai Ana hilang kesadaran. Bangun bangun dirinya sudah berada di sini dengan posisi berbaring di sofa usang. Belum sempat sadar sepenuhnya, suara Davin kembali terdengar. "Berdiri." Ana yang tadinya duduk di kursi besi, dipaksa berdiri, lalu tanganya diikat dengan posisi berdiri membelakangi tiang. "Kalau mau adikmu selamat, jangan macam-macam." Peringat Davin. Ana tidak menjawab, mulutnya masih terkunci rapat. Masih shok dengan fakta bahwa ternyata ibu yang dia panggil Buk Sri selama 3 bulan ini nyatanya adalah wanita yang melahirkan nya lalu meninggalkan dia bersama sang Ayah. Dan Pria yang dia kenal sebagai salah seorang tekan bisnis Jeffreyan ini ternyata anak sambung ibunya. Netra Ana berpendar, melihat lebih jelas. Dia tidka tau mendeskripsikan tempat ini. Yang jelas didepanya ada pintu besar. Dan merupa
Tubuh Jelita gemetar. CCTV dengan jelas merekam detik-detik ketika Ana dibawa pergi. Ana terlihat berjalan dengan sukarela tanpa paksaan. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Jelita. Melainkan pria yang berjalan di depan Ana. Ana sangat kenal. Dan netranya semakin lebar ketika dengan jelas CCTV area parkir menangkap nomor plat mobil yang membawa Ana pergi. Tubuh Jelita nyaris roboh untuk kedua kalinya kalau saja Maya tidak bersiaga memegang. "Rekaman ini akan kami analisis sebagai barang bukti..." Ucapan seorang pria berseragam aparat negara membuat pikiran Jelita semakin semraut. Meski saat ini para polisi belum tahu siapa sosok pria di video, tapi Jelita paling kenal sosok pria memaki hoody itu. Pria itu Davin. Putra sambungnya dari pernikahan dengan Mas Harun. Tapi kenapa Davin menculik Ana, putra sambungnya menculik putri kandungnya. "Setelah selesai dianalisis selanjutnya nanti ibu akan dimintai keterangan-' "Pak, sepertinya ini bukan kasus penculikan."
“Lihat? Ini dia pria yang dua kali gagal menikah!” Sorakan Rangga menggema di antara denting gelas dan musik jazz yang mengalun pelan. Lampu temaram bar membuat bayangan wajahnya terlihat lebih liar dari biasanya. Jeffreyan tahu ia tak seharusnya menanggapi ocehan pria setengah mabuk itu. Namun kalimat barusan cukup menyentil egonya. “Setidaknya gue nggak menikah setelah viral dipermalukan seorang wanita,” ucapnya pelan, sarkasnya tajam seperti silet. Rangga mendengus. Well, dia kehabisan kata membantah. Jeffreyan memang dua kali gagal bertunangan. Tapi belum pernah sampai ke pelaminan. Belum pernah dipaksa bertanggung jawab seperti dirinya. . “Ah, sialan! Semua orang jadi tahu gadis itu hamil gara-gara mulut bocornya. ” Rangga menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Jeffreyan. Bukan rahasia lagi. Pernikahan kilat Rangga terjadi karena benihnya sudah lebih dulu bersemayam di perut sekretarisnya-Friska. Lebih dramatis lagi—wanita yang awalnya dipaksa menggugurkan kandungan it
Deg! “Apa maksudnya hilang?” suara Maya berubah tegang. Naluri dokternya langsung mengambil alih. “Pasien di bed 3 nggak ada di kamar, Dok. Infusnya tercabut… kami kira ke kamar mandi, tapi kosong, Dok,” jelas salah seorang perawat dengan napas terengah. “Apa sudah kalian cari ke sekeliling? Siapa tahu pasien dijenguk keluarga?” tanya Maya cepat. Kejadian seperti itu memang jarang, tapi bukan tak mungkin. Beberapa ibu hamil yang menunggu persalinan kadang memilih berjalan-jalan meski sudah larut malam. Perawat itu menggeleng lemah. “Tadinya saya pikir begitu, Dok. Tapi pasien tidak kunjung kembali. Sudah lebih dari setengah jam.” Maya mengangguk singkat. “Tenang. Kita cek dulu.” Ia segera berbalik menghampiri Jelita yang memandangnya heran. “Tante, aku tinggal sebentar nggak apa-apa?” Tanpa menunggu jawaban, Maya sudah bersiap keluar. “Nanti aku ke sini lagi.” “Ada apa, May?” tanya Jelita, menangkap kepanikan di wajahnya. “Salah satu pasien nggak ada di bed. Mungkin
sebelum baca bab ini baca dulu bab 119 yaa. ~~~&&~~~ Seorang suster memperbaiki cairan infus Ana yang sempat balik, setelah selesai dia tersenyum ramah. "kalau mau ke kamar mandi minta ditemani saja ya buk." Ana mengangguk sebelum naik ke ranjang dengan infus yang sudah kembali terpasang di tangannya. Di sampingnya, Buk Sri menaikkan selimut hingga menutupi tubuh Ana sampai ke dada. "Nanti klau infus nya sudah habis bisa panggil saya atau tekan tombol ini ya buk." ucap perawat pada Buk Sri sebelum berlaku keluar dari kamar inap. Ya, Ana jadinya menginap satu malam. Tubuhnya terlalu lemas dan kekurangan cairan. “Sudah lebih baik?” Ana mengangguk pelan. Perutnya menang sudah lebih baik setelah mengkonsumsi beberapa vitamin yang diberikan Dokter. Namun beberapa bagian tubuhnya masih tidak nyaman. “Perutnya masih sakit?” Ana menggeleng. Tatapan matanya masih dipenuhi kecemasan. “Tapi setelah ini kita langsung pulang, kan, Buk?” Kini giliran Buk Sri yang mengangguk.
"Diam! " desis Jeffreyan, netranya seperti bara api yang siap melahap Ana. Dalam sekejap rahang Ana di raup kasar, bibirnya dilumat penuh tuntutan membuat nafas Ana tersengal. "Eungh...ahh" Lenguhan Ana terdengar ketika tautan diantara mereka semakin panas. "Aku bisa lebih kasar kalau kamu t
“Ana! Ana, bangun!” Guncangan pelan dan tepukan itu membuat tubuh Ana tersentak keras. Ia terbangun dengan napas memburu, dada naik turun cepat seolah baru saja dikejar sesuatu yang menakutkan. Perlahan, matanya mengerjap, pandangannya berpendar memindai sekeliling. Langit-langit kamar yang famili
Girsa tidak pulang, mungkin dia menginap lagi di kantornya. Dan Ayura sama sekali tidak keberatan. Tapi masalahnya, mereka baru saja menikah, dan ke absenan Girsa dirumah menjadi bahan gosip untuk para pelayan. Orang-orang itu membicarakan Ayura di belakang, tapi sekali lagi, Ayura sebetulnya tida
Lidah Jeffreyan menari dengan liar, mengajak lidah Ana untuk saling membelit dalam pagutan basah yang penuh gairah. Tangan Jeffreyan bergerak liar, berpindah ke bokong Ana yang sintal , meremas nya dengan penuh damba. Perlahan jemari Jeffreyan turun ke menu utama yang menjadi santapannya. Di s







