Share

HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN
HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN
Author: Prettyies

Bab 1

Author: Prettyies
last update Last Updated: 2025-11-20 10:03:32

“ Ugh… ahh.. “

“Mas… pelan-pelan… sakit perutku,” Renita meringis, tangannya mencengkeram sprei.

Reza justru mendengus, gerakannya diatas ku melambat nada suaranya terdengar kesal.

“Kenapa sih kamu? Baru juga mulai. Bikin nggak mood aja.”

Renita menggigit bibir menahan nyeri. “Aku… udah dua bulan telat datang bulan.”

Reza langsung berhenti. Ia melepas diri duduk di ranjang dengan wajah tak percaya.

“Dua bulan?” katanya ketus. “Nita, kamu nggak mungkin hamil, aku selalu pakai pengaman.”

“Aku juga nggak tau, Mas,” lirih Renita dari bawah, tubuhnya masih menahan sakit.

Reza sudah sibuk meraih celananya di lantai. Ia memakainya dengan gerakan kasar.

“Kalau kamu hamil… itu malah akan jadi masalah. Mama bisa marah besar. Cicilan apartemen ini belum luas, adik-adik ku masih kuliah kalau kamu hamil biayanya akan semakin besar.”

Renita hanya menunduk. “Apa salah kalau aku hamil? Toh aku sudah punya suami tidak lajang…”

Reza tidak menjawab. Ia hanya mendengus lalu keluar kamar tanpa menoleh.

Dengan lemas, Renita meraih piyamanya yang tergeletak di lantai. Ia mengenakannya perlahan, menahan napas setiap kali nyeri menyengat perut dan pinggangnya.

Ketika keluar kamar mengikuti Reza, ia terkejut melihat Ayu ibu mertuanya sedang duduk di sofa ruang TV dengan tangan terlipat di dada.Seminggu sekali Ayu selalu datang ke apartemen, sejak dua tahun sejak Renita menikah dengan Reza.

Ayu selalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, bahkan soal anak, keuangan dll.Dia selalu berlindung dengan kata hemat,untuk menyetir kehidupan rumah tangga kami.

Suami ku yang merupakan anak sulung berkewajiban menafkahi, adik perempuannya yang sedang kuliah dan ibunya sejak ayah mereka meninggal.

Aku selalu menggunakan gajiku untuk kebutuhan rumah dan cicilan apartemen dan mobil. Karena semua gaji Mas Reza untuk keluarganya.

Ayu melirik tajam. “Renita, kamu ngapain sampai Reza bisa semarah itu?”

Renita duduk perlahan di sampingnya. “Perut dan pinggang ku sakit, Mama. Rasanya kayak mau haid… tapi aku sudah dua bulan telat.”

Ayu menoleh cepat. “Dua bulan telat datang bulan? Maksud kamu… kamu hamil?”

“Gak tau, Mah,” Renita menunduk. “Makanya aku bilang ke Reza.”

Ayu menarik napas panjang, wajahnya berubah muram. “Ren, cicilan apartemen dan mobil masih banyak Tania masih kuliah.Kalau kamu hamil biaya hidup kita akan semakin besar, apalagi nanti kamu gak kerja lagi siapa yang mau membayar rumah sakit?”

“Tapi… ini bukan salahku, Mah…”

“Mama tahu Reza selalu pakai pengaman,jadi seharusnya tidak mungkin kamu hamil.” Ayu mendekat, suaranya menajam. “Atau… kamu ada main di belakang Reza? Kamu selingkuh?”

Renita terkejut, matanya terbelalak. “Ma-mama! Enggak! Aku nggak mungkin—”

“Kalau begitu jelaskan! Dari mana telat dua bulan itu kalau bukan karena kamu macam-macam?”

“Mah, sumpah aku nggak selingkuh,” suara Renita bergetar. “Aku takut… aku juga bingung kenapa bisa telat.”

Ayu tidak melunak. Ia justru bangkit berdiri, menatap Renita seolah dia kriminal.

“Mulai besok, kamu periksa ke dokter. Mama mau hasil yang jelas. Mama nggak mau Reza ketularan penyakit karena kamu suka jajan atau selingkuh diluar.”

Renita hanya bisa menahan air mata yang mulai tumpah.

Dari dapur terdengar suara Reza berteriak, keras dan memerintah.

“Nita! Bikinin kopi!”

Ayu ikut menambahkan tanpa menoleh, nada suaranya tak kalah menusuk.

“Nita kamu denger gak suami kamu manggil? Cepat sana bikinin. Jangan lelet.”

Renita refleks bangkit. “Iya, Mah…”

Ia berjalan cepat ke dapur. Baru satu langkah masuk, Reza muncul dengan tatapan kesal.

“Cepetan! Jalan kok lemot banget, kayak siput.”

Ia berdecak lalu berjalan ke sofa, duduk berselonjor di samping ibunya sambil memainkan ponselnya.

Dari ruang TV, Ayu kembali berteriak,

“Nita! Sekalian bikinin Mamah teh tawar anget!”

Renita menjawab lirih, “Iya, sebentar…”

Ia memandang dapur yang tadi sudah ia bersihkan sepulang kerja kini berantakan lagi. Piring menumpuk, gelas kotor, bungkus makanan tercecer di meja.

Ia bergumam pelan, hampir tak terdengar,

“Dua tahun menikah dengan Mas Reza… nggak pernah sekalipun bantuin bersihin apartemen. Suruh panggil petugas kebersihan aja nggak mau keluar uang… semua harus aku yang kerjakan. Rasanya aku seperti hidup bersama bukan tinggal bersama.”

Renita mengambil kopi, teh, gelas, merebus air, dan menyiapkan semuanya dengan cepat. Begitu air mendidih, ia meracik kopi Reza dan teh Ayu, lalu meletakkannya di nampan.

Ia membawa nampan itu ke ruang TV.

“Mas, Mah… ini minumnya.”

Reza langsung menyambar cangkir kopi, menyeruput tanpa pikir panjang.

Detik berikutnya—

“BYURR!”

Kopi panas itu disemburkan tepat ke wajah Renita.

Renita terpaku. Cairan panas mengalir di pipi dan dagunya, membuatnya tersentak.

Reza berdiri dengan amarah membara.

“Panas begini kamu suruh aku minum?! Kamu sengaja mau bikin lidahku melepuh?!”

Renita menggeleng cepat, matanya memerah. “Mas, aku—aku nggak sengaja… aku cuma—”

Ayu ikut menyudutkan.

“Nita, kamu itu bikin apa sih? Masa kopi dikasih panas begitu. Nggak kasihan sama Reza?”

“Maaf, Mah…” suara Renita hampir hilang.

Ayu tiba-tiba beralih ke topik lain, lebih tajam.

“Za, mama heran. Gimana bisa kamu kebobolan?”

Reza mengernyit. “Kebobolan gimana?”

Ayu menatap Renita sinis.

“Nita bilang sudah dua bulan telat datang bulan. Dua bulan, Za! Kamu gimana sih?”

Reza langsung menepis dengan nada sinis.

“Aku selalu pakai pengaman, Mah. Dua tahun aman-aman aja, kenapa sekarang tiba-tiba telat?”

Ayu mendecak keras.

“Mama nggak mau tahu. Cicilan apartemen, dan mobil kalian masih banyak kalau Renita hamil siapa yang melunasi. Belum lagi kuliah adek mu mama pusing.Besok kalian periksa ke dokter!”

Reza menunjuk Renita, seolah memerintah bawahan.

“Besok kamu periksa sebelum berangkat kerja.”

Renita menelan ludah. “Mas… temenin aku ya? Aku takut kalau sendiri.”

Reza menoleh tajam, seolah permintaan itu penghinaan.

“Manja banget! Aku sibuk. Banyak kerjaan di kantor pergi sendirikan bisa.”

“Tapi Mas…” suara Renita melemah.

“TIDAK ADA tapi-tapian!”

Reza berbalik dan masuk ke kamar, pintu dibanting keras.

Ayu ikut bangkit sambil membawa teh.

“Mama mau ke kamar. Kamu beresin dulu semuanya. Jangan berani-berani tidur sebelum selesai.”

Tanpa menunggu jawaban, Ayu masuk ke kamar, menutup pintu di belakangnya.

Tinggallah Renita berdiri sendiri di ruang TV, wajah masih perih oleh kopi panas, tangan gemetar, dan hati remuk.

Di dalam batinnya, suara lirih bergema penuh luka:

“Apa aku akan terus sanggup menjalankan pernikahan ini?? ”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 67

    Renita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dengan langkah sedikit tergesa, ia keluar dari toilet dan menuju kasir.“Kamu lama banget,” ujar Deva sambil menoleh.“Ayo, keburu sore. Nanti macet.”“Iya, Mas,” jawab Renita pelan.Mereka keluar dari restoran menuju area parkir.Kasian Mas Deva…kalau sampai dijebak Natalia dan harus jadi ayah dari bayi yang bukan darah dagingnya, batin Renita gelisah.Deva membuka pintu mobil.“Ayo masuk. Kenapa bengong aja?”Renita tersentak kecil.“Iya,” katanya sambil masuk ke dalam mobil.Setelah pintu tertutup dan mesin mobil menyala, mobil pun melaju meninggalkan parkiran.Cerita nggak ya…Aduh, aku kok takut. Tapi kalau nggak dikasih tau, kasian Mas Deva, pikir Renita sambil menatap jalan di depan.Deva melirik sekilas ke arahnya.“Kamu kenapa, Ren?”“Ngelamun terus.”Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Renita lembut.“Ada yang mau diomongin sama Mas? Ngomong aja. Kayak sama siapa pun.”Renita menelan ludah.“Mas…”“Mas cinta nggak sih sam

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 66

    “Suapin Mas dong, Ren,” kata Deva sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.“Hah?” Renita tampak tidak fokus, tatapannya kosong sesaat.“Kamu mikirin apaan sih?” Deva tersenyum.“Mas ada di depan mata kamu, loh.”Renita tersentak.“Maaf, Mas. Tadi Mas ngomong apa?” tanyanya gugup.“Suapin Mas,” ulang Deva, nadanya dibuat manja.Renita menghela napas kecil sambil tersenyum.“Kamu nggak berubah dari dulu. Kalau makan selalu minta disuapin.”Deva menatapnya dalam.“Berarti kamu masih ingat,” katanya pelan.“Atau… kamu memang nggak pernah lupa sama Mas?”Renita langsung mengalihkan pandangan.“Udah, jangan dibahas,” katanya cepat.Ia mengambil sumpit, lalu menyuapi Deva.“Aaa.”Deva membuka mulut, lalu tersenyum puas.“Enak banget ramen-nya kalau kamu yang nyuapin.”Renita menggeleng kecil.“Itu karena ramen-nya memang enak, Mas.”Setelah mereka selesai makan, Deva mengangkat tangan memanggil pelayan.“Mbak, sini deh. Kita mau pesan dessert.”“Dessert apa, Pak?” tanya pelayan.“Dua es krim a

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 65

    “Jangan bengong, Ren. Ayo berangkat,” ujar Deva sambil meraih koper.“Iya, Mas,” jawab Renita cepat, lalu mengikutinya keluar kamar.Deva menarik koper Renita ke arah pintu, lalu spontan menggenggam tangan Renita.“Mas, jangan,” Renita refleks menahan, menoleh ke kanan kiri.“Nanti orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang kita.”Deva meliriknya sekilas, senyum tipis muncul.“Kamu penakut banget sih. Ayo.”Renita tak menjawab, hanya menunduk sambil membiarkan Deva tetap menggandeng tangannya.Mereka keluar dari unit apartemen, berjalan menuju lift. Suasana hening di dalam lift terasa canggung.Renita mencuri pandang.“Mas… orang bisa lihat.”Deva terkekeh pelan.“Lihat apa? Kita cuma jalan bareng.”Lift berhenti di basement. Deva lebih dulu keluar, menarik koper Renita menuju mobil, lalu membuka bagasi dan meletakkannya dengan rapi.“Udah,” katanya singkat.Ia lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Renita.“Silakan.”Renita tersenyum kecil.“Terima kasih, Mas.”Deva m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 64

    “Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 63

    Renita refleks mendorong dada Deva dengan kedua tangannya. “Mas! Apa-apaan kamu?”Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan.Deva terhenti, menatap Renita dengan sorot mata yang dalam. “Mas cuma…”Ia tak melanjutkan kalimatnya.Renita segera berbalik menuju lemari, membuka pintu dengan gerakan tergesa. Tangannya meraih beberapa potong pakaian. “Aku mau ganti baju,” ucapnya tegas.Namun Deva sudah berdiri di belakangnya. Ia meraih gaun dari tangan Renita, lalu mengembalikan pakaian itu ke dalam lemari. “Biar Mas yang pilih,” katanya pelan.Deva menggeser beberapa gantungan, lalu menarik sebuah dress sederhana berwarna lembut. “Kamu pakai ini,” ujarnya sambil tersenyum.“Pasti cantik.”Renita menoleh, wajahnya memerah. “Mas, minggir. Aku mau ganti.”Deva terkekeh kecil. “Kenapa harus minggir? Mas kan sudah lihat semuanya,” godanya ringan.“Mas Deva!” tegur Renita, dengan terbata-bata karena gugup.Deva mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, iya. Mas tunggu di ranjang.”Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status