Share

Bab 2

Penulis: Prettyies
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 10:05:00

Pagi hari.

Renita sudah berdandan rapi, menenteng tas kerja sambil merapikan rambutnya di depan cermin. Dia sudah siap berangkat ke dokter saat Reza keluar dari kamar mandi sambil merapikan rambutnya.

"Mas…" Renita menatapnya dari cermin.

Reza menyela cepat, "Mama tadi pagi bilang sama aku pas nganterin dia pulang. Katanya kita mending ke klinik Mas Deva aja. Kakak tiriku dia baru saja buka klinik di Jakarta."

Renita menoleh penuh tanda tanya. "Kenapa gak ke rumah sakit aja sih? Kan sekalian dekat kantorku. "

"Kalau di rumah sakit mahal, Ren." Reza merapikan ujung dasinya. "Kalau sama Mas Deva, gak bayar. Uangnya bisa aku pakai buat hal-hal yang lebih penting."

Dalam hati Renita bergumam, “Dasar pelit. Periksa kandungan kok dihitung-hitungan.”

"Terus..." Renita melipat tangan di dada, "Katanya semalam kamu gak mau nganterin aku. Sekarang kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"

Reza mendesah berat, seperti bosan mendengar rengekan. "Mama tadi bilang kamu bisa aja bohong demi mempertahankan rumah tangga kita. Kalau kamu hamil anak pria lain, aku bisa ketularan penyakit menular seksual kamu nanti."

Renita terperanjat. "Mas, keterlaluan… Berapa kali aku bilang aku gak selingkuh. Aku cuma sama kamu!"

"Ya udah," Reza mengangkat bahu sambil mengambil jam tangan. "Makanya ayo kita buktikan. Udah jam segini, Mas Deva nunggu."

Reza keluar kamar lebih dulu. Renita menutup mata beberapa detik, mencoba menelan kesalahan yang bukan miliknya, lalu menyusul.

Ayu,Ibu mertuanya, sudah pulang subuh tadi diantar Reza karena rumahnya dekat dari sini dia hanya datang saat weekend. Lima hari tanpa dia… lumayan tenang, Renita bergumam dalam hati.

Mereka turun lift ke basement. Reza berdiri menyilangkan tangan.

"Tunggu sini, aku ambil mobil."

Renita mengangguk pasrah. Sementara itu, Reza berjalan ke arah sport car-nya.lalu menjemput Renita di lobby.

"Cepetan naik," ucapnya ketus.

Renita duduk di sebelahnya. Sabuk dipasang. Mobil melaju menuju Klinik Medika Raya. Tidak ada suara selama beberapa menit. Reza menatap lurus ke jalan, wajahnya dingin.

Renita akhirnya tak tahan. "Mas… kenapa sih kamu selalu nurut banget sama mama kamu?"

Reza melirik tajam. "Kamu nyuruh aku durhaka sama mama?"

"Bukan gitu, Mas. Tapi kita sudah menikah. Kenapa semua harus nunggu restu mama? Apapun selalu mama… mama… mama…"

Reza menghentakkan tangannya ke setir. "Surga anak laki-laki ada di telapak kaki ibunya. Aku bisa sukses sekarang juga karena doa mama."

Renita menahan nafas. "Tapi bukannya seorang pria jadi sukses juga karena doa istri? Buktinya dulu sebelum menikah sama aku kamu—"

BRAK. Reza menginjak rem mendadak sedikit.

"Berani banget kamu ngomong begitu ke suamimu?!"

Renita terkejut, tubuhnya maju sedikit. "Maaf, Mas… aku cuma—"

"Cuma apa?" Reza menatap sinis. "Cuma pengen aku melawan mama? Itu niatmu, Ren? Hah? Tak kusangka kamu begitu."

"Mas, aku bener-bener gak ada pikiran begitu…"

"Sudah. Diam. Jangan diulangi lagi."

Nada Reza datar tapi menusuk.

Renita menggigit bibir, menahan air mata yang hampir jatuh.

Mobil berhenti di lobby klinik.

Reza bahkan tidak menoleh. “Sana turun dulu. Aku parkir dulu, nanti nyusul.”

Renita menarik napas panjang, membuka pintu, dan turun tanpa menjawab. Ia berjalan masuk ke lobby klinik dengan langkah ragu.

Di meja resepsionis, perawat tersenyum sopan.

“Permisi, Sus. Mertua saya sudah membuat janji dengan dokter Deva, spesialis kandungan.”

Perawat mengecek komputer. “Oh, ibu Renita Aninditha, ya? Silakan ke lantai dua, Bu. Dokter sudah menunggu.”

Renita mengangguk sopan lalu menuju lift. Di lantai dua, seorang perawat menghampirinya.

“Ibu Renita, silahkan cek tensi dulu ya.”

Renita duduk, lengan dipasang alat.

“Tensi normal, 120/70. Silakan masuk.”

“Terima kasih, Sus…”

Renita berdiri, menatap koridor. Kenapa Mas Reza lama banget sih? gumamnya.

Ia membuka pintu ruang dokter dan masuk.

Di balik meja, seorang dokter pria membaca catatan medisnya.

“Ibu Renita, silahkan duduk. Jadi keluhannya… telat datang bulan dua bulan ya?”

“Iya, dok. Apa mungkin saya hamil?” Renita duduk, tangannya gelisah memegang ujung tas.

Dokter itu mendongak lalu menatapku.

Renita ikut terpaku.

“Mas Deva?” bisiknya.

Deva berdiri perlahan dari kursinya, menatap Renita tanpa berkedip.

“Renita Aninditha…?” suaranya pelan namun tegas. “Kamu Renita Aninditha kan?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Aisha Syifa aalina
lanjut JD penasaran ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 88

    Reza mengepalkan tangannya, suaranya naik penuh emosi.“Mas nggak akan pernah ngerti rasanya jadi aku!” bentaknya.“Aku ini anak pertama. Kewajiban aku nafkahin mama dan Tania!”Ia tertawa miring, nada suaranya merendahkan.“Kamu itu anak yatim piatu, Mas. Kamu nggak akan ngerti rasanya punya tanggung jawab kayak aku!”Wajah Deva langsung berubah. Rahangnya mengeras, matanya menghitam menahan amarah yang selama ini terkubur.“Jaga omonganmu, Za,” ucapnya pelan tapi tajam, setiap kata seperti pisau.Deva melangkah lebih dekat, menatap Reza tanpa gentar.“Kamu tahu nggak siapa penyebab kematian mama dan papa aku?” suaranya bergetar,denagn amarah memuncak. “Itu semua karena mama kamu,” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh kebencian.“Wanita pelakor itu telah menghancurkan keluarga aku… sampai papa aku mati.”Reza tersentak, lalu menggeleng keras.“Apa yang kamu bilang?!” suaranya meninggi, emosinya meledak.“Mama aku bukan pelakor!”Ia menunjuk Deva dengan mata merah.“Mama Mas itu

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 87

    Renita mendengus kesal lalu memukul dada Deva pelan.“Kamu ini masih sempat-sempatnya mikir mesum!” omelnya, wajahnya memerah.Deva meringis berlebihan sambil memegang dadanya.“Aww… sakit, Ren,” keluhnya dramatis.Renita langsung panik, refleks meraih tangan Deva.“Mas sakit? Maaf… aku kekencengan ya?” ucapnya khawatir.Deva membuka satu mata, senyum licik langsung muncul.“Hmm… bisa sembuh sih,” katanya santai.“Tapi ada syaratnya!”Renita menyipitkan mata, curiga.“Syarat apaan lagi?”Deva mendekat, suaranya direndahkan.“Cium bibir Mas dulu. Baru Mas maafin.”“Dasar modus!” Renita mendecak, tapi ujung bibirnya melengkung.Ia akhirnya mengecup bibir Deva singkat, nyaris malu-malu." Cup... "Deva tersenyum puas.“Nah, gitu dong. Langsung sembuh.”Belum sempat Renita membalas, suara dari luar terdengar jelas.“Renita! Kamu di mana, Ren?”Reza memanggil Renita dari luar. Wajah Renita langsung pucat.“Itu suara Mas Reza…” bisiknya panik.“Mas, gimana ini?”Deva menghela napas, sorot m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 86

    Deva mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Renita dengan ibu jarinya, sentuhannya lembut tapi penuh penegasan.“Jangan nangis,” ucapnya pelan.“Mas sudah nggak apa-apa, beneran.”Renita menggeleng, bibirnya bergetar.“Tetap aja aku khawatir, Mas,” sahutnya lirih.“Aku takut kamu kenapa-kenapa…”Sudut bibir Deva terangkat tipis. Ada rasa haru di matanya.“Mas malah senang kamu khawatir,” katanya jujur.Tiba-tiba ia mendengar suara perut Renita yang keroncongan.“Eh…” Deva melirik perut Renita.“Kamu belum makan dari kemarin, ya?”Renita menunduk, wajahnya memerah malu.“Belum, Mas,” jawabnya pelan.“Tadi Mas Reza nawarin makan…”Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada pahit.“Tapi ternyata dia cuma mau minta uang. Buat ngajak Mama sama Tania makan.”Rahang Deva langsung mengeras. Tatapannya berubah tajam.“Ren,” katanya tegas namun tetap lembut,“kenapa kamu kasih terus?”Ia menggenggam tangan Renita lebih erat.“Gara-gara kamu terlalu baik, mereka jadi nggak mikir.

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 85

    Setelah mereka pergi, Renita melangkah pelan ke arah UGD. Ia berhenti di balik kaca pintu, mengintip ke dalam dengan jantung berdebar.Lama banget Nathalia di dalam… batinnya gelisah.Jangan-jangan Mas Deva sudah siuman, tapi dia sengaja nggak bilang ke siapa-siapa…Renita menggigit bibir, matanya meneliti keadaan sekitar.Gimana caranya aku bisa masuk tanpa ketahuan mereka… pikirnya resah.“Ren.”suara pria tua serak memanggil namanya. Renita tersentak. Tubuhnya refleks menegang saat mendengar suara itu.Ia menoleh dan mendapati Hendra berdiri tak jauh darinya.“I-iya, Pak,” jawab Renita cepat, berusaha terlihat tenang.“Ada apa ya?” tanya Renita penasaran. Diana ikut mendekat, wajahnya tampak cemas.“Kamu lihat Nathalia keluar belum?” tanyanya.Renita menggeleng pelan.“Belum, Bu,” katanya hati-hati.“Masih di dalam, sepertinya.”Hendra menyipitkan mata, menatap Renita penuh selidik.“Kamu ngapain berdiri di depan UGD?” tanyanya curiga.Renita menelan ludah, lalu menjawab dengan na

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 84

    Reza mendekat, nada suaranya dibuat lembut seolah penuh perhatian.“Sayang, kamu makan dulu ya,” katanya sambil menatap Renita.“Pasti kamu lapar. Dari kemarin belum makan apa-apa.”Renita memalingkan wajah, suaranya datar, nyaris tak bertenaga.“Aku nggak lapar, Mas.”Reza menghela napas berlebihan, lalu mengusap perutnya sendiri.“Tapi Mas lapar, sayang,” ucapnya manja, setengah mengeluh.Renita menoleh sekilas, tatapannya dingin.“Ya kamu bisa beli sendiri, kan.”Reza langsung manyun.“Mas nggak bawa uang,” katanya cepat.“Kemarin uangnya kepakai buat beli baju.”“Nah, ini juga salah kamu,” lanjutnya menyalahkan,“kenapa nggak bawain Mas baju di koper.”Renita menatapnya tak percaya.“Terus maksud Mas… mau minta uang sama aku?” tanyanya pelan tapi menusuk.Reza mengangguk tanpa rasa bersalah.“Iya,” katanya ringan.“Mau minta siapa lagi? Mama juga nggak mungkin ngasih.”Renita tertawa kecil, getir.“Aku kan habis jatuh ke jurang, Mas,” ucapnya lirih.“Mana mungkin aku bawa uang.”R

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 83

    Nathalia mendengus keras, wajahnya memerah menahan emosi.“Mas Deva mikirin dia?” katanya sinis.“Masa sih dia itu cuma adik iparnya? Atau jangan-janga dia sengaja bikin Maa Deva celaka.”Renita menatap Nathalia tegas, dadanya terasa sesak.“ Mbak Nathalia jangan asal menuduh saya, tidak mungkin seperti itu? “Hendra melirik Nathalia, berusaha menurunkan suasana.“Mungkin Deva menyebut nama Renita karena…”“Dia orang terakhir yang bersama Deva sebelum dievakuasi.”“Itu saja,” lanjut Hendra cepat.“Refleks alam bawah sadar.”Nathalia menoleh tajam.“Jadi menurut Papa itu wajar?”Diana maju selangkah, suaranya dibuat lembut tapi menusuk.“Betul, Sayang. Apa yang dibilang Papa,sudah ya jangan dibesar-besarkan.”“Orang kritis memang sering mengigau.”Ia melirik Renita sekilas, lalu menatap dokter.“Lagipula, yang paling tepat masuk kan calon istrinya bukan kamu.”Nathalia langsung menyambar kesempatan itu.“ Betul apa yang dibilang Mama saya, Dok. ““Lebih baik saya saja yang masuk.”Ia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status