LOGINSetelah kematian sang Papa yang disebabkan oleh mama tirinya dan ditinggal menikah oleh kekasih yang menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengannya, kehidupan Maria berubah. Marah, sakit hati, balas dendam bertumbuh setiap hari dalam diri Maria.
View MorePain—an emotion she was no stranger to. Emotional, mental, physical. She had known it all, endured it all, but never imagined it would come from the one person she trusted most.
"Mr. Grant, after so long, you finally appear with Miss Rodrigo! Are you two making your relationship public?" a reporter's voice echoed across the prison hall. "Please make way for Mr. Grant," came the coy voice from the television—the voice of the one person who had shattered her world. "They look like the perfect couple." "Wonder what their baby will look like." "Bet Mr. Grant’s a beast in bed." Laughter bubbled around her, but Daisy couldn’t tear her eyes from the screen. The cold, aloof Louis Grant, who once held her hand, massaged her tired feet, and carried her on his back... now standing beside someone else, his arm draped casually around her. How had everything changed so drastically? Who would remember the woman who had once been the center of his life? The woman who had thrown it all away for the sake of a friend—a friend who secretly coveted everything she had. The sound of the cell door clanking open brought her back to her grim reality. A guard stepped in, a syringe in his hand. "Get up," he ordered. She barely had the strength to comply but was yanked up like a rag doll, pain surging through her body. Soon, she found herself tossed onto the cold floor of an abandoned barn. A familiar burn spread through her veins as the drug took hold, but this time, something was different. It felt worse, much worse. "You angered the wrong people, sweetheart," a voice sneered from the shadows. "With a face like yours, you could've ruled the entertainment industry. Maybe next time, you'll use your head." She was too weak to respond, her body limp as flames began to lick the walls around her. The barn was on fire. So, this was it. She had wanted to die, yes, but she hadn’t expected death to be this cruel. Even in her final moments, there was no peace, only burning agony. But she didn’t fight it. Daisy closed her eyes, surrendering to her fate. Maybe, at last, the pain would end. --- "Wake up, sleepyhead! You have to be on set by ten!" Daisy jolted awake, her sister’s voice piercing through the fog. The scream startled her, not because it was loud, but because she knew her sister was dead. Her heart raced. Was this a dream? She raised her hand, expecting scars, expecting marks of her torment—but her skin was smooth. No blemishes. No burns. She glanced at the mirror across from her bed, and a face stared back at her—a face so familiar yet foreign. The door swung open again. "Come on, baby sis! Breakfast is almost ready, and Mum made your favorite!" Her brother’s voice followed, cheerful, warm. Daisy’s breath hitched. Mum? She grabbed the phone on her bedside table, her hands trembling as she checked the date. August 3rd, 2XXX. She wasn’t dreaming. She was back. Three years before disaster struck. She let out a shaky breath and smiled, a rare, genuine smile. This time, everything would be different. This time, she would rewrite her fate. Her family, who had died protecting her... Louis, the man she had pushed away... and Natalie, the so-called best friend who had orchestrated her downfall... Daisy had a chance to change it all. The phone rang, pulling her from her thoughts. The high-pitched voice on the other end was unmistakable. "Hey, bestie!" came Natalie’s sickly-sweet tone. Daisy’s grip tightened on the phone. Once, she had trusted this voice. Now, it only filled her with disgust. "Hey, Natalie," she replied, her voice steady, controlled. "I heard Louis asked you out on another date! Do you mind if I tag along this time? You never know what he’s up to," Natalie said, her voice laced with fake concern, the same concern that had led Daisy to ruin. Daisy’s lips curled into a smirk. "Yeah, he did ask me out. But I think I’ll handle it on my own this time. No need for external help." Natalie hesitated. "Oh... I didn’t mean it like that, Daisy. You know I care about you." "Of course," Daisy said, her tone flat. "I'll talk to you later." She hung up before Natalie could respond, the smirk still lingering on her face as she turned back to the mirror. Her reflection stared back at her, but this time, it wasn’t the fragile, naïve girl she once was. She was reborn—with all her memories intact. “Daisy Croft, you’ve got a lot of work to do,” she whispered to herself. The door opened again, and her brother Liam stood there, smiling. "You don't want pancakes, huh, baby sis?" Daisy’s eyes welled up with tears. She had forgotten how much she missed him—his protective nature, his easy smile. "Did anyone bully you on set?" Liam asked, noticing her expression as he pulled her into a gentle hug, running his hand through her hair. "Brother," she whispered, her voice shaky. "You'll always love me, right?" "Of course. Did I ever make you doubt it?" She smiled through her tears. "I'm going to be better now. I promise I won’t make you or Mum, Dad, or Dandelion worry again." Liam chuckled, cupping her face. "My baby sister’s all grown up, huh?" "Yeah, I’ve changed," Daisy said, her voice firmer. She had been reckless, but not anymore. This time, she would protect the ones she loved. "Well, if you're so grown up, get downstairs for breakfast," he teased. "The director's already called six times this morning." Daisy glanced over her shoulder as she walked out the door. She paused, looking back at Liam and Dandelion, who had just entered the room. "You have no idea how lucky I am to have the both of you," she said softly. They exchanged confused glances, but she didn't wait for a response. Daisy had a second chance, and she wasn’t going to waste it."Kalian siapa? Kenapa kalian bisa ada di ruangan saya dan mengobrak-abrik barang-barang saya?" Terdengar suara pria sedang marah dan juga penasaran atas apa yang terjadi di dalam ruangannya."Kami hanya menjalankan perintah, tolong anda minggir." Ucap salah satu pria yang ikut dalam acara penggeledahan itu."Siapa yang nyuruh kalian? Di mana keamanan perusahaan ini? Kenapa orang-orang ini bisa masuk?" Dengan gusar pemilik ruangan itu memanggil satpam yang bertugas."M-maaf pak, kami sudah berusaha menghalangi mereka. Tapi kekuatan mereka lebih besar dari kamu." Ucap satpam menghampiri bos mereka itu sambil gemetaran."Panggil polisi sekarang juga." Perintahnya pada satpam tersebut."Percuma kamu panggil polisi Reyhan. Kamu tidak akan menang." Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga pemilik ruangan itu, yang ternyata adalah Reyhan.Reyhan melihat sosok gadis memb
"Kalian siapa? Kenapa kalian bisa ada di ruangan saya dan mengobrak-abrik barang-barang saya?" Terdengar suara pria sedang marah dan juga penasaran atas apa yang terjadi di dalam ruangannya."Kami hanya menjalankan perintah, tolong anda minggir." Ucap salah satu pria yang ikut dalam acara penggeledahan itu."Siapa yang nyuruh kalian? Di mana keamanan perusahaan ini? Kenapa orang-orang ini bisa masuk?" Dengan gusar pemilik ruangan itu memanggil satpam yang bertugas."M-maaf pak, kami sudah berusaha menghalangi mereka. Tapi kekuatan mereka lebih besar dari kamu." Ucap satpam menghampiri bos mereka itu sambil gemetaran."Panggil polisi sekarang juga." Perintahnya pada satpam tersebut."Percuma kamu panggil polisi Reyhan. Kamu tidak akan menang." Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga pemilik ruangan itu, yang ternyata adalah Reyhan.Reyhan melihat sosok gadis memb
Semenjak kematian papanya dua tahun lalu, Maria berubah menjadi gadis pendiam, cuek dan dingin.Maria mulai merencanakan balas dendam apa yang akan dia buat untuk keluarga Reyhan yang telah mempermalukan dan menyakiti hati Maria.Setelah pernikahan Reyhan dan Aila, dendam di hati Maria semakin membara. Apa pun alan dilakukan oleh Maria asalkan dendamnya bisa terbalaskan.Setiap hari Maria semakin belajar dan bekerja keras untuk perusahaan yang telah ditinggalkan oleh Brema. Maria menyibukkan diri supaya bisa lupa dengan kesedihan yang dia alami.Maria juga berpikir, dengan perusahaan yang semakin maju, maka Maria akan semakin mudah untuk menghancurkan keluarga Reyhan.Satu per satu kolega yang bekerjasama dengan perusahaan Reyhan mulai ditarik oleh Maria. Perusahaan Maria berkembang pesat. Para pengusaha banyak mengajukan kerjasama dengan Maria. Di mana-mana nama perusahaan Maria semakin harum.***Hari ini merup
Semenjak hari itu, Reyhan tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Maria. Dia sudah berusaha mencari ke mana-mana tapi Maria bagai hilang di telan bumi. Setiap malam, jaket Maria yang selalu dipeluk oleh Reyhan. Reyhan tidak akan bisa tidur jika jaket itu tidak ada di dekatnya. Tapi beberapa bulan setelah mereka tidak bertemu, satu negara heboh oleh kejadian yang tidak terduga. Setiap saluran TV memberitakan, "Brema Santoso telah meninggal dunia." Reyhan yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu syok melihat berita itu. Tentu saja mereka tidak percaya. "Tidak mungkin." ucap Reyhan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan Maria sekarang. Reyhan langsung pergi ke luar. Orang tuanya juga tidak berani mencegah Reyhan yang sedang terburu-buru. Reyhan pergi menuju rumah Maria, keadaan rumah Maria sangat ramai dan janur kuning sudah melengkung di depan rumah Maria. Reyhan menerobos kerumunan orang-orang itu. Tapi tida
Dengan perasaan berkecamuk di hati Brema, dia langsung memeluk Maria putri kesayangannya itu.Darah segar mengalir dari pergelangan tangan Maria. Maria memotong urat nadinya. Dia mencoba untuk bunuh diri."Pak Heri, cepat ambil mobil. Kita harus cepat-cepat pergi ke ruma
Maria berjalan tanpa arah dan tujuan menjauhi rumah Reyhan. Dia hanya ingin berjalan sebisa dan sejauh yang dia mampu. Air mata di pipinya terus mengalir. Tubuh sempurna itu sekarang berubah menjadi orang paling tidak berdaya. Setelah berjalan cukup jauh, Maria duduk di halte bus, d
"Siang sayang, aku kangen banget sama kamu. Kamu kok gak pernah hubungi aku sih? Kan jadi aku yang datang ke Indonesia nemui kamu."Reyhan kaget melihat Aila sudah ada di dalam ruang kerjanya. Dia tidak sadar kapan Aila masuk. Dari tadi Reyhan sangat sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang ak
Maria juga ikut melihat ke arah datangnya suara itu, dia melihat sosok laki-laki yang dikenalinya. Dia adalah orang yang dari tadi dicari-cari oleh Maria.Reyhan maju sambil tetap memainkan gitar yang dipegangnya. Dia membawakan lagu Ed Sheeran yang berjudul "Perfect""Darling






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.