Masuk***Kila bengong begitu memasuki area belakang vila.Ayah Kalandra ternyata memiliki vila semewah ini. Penampilannya bahkan mirip dengan vila para artis yang biasa dia lihat di televisi. Bangunannya luas, dengan desain modern dan jendela-jendela besar yang membuat pemandangan di sekitarnya terlihat jelas.Namun, bagian favorit Kila justru berada di belakang vila.Di sana terdapat ruang makan terbuka yang langsung menghadap kolam renang. Dari tepi kolam, dia bisa melihat jurang dengan hamparan hutan hijau yang membentang di bawahnya. Pemandangan itu begitu indah hingga Kila tidak bisa menahan decak kagumnya."Padahal di kampungmu juga tidak jauh beda indahnya."Aksara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Dia cukup terhibur melihat tingkah istrinya yang sejak tadi tampak berbinar-binar mengagumi kolam renang dan pemandangan di hadapan mereka."Wah, ini baru kelihatan kalau aku benar-benar menikahi orang kaya," celetuk Kila senang."Siapa yang kaya?"Aksara mendekat, berdiri tepat di
***"Apa? Mau ke kantor? Tapi dua jam lagi kita harus berangkat ke bandara."Kila merapikan travel bag mereka yang sudah diletakkan di dekat pintu. Beberapa barang kecil masih berserakan di atas meja, menunggu dimasukkan ke dalam tas. Sementara itu, Aksara masih sibuk dengan ponselnya sejak tadi.Kila sudah tahu suaminya memang punya banyak urusan pekerjaan. Karena itu, dia tidak terlalu berharap Aksara bisa benar-benar lepas dari pekerjaan selama liburan mereka. Namun, tetap saja sedikit menyebalkan ketika rencana berangkat bulan madu harus terganggu oleh urusan kantor."Sebentar saja, Sayang," jawab Aksara.Nada suaranya terdengar santai, tetapi wajahnya justru tampak serius. Dahinya berkerut, sementara ibu jarinya terus bergerak di layar ponsel.Kila memperhatikannya beberapa saat.Pasti ada masalah yang cukup berat di kantor. Mana mungkin Aksara bisa menikmati liburan kalau pikirannya masih tertinggal di sana?Kila menghela napas pelan."Atau kita berangkat dari kantor saja?" usul
***"Bagaimana?" bisik Aksara.Kila tersenyum sambil menatap suaminya. Baginya, Aksara selalu terlihat menarik. Tubuh pria itu tegap, kulitnya terasa hangat, dan ada sesuatu dari dirinya yang selalu berhasil membuat Kila terpikat. Bahkan, kalau boleh jujur, Aksara sebenarnya jauh lebih menggairahkan daripada pemandangan di sekitar mereka.Namun, kali ini Kila ingin menikmati hal sederhana. Berjalan bersama, bergandengan tangan, dan sesekali bercanda seperti pasangan lain."Aku baik-baik saja.""Yakin?"Kila mengangguk, lalu mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tapi dokter bilang aku seharusnya bisa menjalani semuanya dengan normal."Aksara tertawa kecil. "Hahaha. Mungkin waktu pertama kali bertemu denganku, kamu memang terlalu bernafsu.""Pfft … tidak lucu!" Kila menyikut lengannya. "Kalau aku sedang heat, kamu mau kita bercinta di depan orang-orang?"Aksara pura-pura berpikir. "Hmm … di sawah juga boleh.""Aksara!"Pria itu tertawa melihat wajah kesal istrinya.Kios bakso yang mereka tuju t
***"Besok kalian ke Bali, ta, Nduk?"Ibu meletakkan cangkir-cangkir di atas nampan yang baru saja dibersihkan Kila. Aroma teh hangat menguar dari teko, menemani suasana santai sore itu."Iya, Bu. Sebenarnya Aksara menurut saja aku mau ke mana," jawab Kila sambil membuka bungkus camilan."Oh, kelihatannya Aksara memang niat sekali mau punya anak secepatnya." Ibu tertawa kecil.Kila ikut tersenyum. "Didoakan saja, ya, Bu. Semoga aku dan Aksara cepat punya anak."Namun, begitu mengucapkan kalimat itu, Kila justru teringat sesuatu. Sebenarnya, tanpa harus pergi ke Bali pun mereka sudah cukup sering berusaha membuat anak di kamar sendiri. Dia menahan senyum geli sambil mengambil beberapa camilan."Nduk, kamu masih memanggil Aksara pakai nama?" tanya ibunya lagi.Kila mengangkat alis.Memangnya ada yang aneh?Sejak masih bekerja, dia memang terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan Pak Aksara. Namun, Aksara sendiri sudah memintanya memanggil nama saja. Kila pun tidak tahu apakah setelah m
***"Ini teh panasmu, Sayang."Aksara menyerahkan sebuah mug berisi teh hangat kepada Kila. Kekasihnya itu tersenyum kecil sebelum menerimanya."Terima kasih."Aksara kemudian duduk di samping istrinya. Dia merentangkan tangan, menarik Kila mendekat, lalu memeluknya dari samping. Kila menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke dada Aksara sambil meniup permukaan teh."Lama-lama sofa ini bisa roboh," gumam Kila sebelum menyesap minumannya.Aksara terkekeh. "Hm, kenapa kita susah sekali pindah ke ranjang, ya?"Kila menoleh dan mendapati suaminya sedang tersenyum jahil."Memangnya siapa yang membuat kita betah di sini?""Aku?" Aksara menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos.Kila mendengus geli.Mereka masih telanjang, hanya bantal sofa yang menutupi sebagian tubuh. Aksara mengecup puncak kepala istrinya. Malam itu terasa menyenangkan baginya. Bahkan kejadian konyol gara-gara celana dalam aneh pemberian Sarah tadi justru menjadi hiburan tersendiri."Aku senang menikahimu secepatnya," bisi
❗❗BAB MENGANDUNG ADEGAN DEWASA❗❗Harap bijak dalam membaca.***"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Aksara menyadari Kila mulai gelisah, wajahnya memerah.Kila hanya terdiam, mati-matian menahan rangsangan akibat mutiara-mutiara yang bergesekan di bagian paling sensitifnya. Dia benar-benar merasa tersiksa dengan celana dalam itu!"Ini sangat aneh..." bisik Kila, berusaha mati-matian mengatur napasnya. Dia mencoba sadar agar tidak terlena oleh gelombang stimulasi di balik roknya, memaksa diri untuk fokus menatap orang-orang yang sedang menikmati makan siang bersama mereka.“Aneh?” Aksara menaikkan alisnya.“Celana dalam!” Desis Kila.Aksara baru ingat. "Oh... Mutiara itu? Enak?" Goda Aksara."Huh! Awas saja, aku akan balas dendam," cibir Kila dengan tatapan sebal karena keisengan suaminya menyuruh memakai benda itu di keramaian.Aksara hanya menaikkan sebelah alisnya geli. "Ayo jawab apa rasanya sakit atau enak, hm?" bisik Aksara sembari tersenyum penuh godaan."Kamu benar-benar menyebalkan!







