Masuk***
Malam Selasa minggu lalu, Kila benar-benar dibuat panik setengah mati. Bisa-bisanya setelah listrik kantor anjlok, layar komputernya langsung membiru alias blue screen. Padahal, hari itu dia dikejar waktu untuk mencetak daftar invoice tagihan sewa unit alat berat. "Kamu sudah menelepon teknisi IT?" tanya Lina hari itu, ikut khawatir melihat kepanikan temannya. "Sudah, tapi mereka bilang baru bisa mengusahakan secepatnya hari ini," jawab Kila sambil buru-buru mengambil map besar di lemari arsip. Untung saja dia selalu mencetak pekerjaannya, untuk sementara dia aman karena ada hardcopy. "Sementara terpaksa aku input manual dulu, deh." Kila mengedikkan bahu pasrah. "Semoga cepat selesai, ya. Mana rapatnya nanti malam lagi," ujar Lina sambil menepuk bahu Kila sebelum kembali ke kubikelnya sendiri. Bos barunya itu memang terkenal suka semau-maunya, padahal hari itu Pak Aksara sedang berada di site yang berjarak tujuh jam perjalanan. Dengan entengnya pria itu memberi kabar kalau rapat akan langsung digelar begitu ia tiba di kantor malam ini. Kemungkinan besar sekitar jam delapan malam! Jadwal itu sama sekali tidak bisa ditunda sampai besok karena laporannya harus masuk ke kantor pusat malam itu juga. Kila sebenarnya was-was. Sebagai perempuan, dia tentu takut jika harus pulang terlalu larut. Satu-satunya hal yang membuat Kila bertahan kerja di sini adalah sistem upah lemburnya yang dihitung dengan sangat adil dan bernominal bagus. Hanya saja bosnya barunya ini kadang tidak manusiawi, dan suka marah sesukanya. Sejak tempat ini nonaktifkan statusnya karena kantor pusat pindah ke Jakarta, atmosfer kerjanya memang berubah total. General Manager mereka, Pak Aksara Kalandra, resmi dipindahkan ke sini. Dulu, kantor ini hanya diawasi oleh seorang supervisor. Jadilah sekarang Kila sebagai sekretaris yang harus mengawal atasan dengan jabatan yang lebih tinggi. Kila membuka laptopnya dan mulai mengetik laporan dengan sedikit malas. Padahal kalau komputernya baik-baik saja, ya tinggal cetak dokumen yang sudah ada. Beberapa karyawan mulai beranjak dari meja dan ruang kerja mereka. Kila melirik ke dinding pukul 6, pantas saja mereka sudah meninggalkan kantor. "Aku duluan ya, kamu jangan lupa makan dulu sebelum lembur." Pesan Lina sambil menuju Lift. "Aman, nanti aku makan bareng anak divisi lain. Hati-hati ya!" Kila membalas lambaian tangan Lina. Ruangan luas itu mendadak menjadi sangat sepi. Ini bukan pertama kalinya Kila ditinggal sendirian di kantor, tapi atmosfer gedung lama ini selalu berhasil membuatnya sedikit merinding. Terkadang, terdengar suara denting lift terbuka di kejauhan, tetapi tidak ada siapa pun yang melangkah masuk ke ruangan. Kila menekan tombol Printer. Matanya kembali menatap jam dinding yang kini sudah menunjuk ke angka 7. Yang lain dan Pak Aksara belum juga kelihatan batang hidungnya. Perutnya mulai berbunyi. Tapi untuk mencari makan ia harus turun ke lantai bawah. "Hm, aku cetak dulu semua, baru turun sebentar," gumam Kila pada diri sendiri. Setelah memastikan hasil cetakannya rapi, Kila mengambil blazer dan tasnya. Namun, baru saja dia berdiri di depan lift, pintunya berdenting—sosok Pak Aksara langsung muncul tepat di hadapannya. "Mau ke mana kamu?!" tanya Aksara dengan alis berkerut dalam. Tatapan matanya menyempit, seolah menangkap niat Kila berusaha kabur dari lembur. "Ah, ma-maaf pak, saya mau makan-" "Kamu pikir aku sudah makan, hah?!" potong Aksara dengan suara ketus yang terdengar sangat tidak senang. Langkah kakinya yang lebar, membuat tubuh tingginya menghadang jalan Kila. Kila terpaksa melangkah mundur agar tidak ditabrak oleh dada bidang atasannya itu. "Tiga puluh menit lagi kita harus berangkat. Kamu pikir waktunya sempat makan?" tanya Aksara ketus. Kila memilih untuk diam. Dia mulai hafal tabiat bos barunya ini yang paling tidak mau tahu dengan kondisi pekerjanya. Namun, Kila mencoba untuk tetap berpikir positif. Mungkin pria ini sedang stres karena industri tambang belakangan ini memang sedang lesu, dan biasanya pihak direksi pusat di Jakarta suka menekan target secara tidak masuk akal. "Iya, Pak. Sepertinya memang tidak sempat. Maaf," jawab Kila pelan, berusaha meredam emosi Pak Aksara agar tidak meledak lagi. Aksara melangkah,melewati Kila. "Ikut aku ke dalam." Kila menatap punggung tegap Aksara, lalu mengekor menuju ruang kerja sang GM. Begitu masuk, Aksara langsung menaruh tas kerjanya dengan kasar di atas meja. Sementara itu, Kila hanya berdiri kaku di dekat pintu. "A-apa dari divisi lain akan datang, Pak?" tanya Kila gugup. "Hm, mereka akan langsung berangkat dari kantor cabang lain. Jadi kita tidak akan pergi bersama mereka." Aksara menatap Kila yang masih berdiri tegang di depan pintu. Kila memang sengaja tidak menutup rapat pintu kayu itu karena merasa sangat tidak nyaman jika harus berduaan saja dengan bosnya di kantor yang sepi ini. "Kamu suka ramen?" tanya Pak Aksa tiba-tiba, memecah keheningan. "Kalau yang tidak pedas... suka, Pak," jawab Kila, agak bingung. Aksara tiba-tiba membuka salah satu laci mejanya dan mengeluarkan dua buah cup ramen instan. Kila seketika tertegun. Rasanya tidak mungkin seorang General Manager yang tajir melintir menyimpan makanan instan kurang sehat begitu di dalam meja kerjanya. "Sementara makan ini saja dulu. Selesai meeting nanti, baru kita makan lagi," ujar Aksara sambil menyodorkan satu cup ke arah Kila. Kila sempat ragu untuk mengiyakan. Masa iya, dia yang ditawari makanan oleh bosnya? "Sudah, ambillah. Waktu kita mepet!" Lagi-lagi suara Aksara meninggi, terdengar tidak sabaran. Kila tersentak dan buru-buru mengambil satu cup ramen instan tersebut dari tangan sang bos. Namun, baru saja Kila mau berbalik, suara Aksara kembali terdengar: "Aku juga mau!" Kila membelalakkan matanya spontan. Oh, jadi maksudnya dia juga disuruh menyeduhkan sekalian?! "Ah, i-iya, maaf, Pak!" Kila dengan gerakan kikuk mengambil satu cup ramen instan yang tersisa di meja, lalu segera berbalik setengah berlari menuju pantry. Kila menyandarkan punggungnya ke tembok pantry, menghela napas panjang yang sempat tertahan. Dia benar-benar harus menyiapkan mental baja setiap kali berhadapan dengan Pak Aksara. Selama tiga bulan pria itu menjabat, Kila selalu merasa tidak nyaman. Walaupun Aksara sebenarnya jarang berada di dalam kantor karena lebih sering memantau lapangan, sekali saja dia datang, seisi ruangan pasti kena semprot. Bos lamanya yang tidak pernah mengeluarkan suara menakutkan seperti itu. Pak Aksara itu sepertinya selalu menegur segala sesuatu yang dirasa mengganggu pemandangan matanya. Kila menyeduh kedua cup ramen instan tersebut, lalu mengambil sebuah mug untuk membuat teh. Setelah semuanya siap, ia melangkah kembali ke ruangan Aksara dengan membawa nampan di tangannya. Kursi Aksara membelakanginya, terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang dengan teleponnya. Kila mendekat pelan,menaruh cup ramen dan mug teh itu di atas meja tamu yang terletak di sudut ruangan. Aksara memutar kursinya, sambil masih menempelkan ponsel di telinga, ia memberikan kode isyarat dengan gerakan tangan agar Kila mendekat ke meja kerjanya. "Aku perlu laporan invoice unit sekarang..." ucap Pak Aksa pelan di sela-sela obrolan teleponnya. Kila mengangguk dan segera berbalik menuju mejanya sendiri untuk mengambil laptop beserta tumpukan kertas hardcopy yang sudah ia rapikan tadi. Begitu kembali, Kila mengambil posisi berdiri di samping kursi sang bos, lalu meletakkan laptopnya tepat di hadapan pria itu. Aksara sempat bergeming sesaat, memperhatikan deretan data di layar. "Hm... Nanti saya telepon kembali," ucap Pak Aksa akhirnya, lalu mematikan sambungan ponselnya. Kila berdiri kaku ketika Pak Aksara memandang serius ke arah laptop, membaca dengan teliti laporan yang sudah dibuat Kila. "Kamu pakai parfum apa?" tanya Aksara tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Kila spontan menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Parfum? Pikiran negatif langsung berputar di kepalanya. Apa bau badanku tidak enak gara-gara seharian belum mandi dan keringatan? Kila bahkan sampai refleks memundurkan bahu sedikit untuk mencium aroma blus dan area ketiaknya sendiri secara sembunyi-sembunyi. Pak Aksara tampaknya tidak memedulikan kepanikan kecil sekretarisnya itu. Pria itu masih memeriksa laporan, lalu tiba-tiba mengetuk permukaan meja kerja dengan jarinya. "Sekarang kamu langsung kirim surel ini ke direksi? Jatuh tempo invoice ini sudah lebih dari tiga puluh hari!" "Iya, siap, Pak," jawab Kila cepat. Ia pun mengambil kembali laptopnya. Namun, baru saja jemarinya menyentuh badan laptop, tangan Aksa mendadak bergerak menahan tangan Kila. Kila tersentak seketika. OH, TIDAK! INI TIDAK BOLEH! Sentuhan itu bereaksi—sesuatu bergejolak hebat di dalam dadanya—panas itu seolah mencekiknya. "Kenapa kamu ambil laptopnya?!" tanya Aksara ketus. Kila menelan air ludahnya, sambil meletakkan kembali laptop itu. "K-komputer saya rusak, Pak," jawab Kila terbata-bata. Ia pun harus mati-matian menahan diri agar tidak menarik tangannya secara kasar demi menjaga sopan santun. Ekpresi wajah pria itu pun langsung berubah. Kila tahu, Pak Aksara pasti mau mengomelinya lagi. "Hm, kita makan saja dulu," ujar Aksara pelan, matanya kembali lurus ke arah Laptop. Ok, dugaan Kila meleset. Pria itu tidak mengomel, tapi entah kenapa tangannya masih tidak dilepaskan. "Y-ya, Pak. Tapi tangan saya ... biar saya ambilkan ramennya dulu dan tehnya, mumpung masih hangat," sahut Kila, mencari alasan paling logis untuk membebaskan tangannya. Mendengar ucapan itu, Aksara tersentak kecil. Ia menatap Kila lekat-lekat sebelum akhirnya menarik cepat tangannya. "Kamu kelihatannya lapar sekali ya?" ejek Aksara ketus, berusaha menutupi kecanggungan singkat itu. Kila pura-pura tertawa datar sambil menelan bulat-bulat rasa kesal di dalam hatinya. Ia harus selalu ingat aturan utama: jangan pernah membalas kemarahan bos gila kerja ini kalau masih sayang dengan pekerjaan! sepuluh menit berlalu Ramen itu memang enak. Tapi Kila meletakkan cup ramen miliknya yang baru habis separuh. Ia berhenti makan karena... suhu tubuhnya mendadak berubah. Berbeda dengan Pak Aksara, pria itu makan dengan lahap tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya matanya terkadang beralih antara layar komputer dan ponselnya yang terus bergetar. "Kenapa komputermu bisa rusak? Kamu sudah menelepon teknisi?" tanya Aksara tiba-tiba di sela-sela kunyahannya. "Ti-tidak tahu, Pak. Waktu itu tiba-tiba saja aliran listriknya tidak stabil, padahal sudah dipasang stabilizer," jawab Kila jujur. Aksara hanya mengangguk-angguk kecil menerima penjelasan itu. Tepat pukul setengah 8. Kila bergerak cepat menyusul Pak Aksara ke area parkiran. Dia tahu betul, lambat sedikit saja pasti akan membuat pria itu kembali mengomel sepanjang jalan. Namun, begitu tiba di sana, ia terkejut begitu menyadari kalau Pak Aksara ternyata menggunakan mobil pribadinya. "P-pak, kenapa tidak pakai mobil dan sopir kantor?" tanya Kila spontan. Perasaannya mendadak tidak enak. Masa bos besarnya sendiri yang harus menyetir mobil malam-malam begini? Berduaan dalam jarak dekat saja sudah sukses membuat Kila kacau balau. "Sudah, cepat! Ayo naik!" potong Aksara tidak sabaran. Lagi-lagi Kila merasa dibentak. Dengan gerakan serbakaku, ia masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengamannya dengan tangan gemetar. Kenapa juga aku harus terjebak berduaan dengan bos galak ini? keluh Kila dalam hati frustrasi sembari memeluk tas kerjanya erat-erat. Jalanan malam itu tidak terlalu sepi. Berdasarkan rute, sebentar lagi mereka akan sampai di kantor cabang lain yang menjadi lokasi rapat malam ini. "Kamu belum jawab pertanyaanku," suara berat Aksara mendadak memecah kebisuan mereka. Kila diam dan berpikir keras. Sejak keluar dari area parkiran sampai detik ini, mereka sama sekali tidak berbicara apa pun. Fokus Pak Aksara pun hanya pada jalanan di depan. Jadi, pertanyaan mana yang dimaksud oleh bosnya ini? ******Kila mendengus ketika memeriksa peta di layar ponselnya. Ternyata alamat rumah Zhein cukup jauh dari pusat kota. Dari kantor, ia harus menaiki bus kota menuju terminal utama, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus antar-kota ke arah pinggiran.Kila menurunkan ponselnya sejenak. Haruskah ia meminta bantuan sopir kantor? Namun, risiko rahasia masa lalunya terbongkar membuat Kila berpikir dua kali.Ia kembali menggeser layar ponselnya. "Mungkin taksi online jauh lebih aman?" batinnya seraya melangkah menuruni anak tangga depan gedung kantor.Sebelum ia pergi, staf HRD sempat mengabarkan bahwa nomor Zhein belum bisa dihubungi sama sekali. Kemungkinan besar memang ada masalah serius yang menimpa pria itu. Karena Aksara meminta mengurus ini, Kila tidak ingin terus-menerus mengira-ngira tanpa kepastian."Kila!"Kila menghentikan langkahnya tepat di depan toko milik Raynar."Mau cari makan siang?" tanya Raynar yang berdiri di depan pintu tokonya. Pria bermata indah itu mengenakan kemeja t
***Kila menguap lebar seraya menekan tombol lift.Pagi itu rintik hujan masih membasahi kota. Semalam ia baru tiba di rumah pukul sebelas malam usai mengurus MCU di laboratorium. Saking lelahnya, begitu sampai di kamar ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa sempat berganti pakaian."Aduh, ngantuk sekali... mana pagi ini harus video conference lagi," gumam Kila pelan seraya memeluk erat tas kerjanya, menatap deretan angka lantai di atas pintu lift yang bergerak naik.Ting!Pintu lift terbuka."Pagi, Kila!" sapa Lina yang berpapasan dengannya di koridor. Aroma manis kopi hangat yang dibawanya seketika menyeruak ke indra penciuman."Pagi... Hmm, harum sekali kopimu," puji Kila seraya menyamakan langkah kaki mereka menuju area kubikel."Mau? Kopi saset di pantry tuh.""Mau, tapi lagi malas buatnya," keluh Kila lesu."Kok tumben..." Lina menghentikan langkah sejenak, melirik wajah Kila yang tampak sedikit pucat. "Dimarahi Pak Bos ya?""Enggak, kok. Cuma ngantuk berat aja..
***"Tim, karena aku di luar kota, jika ada sesuatu yang urgent bisa di-follow up ke Kila. Budget dan approval bisa langsung lewat Kila."Email Pak Aksara kepada tim."Baik, Pak. Kila, terlampir cek pengadaan safety shoes untuk manpower baru. Mereka mulai masuk site Senin."Balas salah satu staf HRD."Ya."Balas Kila.Kila langsung memeriksa email tersebut. Jumlah safety shoes yang diajukan sebanyak dua puluh pasang.Dia kemudian membuka daftar nama yang terlampir.Matanya langsung tertuju pada satu nama.Zhein Nugraha.Ukuran sepatu: 40. Ya, itu cukup besar …Kila berkedip, menyadarkan dirinya sebelum otaknya semakin nakal memutar kenangan masa lalu itu."Saya sudah baca. Harap kirimkan quotation."Ketik Kila cepat."Kila mau makan siang di luar?" tanya Lina dari mejanya."Enggak deh. Aku mau selesaikan kerjaan dulu. Biar telat sedikit makan siangnya.""Oke. Mau nitip minum?""Es dawet boleh deh," sahut Kila, laku mengeluarkan uang 20.000."Oke."Beberapa staf mulai keluar untuk makan
***"Kecapean? Masa, sih?"Suara rendah dari seberang ponsel itu terdengar penuh nada bercanda.Kila meletakkan piring dan gelas yang baru diselesaikannya ke rak piring dengan helaan napas panjang. Benjol di kepalanya sudah kempes."Memangnya tidak percaya, Pak? Kan aku sudah kasih lihat foto tumpukan botol vitaminnya tadi," sungut Kila seraya berjalan kembali dan mendudukkan dirinya di kursi meja makan.Aksara yang sedang duduk santai di sudut sebuah cafe di Jakarta hanya menaikkan satu alisnya, menyesap kopi hitamnya."Yang jelas aku kecapean karena belakangan ini kita bercinta diporsir!" sambung Kila blak-blakan."Seks itu bukannya malah bikin tubuh sehat dan awet muda?" kilah Aksara santai, menyunggingkan senyum miring yang menyebalkan."Sehat kalau dosisnya wajar, Pak Aksara!" seru Kila gemas sambil menggigit bibir bawahnya. "Bukannya maraton setiap malam sampai subuh! Di rumah sakit tadi, aku sampai ngaku ikut lari maraton malam!""Lari maraton malam?" ulang Aksara tertawa geli.
***"Oh...?"Jantung Kila seolah berhenti saat mendengar gumaman Aksara dari balik ponsel. Hanya satu kata. Singkat, datar, dan dingin—namun efeknya terdengar jauh lebih berbahaya daripada bentakannya di kantor.Klik.Sambungan video call itu terputus sepihak. Ayah Kila mengerutkan dahi kebingungan menatap layarnya yang seketika menghitam."Lho, kok mati?" gumam Ayah heran."Ayah, berikan ponselnya sini!" pinta Kila. Dia langsung bangkit berdiri dan mengambil alih tisunya sendiri dari tangan Andrian.Andrian makin kebingungan melihat reaksi itu. "Kila? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang?""Tidak usah," tolak Kila seraya bergegas melangkah lebar keluar rumah."Kila! Mau ke mana lagi kamu? Masih mimisan begitu malah keluar!" seru Ibu khawatir.Kila memilih mengabaikan kekhawatiran ibunya. Fokusnya kini sepenuhnya teralih pada kepanikan di dadanya. Dia berdiri di teras rumah kontrakan seraya menekan nomor Aksara.Sambungan telepon terdengar tersambung, bernada panggil berul
***"Nih, kompres pakai es dulu!""Aawww! Pelan-pelan, Bu!""Kamu ini grogi ya kami datang mendadak?" tanya Ibu sedikit ketus. "Atau takut karena rumahmu berantakan seperti kapal pecah?!"Kila menggelengkan kepala lalu meringis sejadi-jadinya saat kantung berisi es batu ditempelkan tepat di dahinya yang benjol. Kepalanya terasa sedikit pusing dan cenat-cenut.Entah apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai tersandung saja bisa jadi sekonyol ini.Mungkin ini kualat atau pelajaran buatku karena belakangan ini jarang di rumah sendiri, gumam Kila meratapi nasib dalam hati."Kok bisa sih kusen pintu sebesar itu kamu hantam pakai kepala?" omel Ibu Kila keheranan seraya menatap benjolan yang sudah membesar mirip telur ayam di dahi anak gadisnya."Apa perlu kita ke rumah sakit saja?" tanya Andrian cemas. "Biar kuantar sekarang, yuk?""Tidak usah … cuma benjol dikit," erang Kila menolak seraya menahan rasa pening."Kamu ini jelas kurang olahraga, Kila. Makanya jangan cuma duduk melulu di kursi







