Beranda / Romansa / Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku. / Part 3: Gairah Yang Merangkak

Share

Part 3: Gairah Yang Merangkak

Penulis: Ersula
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 14:52:27

***

Kila diam-diam mengusap tengkuknya yang terasa hangat. Rasa demamnya masih belum turun, membuat kepalanya sedikit pening.

"Ma-maaf, Pak? Pertanyaan apa yang belum saya jawab?" tanya Kila hati-hati.

"Aku tadi kan tanya soal parfummu?"

Ah, Kila ingat.

"A.. apa saya bau badan? Tapi saya memang belum mandi seharian" jawab Kila.

Lagi-lagi Aksa diam.

Kila tahu pasti ada yang salah, pasti dia akan meneriakinnya lagi.

"Aku hanya bertanya soal parfummu! Aku tidak berkomentar soal bau badanmu!" seru Aksara ketus.

Kila semakin kebingungan. Kalau bukan karena bau badan, lalu untuk apa seorang atasan menanyakan parfumnya?

"Tapi... kenapa Bapak menanyakan...?"

Kalimat Kila menggantung. Ia mendadak sadar kalau dia harus segera berhenti bertanya sebelum keadaan memburuk.

"Kamu tinggal sebutkan saja mereknya apa!" Suara Aksara kembali mengeras, terdengar tidak sabaran dengan sikap Kila yang berbelit-belit.

Kila menunduk, meremas tas di pangkuannya.

Benar, kan? Ujung-ujungnya pria itu pasti membentaknya lagi.

"Elizabeth Arden, Green Tea," cicit Kila akhirnya menyebutkan merek parfumnya. Itu bukan parfum kelas atas yang super mahal, jadi dia heran kenapa Aksara harus seemosi itu menanyakannya.

"Green tea?" Nada suara Aksara mendadak melunak, kembali fokus menatap jalanan di depan. "Aku suka baunya. Tidak terlalu keras seperti parfum menyengat yang biasa dipakai wanita lain. Biasanya wewangian itu membuatku mual."

Kila mengangguk-angguk kaku. Di dalam hatinya, ia menarik kesimpulan, rupanya Pak Aksara hanya sedang memperingatkannya secara tidak langsung agar tidak memakai parfum berbau menyengat.

Begitu mobil pribadi Aksara memasuki area parkiran kantor cabang, beberapa orang staf dan perwakilan direksi setempat sudah berdiri rapi untuk menyambut kedatangan mereka. Walaupun jarum jam sudah menunjukkan waktu istirahat, semua orang di sana tetap harus memasang posisi siap siaga demi menghadapi rapat penting bersama Pak Aksara malam ini.

Kila buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa pening dan demam yang sedari tadi menggelayuti tubuhnya. Ia harus bersikap profesional.

Kila baru berani menatap Bosnya itu, saat berbicara di depan orang-orang. Karena baru dari site, Pak Aksara memakai seragam site wearpack warna Navy dan orange dengan scotchlite, warna khas untuk perusahaan mereka. Pak Aksara sebenarnya termasuk pria yang sangat tampan dan gagah. Postur badannya bagus, tegap, dan tinggi proporsional. Namun, karena sifatnya yang hobi marah-marah setiap hari, Kila buru-buru mencoret rasa kekaguman itu dari kepalanya.

Kila memaksa dirinya fokus, jemarinya harus cepat mengetik notulen rapat malam itu. Namun, rapat yang awalnya tampak berjalan damai mendadak berubah mencekam di pertengahan sesi.

Aksara mengamuk, memarahi semua orang habis-habisan—terutama divisi keuangan yang dianggap lalai. Kila sendiri sampai tersentak kaget mendengar bentakan Pak Aksara yang menggema keras. Alhasil, semua orang di ruangan itu hanya bisa menundukkan wajah.

"Aku tidak mengerti bagaimana cara kerja orang-orang ini!" Aksara masih terus mengomel, bahkan ketika langkah kakinya sudah sampai di depan pintu mobil.

Kila hanya bisa melirik bosnya itu sekilas sebelum ikut masuk ke dalam kabin. Di dalam hati, Kila berkomat-kamit berdoa, berharap semoga saja Pak Aksara tidak mendadak terserang stroke atau serangan jantung karena terlalu emosi saat sedang menyetir bersamanya nanti.

"Kenapa bengong?" tegur Aksara ketus, menyadari keterlambatan reaksi sekretarisnya.

"I-iya, maaf, Pak," sahut Kila gugup.

Ia buru-buru menyelinap masuk gerakan kaku, lalu memasang sabuk pengamannya secepat mungkin. Rasa demam yang sedari tadi ditahannya membuat tenaganya agak terkuras, ia hanya bisa kembali memeluk tas kerjanya seolah mencari zona nyaman.

Aksara menghela napas panjang, mencoba meredam sisa amarahnya yang menggebu-gebu, lalu menyalakan mesin mobil. Namun, sebelum menginjak pedal gas, pria itu menoleh menatap Kila.

Kila langsung tegang.

"Mau makan di mana?" tanya Aksara.

Kila melihat jam di tangannya. Jam 11 malam.

Tapi demam itu kian terasa. Harusnya dia pulang, jangan sampai dirinya.. ah, batinnya mulai takut...

"Pak, sepertinya saya pulang saja. Besok kita harus kembali kerja lagi," jawab Kila, mencoba menolak sehalus mungkin.

"Tidak apa-apa, aku yang tanggung urusan kantor besok karena kamu sudah menemaniku kerja sampai tengah malam begini. Kita makan saja dulu," potong Aksara, sambil mulai memindahkan tuas gigi.

Karena setengah pening, kalimat yang tidak seharusnya dipikirkan Kila malah lolos begitu saja dari bibirnya.

"Memangnya... Bapak tidak ditunggu istri di rumah?"

Kila seketika membeku.

Tidaaaakkk! Kenapa aku malah menanyakan hal sensitif itu! Pasti dia akan mengamuk gara-gara basa-basiku yang lagi-lagi kelewat batas! Batin Kila menjerit histeris, merutuki kebodohan mulutnya sendiri.

"Aku belum nikah, semua orang tahu itu!" Aksara hanya menunjukkan tangan kanannya. Artinya dia tidak memakai cincin kawin. Suaranya juga biasa saja. Kila bersyukur dia tidak dibentak lagi.

"Habis makan, rencananya aku mau ke kantor lagi."

Kila tahu, tapi baru hari ini Kila menemani Pak Aksara kerja sampai nyaris tengah malam. Kila berpikir, memang ada orang workholic seperti Pak Aksara? Sampai-sampai ia menyetok makanan instan di kantor.

"Kita makan nasi goreng pinggir jalan saja, ya?" tanya Aksara begitu melihat ada sebuah gerobak nasi goreng yang mangkal di tepi jalan yang mereka lalui.

"Iya, Pak. Saya tidak keberatan," sahut Kila.

Aksara langsung turun dari mobil untuk memesan makanan.

Dari balik kaca jendela, Kila hanya bisa menatap punggung tegap bosnya itu dengan bingung. Memangnya dia tahu apa seleraku? batinnya.

Tak lama kemudian, Aksara kembali masuk ke dalam kabin mobil dan membuka sedikit kaca jendela agar udara malam masuk. Mereka berdua terdiam sesaat, menunggu pesanan nasi goreng mereka yang sedang dimasak di luar.

"Aku tahu kamu tidak suka pedas, kan?" ucap Aksara memecah keheningan. Pria itu kemudian membuka laci dashboard mobilnya, lalu menyodorkan sebotol air mineral baru kepada Kila.

Kila agak terkejut, tapi ia langsung mengangguk. "Iya, benar, Pak. Terima kasih banyak."

"Rasanya aneh... dipanggil 'Pak, Pak, Pak' terus sama semua orang," gumam Aksara pelan sebelum memutar tutup botol air minumnya sendiri lalu menegguknya.

Kila hanya melempar senyum datar. Bagaimanapun juga, Aksara adalah bos besar di kantor. Tentu saja sudah sewajarnya jika semua karyawan menaruh hormat dengan panggilan itu.

"Berapa umurmu?" tanya Aksara tiba-tiba, menoleh menatap Kila lekat-lekat.

"Ehm… 26, Pak," jawab Kila jujur. Di dalam hati, ia sudah bersiap-siap jika bosnya ini akan melontarkan komentar miring lagi.

"Uh, ya? Aku pikir kamu 20. Kamu belum kelihatan setua itu," sahut Aksara, terkekeh sembari memijat pelan tengkuk serta lehernya yang terasa kaku setelah rapat melelahkan tadi.

Melihat gestur bosnya yang tampak lelah, entah keberanian dari mana, Kila memberanikan diri untuk bertanya balik supaya suasana tidak terlalu suntuk.

"Kalau Bapak sendiri, umurnya berapa?"

Aksara tersenyum tipis. "Aku sudah cukup tua... 38 tahun."

Kila menaikan alisnya. Untuk ukuran pria berusia 38 tahun, fisik atasannya ini harus diakui masih sangat bagus dan terjaga. Apa dia tipe pria yang rajin olahraga di tengah kesibukannya? batin Kila menerka-nerka.

‘Semakin tua semakin hot’ mendadak melintas di kepala Kila, membuatnya diam-diam tertawa geli di dalam hati. Sifatnya boleh saja menyebalkan setengah mati, tapi kalau urusan visual dan proporsi tubuh, bosnya ini memang tidak main-main marahnya—eh, maksudnya tidak main-main gagahnya.

Tidak lama kemudian, sang penjual datang mengantarkan dua piring nasi goreng. Mata Aksara tampak berbinar senang begitu menerima piring hangat itu. Pria itu tampaknya memang sudah kelaparan setengah mati.

"Akhirnya aku makan nasi juga hari ini..." gumam Aksara.

"Memangnya bapak selalu makan Mie instan?" Tanya Kila.

"Humm, kasihan ya?" Jawabnya sambil menguyah nasi gorengnya.

Tidak mungkin! jerit Kila dalam hati, tidak percaya dengan ucapan kasihan dari bosnya itu. Pria di sebelahnya ini sangat kaya raya. Semua orang di korporat juga tahu kalau pemilik sah dari perusahaan tambang raksasa ini adalah ayah Aksara sendiri.

"Lalu, kamu sendiri belum menikah?" tanya Aksara tiba-tiba.

Kila seketika diam. Ia memilih kembali menyuap sesendok penuh nasi goreng itu ke dalam mulutnya, berpura-pura sibuk mengunyah demi mengulur waktu. Namun harus diakui, rasa nasi goreng ini memang sangat enak, padahal hanya dibeli dari gerobak pinggir jalan biasa.

"Kenapa diam?" tanya Aksara lagi, melirik Kila yang mendadak salah tingkah. "Jangan tersinggung, ya. Tadi kamu duluan yang menyinggung soal itu!" sambungnya cepat, tidak mau disalahkan.

Kila menelan makanannya dengan susah payah, lalu menoleh sedikit sambil memasang senyum seformal mungkin. "Be-belum menemukan yang cocok saja, Pak."

"Oh? Menurutku, kamu tidak jelek-jelek amat" celetuk Aksara.

Kila hanya mengangkat kedua pundaknya acuh tak acuh. Alasan sebenarnya simpel: ia hanya belum menemukan orang yang benar-benar cocok dan bisa mengerti dirinya. Apalagi, ia merasa dirinya memiliki sisi aneh yang mungkin sulit dipahami orang lain.

Namun, jika harus menilai secara objektif, Aksara sebenarnya adalah sosok pria yang cukup menarik. Dengan postur tubuh yang tinggi tegap dan pembawaan maskulin seperti itu, Kila bahkan sempat melantur berpikir bahwa ukuran kejantanan bosnya itu pasti besar.

Kila buru-buru menepis pikiran liar itu dari kepalanya. Demam yang menyerang tubuhnya saat ini adalah sesuatu yang harus diwaspadai. Tapi jelas, dirinya tidak akan pernah cocok dengan tipe pria pemarah seperti Aksara. Lagipula, Aksara juga tidak mungkin menyukainya. Terlebih lagi, menjalin hubungan dengan rekan sekantor.

"Sudah selesai?"

Pertanyaan itu seketika membuyarkan lamunan melantur Kila. Kila mendadak merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dalam kondisi tubuh yang mulai aneh, isi kepalanya malah melantur memikirkan hal yang tidak-tidak tentang bosnya sendiri!

"Y-ya, sudah, Pak," jawab Kila gugup. Baru saja ia hendak meraih piring mereka, gerakan tangannya sudah didahului oleh Aksara.

"Biar aku saja." Aksara mengambil piring dari tangan Kila.

Pria itu turun dari mobil untuk mengembalikannya kepada penjual nasi goreng sekaligus menyerahkan sejumlah uang.

Begitu Aksara kembali masuk ke dalam kabin mobil, Kila langsung menoleh tipis.

"Pak, terima kasih banyak."

"Bukan masalah," sahut Aksara datar seraya memasang kembali sabuk pengamannya. "Aku antar kamu pulang sekarang. Di mana alamat rumahmu?"

Kila sempat tertegun sesaat—pada akhirnya demam dan pening di kepalanya sudah semakin menjadi-jadi, akhirnya Kila menyebutkan alamat lengkap rumahnya.

"Kenapa tas itu tidak kamu taruh di kursi belakang saja?" tanya Aksara tiba-tiba sembari melirik ke arah pangkuan sekretarisnya.

Memang sedari tadi Kila masih memeluk erat tas kerjanya. Dia tidak berani sembarangan menaruh barang di dalam mobil mewah ini; takut jika salah taruh, Aksara akan kembali membentaknya habis-habisan.

Aksara menghentikan mobilnya di bahu jalan. Kila seketika dilingkupi kebingungan. Sebelum ia sempat mencerna situasi, tubuh Aksara sudah condong mendekat ke arahnya. Pria itu mengulurkan tangan, langsung mengambil alih tas di pangkuan, lalu meletakkannya begitu saja di kursi belakang.

"Nah, bisa duduk santai kan?"

‘Ma... maaf, Pak," cicit Kila dengan wajah yang kian memucat.

Rasa itu kian membuatnya lemah.

Sebenarnya, sedari sore tadi Kila sudah tahu, ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Hal yang paling ditakutkannya kini benar-benar telah datang—kesadarannya mulai mengabur akibat demam tinggi. Apalagi wajah Aksara berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Kila bisa merasakan napas pria itu.

Pengaruh demam yang membakar isi kepalanya membuat fokus matanya terkunci pada satu titik.

Lihatlah, bibir pria pemarah ini entah mengapa terlihat begitu menggoda... apa boleh aku menciumnya dengan kasar sekarang? Boleh, kan?

Aksara menatap Killa dengan seksama.

"Jangan lupa sabuk pengamanmu," ucap Aksara bergerak meraih tali sabuk pengaman, lalu memasangkannya ke tubuh sekretarisnya.

Kila tidak bereaksi, tubuhnya kaku seperti kayu.

Setelah bunyi klik terdengar, Aksara kembali mengangkat pandangannya. Di dalam kabin mobil yang remang-remang, mata mereka terkunci selama beberapa detik.

Hingga tatapan Kila berubah, kilap matanya seperti ujung pisau.

"Apa aku tidak boleh mengigit bibirmu, Pak Aksara?"

Aksara membesarkan matanya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 100: Hyper

    ⚠️ CONTENT WARNING: 21+ ONLYBab ini mengandung konten eksplisit, aktivitas seksual dewasa, dan bahasa kasar.Harap bijak.***"Nggh!"Kila tersentak hebat, tubuhnya kejang di atas kasur. Entah sudah berapa kali puncak kenikmatan itu menghantamnya, sampai-sampai sekujur tubuhnya lemas seolah tak bertulang.Kedua kakinya masih bertumpu di bahu Aksara, pria itu masih menindihnya—membiarkan penyatuan mereka terkunci sampai gelombang terakhir itu benar-benar habis.Aksara mengatur napasnya. Dia menempelkan dahinya di dahi Kila, mengerang pelan sambil merasakan denyutan yang masih mencengkeramnya. Setelah gelombang itu mereda, dia bergerak pelan lagi dengan hentakan dalam yang lambat, sebelum akhirnya melepaskan semuanya di dalam.Tubuhnya menegang sejenak. Aksara tidak mencabutnya. Dia memeluk Kila erat, mengecup peluh di pelipis dan bibirnya yang masih terbuka."Kamu luar biasa, Sayang…" bisiknya serak, napasnya belum sepenuhnya tenang.Kila tersenyum lemas, lalu membalas kilat ciuman A

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 99: Jangan Bahas Lagi!

    ⚠️ CONTENT WARNING:21+ ONLYBab ini mengandung konten eksplisit, aktivitas seksual dewasa, dan bahasa kasar. Harap bijak.***Grab!Kila mencengkeram leher Aksara. Jari-jarinya membuat urat-urat leher pria itu menegang. Dengan tatapan liar penuh gairah, Kila menatap ke mata Aksara yang sudah digelapkan oleh birahi."Diam... dan nikmati saja," bisik Kila dingin.Aksara pun patuh.Tanpa memberi jeda lagi, Kila kembali menghentakkan pinggulnya secara penuh—menelan seluruh milik Aksara dalam-dalamnya."Argh--!"Erangan berat Aksara pecah di balik katupan giginya. Tangannya merambat naik, meremas gemas dada Kila yang bergoyang mengikuti hentakan liarnya.Kila memperketat cengkeramannya. "Kau suka ini, anak kucingku?""Y-ya..." lirih Aksara pasrah sambil menggigit bibirnya menahan nikmat.Kila memandangi bekas luka di bibir Aksara—bukti nyata pria itu telah menolongnya tadi. Pria ini pasti rela mati untuknya."Apa aku berhutang budi padamu?" bisik Kila pelan.Aksara terengah-engah membalas

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 98: Membela Kekasih 2

    ***Bab ini mengandung adegan intim/dewasa eksplisit (explicit sexual content)***Berita perkelahian antara Aksara dan Xavi dengan cepat menyebar ke seluruh kantor. Beberapa karyawan yang menyaksikan kejadian itu di ruang rapat maupun mendengar keributan dari luar mulai membicarakannya. Tidak butuh waktu lama sampai sebuah video yang merekam kejadian tersebut tersebar di media sosial.Dalam video itu, terlihat jelas Aksara melayangkan tinjunya ke wajah Xavi. Suara gaduh langsung memenuhi ruangan. Beberapa orang buru-buru mendekat untuk melerai, sementara yang lain hanya terpaku menyaksikan pertengkaran dua petinggi perusahaan tersebut.Namun, Aksara sama sekali tidak peduli.Setelah membuat hidung Xavi mimisan, dia baru menurunkan tangannya."Lain kali, jaga mulutmu ketika berbicara tentang orang lain."Xavi memegangi hidungnya. Darah mengalir di antara jemarinya, membuat wajahnya semakin merah karena marah."Brengsek! Kau pikir kau bisa melakukan ini kepadaku begitu saja?!"Aksara ti

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 97: Membela Kekasih

    ***Aksara melotot saat membaca pesan di ponselnya. Pesan yang dikirim Bu Sandra sejak satu jam lalu itu baru sempat dibacanya."Bisa lebih cepat lagi?" tanya Aksara kepada sopir.Kalandra melirik putranya yang tiba-tiba saja gelisah. "Ada apa, Nak?"Aksara tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggungnya, berusaha menahan kegelisahan yang mulai bergejolak di dalam dirinya. Mobil mereka masih terjebak kemacetan, sementara pikirannya sudah tertuju pada Kila.Pesan itu berasal dari Bu Sandra. Isinya singkat, tetapi cukup membuat Aksara kehilangan ketenangannya. Kila terlibat masalah di kantin setelah menyerang salah seorang petinggi perusahaan.Aksara mengusap wajahnya kasar.Dia tahu Kila bukan tipe orang yang akan mencari keributan tanpa alasan. Namun, membayangkan kekasihnya harus menghadapi masalah sendirian di kantor pusat membuat rahangnya mengeras."Aksara?"Aksara mengangkat wajah. Dia segera mengendurkan rahangnya."Tidak ada apa-apa, Ayah."Kalandra mengamati putranya beb

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 96: Jangan Kurang ajar!

    ***"Halo, Kila."Seorang perempuan setengah baya menyapanya dengan ramah. Kila segera menoleh. Dia memang belum pernah bertemu perempuan itu secara langsung, tetapi wajahnya tidak asing karena mereka cukup sering berkomunikasi melalui pesan daring."Halo, Bu Sandra."Kila berdiri dan menyambut uluran tangan perempuan itu.Bu Sandra adalah sekretaris Pak Kalandra. Selama ini, Kila hanya mengenalnya melalui percakapan singkat terkait pekerjaan. Bertemu langsung dengannya di kantor pusat membuat Kila sedikit canggung, meski perempuan itu tampak cukup ramah."Bagaimana? Betah di Jakarta?" tanya Bu Sandra setelah mereka berjabat tangan."Ya, sementara betah, Bu.""Baguslah. Sudah mulai terbiasa dengan suasana kantor pusat?"Kila tersenyum kecil. "Masih berusaha menyesuaikan diri."Bu Sandra mengangguk, lalu melirik ke arah ruangan Pak Kalandra. Kila mengikuti arah pandangannya. Dari balik dinding kaca, Aksara terlihat sedang berbicara serius dengan ayahnya, Pak Kalandra. Keduanya sesekali

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 95: cabul

    ***"Wah, kamarnya besar banget!"Mata Nathan berbinar-binar begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar hotel mewah itu.Kila akhirnya memutuskan membawa Nathan ke Jakarta untuk menenangkan diri sekaligus memantau kondisinya. Meninggalkan adiknya sendirian di kos setelah apa yang terjadi jelas membuatnya cemas. Lagipula, orang tua mereka baru akan datang ke Bogor beberapa hari lagi. Setidaknya, dengan ikut ke Jakarta, Nathan tidak perlu sendirian."Ya, tapi Mbak tidak bisa mengajakmu jalan-jalan. Mbak ke sini mau kerja," ucap Kila sembari meletakkan tas di dekat meja.Nathan langsung merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. "Iya, Mbak, tenang saja. Nanti aku bisa jalan-jalan sendiri.""Iya, tapi yang penting kamu istirahat dulu sekarang."Nathan bangkit lalu berjalan menuju balkon, memandangi gedung-gedung tinggi di kota Jakarta dari balik kaca."Mbak ke kamar Mbak dulu, ya. Nanti jam dua belas kita ketemu di lobi untuk makan siang," ucap Kila sembari melirik jam di layar ponsel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status