Share

Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.
Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.
Author: Ersula

Part 1 : Gosip

Author: Ersula
last update publish date: 2026-06-10 14:10:18

***

"Astaga! Aku terlambat!"

Bus pergi tepat saat perempuan dengan blouse biru dan celana kulot khaki itu mencapai halte.

Kila menahan umpatan di ujung bibirnya.

Ia melirik Jam di pergelangan tangannya, pukul 7 pagi. Jika memesan ojek online sekarang, setidaknya 50.000 rupiah akan melayang. Jumlah yang cukup menyakitkan untuk seseorang yang baru tiga hari lalu menerima tagihan kontrakan!

"Mau bagaimana lagi?!" Kila menepuk pipinya. Dengan enggan, akhirnya dikeluarkan ponselnya dari dalam tas. Namun sebelum aplikasi itu terbuka, sebuah bus lain terlihat dari kejauhan. Kila menatap nomor rute di kaca depan dan menghela napas lega.

"Wah, untung saja!"

Kila segera naik begitu pintu otomatis bus terbuka, menyambut udara AC yang langsung mendinginkan kulitnya yang gerah. Beruntung, di antara barisan penumpang yang padat pagi ini, masih tersisa satu kursi kosong di baris tengah.

Rupanya pagi ini belum sepenuhnya buruk.

Kila bergegas mengambil tempat di sana. Tepat di samping kursi itu, duduk seorang pria berbaju hitam yang sedang fokus membaca buku.

"Permisi," sapa Kila.

Pria itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum ketika Kila mendekatinya.

Kila terdiam sesaat.

"Ah... Raynar?"

Pria itu tampak sama terkejutnya. Pandangannya sempat berhenti di rambut Kila yang sedikit berantakan sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Kila? Benar?"

"Ya, hehehe."

Kila segera duduk, berusaha terlihat santai meski entah kenapa tawanya terdengar sedikit canggung duduk di samping Raynar.

"Dari mana? Kok naik bus?"

"Habis dari Solo kemarin, cari beberapa barang antik di Pasar Triwindu," jawab Raynar sambil menutup bukunya. "Tapi mobilku mendadak rewel di sana dan harus masuk bengkel. Jadi, terpaksa deh pulang naik bus."

"Oh, pantesan," sahut Kila manggut-manggut paham. Memang, Raynar punya mobil VW jadul berwarna kuning.

Raynar tersenyum lalu kembali fokus ke bukunya. Ujung siku pria itu tak sengaja menyentuh lengan Kila seiring guncangan bus. Kila buru-buru menjauhkan lengannya.

Raynar adalah pemilik toko barang antik di dekat tempatnya bekerja. Setiap kali Kila melewati toko itu, mereka kadang saling menyapa singkat. Kila belum pernah masuk ke dalam toko yang kelihatannya menyeramkan itu. Dari luar etalasenya gelap, penuh benda-benda tua yang membuatnya tak pernah benar-benar berani masuk. Tapi pemiliknya… ternyata tidak seseram tokonya.

Bus masih bergerak.

Mereka diam. Tidak ada topik , dan justru itu membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit.

Kila mengusap lengannya, memastikan detak jantungnya. Ini terlalu dekat. Di sampingnya ada seorang laki-laki—situasi yang biasanya langsung membuat tubuhnya menegang, mual, atau panik. Namun, kali ini semuanya terasa normal. Tidak ada yang bergejolak dari dalam dirinya.

Bus melewati beberapa blok jalanan kota yang mulai ramai. Kila melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi ia akan terlambat masuk kerja.

"Kamu sudah terlambat masuk kerja?" tanya Raynar tiba-tiba.

Kila tersentak kecil. "Hah? Hm… semoga tidak."

Ia buru-buru mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi apa pun, setidaknya kalau ada email masuk ia bisa cepat meresponnya.

Kila bersandar kembali di kursi. Di sampingnya, Raynar juga memandang ke luar jendela. Cahaya pagi menyorot wajahnya sesaat—Kila menyadari, tenyata Raynar memiliki warna mata yang berbeda. Perbedaannya cukup terlihat karena tersorot cahaya matahari yang menembus kaca jendela bus. Garis muka, hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas mengatakan dia orang yang rupawan.

Raynar menoleh, dan tatapan mereka bertemu. Kila cepat-cepat mengalihkan pandangan.

"Kita hampir sampai," kata Raynar, tersenyum kecil.

Kila tersadar dan segera berdiri, menyampirkan tali tasnya ke bahu. Raynar mengikuti di belakangnya.

Bus berhenti tepat di depan halte. Suasana di sana cukup padat, memaksa mereka ikut mengantre menunggu penumpang lain turun satu per satu.

Kila menghela napas pelan.

Setidaknya sudah sampai. Tapi jam di kepalanya terus berdetak lebih cepat dari biasanya, entah tinggal berapa menit lagi, yang dia jelas akan terlambat!

Ternyata Raynar berjalan lebih dulu di depannya. Kila bingung berapa panjangnya kaki pria itu, hingga langkahnya lebih cepat padahal pria itu ada di belakangnya tadi.

"Aku duluan, selamat bekerja." Raynar berhenti di depan tokonya.

"Selamat bekerja..." Kila melambaikan tangannya kepada Raynar sambil akhirnya berlari-lari kecil.

Pintu masuk kantornya sudah nampak, dan jam di atas pintu itu menunjukkan angka kalau Kila tidak telat!

"Ah…," Kila menghela napas lega, akhirnya mulai berjalan santai. Beberapa karyawan juga ada yang baru datang, mereka juga sama tampak tergesa-gesa seperti Kila.

"Selamat pagi, Kila," sapa petugas keamanan saat ia melewati pintu detektor.

"Selamat pagi," balas Kila sambil tersenyum kecil, lalu memakai kartu lanyard ID karyawannya. Ia pun buru-buru menuju lift.

Saat tangannya hampir menyentuh tombol, seseorang lebih dulu menekannya.

Kila menoleh, lalu menelan napasnya.

Ternyata Pak Aksara.

Pria 180 cm itu berdiri di sampingnya—membuat Kila begitu kecil di bawah bayangannya. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar seperti biasa.

"Ah… ma-maaf, Pak!" Kila refleks mundur setengah langkah. Resahnya mulai menggeliat, pagi ini mulai terasa membebaninnya.

"Kamu sibuk?" Tanya Aksara tiba-tiba.

Kila diam, menunduk, dan memandangi sepatu bosnya itu.

"Saya harus mempersiapkan bahan rapat siang ini," jawabnya pelan.

"Oh." Aksara tidak bertanya lagi.

Tak lama, denting lift berbunyi. Ketika pintunya terbuka, mereka melangkah masuk bersamaan. Kila sengaja mengambil posisi di sudut paling belakang, berdiri sedikit menjauh demi menjaga jarak amannya.

Pintu lift menutup perlahan, mengurung mereka dalam kotak keheningan.

"Kamu belum jawab pertanyaanku minggu lalu." Suara pria itu menggema berat di sekitar dinding lift.

Kila diam. Telapak tangannya mulai terasa dingin.

"Aku masih menunggu jawabanmu," lanjut Aksara tanpa menoleh.

Atmosfer di dalam lift terasa makin mencekam bagi Kila. Ia berusaha tenang, tapi kembali bersumpah tidak akan pernah menjawab apa pun. Jelas, minggu lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya!

Kila terkesiap. Tiba-tiba menyadari tangan Aksara bergerak, berniat menyentuh tangannya. Panik itu menjalar seketika, Kila melipat tangannya segera menghindari kontak fisik itu.

Jantungnya berdetak cepat, matanya menatap lekat angka-angka lantai di atas pintu. Dalam hati, dia berharap setengah mati agar pintu lift sialan itu segera terbuka.

Ding!

Begitu pintu lift terbuka, Kila buru-buru melesat mendahului atasannya itu tanpa menoleh lagi.

Kila Damaya, seorang sekretaris. Di umurnya yang menginjak 26 tahun ini, ia tidak memiliki pacar, bahkan tidak sedang menyukai siapa pun. Padahal, hampir setiap minggu kedua orang tuanya selalu menanyakan kapan dirinya akan membawa calon suami atau minimal seorang kekasih ke rumah.

Dari kejauhan, tampak Pak Aksara berjalan ke arah meja kerjanya. Kila refleks menunduk, mencoba membuat tubuhnya tenggelam di balik sekat meja agar terhindar dari kontak mata dengan bosnya itu.

Kila tahu, dia tidak mungkin bisa menghindari Aksara. Tapi dirinya benar-benar menyesali kejadian minggu lalu. Sebuah kesalahan membuatnya terbebani!

"Hei, gimana kamu sudah siapin bahan buat rapat nanti?" Lina tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.

Kila hampir saja meloncat dari kursinya.

"Astaga, kamu mengejutkanku!" Kila menepuk lengan Lina, teman sekantornya yang bekerja di bagian HRD.

"Su-sudah selesai dari kemarin, sih. Tapi aku mau cek lagi materi presentasiku," tambah Kila sambil menyalakan komputernya yang ternyata sudah selesai diperbaiki. "Eh, jam berapa meetingnya?"

"Benar-benar ganteng Pak Aksa," gumam Lina yang ternyata tidak mendengarkan Killa.

Tatapannya justru teralih ke arah ruang kerja Pak Aksara yang berdinding kaca transparan. Dari kubikel, sang bos memang bisa dengan mudah mengawasi para pekerja dari balik jendela-jendela besar itu.

"Hm?" Kila pun menyahut sekenanya. Ia berpura-pura sibuk membuka bahan presentasi untuk mengalihkan gugupannya.

"Eh, tau kan ada gosip kalau dia lagi punya hubungan spesial sama seseorang. Sepertinya salah satu staf di kantor ini."

Kila seketika menoleh. Matanya melebar, menatap Lina. "Go-gosip?"

"Iya, minggu lalu sempat bikin heboh, kan? Beberapa orang melihat ada bekas cupang di leher Pak Aksara," bisik Lina misterius.

CUPANG?

Kila membesarkan matanya lagi. Jantungnya seolah merosot ke perut. Ternyata bekas gigitan itu terlihat orang?!

"Ba… bagaimana bisa menggosipkan Pak Aksara punya hubungan spesial dengan orang kantor ini?" Kila mencoba menormalkan suaranya yang mulai bergetar.

"Entahlah, namanya juga gosip. Lagian kamu tahu sendiri kan, minggu kemarin Pak Aksara stay terus dan suka lembur karena dia baru saja dipindahkan ke sini. Makanya pas ada bekas kayak gitu di lehernya, orang-orang langsung mikir kejadiannya pasti pas dia lagi lembur-lemburnya!"

Lina melipat tangan di dada. Ia mendadak diam dan menatap Kila lekat-lekat.

Kila membalas tatapan itu dengan wajah gugup. Jantungnya berdebar-debar ekstrem.

Jangan-jangan…

"Tapi ya... yang pasti pelakunya bukan kamu, sih!" Lina tiba-tiba tertawa renyah, lalu melenggang pergi meninggalkan Kila yang masih membeku.

Kila memaksakan diri ikut tertawa hambar.

Begitu Lina menjauh, ia langsung menelungkupkan kepala ke atas meja kerjanya.

"Haaah…!" Kila tahu dirinya telah bertindak sangat bodoh karena kurang hati-hati!

Betapa tajamnya mata orang-orang di kantor ini. Kila bahkan sama sekali tidak menyadari... kalau ia sampai meninggalkan bekas itu di tubuh bosnya!

Aksara Kalandra.

Pria itu jelas sangat menawan, gagah, mapan, dan usianya juga lebih dari cukup untuk membangun rumah tangga.

Sayangnya, Kila sama sekali tidak berminat membangun hubungan dengan bosnya itu!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 5: Bertukar Hadiah

    *** "Kamu menyukainya?" bisik Kila sensual. Kila melakukannya lagi. Kali ini gigitannya sedikit lebih kuat, disusul kecupan-kecupan dalam yang membuat Aksara kian kebingungan dan gelisah di tempat duduknya. Namun di saat yang sama, Aksara menyadari bahwa ia sangat menyukai sensasi tak berdaya ini. "Y-ya... aku menyukainya," lirih Aksara akhirnya dengan suara serak yang teramat berat, sudah menyerah pada sensasi asing yang menjalar di tubuhnya. Mendengar pengakuan itu, Kila tersenyum puas. Ia merunduk, membiarkan bibir dan ujung lidahnya menyusuri dada bidang Aksara yang kokoh. Sentuhan basah dan panas yang bergerak lambat itu membuat otot-otot dada Aksara seketika menegang keras akibat gelombang gairah yang menyengatnya tanpa ampun. "Kila, buka penutupnya. Aku ingin melihatmu," geram Aksara dengan napas memburu yang terasa panas. Pria itu sudah benar-benar berada di batas kemampuannya untuk bertahan, hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk. "Kamu belum menjawab pertanyaank

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 4: Pak Bos, Ayo Kita Main

    *** "Apa aku boleh menggigit bibirmu?" Seketika Aksara membelalakkan matanya. Ia terpaku, benar-benar terkejut menyadari perubahan drastis dari wanita di hadapannya. Pria itu merasa salah dengar, sampai-sampai ia mengejapkan kedua matanya berkali-kali untuk memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi. "Menggigit bibirku? Kila... kamu ini sadar, kan?" Kila tetap bersandar kaku di kursinya. Sepasang mata gelap yang biasanya selalu menghindari kontak mata itu kini justru menatap Aksara dengan sorot tajam—seolah siap menerkam sang bos kapan saja jika pria itu lengah sedikit saja. Entah ke mana perginya sekretaris penakut yang sedari tadi terus menunduk dan meremas tas laptopnya dengan gugup. Kila memiringkan kepalanya sedikit, menelisik ekspresi Aksara. "Bos, kamu... terlihat takut?" lirihnya, seolah sengaja memprovokasi ego pria itu. Mendengar tantangan terang-terangan tersebut, Aksara mendengus lalu melepaskan tawa rendah yang terdengar berbahaya. Sisi laki-lakinya ter

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 3: Gairah Yang Merangkak

    ***Kila diam-diam mengusap tengkuknya yang terasa hangat. Rasa demamnya masih belum turun, membuat kepalanya sedikit pening."Ma-maaf, Pak? Pertanyaan apa yang belum saya jawab?" tanya Kila hati-hati."Aku tadi kan tanya soal parfummu?"Ah, Kila ingat."A.. apa saya bau badan? Tapi saya memang belum mandi seharian" jawab Kila.Lagi-lagi Aksa diam.Kila tahu pasti ada yang salah, pasti dia akan meneriakinnya lagi."Aku hanya bertanya soal parfummu! Aku tidak berkomentar soal bau badanmu!" seru Aksara ketus.Kila semakin kebingungan. Kalau bukan karena bau badan, lalu untuk apa seorang atasan menanyakan parfumnya?"Tapi... kenapa Bapak menanyakan...?" Kalimat Kila menggantung. Ia mendadak sadar kalau dia harus segera berhenti bertanya sebelum keadaan memburuk."Kamu tinggal sebutkan saja mereknya apa!" Suara Aksara kembali mengeras, terdengar tidak sabaran dengan sikap Kila yang berbelit-belit.Kila menunduk, meremas tas di pangkuannya.Benar, kan? Ujung-ujungnya pria itu pasti memben

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 2: Aksara, Si Bos Galak

    ***Malam Selasa minggu lalu, Kila benar-benar dibuat panik setengah mati.Bisa-bisanya setelah listrik kantor anjlok, layar komputernya langsung membiru alias blue screen. Padahal, hari itu dia dikejar waktu untuk mencetak daftar invoice tagihan sewa unit alat berat."Kamu sudah menelepon teknisi IT?" tanya Lina hari itu, ikut khawatir melihat kepanikan temannya."Sudah, tapi mereka bilang baru bisa mengusahakan secepatnya hari ini," jawab Kila sambil buru-buru mengambil map besar di lemari arsip. Untung saja dia selalu mencetak pekerjaannya, untuk sementara dia aman karena ada hardcopy."Sementara terpaksa aku input manual dulu, deh." Kila mengedikkan bahu pasrah."Semoga cepat selesai, ya. Mana rapatnya nanti malam lagi," ujar Lina sambil menepuk bahu Kila sebelum kembali ke kubikelnya sendiri.Bos barunya itu memang terkenal suka semau-maunya, padahal hari itu Pak Aksara sedang berada di site yang berjarak tujuh jam perjalanan. Dengan entengnya pria itu memberi kabar kalau rapat a

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 1 : Gosip

    ***"Astaga! Aku terlambat!"Bus pergi tepat saat perempuan dengan blouse biru dan celana kulot khaki itu mencapai halte.Kila menahan umpatan di ujung bibirnya.Ia melirik Jam di pergelangan tangannya, pukul 7 pagi. Jika memesan ojek online sekarang, setidaknya 50.000 rupiah akan melayang. Jumlah yang cukup menyakitkan untuk seseorang yang baru tiga hari lalu menerima tagihan kontrakan! "Mau bagaimana lagi?!" Kila menepuk pipinya. Dengan enggan, akhirnya dikeluarkan ponselnya dari dalam tas. Namun sebelum aplikasi itu terbuka, sebuah bus lain terlihat dari kejauhan. Kila menatap nomor rute di kaca depan dan menghela napas lega."Wah, untung saja!"Kila segera naik begitu pintu otomatis bus terbuka, menyambut udara AC yang langsung mendinginkan kulitnya yang gerah. Beruntung, di antara barisan penumpang yang padat pagi ini, masih tersisa satu kursi kosong di baris tengah. Rupanya pagi ini belum sepenuhnya buruk.Kila bergegas mengambil tempat di sana. Tepat di samping kursi itu, dud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status