Masuk***
"Apa aku boleh menggigit bibirmu?" Seketika Aksara membelalakkan matanya. Ia terpaku, benar-benar terkejut menyadari perubahan drastis dari wanita di hadapannya. Pria itu merasa salah dengar, sampai-sampai ia mengejapkan kedua matanya berkali-kali untuk memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi. "Menggigit bibirku? Kila... kamu ini sadar, kan?" Kila tetap bersandar kaku di kursinya. Sepasang mata gelap yang biasanya selalu menghindari kontak mata itu kini justru menatap Aksara dengan sorot tajam—seolah siap menerkam sang bos kapan saja jika pria itu lengah sedikit saja. Entah ke mana perginya sekretaris penakut yang sedari tadi terus menunduk dan meremas tas laptopnya dengan gugup. Kila memiringkan kepalanya sedikit, menelisik ekspresi Aksara. "Bos, kamu... terlihat takut?" lirihnya, seolah sengaja memprovokasi ego pria itu. Mendengar tantangan terang-terangan tersebut, Aksara mendengus lalu melepaskan tawa rendah yang terdengar berbahaya. Sisi laki-lakinya terusik. "Takut? Kamu menantang orang yang salah, Kila," bisik Aksara. Ia perlahan merendahkan wajahnya, mengikis jarak mereka. "Jadi, apa kamu benar-benar ingin melakukannya?" Kila perlahan menggigit bibir bawahnya sendiri dengan gerakan lambat yang sensual, sementara sepasang matanya masih mengunci mati netra Aksara. "Ya," jawabnya seolah tanpa keraguan. Tatapan mata Aksara seketika menggelap, menyadari bahwa sekretarisnya ini tidak sedang bermain-main. Aksara mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap pipi Kila dengan ibu jarinya. "Kamu... mau tidur denganku?" Namun, sentuhan kulit ke kulit itu mendadak membuat Kila mengedipkan mata beberapa kali. Kesadaran Kila mendadak mendarat kembali. Seketika ia tahu kalau situasi ini sudah benar-benar berada di luar nalarnya. Bagaimana bisa dia menggoda bosnya sendiri?! "Oh? Kamu sakit?" Aksara mengerutkan kening begitu menyadari bahwa kulit itu terasa sangat panas. Kila tidak menjawab. Malah dengan berani, ia perlahan menurunkan kepalanya, pandangannya yang liar merayapi area selangkangan Aksara. Stop, Kila! Jangan gila! Jauh di dalam lubuk hatinya, batin Kila terus menjerit histeris. Ia sekuat tenaga berusaha meraih kembali sisa-sisa kewarasannya yang terus timbul tenggelam. Apa daya gairah itu sudah mengunyah habis akal sehatnya, tubuhnya menolak untuk patuh pada logika. Kila kembali mendongak, menatap langsung ke manik mata Aksara. "Apa kamu... benar-benar bisa memuaskanku, Pak Aksara?" tanya Kila dengan nada rendah yang sengaja dibuat meremehkan. Seketika Aksara mendengus dan menggelengkan kepalanya. Kalimat Kila barusan terdengar jelas seperti sebuah tantangan yang pertanyaan harga dirinya sebagai seorang pria. "Kita ke tempatku," ucap Aksara final. Pria itu langsung memindahkan tuas gigi dan menginjak pedal gas. Lagi-lagi, Kila diam. Dasar bodoh! Kila kembali memaki dirinya sendiri. Pak Aksara pasti membenciku setelah ini. Sebelum terjadi, aku harus membatalkannya! "Ma-maafkan aku, Pak Aksara!" "Kenapa?" tanya Aksara tanpa menoleh, fokus menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras. Malam ini, Kila merasa menjadi wanita paling tolol sedunia. Pria di sebelahnya ini adalah Pak Aksara Kalandra! Bos besar di kantornya! Jika ia tidur dengannya, apa yang akan terjadi esok jika mereka harus bertemu kembali? "Saya mau pulang saja... maafkan saya, Pak. Mungkin... mungkin karena saya terlalu mengantuk, jadi bicara saya ngelantur yang tidak-tidak," racau Kila cemas. Aksara memilih mengabaikan kalimat Kila. "Oh, aku ingin melakukannya," sahut Aksara dengan nada dingin. "Kita ke apartemenku.” *** "Masuklah." Aksara membuka pintunya. Kila ragu. Dia diam di depan pintu. Suasana lorong apartemen itu sepi. Akhirnya dia masuk ke dalam apartemen bergaya modern minimalis itu. Aksara meletakkan tas kerjanya di dekat meja, lalu mengempaskan tubuhnya ke atas sofa panjang. Pria itu mengembuskan napas berat seraya mengusap kasar wajahnya. Lelah tercetak jelas di sana. Sedang Kila masih berdiri mematung, menatap atasannya dengan pandangan kosong. Aksara membalas tatapan Kila. Ia juga tidak tahu apa yang harus mereka mulai. "Lalu?" tanya Aksara dengan suara serak, menantang tindakan sekretarisnya itu selanjutnya. Kila diam, lagi-lagi, sisa pikiran logisnya menguap begitu saja, netranya kembali mengunci sosok Aksara yang tampak begitu menggairahkan di atas sofa. "Apa perlu aku mandi dulu?" tanya Kila dengan suara lirih. Aksara mengeraskan rahangnya. Gadis berambut ikal panjang itu kini benar-benar terlihat seperti orang lain di mata Aksara. Ke mana perginya wanita yang biasanya selalu bersikap formal dan berjarak dengan panggilan 'Pak Aksara' yang kaku? "Apapun..." sahut Aksara, matanya pun sama, tidak beralih dari sosok di hadapannya. “Tapi... kamu sakit?” tanya Aksara mengingat kulit Kila yang panas. "Ya... Karena aku terlalu menginginkanmu, Pak Aksara," sahut Kila mendesah. Aksara meluruskan ujung pandangannya, mulai merayapi setiap jengkal tubuh Kila. Harus diakui, sekretarisnya ini memiliki tubuh yang sangat bagus; payudaranya tidak terlalu besar, pinggangnya kecil, berpinggul besar, serta kaki yang tampak jenjang walau posturnya tidak terlalu tinggi. Tanpa sadar, Kila memenuhi seluruh kriteria bentuk tubuh ideal yang disukainya. Blazer Kila merosot, jatuh begitu saja ke lantai. Berikutnya, jemari Kila bergerak meloloskan satu per satu kancing blusnya, menyingkap kulit indahnya yang merona kemerahan karena suhu tubuh yang kian memanas. Aksara menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak yang kian memuncak di dadanya. "Aku tidak tahu... ternyata tubuhmu sangat indah," gumam Aksara berat. Pria itu menatap lekat ke arah dada Kila yang masih tertutup oleh bra hitam yang ontras warna hitam itu di atas kulit Kila yang hangat benar-benar menyengat gairah Aksara seketika. Rasanya seperti ada letupan api yang membakar bagian bawah perutnya. Tak mampu lagi menahan diri, Aksara mengulurkan tangan tegapnya, hendak menyentuh keindahan di hadapannya. PLAAK! Bunyi tamparan keras bergema di ruang tamu. Kila dengan kasar menepis tangan Aksara yang hendak menyentuhnya. Aksara tersentak terkejut. Namun sebelum pria itu sempat bersuara, Kila bergerak menarik tas laptop di samping sofa. Dengan gerakan tak terduga yang terampil, ia melepas strap tali panjang dari tas tersebut, lalu melipat tali itu menjadi dua bagian di tangannya. Sebenarnya, Kila sangat menyukai seks. Namun, ia tidak bisa melakukannya dengan cara yang biasa. Gairahnya terlalu aneh, ia haus akan kekuasaan, sebuah ritual kendali untuk benar-benar memicunya sampai ke puncak. Kila memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam seoalah meredam rasa pening di kepalanya, lalu kembali membuka kelopak matanya. Ketika mata gelap itu kembali terbuka, kilat dominasi menguar. "Hello, Pak Bos. Ayo, kita bermain." "Ber-main?" Aksara memandangi Kila dengan kerutan di dahi, dilingkupi kebingungan sekaligus rasa penasaran yang besar. Kila melangkah maju, menyentuh pipi Aksara dengan ujung jarinya yang panas, lalu mengelus pundak tegap itu perlahan. Sebelum pria itu sempat bersuara, Kila dengan gerakan tak terduga langsung menyatukan kedua tangan Aksara ke belakang badannya. "Jangan sampai ikatan ini terlepas, kamu mengerti?" bisik Kila tepat di telinga Aksara. Otak Aksara masih berusaha mencerna ini. Ia mulai merasa aneh tapi belum sempat protes lebih jauh, Kila sudah bergerak cepat mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang punggung menggunakan strap tali tas laptop. "Hei! What the hell?" umpat Aksara tertahan saat merasakan simpul tali itu mengunci gerakannya. "Jangan khawatir, nikmati saja. Tapi ingat, jangan sampai terlepas. Kalau terlepas... permainan kita selesai," ancam Kila. "Kila? Kamu gila?" desis Aksara dengan suara tertahan. Instingnya sebagai pria dewasa sedikit banyak tahu ke mana arah permainan. Sekali lagi, ia benar-benar tidak percaya bahwa wanita yang selama ini terlihat sangat penurut, sopan, dan pasif di kantor, ternyata menyembunyikan jiwa seliar ini di dalam dirinya. Kemudian Kila bergerak meraih atasannya yang tergeletak di lantai. Tanpa menunggu persetujuan, Ia melilitkan kain itu untuk menutup kedua mata Aksara. Kegelapan mendadak yang menyergap itu seketika memicu alarm bahaya di kepala Aksara. Ada rasa takut—khawatir jika Kila berniat mencelakainya atau melakukan hal nekat dalam kondisi ia tak berdaya begini. "Kila! Buka! Aku tidak suka mataku ditutup!" protes Aksara dengan nada tinggi yang menuntut—nada otoriter yang sama yang biasa ia gunakan saat memerintah di kantor. "Tenang, Pak Bos yang pemarah," bisik Kila, sama sekali tidak mundur oleh bentakan itu. Dengan gerakan perlahan, jemari Kila mulai melepas satu per satu kancing kemeja Aksara. Hawa dingin dari AC yang mendadak menerpa kulit dadanya yang polos membuat Aksara menegang. Kila menunduk. Ia mendekatkan wajahnya ke dada bidang Aksara, menghirup dalam-dalam aroma maskulin bercampur wangi parfum kayu manis yang menguar dari sana. Napas Kila yang menjalar panas di permukaan kulit, membuat debaran jantung Aksara kian berpacu tidak karuan. Napasnya kian berat. "Oh... Kila, itu geli." Mendengar erangan berat itu, Kila beranjak duduk di atas pangkuan Aksara, pahanya rapat seolah mengunci pergerakan gelisah pinggul pria itu. "Apa pekerjaan membuatmu stress dan selalu ingin marah?" bisik Kila sambil mengusap lembut titik sensitif di ujung dada Aksara. Aksara tidak menjawab. Ia bingung, karena tidak pernah diperlakukan seperti ini seumur hidupnya. Kehilangan kendali visual dan fisik membuatnya merasa seperti orang bodoh. Gairahnya sudah tinggi meroket, ia ingin sekali menyentuh dan melihat Kila saat ini juga! "Kenapa tidak dijawab, Pak Bos?" Kila berbidik, lalu mendaratkan kecupan basah di sepanjang garis leher Aksara. "Kila... jangan membuatku bingung," geram Aksara, tubuh tegapnya hampir memberontak. "Ingat aturan mainnya, ikatannya jangan sampai terbuka," bisik Kila memperingatkan sembari menggigit leher Aksara sebelum mengecupnya dengan rakus. Sengaja meninggalkan tanda memar kemerahan di sana. Aksara tersentak kaget. Rasanya sangat mengejutkan sekaligus mencengangkan, namun ia tidak bisa memungkiri rasa nikmat yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Hasratnya meledak untuk merengkuh tubuh Kila, tetapi kalimat ancaman Kila bahwa permainan akan selesai jika ikatan terlepas, menahan seluruh ego dominannya. Pria itu dipaksa untuk patuh dan tunduk. "Kamu menyukainya?" bisik Kila sensual. Kila melakukannya lagi. Kali ini gigitannya sedikit lebih kuat, disusul kecupan-kecupan dalam yang membuat Aksara kian kebingungan dan gelisah di tempat duduknya. Namun di saat yang sama, Aksara menyadari bahwa ia sangat menyukai sensasi tak berdaya ini. Napas pria itu mulai berat dan panas. *****""Senang?!"Nathan berbinar-binar setelah mendapatkan ponsel baru. Bukan dari kakaknya, melainkan dari calon kakak iparnya."Janji jangan aneh-aneh, ya!" Kila menodongkan telunjuk ke wajah adiknya. "Uang buat beli ponsel itu bisa dipakai buat beli motor baru, tahu!""Iya, iya, Mbak!" jawab Nathan tanpa menoleh sedikit pun. Perhatiannya masih terpaku pada ponsel barunya.Kila mendesah, memandangi bahu adiknya dengan kesal."Sudahlah. Yang penting Nathan senang." Aksara menepuk-nepuk bahu Kila.Namun, Kila buru-buru menghindar.Aksara mengernyit, lalu melirik wanita itu dengan senyum jahil. "Kenapa? Sudah normal?"Kila mendelik. "Normal! Pokoknya jangan sentuh sembarangan!"Aksara terkekeh. "Masih ada ruang ganti di mall ini."Kila melotot. Dan dia tidak mau kejadian itu terulang, apalagi ada Nathan."Kita belum coba di toilet loh?" goda Aksara.Bibir Kila mengerucut. "Dasar sinting! Awas kalau sengaja ya?!""Baiklah." Aksara mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. "Aku tidak a
⚠️ CONTENT WARNING: 21+ ONLYBab ini mengandung konten eksplisit, aktivitas seksual dewasa, dan bahasa kasar.Harap bijak.***"Nggh!"Kila tersentak hebat, tubuhnya kejang di atas kasur. Entah sudah berapa kali puncak kenikmatan itu menghantamnya, sampai-sampai sekujur tubuhnya lemas seolah tak bertulang.Kedua kakinya masih bertumpu di bahu Aksara, pria itu masih menindihnya—membiarkan penyatuan mereka terkunci sampai gelombang terakhir itu benar-benar habis.Aksara mengatur napasnya. Dia menempelkan dahinya di dahi Kila, mengerang pelan sambil merasakan denyutan yang masih mencengkeramnya. Setelah gelombang itu mereda, dia bergerak pelan lagi dengan hentakan dalam yang lambat, sebelum akhirnya melepaskan semuanya di dalam.Tubuhnya menegang sejenak. Aksara tidak mencabutnya. Dia memeluk Kila erat, mengecup peluh di pelipis dan bibirnya yang masih terbuka."Kamu luar biasa, Sayang…" bisiknya serak, napasnya belum sepenuhnya tenang.Kila tersenyum lemas, lalu membalas kilat ciuman A
⚠️ CONTENT WARNING:21+ ONLYBab ini mengandung konten eksplisit, aktivitas seksual dewasa, dan bahasa kasar. Harap bijak.***Grab!Kila mencengkeram leher Aksara. Jari-jarinya membuat urat-urat leher pria itu menegang. Dengan tatapan liar penuh gairah, Kila menatap ke mata Aksara yang sudah digelapkan oleh birahi."Diam... dan nikmati saja," bisik Kila dingin.Aksara pun patuh.Tanpa memberi jeda lagi, Kila kembali menghentakkan pinggulnya secara penuh—menelan seluruh milik Aksara dalam-dalamnya."Argh--!"Erangan berat Aksara pecah di balik katupan giginya. Tangannya merambat naik, meremas gemas dada Kila yang bergoyang mengikuti hentakan liarnya.Kila memperketat cengkeramannya. "Kau suka ini, anak kucingku?""Y-ya..." lirih Aksara pasrah sambil menggigit bibirnya menahan nikmat.Kila memandangi bekas luka di bibir Aksara—bukti nyata pria itu telah menolongnya tadi. Pria ini pasti rela mati untuknya."Apa aku berhutang budi padamu?" bisik Kila pelan.Aksara terengah-engah membalas
***Bab ini mengandung adegan intim/dewasa eksplisit (explicit sexual content)***Berita perkelahian antara Aksara dan Xavi dengan cepat menyebar ke seluruh kantor. Beberapa karyawan yang menyaksikan kejadian itu di ruang rapat maupun mendengar keributan dari luar mulai membicarakannya. Tidak butuh waktu lama sampai sebuah video yang merekam kejadian tersebut tersebar di media sosial.Dalam video itu, terlihat jelas Aksara melayangkan tinjunya ke wajah Xavi. Suara gaduh langsung memenuhi ruangan. Beberapa orang buru-buru mendekat untuk melerai, sementara yang lain hanya terpaku menyaksikan pertengkaran dua petinggi perusahaan tersebut.Namun, Aksara sama sekali tidak peduli.Setelah membuat hidung Xavi mimisan, dia baru menurunkan tangannya."Lain kali, jaga mulutmu ketika berbicara tentang orang lain."Xavi memegangi hidungnya. Darah mengalir di antara jemarinya, membuat wajahnya semakin merah karena marah."Brengsek! Kau pikir kau bisa melakukan ini kepadaku begitu saja?!"Aksara ti
***Aksara melotot saat membaca pesan di ponselnya. Pesan yang dikirim Bu Sandra sejak satu jam lalu itu baru sempat dibacanya."Bisa lebih cepat lagi?" tanya Aksara kepada sopir.Kalandra melirik putranya yang tiba-tiba saja gelisah. "Ada apa, Nak?"Aksara tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggungnya, berusaha menahan kegelisahan yang mulai bergejolak di dalam dirinya. Mobil mereka masih terjebak kemacetan, sementara pikirannya sudah tertuju pada Kila.Pesan itu berasal dari Bu Sandra. Isinya singkat, tetapi cukup membuat Aksara kehilangan ketenangannya. Kila terlibat masalah di kantin setelah menyerang salah seorang petinggi perusahaan.Aksara mengusap wajahnya kasar.Dia tahu Kila bukan tipe orang yang akan mencari keributan tanpa alasan. Namun, membayangkan kekasihnya harus menghadapi masalah sendirian di kantor pusat membuat rahangnya mengeras."Aksara?"Aksara mengangkat wajah. Dia segera mengendurkan rahangnya."Tidak ada apa-apa, Ayah."Kalandra mengamati putranya beb
***"Halo, Kila."Seorang perempuan setengah baya menyapanya dengan ramah. Kila segera menoleh. Dia memang belum pernah bertemu perempuan itu secara langsung, tetapi wajahnya tidak asing karena mereka cukup sering berkomunikasi melalui pesan daring."Halo, Bu Sandra."Kila berdiri dan menyambut uluran tangan perempuan itu.Bu Sandra adalah sekretaris Pak Kalandra. Selama ini, Kila hanya mengenalnya melalui percakapan singkat terkait pekerjaan. Bertemu langsung dengannya di kantor pusat membuat Kila sedikit canggung, meski perempuan itu tampak cukup ramah."Bagaimana? Betah di Jakarta?" tanya Bu Sandra setelah mereka berjabat tangan."Ya, sementara betah, Bu.""Baguslah. Sudah mulai terbiasa dengan suasana kantor pusat?"Kila tersenyum kecil. "Masih berusaha menyesuaikan diri."Bu Sandra mengangguk, lalu melirik ke arah ruangan Pak Kalandra. Kila mengikuti arah pandangannya. Dari balik dinding kaca, Aksara terlihat sedang berbicara serius dengan ayahnya, Pak Kalandra. Keduanya sesekali







