Share

Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku
Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku
Author: Peach

Bab 1

Author: Peach
"Waktumu sudah nggak banyak. Setelah ini, berpamitanlah dengan baik kepada keluargamu." Nada bicara dokter penanggung jawab itu sangat lembut dan penuh empati, tetapi rasanya seperti sebongkah batu besar menghantam dadaku.

Padahal, dari dulu aku memang menebak hasilnya. Namun, ketika vonis "hukuman mati" itu benar-benar dijatuhkan, aku tetap tak kuasa menahan air mata.

Aku baru 28 tahun. Demi bisa bertahan hidup, aku selalu berusaha sekuat tenaga. Tak kusangka, donor jantung yang akhirnya kutunggu dengan susah payah malah direbut oleh suamiku. Jantung itu ditransplantasikan kepada Inara, si putri palsu, yang mengalami gagal jantung.

Dengan langkah limbung, aku mendatangi ruang rawat Inara. Di sana, aku melihat ayah dan ibuku, suamiku Dzaki, serta putraku Mirda, semuanya mengerubungi Inara dan menunjukkan perhatian yang hangat.

Begitu melihatku masuk, Dzaki yang semula sedang menyuapi Inara segera meletakkan gelas air dan berjalan menghampiriku. "Apa kata dokter?" tanyanya.

Aku menatapnya. Dia langsung menghindari tatapanku dengan gelisah, lalu menjelaskan terbata-bata, "Waktu itu keadaannya darurat. Kalau nggak segera diganti jantungnya, Inara bisa mati kesakitan."

Ibuku segera menimpali, "Dzaki benar. Perdita, ini soal nyawa manusia. Kamu nggak mungkin sebegitu nggak dewasanya sampai marah sama kami hanya karena ini, 'kan?"

Kata-kata yang sudah hampir keluar dari bibirku, kutelan kembali. Aku berkata dengan nada datar, "Aku nggak marah. Dokter bilang, seminggu lagi akan ada kabar baik."

Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Kabar yang baik untuk kita semua."

Dzaki mendorong kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. Sepasang mata indah di balik lensa itu seketika dipenuhi senyum. "Secepat itu sudah ada donor jantung yang cocok? Sudah kuduga, keputusan hari itu memang benar."

Ayahku pun menghela napas lega dan tersenyum. "Inara memang anak yang bernasib baik. Kalau donor jantung itu nggak diberikan padanya, dia pasti nggak akan bisa menunggu sampai seminggu ke depan."

Ibuku mengangguk berulang kali. Dia menyibakkan anak rambut di pelipis Inara ke belakang telinganya dengan lembut, lalu berkata, "Kemujuran Inara kami masih panjang ke depannya."

"Nggak kayak seseorang. Padahal masih bisa terus menunggu donor jantung, tapi malah buat keributan besar sampai mempermalukan Keluarga Mahardian."

Meski aku sudah lama kecewa pada mereka, pada saat ini juga, hatiku tetap terasa perih. Aku menggenggam erat ujung gaunku, barulah kesedihan yang hampir meluap dari mataku bisa surut kembali.

Dzaki menatapku dengan lembut, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar ketus, "Memang hari itu kamu terlalu impulsif. Menurutku, kamu seharusnya minta maaf sama Inara."

Aku menatapnya dengan tidak percaya. Inara telah merebut jantungku, dan sekarang aku masih harus meminta maaf padanya?

Ibuku ikut menimpali, "Benar. Lagian, kalau bukan karena hari itu kamu menindas Inara, dia nggak akan mengalami nyeri jantung."

"Kamu seharusnya bersyukur dia sekarang masih bisa berbaring dengan baik di sini. Kalau nggak, seumur hidup aku nggak akan mengakui kamu sebagai anakku."

Aku teringat hari itu, ketika Inara berdiri di hadapanku dengan wajah penuh kemenangan dan sengaja memamerkan bekas-bekas di lehernya. Dia menyombongkan betapa Dzaki begitu menyayanginya, betapa Dzaki tidak mampu menahan diri demi dirinya ....

Aku tidak bisa menahan diri dan menamparnya. Kebetulan, mereka semua melihat kejadian itu. Dzaki menerjang ke depan dengan marah dan mendorongku.

Aku terjatuh ke lantai. Dalam pandangan yang berkunang-kunang, ibuku menerjang maju dan memukuliku. Ayahku hanya berdiri tidak jauh dari sana, seolah dia juga merasa aku pantas diberi sedikit pelajaran.

Tak lama kemudian, penyakit jantungku kambuh, sementara Inara juga memegangi dadanya sambil mengeluh kesakitan. Namun, semua orang mengira aku hanya berpura-pura, sedangkan dia benar-benar sakit.

Memikirkan hal itu, aku menarik sudut bibir dengan getir dan berkata datar, "Maaf. Ini salahku."

Tak seorang pun menyangka aku akan meminta maaf dengan begitu patuh.

Tatapan Dzaki tampak menyelidik terhadapku.

Inara pun mengerutkan alisnya yang indah, memperlihatkan ekspresi seolah berkata, "Kenapa kamu bisa jago akting begini?".

Ayah dan ibuku bahkan menatapku dengan penuh kewaspadaan, seakan takut aku akan kembali membuat keributan.

Hanya anakku yang tampak benar-benar bahagia. Dia berlari dan memelukku sambil berkata, "Mama, hebat sekali. Akhirnya Mama mengakui kesalahan."

"Mulai sekarang Mama jangan lagi ganggu Bibi, ya. Kalau nggak, aku juga akan benci Mama kayak Nenek dan Kakek."

Aku menundukkan pandangan menatapnya. Sikap dingin, kesalahpahaman, dan keberpihakan orang tua serta suamiku masih bisa kuterima.

Namun, dia berbeda. Anak yang kukandung selama sembilan bulan ini malah lebih menyayangi Inara. Itulah satu-satunya hal yang tak sanggup kuterima. Hanya saja, aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk memperjuangkan apa pun.

Aku mengusap lembut pipinya, tersenyum, lalu berkata, "Mama bakal dengarin kamu."

Barulah ibuku mengangguk puas dan berkata, "Hm, sepertinya Perdita akhirnya belajar patuh."

Dzaki pun benar-benar menghela napas lega. "Istriku akhirnya 'dewasa'."

Melihat ekspresinya yang pura-pura penuh kasih, dadaku justru terasa mual.

Saat itu juga, Inara tiba-tiba menjerit pelan, "Sakit sekali," dan Dzaki langsung bergegas menghampirinya.

Anakku yang barusan masih berada dalam pelukanku pun melepaskan tangannya dan ikut berlari ke sana sambil berseru, "Bibi, bagian mana yang sakit? Aku tiupin ya."

Ayah dan ibuku bahkan memerah matanya karena khawatir. Sementara aku yang berdiri jauh di sana, terasa seperti seorang badut. Aku tidak sanggup lagi bertahan dalam suasana seperti itu. Dengan alasan aku lelah, aku berbalik dan meninggalkan ruang rawat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 10

    Qila bertanya dengan mata memerah, "Di mana putriku? Aku ingin melihat putriku."Staf menyahut dengan dingin, "Putri Anda sudah tertidur. Sesuai peraturan, nggak seorang pun boleh menemuinya.""Kalau nggak, eksperimen pembekuan akan terhenti. Kalau sampai begitu, dia benar-benar nggak akan punya kemungkinan untuk hidup kembali."Qila ketakutan dan segera melambaikan tangan. "Nggak ... jangan hentikan eksperimennya. Aku ... aku nggak akan menemuinya, nggak akan ...."Dzaki sudah mendengar penjelasan rinci tentang eksperimen ini dari asistennya di perjalanan. Meskipun dia juga merasa terdengar seperti dongeng belaka, selama masih ada satu dari miliaran kemungkinan, dia tidak ingin melewatkannya.Dengan mata memerah, dia bertanya, "Apa ... yang ditinggalkan istriku untukku?"Barulah staf menyerahkan sebuah amplop kepadanya dan berkata dengan nada datar, "Sesuai aturan, setiap pendonor akan meninggalkan sedikit barang peninggalan untuk keluarganya. Bu Qila hanya meninggalkan satu surat. Si

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 9

    Inara tersentak sadar. Dia buru-buru menarik kembali senyumnya dan berkata dengan panik, "Mana mungkin. Aku ... aku nggak percaya Kak Perdita sudah meninggal. Pasti Kak Perdita Cuma berpura-pura untuk menakut-nakuti kita."Namun di dalam hatinya, dia tahu jelas bahwa Perdita memang sudah meninggal. Karena dua malam lalu, dia sudah menerima informasi donor di grup kerja rumah sakit.Nama pendonornya adalah Perdita.Hanya saja, karena tidak disertai foto, awalnya dia masih belum sepenuhnya yakin.Memikirkan hal itu, Inara kembali menangis. Dia mengulurkan tangan kepada Dzaki, memperlihatkan pergelangan tangannya yang terkelupas kulitnya.Dengan nada memelas dia berkata, "Kak Dzaki, sakit sekali ...."Dzaki belum sempat berkata apa-apa ketika Yanto sudah lebih dulu bertanya dengan suara dingin, "Ibumu sudah pingsan, tapi kamu sama sekali nggak bereaksi. Kamu malah hanya peduli sama luka sekecil itu. Apa kamu masih punya hati?"Saat itu, asisten Dzaki sudah memberi Qila obat jantung yang b

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 8

    Pada saat bersamaan, di rumah Keluarga Wiranata.Tangan Dzaki yang memegang ponsel terus gemetar. Dia memutar ulang video itu berkali-kali.Di dalam video, wajah Inara yang selama ini selalu tampak lemah lembut dan polos berubah menjadi begitu mengerikan. Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita yang tampak polos itu, ternyata adalah wanita iblis yang begitu menakutkan.Sama halnya dengan Qila dan Yanto.Mata kedua orang itu langsung memerah. Dengan suara bergetar, Qila berkata, "Sayang, kita benar-benar salah paham sama Perdita. Cepat ... cepat pergi dan bawa Perdita pulang.""Aku harus bilang padanya, ini salah Mama ... semua ini salah Mama ...."Yanto terisak dan berkata, "Aku akan langsung menelepon dokter penanggung jawabnya. Perdita pasti ada di sana. Dia pasti marah sama kita, jadi sengaja berbohong dan bilang dia sudah meninggal. Iya ... pasti begitu."Dzaki mengangguk dan berkata, "Benar. Kemarin dia masih mengirim pesan padaku, bilang kalau dia baik-baik saja dan menyuruhku un

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 7

    Ayahku, Yanto, bertanya dengan sedikit terkejut, "Jadi kamu sudah memaafkannya?"Qila menghela napas dan bertanya, "Sayang, apa kita selama ini terlalu keras sama Perdita?""Sekarang dia juga sudah belajar patuh. Ke depannya, mari kita sayangi dia dengan baik dan perlahan mengajarinya mana yang benar."Yanto mengangguk dan berkata, "Aku ikut keputusanmu."Sebenarnya, dia tidak sebenci itu pada Perdita. Lagi pula, wajah Perdita hampir mirip dengannya. Setiap kali melihat Perdita, Yanto seperti melihat dirinya sendiri di masa muda.Kalau saja Perdita tidak begitu mengecewakan, dia juga tidak akan sengaja bersikap dingin padanya dan membiarkan orang lain memberi pelajaran pada Perdita demi mendisiplinkannya. Pasangan suami istri itu pun berdiskusi tentang bagaimana cara menebus Perdita. Namun, mereka tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Perdita sudah dimasukkan ke dalam kapsul tidur.Di sisi lain, setelah Dzaki memasuki Keluarga Mahardian, dia langsung mencari Perdita dengan panik. Hanya

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 6

    Demi menghukum Perdita, Qila sudah lebih dulu meliburkan seluruh karyawan sebelum mengusirnya ke tempat itu. Dzaki kembali mengetuk pintu. Kali ini nada bicaranya dibuat lebih lembut, "Perdita, aku tahu selama ini kamu sudah banyak menderita.""Aku juga sudah banyak mikir akhir-akhir ini. Aku tahu, alasan kamu sampai melakukan hal yang menyakiti Inara adalah karena kami semua kurang memperhatikanmu.""Aku akan bicara sama Paman dan Bibi, meminta mereka agar lebih sabar terhadapmu. Mirda juga. Kemarin dia diam-diam bilang sama aku kalau sebenarnya dia sangat menyukaimu. Dia masih ingin kamu menjadi ibunya, ingin kamu membacakannya dongeng sebelum tidur."Dzaki berbicara panjang lebar hingga tenggorokannya kering dan kesabarannya habis, tetapi pintu besar di depannya tetap tidak bergerak sedikit pun. Dia pun mulai kesal. Namun, saat mendengar ucapan asistennya di samping, keringat dingin langsung membasahi punggungnya.Asisten itu bertanya dengan cemas, "Pak Dzaki, Anda yakin Bu Perdita

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 5

    Saat Dzaki kembali ke vila, Inara masih tertidur pulas. Dia menunggui Inara semalaman dengan cemas, hingga fajar menyingsing dan hujan deras pun berhenti.Setelah tidur dengan cukup, Inara baru membuka mata. Dia terkejut lalu bertanya, "Kak Dzaki, sejak kapan kamu kembali?"Dzaki tersenyum dan berkata, "Aku sudah pulang sejak tadi malam. Dokter keluarga sudah memeriksamu. Katanya emosimu terlalu bergejolak, jantungmu jadi bermasalah. Aku diminta untuk jangan mengganggumu dan membiarkanmu istirahat.""Karena itulah, aku nggak membangunkanmu. Sekarang gimana rasanya?"Inara tersenyum manis. "Setelah tidur, rasanya jauh lebih enakan."Dia menoleh sekeliling, lalu berpura-pura khawatir dan bertanya, "Di mana Kakak? Dia nggak ikut kamu datang menjengukku?"Baru saat itulah Dzaki teringat kejadian semalam, ketika dia meninggalkan Perdita di tengah jalan. Begitu teringat angin kencang, hujan deras, bahkan hujan es semalam, hatinya sempat diliputi penyesalan.Namun, kemudian dia berpikir lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status