Beranda / Romansa / Hamil Tapi Perawan / Bab 3. Terperangkap Calon Suami

Share

Bab 3. Terperangkap Calon Suami

Penulis: Asri Faris
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-03 09:28:42

Tsabi bertanya dengan bingung, sementara Amena uring-uringan. Gadis kecil itu tidak mau menikah, sementara keinginan dari Ustadz Zubair susah untuk ditolak mengingat itu kesalahan dari putrinya yang telah melanggar marwah sebagai muslimah.

"Ummi, kenapa Amena bilang mau dinikahkan dengan Iqbal?" tanya Tsabi belum juga paham. Hatinya hancur seketika mengetahui hal ini.

"Iya, seharusnya ummi dan Abi yang bertanya padamu, bagaimana bisa kamu tidak bisa menjaga diri sebelum menikah. Kamu harus menikah dengan calon bapak dari anak yang kamu kandung!" tandas Ummi Shali emosi.

Tsabi terdiam, tidak punya pilihan lebih tepatnya, sungguh ujian ini terlalu berat gadis itu rasa. Dia tidak pernah melakukan perbuatan terhina itu, jadi tidak mungkin tiba-tiba hamil begitu saja. Pasti ada sesuatu yang Tsabi sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sangat tidak mungkin hamil tanpa tersentuh.

Suasana ruangan menjadi tidak kondusif. Semua orang di luar sana mulai kasak-kusuk dan bertanya-tanya. Kenapa acara akadnya tidak mulai-mulai.

Sementara Ustadz Aka tengah berbincang serius dengan Shaka. Bagaimanapun, dia tidak bisa menikahkan putrinya dengan orang sembarangan. Pria itu jelas keluarga Ustadz Aka masih asing.

"Saya akan bertanggung jawab," kata Shaka serius. Seseorang menyerahkan profil background dirinya pada Ustadz Aka.

"Saya marah, saya kecewa karena Anda telah merusak putri saya. Bahkan menghancurkan pernikahan impiannya. Kalau sampai setelah kamu nikahi tidak kamu perlakukan dengan baik, pulangkan dia pada kami," pesan Ustadz Aka berat hati. Namun, berharap orang di depannya adalah jodoh terbaik yang Allah kirim melalui masalah yang pelik ini.

Berkali-kali pria itu istighfar, rasanya begitu sulit untuk hari ini. Dua putrinya bahkan akan menikah secara bersamaan.

Karena perkara ini cukup membuat keluarga pelik, dan sudah terlalu lama menunggu. Acara akad nikah pun ditunda besok. Keluarga setidaknya mempunyai waktu semalam untuk memikirkan semuanya.

"Saya tidak mau melanjutkan pernikahan besok dengan Shaka," tolak Tsabi diikuti adiknya. Ameena juga menolak menjadi pengantin pengganti.

"Terus bagaimana dengan nasib kehamilan kamu Tsabi? Pikirkan semuanya?" Ummi Shali terlihat begitu uring-uringan.

Apa yang dikatakan ibunya benar. Nama keluarga besar pesantren di pertaruhkan di sini. Gadis itu merasa buntu dan bingung. Seharusnya ini menjadi hari paling bahagia untuknya, mengarungi malam pengantin dengan suaminya. Namun, pada kenyataannya ujian datang tanpa aba-aba.

Gadis itu terus kepikiran semalam, ia masih belum percaya kalau di dalam rahimnya tumbuh zuriat yang jelas masih menyisakan tanda tanya.

"Ya Rabb ... benarkah aku hamil? Kenapa aku harus hamil. Kapan aku campur dengan seorang pria? Cobaan apa lagi ya Allah ... ini terlalu sulit untuk dinalar," batin Tsabi bertanya-tanya. Ia tidak pernah merasa melakukan perbuatan Zina. Kenapa tiba-tiba dapat berita yang cukup merumitkan hidupnya.

Perempuan itu benar-benar terjaga sampai larut. Ia lebih tidak yakin menghadapi besok kalau dirinya hamil dan akan dinikahkan dengan pria yang katanya mengaku menghamilinya.

"Ini tidak benar, aku harus pergi dari rumah, pasti ada yang tidak benar," batin Tsabi gundah gulana.

Gadis itu diam-diam keluar dari kamar. Dia lebih baik pergi dari rumah daripada besok harus menikah dengan pria pembual itu. Sudah kadung pernikahannya juga akan digantikan Amena, adik bungsunya yang masih belia. Kasihan sekali gadis kecil itu, harus menjadi tawanan pengantin. Lebih kasihan lagi Tsabi, sudah gagal menikah, tiba-tiba hamil, dan lebih parahnya lagi mau dinikahkan dengan orang asing yang Tsabi sendiri tidak tahu perangai dan tabiatnya.

Suasana luar masih lumayan ramai, padahal sudah lewat jam dua belas. Namun, tekad Tsabi sudah bulat untuk pergi. Diam-diam dia lewat pintu belakang. Berjalan dengan menutup sebagian wajahnya dengan cadar.

Blub

Suara pintu mobil yang terbuka, mengiringi langkah seseorang untuk mendekat. Sebelum akhirnya dengan cepat membekap Tsabi yang tengah berjalan mengendap. Tanpa tahu sebab seseorang telah mencintainya sepanjang detik berlalu.

"Emmm!" ronta Tsabi sempat merespon, sebelum gadis itu benar-benar terkulai lemas. Langsung dimasukkan ke mobil dan diamankan.

"Jangan ada yang menyentuh, biar aku yang menggendongnya ke dalam," kata pria itu dingin. Semua orang menepi dan memberi jalan.

Tsabi langsung digendong ke kamar utama. Pelanpria itu menurunkan ke ranjang. Membuka penutup wajahnya, ditatapnya begitu lama, dalam dan lekat. Netranya beralih menatap perutnya yang masih rata. Ada generasi penerus pria itu yang tumbuh di sana.

Setelah puas menyimak dari atas sampai bawah, Shaka menyelimuti gadis malang itu. Lalu keluar kamar memberikan kabar mengejutkan itu pada keluarganya.

Deringan dini hari itu mengagetkan Ustadz Aka yang baru saja terlelap. Pria itu tergeragap dan langsung meraih ponselnya. Ditatap layar yang berkerlip dengan id caller yang cukup asing baginya. Setelah membiarkan memekik beberapa kali, baru berminat menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

"Assalamu'alaikum ... Abi, ini Shaka. Apakah pagi ini Abi kehilangan anak gadisnya yang nakal. Dia sekarang ada di rumah Shaka, semalam Tsabi kabur dari rumah dan aku menemukannya di jalan," ucap pria itu mengejutkan Ustadz Aka tentunya.

"Jangan becanda Shaka! Tsabi ada di kamarnya. Besok, kamu datang ke rumah dengan kedua orang tuamu!" ucap Pak Aka menahan kesal. Pagi-pagi baru membuka matanya sudah harus mengencangkan urat.

"Shaka tidak bercanda, biar kukirimkan gambar kalau Tsabi ada di sini," ujar pria itu menutup ponselnya. Lalu mengirimkan gambar Tsabi yang tengah tertidur di sebuah ranjang besar.

"Astaghfirullah ... kirimkan alamatmu, biar aku menjemputnya. Jangan berani-berani kamu mendekatinya!" ancam Ustadz Aka geram.

Shaka terdiam, sebelum akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya.

Sementara Pak Aka langsung bersiap-siap setelah sholat subuh.

"Abi mau ke mana? Bukankah ini masih terlalu pagi?“ tanya Ummi Shali merasakan pergerakan kasurnya ikut terjaga.

"Menjemput anakmu yang bandel itu," jawab Ustadz Aka beranjak.

Apa maksud Ustadz Aka sungguh tidak membuat Ummi Shali paham. Perempuan itu ikut turun dari ranjang lalu berjalan cepat mengekor suaminya.

"Mas, mau ke mana?" tanya Ummi Shali tak bisa tinggal diam. Takut suaminya tiba-tiba melakukan perbuatan di luar nalar.

"Jemput Tsabi, dia bersama pria itu. Bukankah mereka belum menikah," jawab Ustadz Aka menekan sabar.

"Maksudnya Tsabi pergi dari rumah bersama pria itu begitu? Kok bisa? Bener-bener ini anak sudah keterlaluan. Emangnya tidak sabar nunggu sampai besok saja pernikahan." Ummi Shali tak habis pikir dengan kelakuan putrinya. Nama anak gadisnya yang selalu dibanggakan keluarga kini berubah haluan dengan segala problematika yang dibuatnya.

"Jangan sendirian, bawalah orang untuk menemami atau menyerir mobilnya. Abi pikirannya sedang tidak kondusif, ummi takut malah di jalan tidak fokus," pesan Ummi Shali ada benarnya.

Beruntung Ustadz Aka menurut, tetapi sebelum sempat pria itu melajukan mobilnya. Shaka kembali menelpon dan mengabarkan kalau dirinya saja yang akan mengantar ke rumah. Kabar itu membuat Ustadz Aka urung keluar.

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pria itu menunjukkan kepeduliannya dengan berbesar hati mengembalikan Tsabi. Dia harus banyak menciptakan nilai positif demi mengambil hati calon mertuanya.

Shaka mengelus pipi Tsabi lembut. Sengaja memberikan rangsangan agar perempuan itu terjaga. Benar saja, mata lentiknya langsung terbuka. Dengan respon pertama yang sungguh lucu bagi Shaka tentunya.

"Astaghfirullah ... kamu sebenarnya siapa?" tanya Tsabi langsung bangkit memberi jarak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Atik Lestari
masih blm jelas ini...
goodnovel comment avatar
Duma Candrakasi Harahap
aku masih rada gak percaya ka,,kok bs tsabi hamil...
goodnovel comment avatar
Irma Wati
wah shaka ,kaya nya ada udang di balik bakwan ini mah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 150

    "Tapi apa Mas?" Tsabi yang penasaran langsung mencicipinya. Tidak ada masalah, rasanya juga cukup enak. Namun, ia sedikit eneg ketika mendapati isian bawang bombainya."Hehehe. Seharusnya kamu bikin lebih banyak lagi. Aku suka, kalau ukurannya kecil gini kurang sayang.""Ish ... bikin worry saja. Habisin semuanya Mas, aku kenyang.""Kapan kamu makan?" Sedari bangun Shaka belum melihat istrinya mengisi perutnya."Lihatin kamu udah kenyang. Aku belum lapar, udah minum susu tadi," jawab Tsabi benar adanya."Sini aku suapin," ujar pria itu membagi sisa gigitannya.Sebenarnya Tsabi agak mual dengan bawang bombay, tetapi isian itu kurang menarik tanpa umbi satu itu.Tsabi baru mengunyah beberapa suapan, tetapi dia merasa semakin eneg. Wanita itu langsung beranjak dari kursi seraya menutup mulutnya.Shaka yang melihat itu langsung berdiri menyusul. Paling tidak bisa melihat istrinya dalam kesusahan."Sayang, maaf, kamu beneran mual?" ucap pria itu iba. Kasihan sekali melihat Tsabi yang menda

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 149

    "Kamu juga capek kan Mas, kenapa mijitin?" tanya wanita itu sembari menyender di kepala ranjang. "Lelahku hilang saat melihat senyum kamu sayang," ujar Shaka jujur. Sedamai itu ketika menatap wajahnya yang teduh. Selalu menenangkan. "Bisa aja kamu Mas," jawab Tsabi tersenyum. Ditemani gini saja sudah mengembalikan moodnya. Apalagi dipijitin begini, sungguh Mas Shaka suami yang romantis dan pengertian. Perlahan netra itu mulai berat. Seiring sentuhan lembut yang mendamaikan. Tsabi terlelap begitu saja. Melihat itu, Shaka baru menyudahi pijitanya, dia membenahi posisi tidur istrinya agar lebih nyaman. Sebenarnya ada hasrat rindu yang menggebu, apalagi memang pria itu sudah beberapa hari tak berkunjung. Namun, nampaknya waktu dan keadaan kurang memberikan kesempatan. Tsabi juga terlihat lelah akibat aktivitas seharian di luar. Shaka akan menundanya besok sampai waktu memungkinkan. Agar keduanya sama-sama nyaman. Terutama Tsabi yang saat ini tengah hamil muda. Kadang moodian. Shaka h

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 148

    "Nggak jadi aja ya, perasaan aku nggak enak," kata Shaka yang sebenarnya takut kalau nanti istrinya bakalan sakit hati lagi. "Kenapa, kalau dia nggak mau ketemu sama aku, mungkin mau dijengukin kamu. Kita bisa bawakan makanan kesukaan Angel dan mukena. Aku yakin dia mau berubah. Kita tidak boleh memusuhinya Mas.""Kenapa sih kamu jadi orang baik banget. Dia udah jahat banget loh sama kamu, sama keluarga kita. Wajar kan kalau pada akhirnya aku nggak respect.""Sangat wajar, itu namanya naluriah. Ketika seseorang disakiti terus membalas. Aku cuma mau kasih ini Mas, mana tahu dia bisa terketuk hatinya untuk melakukan kebaikan.""Oke, nanti aku antar," ucap Shaka pada akhirnya. Mereka benar-benar mengunjungi Angel yang saat ini dalam tahanan. Akibat perbuatannya, Angel harus menerima sanksi berat. Mendapatkan kurungan yang tak sebentar. Karena mencoba melakukan penganiayaan dan juga pembunuhan."Ngapain kalian ke sini? Puas lihat aku di sini seperti ini," sentak Angel menatap sinis pasu

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 147

    Sepekan telah berlalu, tapi kesedihan nampaknya masih membekas di hati Shaka. Suasana hatinya beberapa hari ini sedang tidak baik-baik saja. Beruntung Tsabi adalah istri yang begitu perhatian dan pengertian. Wanita itu sangat sabar menemani suaminya yang dalam suasana duka.Hari ini pria itu sudah mulai beraktivitas kembali seperti biasanya. Toko dan bengkelnya juga sudah mulai dibuka kembali. Setelah sepekan tutup total karena dalam suasana berkabung. Ibunya memang belum meninggalkan banyak kenangan manis dengannya. Namun, sebagai seorang anak pasti sangat kehilangan ditinggalkan orang yang telah melahirkannya untuk selamanya. "Mas, ini ganti kamu hari ini," ujar Tsabi menyiapkan pakaian ganti suaminya. Walaupun beraktivitas di samping rumahnya, tentu Tsabi tak pernah lupa mengurusi pakaian suaminya juga untuk kesehariannya. Santai, tapi bersih dan tertata. "Makasih sayang," jawab Shaka memakainya begitu saja di depan istrinya. Sudah tidak tabu lagi. Bahkan menjadi pemandangan men

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 146

    Tepat pukul lima sore hari Nyonya Jesy menghembuskan napasnya yang terakhir. Shaka sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Pria itu tersedu sembari membacakan ayat-ayat suci di dekat ibunya. Tsabi mengusap lembut punggung Shaka setelah menyelesaikan surat yasin menutup doa ibu mertuanya. "Yang ikhlas Mas, biar mommy tenang," ucap Tsabi menguatkan. Dia tahu ini berat, hanya doa terbaik untuk almarhum mommy yang sekarang bisa ia lakukan. Wanita itu langsung menghubungi keluarganya. Ummi Shali, Ustadz Aka, dan Khalif serta beberapa orang abdi dalem langsung bertolak ke rumah sakit. Tentu saja untuk mengurus kepulangan dan juga pemakamannya. Beberapa orang lainnya nampak sudah bersiap menunggu jenazah pulang ke rumah duka. Suasana mengharu biru saat jenazah itu tiba dan hendak disholatkan. Ustadz Aka sendiri yang mengimaminya. Berhubung waktu belum terlalu malam, almarhum langsung dikuburkan malam itu juga. Tepatnya setelah sholat maghrib. Semuanya seakan berjalan begitu cepat. Padah

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 145

    "Tsabi, apa yang terjadi sayang?" Ummi Shali dan suaminya langsung bertolak ke rumah menantunya begitu mendapatkan kabar dari Shaka. "Zayba jatuh Ummi, dia sepertinya sangat kaget," jelas Tsabi mengingat bocah kecil itu terlepas dari troli. Salah satu karyawan toko yang menggendongnya dan langsung mengamankan bayi itu. "Astaghfirullah ... Mas, cucuku gimana ini. Kita bawa ke tukang pijat.""Kenapa bisa sampai seteledor itu menjaga anak kecil. Bukankah kamu di rumah?""Tsabi tidak enak badan abi, tadi habis periksa. Aku nitip ke mommy, tapi malah ada musibah begini.""Kamu sakit?" tanya Ummi Shali menatap dengan serius. "Sakit, tapi sebenarnya—" Tsabi terdiam, agak ragu berkata jujur saat ini. Namun, bukankah kabar baik itu harus berbagi. "Sebenarnya apa?" tanya Abi Aka giliran yang menatapnya. "Zayba mau punya adik, Ummi," kata Tsabi malu dan ragu membagi kabar bahagia tersebut. "Kamu hamil lagi?" tanya Ummi cukup kaget. Baby Zayba belum genap satu tahun sudah mau punya bayi. Ba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status