เข้าสู่ระบบMalam harinya, Renata baru saja selesai membersihkan diri dan hendak merebahkan tubuhnya yang lelah ketika pintu kamar diketuk kasar.
Begitu dibuka, Adrian sudah berdiri di sana dengan kemeja yang sudah berantakan dan aroma alkohol yang menguar tipis dari napasnya. Pria itu melangkah masuk tanpa izin, menutup pintu di belakangnya dengan hentakan pelan.
"Bagaimana? Sudah kamu pikirkan baik-baik?" tanya Adrian tanpa basa-basi sambil melipat tangan di dada sambil menatap Renata dengan pandangan menuntut.
"Mama terus-terusan mengoceh soal cucu, dan aku tidak punya waktu untuk mendengarkan drama itu setiap hari. Mulailah cari pria yang mau menghamilimu. Kontrak kita harus selesai secepatnya."
Namun, Renata hanya diam, mematung di dekat tempat tidur. Sementara tangannya meremas ujung piyama katunnya, menolak untuk menatap mata suaminya sendiri yang terasa begitu asing dan dingin.
Melihat reaksi bisu Renata, Adrian mendengus kasar. Langkahnya maju, memperkecil jarak dengan kilat tidak sabar di matanya. "Kenapa diam saja? Sudah menemukan orangnya atau belum, hah?"
Renata perlahan menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Belum?!" Adrian langsung menaikkan nada suaranya, kemarahan menyulut wajah tampannya yang tampak egois.
"Apa saja yang kamu lakukan seharian di rumah sakit, hah?! Kamu sengaja mengulur-ulur waktu karena ingin terus menikmati fasilitas keluarga Gideon? Sadar diri, Renata! Jangan sampai ibuku kehilangan kesabaran dan mendepak ayahmu dari rumah sakit itu!"
Hati Renata yang selama dua bulan ini selalu ia tekan dalam-dalam, mendadak bergejolak hebat.
Rasa lelah, terhina, dan muak yang menumpuk pasca-konfrontasi dengan Daniel siang tadi membuat pertahanan profesionalnya runtuh. Untuk pertama kalinya, Renata mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke dalam manik mata Adrian dengan binar kemarahan yang menyala.
"Kenapa kamu malah memarahiku?!" seru Renata marah.
"Jika ada yang mengulur waktu di sini, itu adalah kamu, Adrian! Kamu yang mengulur waktu karena enggan menyentuhku! Kamu yang menolak kewajibanmu sebagai suami, lalu sekarang kamu dengan tidak tahu malu melemparkan kesalahan itu ke pundakku?!"
Adrian tertegun sejenak, tidak menyangka istri yang biasanya tunduk dan pasrah itu berani membalasnya dengan suara lantang.
Namun, keterkejutan itu tidak bertahan lama. Adrian justru melangkah mundur, lalu tawa sinisnya yang merendahkan memecah keheningan kamar.
"Menyentuhmu?" Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya seolah baru saja mendengar lelucon paling menggelikan.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Renata. Kulitku terlalu berharga untuk bersentuhan dengan wanita kelas bawah sepertimu. Aku jijik."
Tak lama setelahnya, tawa Adrian mereda, digantikan oleh kilat licik yang tiba-tiba melintas di wajahnya. Ia teringat sesuatu.
"Ah... benar juga. Besok kamu dan Daniel akan pergi ke luar kota untuk urusan penyuluhan medis itu, kan? Berita kepindahanmu jadi asisten pribadinya sudah menyebar di grup internal rumah sakit."
Adrian menyunggingkan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Renata berdiri. Pria itu kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gerakan santai.
"Aku punya ide bagus. Kebetulan, besok malam ada beberapa kolega dokter dari luar daerah yang juga menghadiri acara itu. Aku tahu salah satu dokter spesialis di sana, pria paruh baya yang baru saja menduda dan sangat kesepian.
"Dia pastinya tidak akan menolak jika disodori perawat muda yang manis sepertimu untuk tidur bersamanya."
Plak!
Kalimat itu terputus seketika. Renata tidak tahan lagi. Dengan napas yang memburu dan air mata yang akhirnya menetes karena rasa sakit yang luar biasa, ia menatap Adrian dengan dada yang naik-turun.
"Aku bukan wanita jalang, Adrian!" teriak Renata dengan suara tertahan.
Betapa hancur harga dirinya mendengar ucapan suaminya sendiri yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar barang dagangan pemuas nafsu demi sebuah status ahli waris.
"Aku memiliki nama baik! Aku memiliki kehormatan! Jangan berani-berani kamu menjualku seperti itu!"
Adrian menyentuh pipinya yang memerah akibat tamparan Renata. Bukannya marah, pria itu justru menatap Renata dengan pandangan dingin yang kosong, seolah rasa kemanusiaannya telah lama mati.
"Aku tidak peduli kamu ini wanita jalang atau bukan," ucap Adrian kejam. "Yang aku peduli hanya satu: rahimmu harus terisi sebelum Kakek mengubah surat wasiatnya."
Tanpa memedulikan tangisan Renata, Adrian langsung mencari sebuah nomor di ponselnya dan menekan tombol panggil.
Ia mengaktifkan pengeras suara, membiarkan Renata mendengar setiap detik kehancuran martabatnya sendiri. Setelah beberapa nada sambung, sebuah suara pria paruh baya terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Adrian? Ada apa menghubungiku malam-malam begini?"
"Halo, Dokter John. Maaf mengganggu waktunya," ujar Adrian dengan nada suara yang mendadak ramah dan bersahabat, kontras dengan kekejaman yang baru saja ia tunjukkan pada istrinya.
"Aku ingin menawarkan kejutan kecil untuk Anda besok malam di hotel tempat seminar. Seseorang yang bisa menemani Anda semalam untuk mencairkan suasana luar kota yang dingin."
…
…
Setelah diskusi panjang dengan tawa yang tidak ada belas kasihan sama sekali, Adrian menurunkan ponselnya, lalu menatap Renata yang masih terisak tanpa suara di atas kasur.
"Besok, setelah seluruh acara penyuluhan selesai, tepat jam 9 malam. Aku akan mengirimkan nomor kamarnya setelah pria itu selesai melakukan reservasi di sana. Pastikan kamu datang tepat waktu, Renata!”
Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam
Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu







