LOGIN"Bu-bukan... bukan seperti itu maksudku, Dokter Daniel," gagap Renata dengan suara yang gemetar hebat. Ia kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha mati-matian menarik kembali kata-kata yang telah telanjur lolos.
Renata langsung memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tepian lemari dokumen yang dingin.
Napasnya memburu, wajahnya yang semula pucat kini memerah karena kombinasi antara rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat.
"Maksudku... kami hanya sedang menundanya. Ya, kami menundanya karena sama-sama sibuk. Apa yang kukatakan tadi salah, aku hanya... aku hanya asal bicara karena sedang stres!"
Daniel tidak melepaskan pandangannya sepeser pun. Alih-alih marah atau bingung, seulas seringai tipis yang sarat akan dominasi dan kecerdasan muncul di sudut bibir pria itu.
Seringai yang justru membuat nyali Renata semakin menciut.
"Kamu sedang berbohong padaku sekarang, Renata," ucap Daniel, suaranya terdengar begitu tenang namun mematikan spekulasi apa pun.
Ia pun maju satu langkah lagi, dan mengunci ruang gerak Renata hingga wanita itu bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi kopi yang samar dari tubuh Daniel.
"Dan sayangnya, kamu adalah pembohong yang sangat buruk. Ucapanmu yang tadilah yang merupakan kebenaran."
"Dokter, tolong..." cicit Renata dengan kedua tangannya terangkat di dada, menahan jarak agar tubuh tegap Daniel tidak semakin merapat. Ia benar-benar takut.
Jika Daniel membocorkan hal ini pada Helena atau Rommy, pernikahan kontraknya dengan Adrian akan hancur, dan itu berarti tamat pula riwayat pengobatan ayahnya.
Melihat ketakutan yang begitu nyata di mata bulat Renata, sorot mata Daniel sedikit melunak, namun tidak dengan aura tegasnya.
"Tak perlu takut. Aku bukan tipe pria yang suka mengadu atau mencampuri urusan domestik sepupuku sendiri jika tidak ada untungnya bagiku."
Renata terdiam, menatap Daniel dengan sangsi namun juga mencari perlindungan dari sepasang mata elang itu. Ruangan kerja yang kedap suara itu kembali hening selama beberapa saat.
Hanya terdengar deru napas Renata yang perlahan mulai berangsur normal seiring dengan kesadarannya bahwa Daniel tidak berniat menghancurkannya.
Setelah perang batin yang cukup melelahkan, Renata akhirnya menurunkan tangannya. Bahunya merosot lemas, menyerah pada situasi.
"Adrian... dia memang tidak pernah menyentuhku, Dokter," aku Renata pada akhirnya, suaranya terdengar begitu lirih dan sarat akan luka yang selama ini ia pendam sendiri.
"Dia memiliki wanita lain di luar sana. Pernikahan ini hanya kedok agar dia tidak dicoret dari daftar ahli waris oleh Kakek Rommy. Kami membuat kesepakatan tertulis di malam pertama kami."
Daniel mendengarkan setiap kalimat itu tanpa memotong. Rahangnya mengeras sekilas saat mendengar nama sepupunya disebut dalam konteks yang begitu menjijikkan, namun ia tetap mempertahankan kontrol dirinya yang luar biasa.
"Lalu, apa langkahmu selanjutnya?" tanya Daniel, lalu melipat tangan di depan dadanya sambil menatap Renata dari ketinggian fisiknya.
"Ibunya terus menuntut rahimmu, sementara putranya menolak memberikan benihnya. Jika Adrian mengizinkanmu untuk tidur dengan pria lain demi mendapatkan anak itu, lantas... siapa pria yang akan kamu pilih?"
Pertanyaan frontal itu bak petir di siang bolong bagi Renata. Matanya membola, menatap Daniel dengan tatapan tidak percaya. "A-apa? Memilih pria lain?" Renata tertawa getir, kepalanya menggeleng lemah.
"Aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh dan segila itu, Dokter. Mana aku tahu, dan ke mana aku harus mencari pria yang mau dimanfaatkan seperti itu? Aku ini hanya seorang perawat, bukan wanita..."
Renata tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terasa mengotori lidahnya sendiri.
Daniel kembali terdiam. Tatapannya menelusuri wajah Renata yang tampak begitu polos namun dipaksa dewasa oleh keadaan.
Pria itu kemudian memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja kerjanya dengan langkah tegap yang berwibawa.
Ia lalu mengambil sebuah dokumen proposal tebal bersampul kulit dari atas meja, dan membalikkan tubuhnya menghadap Renata kembali.
"Besok pagi, aku harus menghadiri seminar dan penyuluhan medis tahunan di sebuah hotel luar kota selama tiga hari," ujar Daniel datar, mengubah topik pembicaraan dengan begitu taktis seolah pembicaraan intim mereka tadi tidak pernah terjadi.
Daniel mengangkat dokumen di tangannya sekilas. "Jika kamu setuju menjadi asisten pribadiku dan menandatangani surat pemindahan divisi hari ini, maka kamu harus ikut denganku ke sana untuk mengurus seluruh keperluan persentasi dan jadwalku."
Renata mengerutkan keningnya, masih belum menangkap arah pembicaraan sang Direktur Medis. "Lalu... apa hubungannya dengan masalahku, Dokter?"
Daniel berjalan mendekat, menyerahkan dokumen itu tepat ke tangan Renata. Saat jemari mereka bersentuhan, Daniel menatap lurus ke dalam manik mata Renata dengan kilat misterius yang dominan.
"Di hotel luar kota itu, akan ada banyak kolega, pengusaha, dan dokter dari berbagai daerah yang datang," ucap Daniel dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh penekanan tersembunyi.
"Jika kamu ikut denganku, jauh dari pengawasan Helena dan Adrian, di sana kamu bisa mulai mencari, siapa kira-kira pria yang tepat dan bersedia membantumu untuk hamil."
Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam
Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu







