ANMELDENEsok harinya, Renata dan Daniel sudah berada di luar kota dan kini berada di aula hotel.
Di dalam benaknya, waktu seolah terus berjalan mundur menuju pukul sembilan malam.
Pikiran-pikiran buruk terus berputar di kepalanya; bagaimana ia harus menghadapi pria paruh baya bernama Hendra itu nanti malam?
Bagaimana ia bisa menyerahkan dirinya pada orang asing demi sebuah benih yang bahkan tidak ia inginkan?
Saat jam makan siang tiba, ketegangan itu mencapai puncaknya. Renata duduk di seberang Daniel di restoran hotel, namun jemarinya hanya mengaduk-aduk salad di piringnya tanpa minat.
Wajahnya tampak pucat, dan matanya terus bergerak gelisah menatap ke segala arah.
Daniel yang sedang memotong steaknya dengan presisi, melirik gerakan canggung Renata.
Pria itu meletakkan pisau dan garpunya tanpa suara, lalu menegakkan tubuhnya.
"Ada apa, Renata? Kenapa raut wajahmu tampak sangat gelisah seperti itu?" tanya Daniel.
Renata langsung tersentak bahkan hampir saja menjatuhkan garpunya.
Ia pun buru-buru memasang senyum kaku dan menggelengkan kepala. "Ti-tidak apa-apa, Dokter Daniel. Aku hanya... kurang istirahat saja semalam."
Daniel menyipitkan mata elangnya, menatap Renata dengan intensitas yang mengintimidasi. Seulas senyum tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya.
"Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi dengan alasan klasik seperti itu, Renata. Tekanan darahmu mungkin normal, tapi gerak-gerikmu menunjukkan kamu sedang berada di ambang histeris."
Renata menelan salivanya dengan pelan, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun. Ia kehilangan kata-kata untuk membantah ketajaman intuisi pria di depannya.
Sebelum keheningan di antara mereka berlanjut, sebuah langkah kaki terdengar mendekat.
Seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal dengan setelan jas formal tiba-tiba berhenti di samping meja mereka. Pria itu adalah Dokter Hendra.
Dengan senyum yang membuat Renata merasa mual, Hendra mengulurkan tangan, lalu meletakkan selembar kertas post-it kecil berwarna kuning tepat di atas meja di dekat jemari Renata.
"Halo, Renata. Adrian sudah menceritakan semuanya padaku," ujar Hendra dengan nada suara yang direndahkan, namun terdengar menjijikkan di telinga Renata.
Pria itu kemudian mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Renata sekilas dengan gerakan yang terlampau akrab.
"Ini nomor kamarku. Aku tunggu kamu nanti malam, ya. Jangan terlambat."
Setelah melempar senyum penuh makna, Hendra berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area restoran.
Renata membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan dengan gerakan gemetar, ia segera menyambar kertas post-it tersebut, meremasnya kuat-kuat di dalam genggaman tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
Rasa hina itu kembali menguliti sisa-sisa harga diri yang ia miliki.
Di seberang meja, Daniel menaikkan satu alisnya. Matanya yang tajam melirik kepalan tangan Renata yang meremas kertas, lalu beralih menatap punggung Hendra yang menjauh.
"Dia... pria yang akan membantumu?" tanya Daniel.
Renata menghela napasnya seraya menatap meja dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun ia menolak untuk menangis di depan Daniel.
Lalu mengangguk pelan. "Itu pilihan Adrian. Aku tidak punya hak untuk memilih."
Daniel hanya diam membisu. Namun, raut wajah tampannya mengeras, dengan sepasang matanya menggelap penuh dengan teka-teki yang sulit dibaca.
Aura dominannya yang kuat mendadak membuat area di sekitar meja mereka terasa mencekam.
Melihat kediaman Daniel, Renata menarik napas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Jika Dokter Daniel mau pulang ke kamar atau kembali ke Jakarta lebih dulu setelah acara sore ini selesai, silakan. Aku harus tinggal di sini untuk menyelesaikan... urusanku."
Daniel tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap Renata selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk formal sekali. "Baiklah."
Malam harinya pun tiba. Jarum jam dinding di koridor hotel telah menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit.
Suasana lorong lantai empat hotel itu begitu sepi dan sunyi, hanya menyisakan suara ketukan sepatu hak tahu milik Renata yang bergaung samar.
Renata berjalan dengan langkah yang luar biasa berat. Jemari tangannya terus digigit secara bergantian, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia berada di puncak rasa takut dan kepanikan.
Langkah kaki Renata akhirnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kamar dengan nomor yang tertera di kertas post-it yang kini sudah lecek di sakunya.
Renata memejamkan matanya sejenak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.
Ia merasa seolah sedang berdiri di depan pintu eksekusi mati. Setelah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang terakhir, Renata mengangkat tangan kanannya yang bergetar.
Ia mengetuk pintu kayu jati itu dengan ragu.
Tok... Tok... Tok...
Satu detik... dua detik... hingga satu menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, sampai akhirnya terdengar suara selot pintu yang diputar dari dalam.
Pintu kamar itu perlahan terbuka lebar.
Renata langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak sanggup, dan tidak sudi untuk menatap wajah pria paruh baya yang sebentar lagi akan menyentuh tubuhnya.
Dengan suara yang tercekat di tenggorokan dan air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya, Renata berucap dengan nada bergetar yang sarat akan keputusasaan.
"Aku... aku bukan wanita murahan. Aku melakukan ini semua... hanya demi keselamatan pengobatan ayahku. Tolong... lakukan dengan cepat," cicit Renata sambil meremas ujung bajunya sendiri dengan sangat kencang.
Pria yang berdiri di ambang pintu itu hanya diam membisu, tidak memberikan respons apa pun selama beberapa saat.
Ketiadaan suara itu justru membuat atmosfer di sekeliling Renata terasa semakin mengintimidasi dan dingin.
Hingga kemudian sebuah suara bariton yang berat, sangat tenang, namun sarat akan otoritas mutlak memecah keheningan koridor.
"Angkat wajahmu, Renata."
Deg!
Renata seketika terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya membeku bagai batu, dan detak jantungnya seolah berhenti berdenyut dalam satu detik yang krusial itu.
Suara itu....
Kenapa suara itu sangat tidak asing di telinganya? Kenapa suara bernada rendah dan dingin itu terdengar sangat familiar?
Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam
Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu







